Tiba di Sumur
Long weekend ini gue manfaatkan dengan ikut serta dalam kegiatan Trip Ujung Kulon bersama rombongan KKS Melati. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari kegiatan serupa pada bulan April 2006 dimana rombongan KKS Melati menyerahkan bantuan berupa perpustakaan sederhana bagi dua SD di kecamatan Sumur, kabupaten Pandeglang.
Rencana keberangkatan semula dari meeting point di Senayan pada pukul 20.00 akhirnya molor sampai jam 21.30. Perjalanan selama kurang lebih enam jam ke Sumur tergolong lancar, walaupun bis sempat mengalami kerusakan ringan pada pendingin udara dan ketidaktahuan supir tentang kondisi jalan membuat gue yang duduk di bangku belakang sempat terlempar beberapa kali dari tempat duduk.Sekitar pukul setengah tiga dini hari kami sampai dengan selamat di kantor Analisis Garbage Management(AGM) dan langsung tertidur pulas karena kecapekan.
AGM yang kantornya kami pergunakan untuk menginap adalah sebuah LSM hasil kerjasama dengan Jerman dan Inggris yang bergerak dalam kerja pengolahan sampah di wilayah sekitar Taman Nasional Ujung Kulon. Untuk wilayah konservasi seperti Ujung Kulon, sampah tentunya menjadi ancaman serius apabila tidak ditangani dengan baik. Proyek besar AGM adalah bagaimana mengolah sampah menjadi sesuat yang bermanfaat sekaligus memberdayakan kehidupan penduduk di sekitar taman nasional. AGM mencoba memecahkan masalah sampah dengan fokus kegiatan mendidik masyarakat untuk tertib dalam mengelola sampah, menyediakan fasilitas pengelolaan sampah menjadi kompos, serta menyediakan jasa manajemen sampah untuk resort-resort di sekitar taman nasional. Menurut Pak Edi, Manajer Program AGM, tantangan terbesar di awal-awal operasional AGM adalah mendidik masyarakat agar “cerdas sampah”. Menurut beliau paling tidak baru setelah 10 tahun AGM beroperasi, masyarakat mulai sadar lingkungan dan mau berpartisipasi dalam proyek AGM. Itupun setelah melihat kompos hasil pengolahan sampah ternyata laku secara komersial.Tak heran kalau Anda sempat berkunjung ke Sumur(mereka yang ingin berkunjung ke Pulau Umang harus melewati Sumur) kota kecamatan ini tergolong relatif bersih, dan di mana-mana terdapat papan reklame yang mengajak sadar lingkungan.
Pagi pertama, selepas sholat subuh gue pergunakan kesempatan untuk berkeliling melihat pemandangan baru. Hal pertama yang paling ingin gue lihat tentu saja adalah pantai. Ini karena terakhir kali gue mengunjungi pantai adalah semasa SMA, saat itu pantai Parangtritis termasuk rute yang jarus gue lewatin dalam napak tilas rute Jenderal Soedirman. Setelah bertanya ke penduduk dan navigasi darat sekenanya, akhirnya gue ditemani Uyo dan Aryo 1001buku menginjakkan kaki di sebuah pantai. Terletak di sebuah teluk kecil dangkal, pantai itu jadi tempat berlabuh beberapa kapal nelayan. Selama beberapa menit gue sibukkan diri menikmati pemandangan pantai kecil itu, dipenuhi harap bahwa tiga hari ke depan kan lebih banyak pemandangan dan pengalaman yang menunggu.
Iliterasi Bukan Hanya Buta Huruf
Agenda hari pertama kami adalah mengunjungi SDN Sumber Jaya 1. SD ini terletak tak jauh dari tempat kami menginap sehingga bisa dicapai dengan berjalan kaki. Rupanya terjadi miskomunikasi antara pihak sekolah dengan Pak Edi yang dalam kegiatan ini sekaligus berfungsi sebagai local guide kami. Walhasil, ketika kami sampai di SD, perwakilan pihak sekolah belum hadir dan siswa yang datang hanya segelintir. Dengan semangat bekerja dengan apa yang ada, kami menggiring anak-anak yang hadir ke sebuah ruangan kelas untuk berkegiatan. Kami berusaha memancing anak-anak untuk menunjukkan kreativitas dan kepercayaan diri mereka dengan tawaran beragam hadiah sederhana yang kami siapkan dari Jakarta. Sebenarnya dari apa yang ditampilkan anak-anak kami juga mencoba untuk melihat apakah kehadiran perpustakaan donasi yang telah tiga bulan membawa pengaruh positif bagi anak-anak.
Sementara kegiatan dengan anak-anak berlangsung, Mas Daurie dan Mbak Dessy, dua senior KKS Melati yang tiga bulan lalu mengantarkan donasi perpustakaan, mengevaluasi secara langsung perpustakaan yang terletak di ruang guru. Menurut wakil guru yang kami temui, lokasi itu sementara dan ruangan untuk perpustakaan saat ini sedang dibangun. Kami tidak dapat mnyembunyikan rasa kecewa dengan kondisi yang kami lihat. Perpustakaan yang masih terhitung baru itu tampak berantakan dengan buku-buku yang tertutup debu tanda tak pernah dijamah. Lebih kecewa lagi karena dari interaksi dengan anak-anak, kami mendapati dua hal yang dilaporkan pihak sekolah kepada kami-kelas dua SD yang sudah dapat membaca dan anak-anak yang rajin berkunjung ke perpus- ternyata tidak benar adanya.
Hari kedua, kami berkunjung ke sekolah kedua, SDN Cipining 1 di desa Kertajaya. Desa Kertajaya terletak dua desa dari kantor AGM, satu-satunya jalan untuk menuju ke sana adalah jalan desa yang belum diaspal. Kami pun menyewa sebuah minibus Elf untuk melewati jalan yang menyusuri pantai barat Pulau Jawa. Di tengah kepulan debu yang ditimbulkan Elf yang gue tumpangi, gue melihat di sepanjang jalan kondisi masyarakat pedesaan pesisir Banten. Dari pengamatan, gue menyimpulkan sebagian besar penduduk memiliki mata pencaharian sebagai nelayan kecil, petani tanah hujan, atau penambang pasir dan batu. Supir Elf yang kami tumpangi sempat bergurau bahwa desa Kertajaya termasuk bagian Indonesia yang belum merdeka.
SDN Cipining tampaknya lebih siap menyambut kami. Dalam waktu singkat satu ruangan kelas sudah terisi anak-anak yang berseragam sekolah. Tak lama ketika kami mulai berkegiatan, banyak orangtua siswa dan warga sekitar yang bergerombol menonton di pintu atau lewat jendela. Anak-anak SDN Cipining juga terkesan lebih inisiatif dan pede. Kami semua sempat terhibur dengan pantun nakal yang dibacakan seorang anak ketika dia tampil ke depan.
Kondisi perpustakaan di SDN Cipining juga lebih cerah dan terawat. Dari mulut anak-anak kami juga mendapat cerita kalau mereka cukup rutin berkunjung ke perpustakaan. Walaupun begitu kami agak kecewa karena belum ada inisiatif program yang memanfaatkan secara optimal keberadaan perpustakaan.
Secara umum banyak hal yang harus diperbaiki terkait dua perpustakaan donasi yang kami kunjungi. Kenapa kami memilih untuk mendonasikan perpustakaan ke SD? Karena kami percaya buku adalah sumber ilmu yang tak akan lekang oleh waktu. Buku yang bagus akan memberi hentakan yang menggerakkan raga dan jiwa. Dengan memberi anak-anak akses ke buku-buku pilihan sejak dini, kami berharap mereka tumbuh menjadi generasi yang cinta ilmu untuk selanjutnya cinta beramal. Kami sedih karena buku-buku kami tidak atau mungkin belum dimanfaatkan sesuai potensinya. Tanpa dibaca untuk kemudian diambil pelajaran, buku tak lebih dari onggokan beku yang menghabiskan tempat. Iliterasi bukan hanya buta huruf, ketidakmampuan mengambil pesan dari bacaan juga termasuk iliterasi, dan itulah yang ingin kami perangi. Tadinya kami menaruh harapan besar pada mitra pihak sekolah. Misalnya,mereka bisa mengimplementasikan kurikulum berbasis literasi yang melengkapi kurikulum Diknas. Lewat kurikulum berbasis literasi, siswa dapat didorong untuk melihat buku sebagai sumber referensi dan pencetus kreatifitas dan inovasi. Kami lupa bahwa untuk mencapai hal seperti itu dibutuhkan SDM guru yang adibaca, kreatif, dan penuh inisiatif-suatu harapan yang tinggi untuk sebagian besar guru Indonesia.Kami tetap berharap ke depan guru-guru di kedua sekolah tadi juga belajar dan mampu merintis perubahan lewat pendidikan untuk siswa-siswa mereka.
Di hari kedua kunjungan kami itu, kami juga berkesempatan untuk melakukan anjangsana ke LSM Obor Urang, sebuah LSM lokal yang fokus pada usaha menciptakan kegiatan-kegiatan positif di kalangan generasi muda Sumur. Obor Urang sedang membangun sebuah sanggar yang diharapkan dapat menjadi taman baca sekaligus sarana penyaluran kreativitas generasi muda lewat kegiatan seperti jurnalistik dan seni. Ada harapan positif bahwa Obor Urang dapat menjadi mitra kami di Sumur untuk bekerjasama dengan pihak sekolah dalam merancang program-program yang berpusat di perpustakaan.
Catatan perjalanan Cerita dari Ujung Jawa ini akan gue lanjutkan dalam posting berikutnya

Terkejut juga gue mendengar berita pertunangan kalian berdua. Walaupun sudah berspekulasi ke arah sana, gue melihat kalian berdua punya begitu banyak perbedaan yang rasa-rasanya akan saling menolak saat dipertemukan. Agaknya gue sudah meremehkan konstruksi ilahiah yang bernama cinta, dan mungkin justru segala beda itu yang membuat kalian saling tertarik. Lagi-lagi itu hanya spekulasi, yang jelas kalian berdua berutang cerita ke gue
Apa definisi merdeka menurut Anda? gue pikir pertanyaan tersebut sangat penting dijawab secara pribadi oleh masing-masing kita. Tanpa memiliki jawaban yang berasal dari suatu proses pemikiran yang personal, gue rasa ngga mungkin kita dapat menghargai, mencapai(bagi meraka yang merasa belum terwujud), apalagi mengisinya.


Sekitar 20 jam lagi setelah huruf pertama tulisan ini diketik, kick-off pertama Piala Dunia bergulir jauh di Munich sana. Saat itulah ratusan juta pasang mata penduduk dunia akan disatukan oleh pertandingan pertama Piala Dunia 2006 yang mempertemukan tuan rumah Jerman dengan tim non unggulan Kosta Rika.