aresto in-depth

my words,my opinions

Archive for August, 2006

Cerita dari Ujung Jawa (1)

Posted by aresto on August 22, 2006

Tiba di Sumur

Long weekend ini gue manfaatkan dengan ikut serta dalam kegiatan Trip Ujung Kulon bersama rombongan KKS Melati. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari kegiatan serupa pada bulan April 2006 dimana rombongan KKS Melati menyerahkan bantuan berupa perpustakaan sederhana bagi dua SD di kecamatan Sumur, kabupaten Pandeglang.

Rencana keberangkatan semula dari meeting point di Senayan pada pukul 20.00 akhirnya molor sampai jam 21.30. Perjalanan selama kurang lebih enam jam ke Sumur tergolong lancar, walaupun bis sempat mengalami kerusakan ringan pada pendingin udara dan ketidaktahuan supir tentang kondisi jalan membuat gue yang duduk di bangku belakang sempat terlempar beberapa kali dari tempat duduk.Sekitar pukul setengah tiga dini hari kami sampai dengan selamat di kantor Analisis Garbage Management(AGM) dan langsung tertidur pulas karena kecapekan.

AGM yang kantornya kami pergunakan untuk menginap adalah sebuah LSM hasil kerjasama dengan Jerman dan Inggris yang bergerak dalam kerja pengolahan sampah di wilayah sekitar Taman Nasional Ujung Kulon. Untuk wilayah konservasi seperti Ujung Kulon, sampah tentunya menjadi ancaman serius apabila tidak ditangani dengan baik. Proyek besar AGM adalah bagaimana mengolah sampah menjadi sesuat yang bermanfaat sekaligus memberdayakan kehidupan penduduk di sekitar taman nasional. AGM mencoba memecahkan masalah sampah dengan fokus kegiatan mendidik masyarakat untuk tertib dalam mengelola sampah, menyediakan fasilitas pengelolaan sampah menjadi kompos, serta menyediakan jasa manajemen sampah untuk resort-resort di sekitar taman nasional. Menurut Pak Edi, Manajer Program AGM, tantangan terbesar di awal-awal operasional AGM adalah mendidik masyarakat agar “cerdas sampah”. Menurut beliau paling tidak baru setelah 10 tahun AGM beroperasi, masyarakat mulai sadar lingkungan dan mau berpartisipasi dalam proyek AGM. Itupun setelah melihat kompos hasil pengolahan sampah ternyata laku secara komersial.Tak heran kalau Anda sempat berkunjung ke Sumur(mereka yang ingin berkunjung ke Pulau Umang harus melewati Sumur) kota kecamatan ini tergolong relatif bersih, dan di mana-mana terdapat papan reklame yang mengajak sadar lingkungan.

Pagi pertama, selepas sholat subuh gue pergunakan kesempatan untuk berkeliling melihat pemandangan baru. Hal pertama yang paling ingin gue lihat tentu saja adalah pantai. Ini karena terakhir kali gue mengunjungi pantai adalah semasa SMA, saat itu pantai Parangtritis termasuk rute yang jarus gue lewatin dalam napak tilas rute Jenderal Soedirman. Setelah bertanya ke penduduk dan navigasi darat sekenanya, akhirnya gue ditemani Uyo dan Aryo 1001buku menginjakkan kaki di sebuah pantai. Terletak di sebuah teluk kecil dangkal, pantai itu jadi tempat berlabuh beberapa kapal nelayan. Selama beberapa menit gue sibukkan diri menikmati pemandangan pantai kecil itu, dipenuhi harap bahwa tiga hari ke depan kan lebih banyak pemandangan dan pengalaman yang menunggu.

Iliterasi Bukan Hanya Buta Huruf

Agenda hari pertama kami adalah mengunjungi SDN Sumber Jaya 1. SD ini terletak tak jauh dari tempat kami menginap sehingga bisa dicapai dengan berjalan kaki. Rupanya terjadi miskomunikasi antara pihak sekolah dengan Pak Edi yang dalam kegiatan ini sekaligus berfungsi sebagai local guide kami. Walhasil, ketika kami sampai di SD, perwakilan pihak sekolah belum hadir dan siswa yang datang hanya segelintir. Dengan semangat bekerja dengan apa yang ada, kami menggiring anak-anak yang hadir ke sebuah ruangan kelas untuk berkegiatan. Kami berusaha memancing anak-anak untuk menunjukkan kreativitas dan kepercayaan diri mereka dengan tawaran beragam hadiah sederhana yang kami siapkan dari Jakarta. Sebenarnya dari apa yang ditampilkan anak-anak kami juga mencoba untuk melihat apakah kehadiran perpustakaan donasi yang telah tiga bulan membawa pengaruh positif bagi anak-anak.

Sementara kegiatan dengan anak-anak berlangsung, Mas Daurie dan Mbak Dessy, dua senior KKS Melati yang tiga bulan lalu mengantarkan donasi perpustakaan, mengevaluasi secara langsung perpustakaan yang terletak di ruang guru. Menurut wakil guru yang kami temui, lokasi itu sementara dan ruangan untuk perpustakaan saat ini sedang dibangun. Kami tidak dapat mnyembunyikan rasa kecewa dengan kondisi yang kami lihat. Perpustakaan yang masih terhitung baru itu tampak berantakan dengan buku-buku yang tertutup debu tanda tak pernah dijamah. Lebih kecewa lagi karena dari interaksi dengan anak-anak, kami mendapati dua hal yang dilaporkan pihak sekolah kepada kami-kelas dua SD yang sudah dapat membaca dan anak-anak yang rajin berkunjung ke perpus- ternyata tidak benar adanya.

Hari kedua, kami berkunjung ke sekolah kedua, SDN Cipining 1 di desa Kertajaya. Desa Kertajaya terletak dua desa dari kantor AGM, satu-satunya jalan untuk menuju ke sana adalah jalan desa yang belum diaspal. Kami pun menyewa sebuah minibus Elf untuk melewati jalan yang menyusuri pantai barat Pulau Jawa. Di tengah kepulan debu yang ditimbulkan Elf yang gue tumpangi, gue melihat di sepanjang jalan kondisi masyarakat pedesaan pesisir Banten. Dari pengamatan, gue menyimpulkan sebagian besar penduduk memiliki mata pencaharian sebagai nelayan kecil, petani tanah hujan, atau penambang pasir dan batu. Supir Elf yang kami tumpangi sempat bergurau bahwa desa Kertajaya termasuk bagian Indonesia yang belum merdeka.

SDN Cipining tampaknya lebih siap menyambut kami. Dalam waktu singkat satu ruangan kelas sudah terisi anak-anak yang berseragam sekolah. Tak lama ketika kami mulai berkegiatan, banyak orangtua siswa dan warga sekitar yang bergerombol menonton di pintu atau lewat jendela. Anak-anak SDN Cipining juga terkesan lebih inisiatif dan pede. Kami semua sempat terhibur dengan pantun nakal yang dibacakan seorang anak ketika dia tampil ke depan.

Kondisi perpustakaan di SDN Cipining juga lebih cerah dan terawat. Dari mulut anak-anak kami juga mendapat cerita kalau mereka cukup rutin berkunjung ke perpustakaan. Walaupun begitu kami agak kecewa karena belum ada inisiatif program yang memanfaatkan secara optimal keberadaan perpustakaan.

Secara umum banyak hal yang harus diperbaiki terkait dua perpustakaan donasi yang kami kunjungi. Kenapa kami memilih untuk mendonasikan perpustakaan ke SD? Karena kami percaya buku adalah sumber ilmu yang tak akan lekang oleh waktu. Buku yang bagus akan memberi hentakan yang menggerakkan raga dan jiwa. Dengan memberi anak-anak akses ke buku-buku pilihan sejak dini, kami berharap mereka tumbuh menjadi generasi yang cinta ilmu untuk selanjutnya cinta beramal. Kami sedih karena buku-buku kami tidak atau mungkin belum dimanfaatkan sesuai potensinya. Tanpa dibaca untuk kemudian diambil pelajaran, buku tak lebih dari onggokan beku yang menghabiskan tempat. Iliterasi bukan hanya buta huruf, ketidakmampuan mengambil pesan dari bacaan juga termasuk iliterasi, dan itulah yang ingin kami perangi. Tadinya kami menaruh harapan besar pada mitra pihak sekolah. Misalnya,mereka bisa mengimplementasikan kurikulum berbasis literasi yang melengkapi kurikulum Diknas. Lewat kurikulum berbasis literasi, siswa dapat didorong untuk melihat buku sebagai sumber referensi dan pencetus kreatifitas dan inovasi. Kami lupa bahwa untuk mencapai hal seperti itu dibutuhkan SDM guru yang adibaca, kreatif, dan penuh inisiatif-suatu harapan yang tinggi untuk sebagian besar guru Indonesia.Kami tetap berharap ke depan guru-guru di kedua sekolah tadi juga belajar dan mampu merintis perubahan lewat pendidikan untuk siswa-siswa mereka.

Di hari kedua kunjungan kami itu, kami juga berkesempatan untuk melakukan anjangsana ke LSM Obor Urang, sebuah LSM lokal yang fokus pada usaha menciptakan kegiatan-kegiatan positif di kalangan generasi muda Sumur. Obor Urang sedang membangun sebuah sanggar yang diharapkan dapat menjadi taman baca sekaligus sarana penyaluran kreativitas generasi muda lewat kegiatan seperti jurnalistik dan seni. Ada harapan positif bahwa Obor Urang dapat menjadi mitra kami di Sumur untuk bekerjasama dengan pihak sekolah dalam merancang program-program yang berpusat di perpustakaan.

Catatan perjalanan Cerita dari Ujung Jawa ini akan gue lanjutkan dalam posting berikutnya

Posted in ABCs of Life, Ya Basta ! | 4 Comments »

Asam di Gunung, Garam di Laut

Posted by aresto on August 22, 2006

Terkejut juga gue mendengar berita pertunangan kalian berdua. Walaupun sudah berspekulasi ke arah sana, gue melihat kalian berdua punya begitu banyak perbedaan yang rasa-rasanya akan saling menolak saat dipertemukan. Agaknya gue sudah meremehkan konstruksi ilahiah yang bernama cinta, dan mungkin justru segala beda itu yang membuat kalian saling tertarik. Lagi-lagi itu hanya spekulasi, yang jelas kalian berdua berutang cerita ke gue :)

Selamat untuk sebuah langkah berani dari kalian berdua. Mohon maaf karena tidak dapat hadir secara pribadi karena masih dalam perjalanan dari Ujung Kulon. Terima kasih kalau sudah disebut berperan dalam awal hubungan kalian, padahal yang gue lakukan waktu itu hanya berusaha menjawab pertanyaan sejujurnya tanpa menambahkan bumbu. Gue yakin kalianlah yang memutuskan apakah jawaban-jawaban tersebut berlanjut menjadi sebuah kisah berdua. Gue doakan semoga ini menjadi awal sesuatu yang indah, sesuatu yang menguatkan kalian untuk meraih tujuan bersama, dan insya Allah dalam perjalanannya juga memberi manfaat bagi sesama. Masing-masing kalian punya kapasitas untuk berbuat banyak, jika berdua tentunya luar biasa. Sekali lagi selamat ya…

Posted in ABCs of Life | 2 Comments »

Merdeka Sudah, Merdeka Belum

Posted by aresto on August 22, 2006

Apa definisi merdeka menurut Anda? gue pikir pertanyaan tersebut sangat penting dijawab secara pribadi oleh masing-masing kita. Tanpa memiliki jawaban yang berasal dari suatu proses pemikiran yang personal, gue rasa ngga mungkin kita dapat menghargai, mencapai(bagi meraka yang merasa belum terwujud), apalagi mengisinya.

Dari gue, merdeka berarti punya kebebasan untuk memiliki cita-cita, menjawab panggilan jiwa dan memuaskan diri dengan kenyataan bahwa loe sudah berusaha semaksimal mungkin untuk terwujudnya cita-cita tersebut. Merdeka juga berarti kemampuan untuk konsisten lewat ucapan dan tindakan dengan nilai-nilai yang diyakini diri walaupun ketika semua orang di sekitar mengatakan dan berbuat yang sebaliknya. Tentu saja dengan definisi seperti itu, merdeka bagi gue  lebih sebagai kondisi yang harus terus dievaluasi dan diperbaharui.

Ada orang-orang yang secara pribadi ingin gue temui dan gue minta jawaban dari pertanyaan di awal tulisan ini. Beberapa di antaranya adalah:

  • Pria perlente yang gue lihat turun di BEJ dari sebuah Maseratti hitam
  • Wakil korban gempa di Bantul yang rumahnya roboh dan kini sadar bahwa janji Pak Kalla cuma dobos
  • Panglima perang suku di Kwanki Lama yang sepertinya lebih sibuk bertanya apakah korban sudah impas tapi lupa bertanya mengapa sukunya tidak terdidik dan tidak terberdaya secara ekonomi sehingga punya energi lebih untuk baku bunuh
  • Sopir-sopir angkot yang ngetem di Pasar Minggu tanpa peduli antrian kendaraan macet di belakang mereka semakin mengular
  • Ketua FBR, Pak Fadholi Munir
  • Para anggota DPR yang namanya disebut sebagai calo bencana
  • Para penduduk desa di sekitar sumur Lapindo Brantas di Porong yang kini menatap masa depan tercerabut dari tempat tinggalnya selama ini
  • Tukang gemblong di jembatan penyebrangan Senayan yang kemarin dulu kulihat digelandang Satpol PP

Bagaimana dengan Anda? Apa definisi merdeka menurut Anda?

Posted in Ya Basta ! | Leave a Comment »

Ketika Pak Musholli Sakit

Posted by aresto on August 22, 2006

Terkejut aku mendengar berita Pak Musholli terserang stroke dan harus dirawat di rumah sakit. Apalagi beberapa hari kemarin aku sempat bertemu beliau di acara PKN, dan saat itu beliau tampak sehat. Karena kebetulan sore itu setelah team planning Bank Mandiri aku tidak ada acara, kuputuskan untuk pulang lebih cepat dari jadwal dan janjian dengan Iffan untuk pergi bareng ke RS Haji Pondok Gede.

Setibanya di RS Haji, kulihat Budiman, Pak Misri, dan beberapa rekan alumni angkatan 2 sudah lebih dahulu tiba dari Depok. Pak Musholli yang terbaring lemah tampak gembira menyambut kehadiran kami. Aku bersyukur karena beliau ternyata hanya terkena serangan stroke ringan, dan dharuskan istirahat beberapa minggu. Pak Musholi mengaku heran dengan stroke ringan itu karena dari pemeriksaan tidak ada masalah dengan kadar kolesterol dan tekanan darahnya, dia juga merasa rutin berolahraga. Aku berkata bahwa tubuh ngga bisa bohong dan mungkin ini cara tubuh beliau untuk minta istirahat. Pak Musholli mengakui bahwa dirinya memang sangat sibuk dan dipenuhi banyak beban pikiran.

Wajar saja jika beliau tumbang, mengingat demikian banyak aktivitas dan peran yang harus dijalankannya sehari-hari. Belum lagi ditambah beban pikiran seperti gedung bimbel NF Mampang yang baru saja ludes terbakar dan utang dana pembangunan Gedung PPSDMS Nurul Fikriyang jumlahnya kurang lebih dua miliar. Saat mengobrol dengannya saat menjenguk kemarin aku merasa bahwa masalah-masalah barusan hanya di permukaan saja. Dari “keluh-kesah”nya yang disampaikan dengan tetap dibumbui humor khas beliau, aku menangkap bahwa Pak Musholli sangat prihatin dengan kondisi bangsa yang tak kunjung membaik. Dan yang lebih bikin beliau sedih adalah betapa sulitnya kendala yang harus dihadapi oleh orang yang berupaya untuk memberi sedikit kontribusi untuk memperbaiki kondisi itu.

Di sisi ranjang sakit Pak Musholli, aku berpikir betapa orang yang terbaring sakit di hadapanku ini sudah memberi aku banyak pelajaran dan teladan sepanjang waktu aku mengenal beliau. Kesederhanaan beliau, antusiasme dan semangat yang selalu ditunjukkan dalam setiap kesempatan, humor segar yang membuat cair suasana, atau obsesi beliau yang menunut segala sesuatu serba terencana dan terorganisir baik, menurutku hanya pelengkap dari dua kualitas pribadi yang membuat aku sangat menghormati beliau. Pertama adalah visi yang mencakup kebaikan untuk umat dan keikhlasan untuk berkorban dalam usaha mewujudkan visi itu. Ada ungkapan yang bilang bahwa orang-orang dengan cita-cita yang sama akan pada saatnya akan bertemu, aku melihat bahwa dua kualitas pribadi tersebut yang menjadi magnet yang menarik banyak pihak yang kini bergabung dalam PPSDMS. Ketika dua kualitas itu seperti virus yang menulari semakin banyak orang, aku optimis perbaikan itu akan dan bahkan sedang terjadi. Kami doakan cepat sembuh Pak Musholli !

Dalam kesempatan ini saya sekaligus mengundang pembaca untuk berkontribusi dengan menginfaqkan harta, tenaga , dan pikirannya untuk program PPSDMS Nurul Fikri.

Lebih lengkap tentang PPSDMS dapat dilihat di situs PPSDMS Nurul Fikri

Yang kami harap adalah terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat serta kebaikan dari Allah-Pencipta alam semesta-Idealisme Kami

Posted in ABCs of Life, Seeking Paradise | 5 Comments »

Minggu 3 : Kita Begitu Tak Berdaya ?

Posted by aresto on August 15, 2006


Serangan Israel ke Libanon sudah memasuki minggu ketiga. Mesin-mesin perang Israel tak kenal ampun memenuhi janji seorang panglimanya untuk memutar jam di Libanon mundur 20 tahun ke belakang. Hampir semua kota di Libanon merasakan hebatnya kerusakan yang ditimbulkan arsenal Yahudi. Penduduk sipil seperti biasa menjadi pihak yang paling menderita, sejak awal serangan sudah lebih dari 600 orang penduduk sipil Libanon jadi korban. Yang paling mutakhir, 55 orang yang setengahnya anak-anak terkubur hidup-hidup ketika sebuah rudal Israel meratakan gedung tempat mereka mengungsi di desa Qana.

Penculikan seorang prajurit mereka dijadikan alasan Israel untuk membuka perang 2 front, setelah sebelumnya melancarkan ofensif ke Gaza yang sampai sekarang juga belum berakhir. Otoritas dunia tak berdaya bahkan ketika jelas-jelas Israel kelewat batas, menggunakan otot militernya untuk memberikan hukuman kolektif dan pembunuhan indsikriminan. Sementara, pemerintah negara-negara Arab lebih sibuk berhitung kepentingan masing-masing sambil mengangkat-angkat isu sektarian, seakan konsep keadilan mengenal Sunni-Syiah.

Seperti biasa, AS mengambil sikap “pokoknya bela Israel”. Ketika dihadapkan pada tuntutan untuk memaksa Israel menghentikan serangan dan memberlakukan gencatan senjata, Condi dan Bush mengulang-ulang mantra bahwa perdamaian yang berkelanjutan tidak akan dapat diwujudkan sebelum akar masalah di Libanon -yaitu Hizbullah- dibuat lumpuh untuk selama-lamanya. Perang Irak yang telah berlangsung 5 tahun dan tidak menunjukkan tanda-tanda usai (perhatikan fakta bahwa jangka waktu dari hari ini ke peristiwa 9/11 lebih lama dari rentang waktu dari pengeboman Pearl Harbor sampai penyerahan tanpa syarat Jepang) gagal memberi pelajaran pada AS tentang bagaimana menyikapi konflik di Timteng. Memprioritaskan penumpasan Hizbullah sebagai bagian dari mengurangi pengaruh Iran di kawasan, oleh banyak pengamat AS dan Israel justru dinilai menguatkan posisi Hizbullah. Bush terlalu gelap mata dan dengan mudah menyamakan Hizbullah, Hamas, dan Al Qaeda. Padahal di mata rakyat Libanon dan Palestina, Hizbullah dan Hamas lebih dari sekadar pejuang bersenjata. Bagi rakyat, kedua organisasi ini mungkin melakukan lebih banyak buat mereka dibanding sebagian besar dunia yang selama ini memalingkan wajah. Hamas dan Hizbullah jelas bukan lawan sebanding bagi angkatan bersenjata Israel, tapi dengan menunjukkan kemampuan bertahan di hadapan badai gempuran Israel sebenarnya Hamas dan Hizbullah justru meraih poin-poin kemenangan. Simpati dan dukungan umat Muslim di seluruh dunia semakin memuncak, sementara yang dituai oleh Israel dan AS adalah amarah dan dendam yang menunggu waktu meledak.

Ya Allah aku mohon ampun karena jauh dari berjihad di Palestina. Mungkin termasuk mereka yang dibilang Hasyim Muzadi akan masuk angin duluan sebelum sampai di sana. Sampai di sana pun pasti akan bikin repot, karena tak punya pengalaman tempur sementara harus berhadapan dengan muda-mudi Israel yang terlatih dan bersenjata canggih. Ya Allah mohon ampun juga karena donasiku ke sana jelas tak sebanding dengan konsumsiku. Yang tersisa mungkin qunut nazilahku yang pastinya tak akan bisa menghadang laju Merkava atau membelokkan GBU-28, tapi membuatku yakin bahwa semua ini bagian dari Jadwal, janjiMu pasti benar, dan pertolonganMu dekat.

Posted in Ya Basta ! | 3 Comments »

Ayo Kemping!

Posted by aresto on August 15, 2006

Weekend kemaren sekali lagi gue dapet pengalaman luar biasa. Setelah tak sabar menunggu hari-H dan sempat cemas karena terdaftar sebagai cadangan, alhamdulillah gue berkesempatan untuk ikutan Ayo Kemping : Outing Anak Dhuafa & Anak Jalanan dan Dhuafa. Inilah kegiatan akbar pertama gue sebagai relawan KKS Melati, dan gue seneng banget waktu tahu dikasih kepercayaan untuk jadi salah satu relawan pendamping.

Jadi relawan pendamping itu artinya gue diminta untuk mendamping satu kelompok anak selama kegiatan Ayo Kemping. Memastikan mereka mengikuti peraturan, pulang dengan selamat, dan mendapatkan pelajaran berharga dari kegiatan outing itu. Wah, ngebayangin bakal bertanggung jawab terhadap lima orang anak dalam sebuah kegiatan outdoor gitu bikin gue kebat-kebit sambil merancang rencana apa saja yang harus gue lakukan. Akhirnya gue putusin untuk fokus pada memfungsikan mereka sebagai kelompok yang solid sehingga bisa mandiri.

Sama seperti Uyo, gue kebagian anak2 dari rumah singgah Sekar di daerah Tanjung Priuk. Setelah sampai di sana, ternyata dari 5 anak yang terdaftar di list awal yg gue pegang cuma 1 anak yang jadi ikut. Tapi, kemudian kelompok gue ditambah 2 anak yang baru daftar sehingga total ada 3 anak yang jadi tanggung jawab gue. Ada Jaka dan Jaji yang kelas 6, dan Marcel yang masih kelas 4.

Sejak di tronton selama perjalanan, gue langsung yakin bahwa nih weekend bakal meriah dengan tingkah polah anak2. Sepanjang jalan menuju Ciawi, anak2 itu dengan semangat menyanyikan medley lagu2 khas pengamen bis kota: koleksi Radja, Ungu, Samsons, dan Peterpan. Apalagi ada satu anak yg mahir sekali dengan gitar sehingga begitu abis satu lagu, tanpa jeda dia sudah memainkan intro lagu berikutnya. Begitu masuk kawasan Puncak, anak2 itu memusatkan “energi”nya untuk berebut melongok keluar tronton.

Sesuai rencana gue, begitu nyampe di Cilember, gue minta kelompok gue untuk memilih salah satu sebagai ketua. Kemudian dengan persetujuan mereka gue kasih nama kelompok gue “Tiga Singa” lengkap dengan yel “Auum..auuum..auum”. Di awal-awal kegiatan terutama ketika trekking ke air terjun gue sempet ngerasa gue cerewet banget. Dikit-dikit bilang “awas ini..” lah ,”jangan itu..” lah. Soalnya gue gugup juga disuruh tanggung jawab 3 anak kecil. Terus setlah gue pikir2, gue inget pernah baca artikel tentang penelitian yang mengungkapkan kalo imunitas anak-anak di negara dunia ketiga berlipat kali dibanding kawan2nya di negara-negara maju karena sudah biasa terekspos lingkungan yang lebih keras. Setelah mikir gitu, gue lebih tenang dan mkembiarkan mereka bebas bermain dalam batas-batas yang gue bikin longgar. Apalagi gue tahu dengan keseharian mereka, mereka malah mungkin lebih tough dalam hal survival dan bermain-main dengan bahaya.

Sepanjang kegiatan, gue jadi tahu banyak tentang Jaka, Jaji, dan Marcel. Ternyata ketiganya anak yatim dengan lebih dari dua bersaudara. Jaji menjalani keseharian dengan mengamen selepas sekolah, sementara Jaka dan Marcel walaupun hidup dalam kesederhanaan tidak diizinkan orang tuanya turun ke jalanan. Mereka banyak bercerita tentang lingkungan mereka sehari-hari dengan segala keprihatinan dan masalah masyarakat pinggiran. Sebagai respon, gue berusaha keras agar mereka tercerap ke dalam kegembiraan berbagai aktivitas selama outing. Gue sempatkan untuk bercerita tentang Nabi yang juga yatim, berusaha membahasakan agar mereka mengerti bagaimana pelangi terjadi dan kenapa kunang-kunang menyala, menutup kuping ketika mereka bilang malas sholat karena dingin dan kemudian memaksa mereka tayamum lalu sholat….rasanya tak butuh lama ketika gue sadar sebuah ikatan mulai terjalin di antara kami berempat.

Di akhir outing, tak terbayang kebanggaan gue ketika tahu kalo Tiga Singa berhasil meraih predikat kelompok terbaik putra. Dari senyum dan lonjak-lonjak riang mereka, gue tahu banget kalo kemenangan dan pengakuan adalah sesuatu yang sangat penting bagi mereka. Gue ingin mereka pulang dengan mengingat bahwa selama mereka memelihara harapan, antusias dengan apa yang mereka lakukan, saling membantu dengan sesama, dan tak lupa meminta pada Yang Kuasa, kemenangan-kemenagan kecil ataupun besar pasti akan datang dengan sendirinya.

Ini kegiatan akbar pertama gue sebagai relawan Melati, rasanya sudah ngga sabar untuk kegiatan-kegiatan berikutnya. Thanks ya kamerad Uyo, yang sudah mengajak gue ke dunia yang indah luar biasa.

Posted in ABCs of Life | Leave a Comment »

1 Piala, Sekian Cerita

Posted by aresto on August 15, 2006

Sekitar 20 jam lagi setelah huruf pertama tulisan ini diketik, kick-off pertama Piala Dunia bergulir jauh di Munich sana. Saat itulah ratusan juta pasang mata penduduk dunia akan disatukan oleh pertandingan pertama Piala Dunia 2006 yang mempertemukan tuan rumah Jerman dengan tim non unggulan Kosta Rika.

Selama sebulan ke depan 32 tim nasional akan bertempur memperebutkan Piala Dunia. Nafsu primitif untuk menaklukkan disalurkan dalam permainan di mana dua tim berjibaku memasukkan bola ke gawang lawannya. Tidak ada darah tertumpah karena ini bukan memang perang sungguhan. Tapi, coba tanyakan kepada pemain yang berlaga, pelatih yang beradu taktik, atau supporter yang berdebar sepanjang pertandingan, bagi mereka setiap pertandingan adalah pertarungan hidup mati. Ketika uang mengaburkan batas-batas geografis sepak bola, Piala Dunia justru menghidupkan kembali nasionalisme lewat sepakbola. Tak ada satupun yang rela jika negaranya menjadi pecundang.

Bagi para gila bola, sebulan ke depan adalah waktunya dimanjakan oleh situasi dan kondisi. Gegap gempita Piala Dunia punya kuasa untuk membuat semua beraroma bola. Dari media massa memberi porsi ulasan berlebih tentang bola, jam kantor yang diganggu ngantuk semalam, sampai orang-orang sekitar kita yang tiba-tiba fasih menjadi pengamat sepak bola. Sementara bagi mereka yang tidak bisa menemukan kelogisan sepak bola, terpaksa muak, cuek. atau berpura-pura suka sepak bola sambil berdoa agar sebulan cepat berlalu.

Inilah saat di mana para gila bola dipuaskan suguhan sihir dari pertandingan yang berlangsung di 12 stadion di Jerman sana. Tak ada gol yang sama, karena memang setiap gol tidak berawal dan berakhir ketika bola masuk ke gawang. Di balik setiap gol ada cerita tentang kerja sama tim, mengkilapnya skill individu seorang pemain, semangat tim, bahkan mungkin keberuntungan dan keberpihakan Langit. Ini membuat detik demi detik pertandingan hingga peluit panjang berbunyi begitu berharga untuk ditinggalkan.

Tentu saja bagi gila bola Indonesia, terselip di sana sini pertanyaan tentang kapankah saatnya giliran tim merah putih berlaga di Piala Dunia. Saat ketika sebuah bangsa miskin prestasi menikmati secuil kemewahan harapan. Tak peduli kalah atau menang, yang terpenting adalah menikmati setiap saat ketika hati satu bangsa diikat oleh harapan yang sama. Tapi, tentu saja pertanyaan selingan tadi segera dibungkam oleh kenyataan bagaimana sama sperti banyak hal lainnya di negeri ini, sepakbola pun menjadi korban salah urus. Maka cukuplah bertanya, mari nikmati sajian Piala Dunia, sambil sisakan sedikit doa untuk suatu hari yang jauh itu….

Posted in ABCs of Life | Leave a Comment »

Sabtu yang “Mengorangkan”

Posted by aresto on August 15, 2006

Sabtu kemaren berlalu dengan sangat menyenangkan. Mungkin karena penuh pengalaman yang -meminjam istilah rekan Uyo- “mengorangkan” diri.

Di pagi harinya, gue pergi ke basecamp Ikastara di daerah Cut Meutia untuk ikutan acara Balairung. Balairung ini sebutan untuk forum diskusi informal yang rutin diadakan untuk alumni TN. Tema Balairung kali ini mengangkat rema yang cukup bombastis khas judul training pengembangan diri, “The Road to Success and Significance”. Pembicaranya bernama Hengky S Tjahjadi, yang meskipun namanya belum pernah gue denger, punya CV yang hebat. Di umurnya yang 40 tahun, alumni ITB itu memegang PhD di bidang control engineering dan sekarang menjabat VP di PT Smart, anak perusahaan Sinar Mas yang bergerak di bidang agroundustri.

Tadinya gue skeptis sama nih training , “just another crap” pikir gue. Tapi, antusiasme gue mulai berubah ketika Pak Hengky mengungkapkan definisi suksesnya di awal sesi. Setelah, meminta semua peserta yang hadir untuk menuliskan definisi sukses masing2 di selembar kertas, Pak Hengky kemudian berbagi definisi sukses versi dia. Menurut dia, Tuhan itu punya desain yang berbeda untuk tiap orang. Desain Tuhan buat Bill Gates jelas beda dengan desain Tuhan buat kita, sehingga ngga ada gunanya memaksakan diri mengejar sesuatu yang memang bukan didesain untuk kita. Nah, sebelum yang hadir saat itu jadi ribut dengan perdebatan deteminisme/qadariyah/jabariyah/dll, Pak Hengky mengingatkan bahwa tidak ada satu orang pun yang tahu apa desain Tuhan untuk dirinya. Oleh karena itu, sukses itu mengandung proses pencarian desain Tuhan itu, dan kerja keras kita memanfaatkan semua sumber daya yang kita miliki untuk mewujudkan desain Tuhan buat kita. Menarik bukan ?

Kemudian Pak Hengky melanjutkan bahwa sebenarnya rahasia sukses tuh cuma satu: making right decision. Bagaimana caranya supaya bisa membuat right decision ? Menurut Pak Hengky rahasaianya satu juga: experience. Terus dapet experience dari mana ? Sederhana aja kata Pak Hengky, rahasia experience adalah: making wrong decision. Dalam pencarian kita untuk mewujudkan desain Tuhan buat kita, kita pasti akan bertemu dengan sekuens wrong decision-experience-right decision. Lho kalo cuma begitu aja kok ngga semua orang sukses ? Kata Pak Hengky, jangan lupa bahwa kenyataan tidak semua orang sukses disebabkan memang hanya sedikit orang yang melakukan pencarian itu. Membuatmu berpikir bukan ?

Lanjut lagi, Pak Hengky menjelaskan macam-macam unsur yang dapat menjadi modal bagi kita untuk sukses. Mulai dari spiritual capital, intelectual capital, emotional capital, earth capital, network, time capital (lupa lengkapnya, catetannya ngga gue bawa). Dari sekian modal itu, yang paling menentukan adalah spiritual capital yang terkait dengan nilai-nilai yang kita percayai. Pak Hengky ngga membatasi nilai-nilai ini hanya bersumber dari agama saja, yang jelas menurut dia unsur inilah yang paling menentukan apakah sukses kita hanya sekadar sukses atau sukses yang signifikan. Pak Hengky juga mengingatkan segala upaya kita mengumpulkan, mengolah, dan memanfaatkan unsur-unsur modal pribadi kita itu sebisa mungkin juga menghasilkan apa yang dia sebut eternity capital, modal bagi kebahagiaan abadi kita kelak.

Begitulah Pak Hengky sukses menyuntikkan motivasi bagi alumni TN yang hadir. Ngga banyak sih, cuma skitar 30 orang dan keliatannya yang dateng ya yang itu2 juga. Mudah2an aja yang datang ini bisa menyebarkan motivasi yang sama ke lingkar pengaruh masing2. Kalo gue pribadi sih yang penting mudah-mudahan sindrom post-training kali ini bisa bertahan lebih dari seminggu :D

Sorenya gue mencoba pengalaman baru. Bareng rekan Uyo, gue berkunjung ke basecamp Kelompok Kerja Sosial(KKS) Melati di daerah Ampera. Buat yang belum tahu, KKS Melati ini organisasi relawan yang kegiatannya terutama berupa kerja-kerja sosial di lingkungan ibu kota. Contoh kegiatannya adalah bantuan ke taman bacaan di lingkungan pinggiran, kunjungan ke LP anak, mendongeng di bangsal anak rumah sakit, dan outing anak jalanan. Sesuai perkiraan gue waktu mutusin daftar jadi relawan, KKS Melati ini termasuk organisasi non-ideologis yang anggotanya kebanyakan kaum urban muda yang dalam usaha “mengorangkan” diri sambil “mengorangkan” orang lain.

Di kunjungan pertama gue, gue bener-bener ngerasa canggung. Apalagi minggu sebelumnya ketika Uyo datang dana da kerjaan menomori buku buat taman bacaan, Sabtu kemarin praktis tidak ada kerjaan yang dapat dilakukan. Setelah agak bingung, akhirnya gue berusaha melebur dalam kegiatan bersama anak-anak yang memang rutin diadakan di basecamp Melati setiap weekend.

Sabtu kemarin kegiatannya adalah menggambar bersama. Ingin tahu apa yang digambar anak2 ?Karena ini bukan TK dan KKS Melati ingin menanamkan kesadaran lingkungan hidup sejak dini, anak-anak yang datang diminta untuk menggambar hutan bakau. Sempet geli gue mengingat waktu kecil perasaan ngga pernah deh gue kepikiran gambar hutan bakau. Begitulah sore itu gue dan Uyo menemani Arief, Susi, Wanti, Ajeng, Pandu, Arul, dan Adi menggambar hutan bakau. Kegiatan menggambar rasa2nya hanya menyita sepersekian waktu aktivitas yang disediakan. Yang dominan adalah gue dan Uyo menikmati sekian macam polah, tingkah, tawa, celoteh, gidhak-gidhik anak-anak yang bikin hidup lebih hidup. Satu hal yang gue catat adalah, gue merasakan sendiri jahatnya pengaruh TV pada anak2. Dengan otak yang sedang giat2nya menangkap semua rangsangan indrawi dari luar, anak-anak tanpa sadar mengkopi hal yang mereka lihat di TV. Gawatnya di Indonesia yang ada di pikiran orang-orang TV adalah gimana bikin program yang komersial, tanpa peduli tuh program berkualitas atau ngga. Lebih gawat lagi, banyak ortu dan pengganti ortu (pembantu, babysitter, dll) yang melihat TV sebagai alat paling efektif dalam meredam tingkah anak yang kadang merepotkan. Yang jadi korban adalah anak-anak seperti Pandu, yang sepanjang waktu menggambar kemaren beberapa kali luluncatan sambil meneriakkan bacaan2 menirukan aksi Sang Pemburu (Hantu).

Berlalulah sebuah Sabtu yang menyenangkan dan tentu saja “mengorangkan”.

Posted in ABCs of Life | Leave a Comment »

Pendidikan Alternatif: Upaya Menghapus Stigma

Posted by aresto on August 15, 2006

Untuk angkutan pulang kerja, gue lebih sering memilih untuk mengawali dengan naik M604 sebelum kemudian naik angkot jurusan Depok dari Pasar Minggu. Naik angkutan ekonomi berarti terekspos dengan sisi-sisi khas ibukota, yang sering kali mengusik nurani kita. Di perempatan Pancoran misalnya, M604 menjadi “langganan” seorang pengamen cilik. Bocah perempuan itu mungkin masih berusia TK, rambut pendek dan kulitnya memperlihatkan warna khas terbakar matahari, sementara beberapa gelang mainan di tangannya menunjukkan minat jamak anak perempuan seusianya pada aksesori warna-warni. Gadis cilik itu selalu menyanyikan lagu yang sama, lagu Selingkuh(?)-nya Rossa dinyanyikan terengah-engah dengan suara cadel, sementara kecrekan tutup botol mengiringi sekenanya. Pada satu kesempatan saat lampu merah, kenek M604 yang kunaiki menaruh bocah itu di atas kap mesin metromini, setelah itu dengan berteriak si kenek terus menyuruh bocah itu mengeraskan nyanyiannya, dan dalam sekian detik lampu merah itu menjelmalah metromini itu menjadi sebuah pentas. Si bocah di atas panggung kap mesin, lagu Rossa, seru semangat si kenek, membentuk kenangan yang selamanya tak akan terlupakan.

“Anak, demi pengembangan sepenuhnya dan keharmonisan dari kepribadiannyam harus tumbuh dalam lingkungan keluarga, dalam iklim kebahagiaan, cinta kasih dan pengertian.” Demikian kutipan Konvensi Hak Anak PBB. Demikian bunyinya, sementara bocah perempuan tadi naik turun metromini ketika bocah sebayanya mungkin sedang mengerjakan PR kosa kata bahasa Inggris sambil menunggu kepulangan ayahnya yang manajer di sebuah mnc. Episode dengan si kenek tadi, yang seakan membuat semua hidup gue sampai saat itu tidak berarti, mungkin hanya bagian rutin dari keseharian si gadis cilik. Keseharian bocah itu dan mungkin sekian banyak anak-anak pinggiran lainnya dihabiskan dalam bentuk perjuangan mempertahankan hidup dan mungkin hidup keluarganya.

Alih-alih cinta kasih dan pengertian, yang harus mereka jalani adalah proses dehumanisasi. Mereka marjinal dalam arti benar-benar terpinggirkan sebagai manusia. Berebut kue ekonomi yang tak lebih dari receh, tinggal di pemukiman kumuh yang jauh dari layak, keluarga yang akrab dengan kekerasan domestik, serta lingkungan yang rentan bius eskapis seperti seks bebas dan narkoba. Mereka juga selalu kalah dalam pertarungan dengan struktur vertikal: akses terbatas ke hak pendidikan dan kesehatan, korban politik penggusuran pemda, dan stigma negatif sebagai sampah masyarakat dan penyebab kesemrawutan.

Apakah itu memang suratan mereka ? Akankah mereka sampai bergenerasi sesudahnya harus tetap berada di dalam pengap, suram, dan serba “tanpa” ? Apakah mereka juga tidak berhak atas secercah harapan bahwa suatu saat keadaan akan lebih baik ?

Pertanyaan-pertanyaan tersebutlah yang mendorong Ignatius Sandyawan Sunardi (Mas Sandy) untuk terjun total dalam usaha menyediakan pendidikan alternatif bagi anak-anak pinggiran. Sebuah usaha yang kemudian dia bagi dalam buku Melawan Stigma Melalui Pendidikan Alternatif, bacaan gue minggu lalu.

Disebut pendidikan alternatif karena memang Mas Sandy tidak berusaha menghadirkan pendidikan formal berkurikulum Depdiknas di sanggar pinggir Ciliwungnya. Pendidikan formal justru dinilai Mas Sandy tak akan pernah menjawab masalah anak-anak pinggiran karena tidak membebaskan dan tidak relevan dengan kondisi sehari-hari yang dihadapi oleh anak pinggiran. Karena itu, melalui sanggar yang dirintisnya Mas Sandy lebih menitikberatkan pendidikan yang melibatkan seluruh komponen masyarakat di sekitar sanggar dan bersifat problem posing education dimana “setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah”. Pendidikan yang lebih mengedepankan pendampingan, tidak hanya pendampingan pada anak dan remaja didik, tapi juga pendampingan pada orang tua, komunitas, dan lingkungan tempat mereka berakar. Tidak ada gunanya berusaha memperbaiki kondisi anak dan remaja pinggiran tanpa disertai usaha untuk memperbaiki ruang hidup mereka.

Bicara pendidikan sebagai suatu proses mengubah manusia tentunya tidak lengkap tanpa membicarakan karakter manusia macam apa yang ingin dihasilkan. Beberapa karakter utama yang coba dibentuk dalam pendidikan alternatif anak pinggiran adalah merdeka, mandiri, memiliki solidaritas sosial pada sesama, cinta lingkungan hidup, serta cinta tanah air dan bangsa. Merdeka disebut pertama karena Mas Sandy ingin peserta didiknya punya kesadaran atas konteks ketidakadilan, penindasan sistemik, dan ketidakadilan struktural yang sedang mereka alami sebagai bagian dari masyarakat pinggiran.

Untuk mengawal tercapainya visi pendidikan alternatif tersebut, Mas Sandy merumuskan beberapa prinsip pendidikan alternatif: hidup adalah rahmat, alam adalah sahabat, belajar di mana saja-dari siapa saja, aku ingin tahu, mandiri dan kreatif, pakai kacamata anak, aku punya hak asasi, dan terbuka untuk partisipasi. Dengan prinsip-prinsip tersebut Mas Sandy merancang kurikulum pendidikan alternatif yang sarat dengan kegiatan-kegiatan seperti gelar wacana, riset aksi partisipatoris, olahraga, manajemen organisasi swadaya, workshop keterampilan terapan, dan seni budaya.

Di akhir bukunya, Mas Sandy menyempatkan diri untuk berbagi kebahagiaan melihat kemajuan anak didiknya. Anak-anak yang dulu cenderung tertutup, apatis, kasar, dan fatalis kini terlihat lebih pede, kritis, antusias, dan memiliki solidaritas tinggi pada sesamanya. Sanggar seadanya yang dulu dirintis Mas Sandy kini sudah menjadi bangunan 2 lantai yang sederhana namun artistik di pinggir Kali Ciwung di daerah Bukit Duri. Sesuai harapan Mas Sandy, sanggar itu sudah menjadi milik komunitas lingkungan itu, dengan berbagai kegiatan yang melibatkan partisipasi seluruh warga. Tak lupa Mas Sandy menyampaikan harapan agar buku yang ditulisnya dapat menjadi petunjuk bagi siapapun yang berkeinginan berbuat sesuatu untuk anak dan remaja marjinal. Semakin banyak yang peduli, semakin banyak yang berbuat, berarti semakin banyak anak dan remaja marjinal yang diselamatkan dari menjadi lost generationdi masa depan.

Oh ya, kenyataan bahwa latar belakang pendidikan seminari Mas Sandy, aktivitasnya sebagai anggota Serikat Yesus, tentu menimbulkan kilatan kekhawatiran di hati gue. Tapi, bagaimanapun dia telah menunjukkan etos luar biasa dalam menjalani perjuangan yang dipilihnya. Dan untuk hasil perjuangannya tak pelak kita harus memberi salut, tentu dengan tekad suatu waktu kita setidaknya dapat berbuat sepersekian dari apa yang sudah dia lakukan.

Posted in Just Read It | 2 Comments »

The Kite Runner

Posted by aresto on August 15, 2006

Buku ini begitu dahsyatnya, sehingga untuk waktu lama semua buku lain terasa hambar

Begitu testimoni yang tertulis di sampul The Kite Runner, dan begitu pula yang terasa saat gue selesai membaca buku karangan…. tersebut. Gue sudah baca banyak novel bagus, dan harus diakui kalau novel terbitan Qanita ini sukses mencuri tempat sebagai salah satu novel terindah yang pernah gue baca.

The Kite Runner bercerita tentang kisah hidup seorang tokoh bernama Amir. Pria Afghan yang pada suatu titik hidupnya melakukan suatu kesalahan yang menghantui sepanjang hidupnya, dan pada titik yang lain mengambil keputusan untuk melakukan langkah berani demi menebus kesalahan masa lalunya.

Amir kecil mengungsi bersama ayahnya ke Amerika ketika rezim komunis menjungkalkan kekuasaan monarki Afghan. Meninggalkan tanah air yang selama ini mengisi masa kecilnya, Amir pergi sambil membawa sebuah kenangan pahit. Kenangan ketika ketakutan, egoisme, dan rasa iri membuatnya mengkhianati seorang sahabat setianya. Amir bisa melakukan sesuatu,tapi dia memilih untuk membiarkan suatu kekejian menimpa sahabatnya.

Di Amerika, Amir melanjutkan hidupnya. Suka duka mengiringi langkah Amir di negeri baru, tapi kenangan pahit yang dibawa dari Afghanistan tak pernah benar-benar meninggalkan Amir. Kadang dia datang dalam bentuk mimpi buruk yang mengingatkan Amirdan kadang ketika Amir ditimpa kemalangan, dia merasa itu bentuk hukuman dari kesalahan yang pernah dia perbuat.

Hingga suatu hari, sebuah telepon internasional dari seseorang di masa lalunya, menawarkan kesempatan bagi Amir untuk memperbaiki kesalahan masa lalunya. Tidak dengan mudah tentunya, karena untuk melakukannya Amir harus meninggalkan kenyamanan Amerika untuk kembali ke Afghanistan. Bukan Afghanistan yang dulu Amir kenal, tapi Afghanistan yang sudah porak poranda oleh perang saudara panjang dan saat itu sedang dikuasai rezim Taliban. Perjalanan kembali Amir menjadi perjalanan yang merubah hidupnya. Amir mempertaruhkan hidupnya, mencoba menghapus dosa masa lalunya, menemukan kebenaran-kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya, dan berjuang menghadapi konsekuensi perbuatannya dahulu demi sebuah masa depan yang berbeda. Dalam perjalanan itu juga Amir menemukan Tuhannya, yang selama ini dia tinggalkan. Tuhan yang dia sadari menjadi satu-satunya harapan ketika dirinya putus asa dan tak berdaya

Jarang sekali sebuah novel bisa membuat gue menangis, hebatnya Kite Runner membuat gue beberapa kali menangis (cengeng banget sih..boy’s dont cry gitu lho). Novel ini mengajukan pertanyaan penting, “ketika kita sadar kita sudah melakukan sebuah kesalahan besar, beranikah kita mengambil risiko untuk mempertaruhkan segalanya ketika ada kesempatan untuk memperbaikinya ?” juga “sejauh mana kita siap bertindak benar ?” Tak hanya bertanya, Kite Runner juga menjawab pertanyaan itu dengan mengulang-ulang pesan “selalu ada jalan untuk kembali pada kebaikan” . Mungkin jalan itu menanjak, atau tersembunyi di balik rumpun berduri, atau malah begitu lurus dan lengang tapi kita yang memilih untuk berpaling.

Terus gue nangis karena Afghanistan yang dulu indah, Afghanistan yang hancur oleh perang, Afghanistan yang dikoyak bara kebencian etnis dan sektarian, Afghanistan yang kini terjajah dan terlunta..itu negeri Islam. Yang bikin gue tambah sedih adalah si penulis yang orang Afghan menumpahkan kebencian luar biasa terhadap rezim Taliban, begitu fasihnya cara dia melukiskan kekejian Taliban sehingga gue yakin banyak pembaca yang bergidik dan punya alasan kuat untuk membenci segala sesuatu yang menjadi identitas Taliban.

Gue juga nangis mikirin kekejian yang harus dihadapi anak-anak yang diceritakan dalam novel ini. Membayangkan harus tumbuh dengan membawa luka yang mungkin tak akan pernah sembuh. Sedih gue memikirkan generasi seperti apa yang akan lahir dari anak-anak yang mungkin tak pernah mengenal kata bahagia.

The Kite Runner adalah sebuah novel indah, sarat makna, n sekali lagi bikin gue nangis …beli deh :D

Posted in Just Read It | 2 Comments »