Dialog 2 Pencari
Posted by aresto on August 8, 2006
Tulisan seorang teman, Faraida – Aida Vyasa Zahranakumail. Anak Solo.
Pssst, namanya keren ya …![]()
n gak ada pesan lain-lain dari saya tentang tulisan ini,
udah bagus, keren dan sesuai dengan saya.![]()
salam,
Ari Condro
===JIHAD YG BENER TU YANG GIMANA??? (*)
=====================================Pada hari ke-17 Ramadhan turun wahyu Al-Quran kepada
Nabi-Nya, Muhammad Saw. Dan wahyu yang pertama kali
turun adalah ayat-ayat satu hingga kelima Surah
al-`Alaq. Di dalam ayat itu tidak hanya ada perintah
membaca saja, melainkan juga qalam. Menulislah wahai
hamba-hamba-Ku. Adakah kemuliaan yang lebih tinggi
dari mengerjakan perintah yang diturunkan paling oleh
Tuhan?(Hernowo)Pagi ini, saya melihat berita di TV dan Koran, tentang
orang-orang gila yang memenggal kepala pemuda Jepang.
Seorang pemuda gagah, harapan orang tuanya itu kini
tinggallah sebuah nama yang aku yakin, namanya akan
dikenang seluruh Jepang sebagai Martyr. Aku pun
menganggapnya seperti itu. Terserah dengan pendapat
kalian. Tapi jika kalian menganggap bahwa apa yang
mereka lakukan adalah sebuah jihad, maka bolehlah aku
tersenyum?Baiklah, aku takkan berbicara lagi tentang pemenggalan
kepala. Aku akan berbicara tentang apa yang terjadi
dengan orang-orang yang KTP nya Islam? Aku lebih
menyarankan mereka menyakiti diri mereka sendiri
ketimbang menyakiti orang lain (makhluk lain). Hingga
sekarang ini aku masih kalut dan tak tahu apa yang
bisa kuperbuat untuk dunia ini. Bahkan untuk sekedar
menjelaskan bahwa JANGAN MENGATASNAMAKAN AGAMA untuk
memberantas pelacuran dan perjudian saja susah! Mereka
terus-terusan saja berjaga-jaga di depan cafe, standby
dengan kostum putih-putih, sayangnya hanya kerja di
bulan Ramadhan. Kayaknya aku bisa mengatakan bahwa
setan dikurung di bulan Ramadhan itu sekedar MITOS.
Nyatanya masih banyak yang berbuat lebih keji dari
yang setan perbuat. Setan cuma berbisik. Lah sedangkan
manusia, kalau tidak membunuh karena alkohol, maka
mereka membunuh karena agama.Kasihan agama. Kasihaaan!
Yang memecah belah umat sekarang ini bukanlah agama.
Tapi kepentingan politik dan ekonomi. Kalian pun tahu
tentang hal ini. Yang salah itu bukan agama. Tapi
orang-orang yang katanya beragama tapi tidak agamis.
Yah! Orang-orang yang having religion, tapi tidak
being religious. Sebelum memahami orang lain; kita
pahami diri kita masing-masing. Jika kita adalah orang
yang beragama, apa yang kita pegang sebagai pedoman
hidup. Jika kita tidak beragama, maka apa yang kita
pegang sebagai jalan hidup? Semua orang punya
kesempatan untuk fanatik terhadap sesuatu; dan jika
seorang sosiolog mengatakan bahwa agama adalah
fanatisme, maka, sah-sah saja jika ada orang yang
fanatik dengan meditasi, menganggap kontemplasinya itu
sebagai agama. Jadi hargailah. Mudah bukan? Tidak usah
pake bersitegang urat leher.Semua itu ada prosesnya. Aku merasakannya sendiri. Aku
merasakan bahwa kita bukanlah budak agama. Kita juga
bukan anak doktrin. Kita semua; jika mau membuka
pikiran dengan lapang dada, maka akan melakukan sebuah
pengembaraan dalam hutan yang sebenarnya. Dan untuk
memahami orang lain adalah dengan mengakuinya sebagai
manusia, dan bukannya sebagai perwakilan agama, rasa
atau bahkan budaya. sempit sekali kita membatasi diri
kita senidri. Manusia itu kompleks, dalam, dan penuh
misteri. Masih ingat tidak dengan sebuah hadist,
barang siapa mengenal dirinya maka akan mengenal
Tuhannya? Nah! Kalau kita mendefinisikan manusia
dalam sebuah batasan kotak-kotak agama, wah wah wah
… alangkah bodohnnya kita yang mudah terperangkap
dalam penampilan.Yah! Kalian yang ketakutan dengan Islam adalah
orang-orang yang tertipu dengan penampilan. Sama
halnya kalian – orang-orang yang mengaku Islam, dan
yang ketakutan dengan merebaknya maksiat di bulan
Ramadhan (saja???!!!!), kalian tertipu dengan
penampilan diri kalian sendiri. jika kalian tetap
masih memakai ego kalian dalam berkomunikasi, maka
tidak akan ada titik temu. (kata “kalian” bisa berubah
menjadi “kita”, “saya”, “aku”, “kamu”, “mereka”)Gee! Titik temu kali ini tidak sekedar titik temu
pembicaraan. Kalian tahu apa yang Schuon ajarkan ke
diriku. Bahwa ada titik-titik temu agama-agama. Ini
bukan utopia! Di majalah ISLAMIA, dikatakan oleh Adnin
Armas bahwa gagasan Schuon tentang titik temu
agama-agama pada level esotoris adalah ‘utopia’, hanya
karena gagasan ini merupakan hasil dari pengalamannya
ketika terlibat dari kehidupan agama-agama. Ini sama
saja dengan mengatakan bahwa pengalaman adalah guru
terburuk yang pernah ada. Tidakkah akan cukup
mengerikan kalau akhirnya mungkin kita juga akan
mengetahui bahwa sebenarnya ‘agama’ sendiri juga hasil
dari pengalaman spiritual seseorang? Kesimpulan
dangkal bahwa Islam yang dikenalkan Schuon bukanlah
Islam untuk ummat, malah mengaburkan arti Islam itu
sendiri. Karena pengenalan Islam ala Schuon-lah yang
mampu menggeret ratusan ribu manusia untuk kembali ke
Islam. Sebut saja Gai Eaton.Kembali ke masalah inti. Apa yang bisa kita perbuat?
Spiritualitas sudah bangkit. Tapi kenapa dunia bagian
sana masih sajaaaaaaaa hidup jahiliyyah. Apakah aku
harus mengambil sebuah kesimpulan klasik bahwa
perubahan mulai dari diri sendiri? Bahwa aku akan
mulai menguliti ras, kebangsaan, identitas religius
agar bisa trukun dengan yang lain? tidak bisakah kita
menganggap bahwa semua perbedaan itu bukan big
deal??!! Multi agama ini berkah euy! Tidak terbayang
bukan jika dunia ini menganut satu agama?! Dan aku
masih belum mendapatkan jalan keluar bagaimana aku
bisa berbuat.Hmm …. agama adalah fanatisme.
Lalu whitehead mengatakan bahwa agama adalah apa yang
kita lakukan dalam kesendirian. Ok! Aku bisa terima
jika ada orang yang bilang bahwa agamanya meditasi,
atau sepak bola bagi mereka adalah seseuatu yang mirip
agama. Tapi bisa terimakah anda jika ku katakan, bahwa
membaca, menulis dan mengikat makna adalah sebuah
agama. Tunggu dulu! Jangan terlalu cepat menyudutkan
diriku. Aku sudah terbiasa disebut semi kafir, tapi
belum saatnya aku dipanggil begitu hanya karena aku
berkata seperti itu. Ini semua mengacu pada definisi
operasionalnya. Iya, khan?![]()
Membaca menulis dan mengikat makna adalah fanatisme
untukku. Dan aku melakukannya dalam kesendirian. Jika
aku memakai batasan agama yang dibuat orang seorang
anak manusia sosiolog; filusuf whitehead, maka mungkin
aku benar adanya. Tapi jika aku memakai definisi F.
Schleiermacher tentang agama, maka aku takkan
mengatakan bahwa membaca-menulis-mengikat makna
sebagai agamaku. Tapi apa yang kurasakan tentang
Tuhanku setelah aku membaca-menulis dan mengikat makna
itulah yang aku sebuah sebagai agama; yaitu feeling of
absolute dependence.Aku ingin kembali mengikuti perkuliahan whitehead
tentang agama. Lebih lanjut whitehead mengatakan kalau
faktor-faktor terpenting dari agama adalah emosi,
pengalaman, intusi dan etika. Nah! Ini lebih mirip
dengan prosesku menulis selama ini. aku menempatkan
emosi, mengumpulkan pengalaman, mengandalkan intusi
dan melangkah bersama etika. Ini sikap menulis yang
tengah berkembang saat ini.Hmmm…. sikap menulis atau sikap beragama yah?
![]()
Aku tidak heran kalau di Barat, Tuhan tidak lagi Maha
Kuasa. Lhah wong di Indonesia saja tuhannya sudah
berubah jadi macam-macam. Saya setuju ama bocah nakal
yang jerit-jerit “Anjing hu Akbar …. Anjing hu
akbar” di sebuah kampus di Bandung. WHY??? Karena itu
adalah tuhan yang pas buat orang-orang yang beragama
tapi tidak agamis. Buat orang yang shalat tapi makan
harta anak yatim. Buat orang yang ngaji, khatam
ratusan kali, tapi tukang ngerasani. Jadi please deh
jangan ngerasa kalian yang teriak-teriak Allahu Akbar
sambil bawa parang dan main bacok ke orang itu adalah
yang benar sendiri.Sekarang! Mana yang absurd? Menteri berjas yang
mengajak dialog antar umat beragama atau kyai yang
memimpin pembantaian atau pengrusakan?Ah!! Jika aku seorang anak menteri, aku mungkin akan
bilang, “Ayah, gimana kalau ayah jadi Menteri Khusus
Dialog aja. Biar kita ngga picik dan penuh prasangka
ama umat beragama lain.”Valhalland, 1 november 2004
(*) Aku terinspirasi menulis ini karena:
1) Petuah seseorang bahwa Iqra dan Qalam adalah
perintah Tuhan Allah
2) Tulisan Hamid Fahmy Zarkasyi yang berjudul AGAMA.
(dalam sebuah majalah ISLAMIA; kolom EPILOG). Disana,
Zarkasyi berkata bahwa “Samar-samar seperti ada suara
besar mengingatkan kalau anda tidak pluralis, anda
seorang teroris”. Aku yang tidak sepenuhnya setuju
dengan Zaraksyi, tiba-tiba ingin saja berceloteh
sana-sini. Bolehkan?
Dear Bang Arcon,
Banyak bagian dari tulisannya Mbak Aida (asumsi saya
perempuan) adalah respon terhadap berbagai pemaparan
yang ada di majalah ISLAMIA Thn I No 3. FYI , majalah
ini hampir semua kontributornya adalah
peneliti/mahasiswa di ISTAC-IIUM Malaysia
Baru2 aja saya juga membaca habis majalah tersebut dan
mendapatkan pencerahan luar biasa setelah membacanya.
Majalah yang lebih tepat disebut jurnal ini membongkar
habis teologi pluralisme agama yang tokoh terkenalnya
adalah F.Schuon. Pelajaran yang lebih penting yang
saya dapat dari majalah itu, sebagai seorang Islam,
adalah penyegaran kembali makna Dienul Islam dan
konsekuensi ber-dienul Islam -bukan beragama- dalam
kehidupan saya sehari-hari.
Ketika membaca posting Bang Arcon saya berharap bisa
mendapatkan pelajaran lagi. Tapi kok saya malah
bingung, jadi sebenarnya beragama menurut dia itu
bagaimana sih ? lebih lanjut lagi karena sepertinya
Mbak Aida ini orang Islam ,menurut dia ber-Islam itu
seperti apa ?
Mungkin Bang Arcon bisa jawab karena di awal
menyatakan tulisannya Mbak Aida ini sesuai dengan Bang
Arcon…
Oh ya, supaya pembaca ngga salah persepsi dengan
Epilog yang ditulis Hamid Fahmy Zarkasyi (abisnya Mbak
Aida ngutipnya membuat persepsi yang salah tentang
tulisan itu) ,saya akan mengutip juga dari Epilog
itu…
“Kini agar menjadi seorang pluralis kita tidak perlu
meyakini kebenaran agama kita. Kata-kata Hamka “yang
bilang semua agama sama berarti tidak beragama”
mungkin dianggap kuno.Kini yang laris manis adalah
konsep global theology-nya John Hick, atau kalau
kurang kental pakai Transcendent Unity of Religion-nya
F .Schuon. Semua agama sama pada level esoteris. Di
negeri Muslim terbesar di dunia ini, lagu-lagu lama
Nietzche tentang relativisme dan nihilisme dinyanyikan
mahasiswa Muslim dengan penuh emosi dan
semangat.”Tidak ada yang absolut selain Allah” artinya
‘tidak ada yang tahu kebenaran selain Allah’. Shari’ah
, fiqih, tafsir wahyu, ijtihad para ulama adalah hasil
pemahaman manusia, maka semua relatif. Walhal, Tuhan
tidak pernah meminta kita memahami yang absolut
apalagi menjadi absolut. Yang relatif pun bisa
mengandung yang absolut, Secara kelakar seorang kawan
membayangkan di Jakarta nanti ada papan iklan besar
bergambar kyai dengan latar belakang ribuan santri
dengan tulisan singkat “Yesus Tuhan kita juga”"
Salam, Aresto
Dear Aresto,
Waktu kamu pertama kali posting di milis TN, tentang keherananmu terhadap
sikap para aparat dalam menghadapi demo mahasiswa, ingatan saya membayangkan
sosok anak aktivis mahasiswa yang lagi rajin-rajinnya demo. Malah saya kira
afiliasinya gerakan kiri. Kamu lagi berubah ya …. ?
Malah saya kira kamu seperti bang Budi Pru”simo”, kalau lihat nama kamu
di list nama anak TN. Masih di Depok kan rumahmu ??? Jangan-jangan jaman
kecil dulu saya sering lewat depan rumahmu, soale aku tinggal di
Jl. Maengket I no. 163 Depok II Tengah, dan jaman SD dulu, seminggu tiga kali
menyusuri jalan menuju tempat latihan Tapak Suci, ngelewatin daerah tempatmu.
Udah berapa tahun ya, sejak rumah Depok ditinggalkan (pindah ke malang ? ),
13 tahun man, sempet menimba ilmu di SMP 4 Depok sampai kelas dua (cari yg deket rumah)
dan akhirnya, saat ini gue jadi orang Bekasi. Jaman dulu, Tri-M udah hebat banget.
Jalan Proklamasi aja baru jadi, Pesona Kayangan yang di belakang rumah gue,
masih hutan dan kebon di sepanjang kali Ciliwung, tempat main kita sehari-hari.
Itu sekedar kesan saya ingat Depok dan ingat kamu. Uhuyyyy. Gak ada hubungannya
ama diskusi. Sekedar romantisasi ajah !. Boleh kan …
Mas Aresto, dijaman aku kuliah, sekitar semester 3, aku mulai gelisah, dan melakukan pencarian.
Dari mempertanyakan motivasi dalam berjilbab, sampai ikutan berbagai halaqoh dari teman-teman
Tarbiyah-PKS-Kammi, HT-intensif ketika kuliah di IKIP Malang (yang akhirnya gak kelar),
ikutan ngaji kembali di berbagai masjid NU, diskusi intens dengan anak-anak yang secara kultural NU, ikutan tinggal di Pondok NU selama PKL di Lamongan sambil ngamatin pesantren Muhammadiyyah, Lamongan itu salah satu kota ijo royo-royo dengan berbagai aliran, ikutan ngamatin anak-anak Jamaah tabligh, bahkan ikutan ngaji kitabnya orang-orang Salafinya Jafar Umar Thalib bolak-balik, ikutan Salafy yang aliran lain, sampai-sampai saya yang anak Malang ini hidup nomaden dan kos demi hidup secara verstehen bersama mereka. Gaya pengamatan saya ini yang akhirnya membuat aku sempat terbenam di dunia penelitian. Pengamatan saya yang paling intens terus terang di anak Tarbiyah dan NU.
Saya gak berusaha nyombong dengan cerita tentang interaksi sekilas dengan berbagai harokah itu, saya yakin banyak yang pencariannya lebih dahsyat, wong bang Bono Budi Priambodo, sampai ngabur dari AAL, masuk Hukum UI, dan ngamen di bis-bis ibukota, ada lagi anak TN yang katanya sampai di Ambon berjama laskarnya pak jafar, dll. Ntar dech, cerita-cerita lagi yang lebih seru.
Ini email aku buat tadi pagi, akhirnya gak kelar juga meski udah sore.
Btw, udah baca Titik Balik Peradabannya Fritchof Capra gak ? Ini orang sesama Fritchof.
Tapi lain dengan Fritchof Schuon yang nulis Filsafat Perennial. Yang pasti setelah melakukan
pembacaan ke atas, kita kudu kembali ke realita, melakukan pembacaan ke bawah.
Sekedar pertanyaan dan PR buat yang sedang asik mencari, di bawah saya copy pasti sebuah diskusi di milis partai-islam, tulisan mas Bimo Ario Tejo dan satu lagi dari xxx (lupa namanya)
di milis budaya tionghua. Lalu tanya pada hati, bagaimana seorang manusia, terlepas dari apa
kepercayaannya, akan merespon masalah “Thailand” ini.
salam,
Ari Condro
Aida adalah seorang pencari, teman-teman Istac asik dengan ortodoksi agama, wallahualam.
===
Majalah yang lebih tepat disebut jurnal ini membongkar
habis teologi pluralisme agama yang tokoh terkenalnya
adalah F.Schuon. Pelajaran yang lebih penting yang
saya dapat dari majalah itu, sebagai seorang Islam,
adalah penyegaran kembali makna Dienul Islam dan
konsekuensi ber-dienul Islam -bukan beragama- dalam
kehidupan saya sehari-hari.===
BIMO :
Maksud saya, PKS membela muslim Pattani yang jelas2 akan memisahkan
diri dari pemerintahan Thailand. Artinya, PKS membela separatis.
Nah, apakah PKS juga membela separatis muslim Acheh yang ingin
memisahkan diri dari RI? Isunya adalah separatisme: kenapa kaum
separatis di Pattani didukung sedangkan di Acheh tidak? Nggak
kedengaran tuh PKS membela GAM yang dibantai TNI. Di Pattani itu kan
GAM versi Thailand.
Coba anda riset lagi kenapa wilayah Pattani dan Narathiwat itu
bergolak. Kan anda lagi seneng2nya riset..hehehe… Saya sih ada
sumber langsung, orang Pattani, kawan akrab pula…
salam,
bimo===
xxx :
Seorang pegawai negeri Thailand beragama Buddha, Selasa pagi kemarin
ditemukan tewas dengan kepala terpenggal sebagai tindakan balasan atas
sebuah peristiwa yang mengakibatkan tewasnya 87 orang beragama Islam
sepekan sebelumnya. PBB bahkan telah mengingatkan seluruh petugasnya
untuk extra hati-hati jika harus berada di bagian selatan Thailand.
(http://asia.news.yahoo.com/041103/ap/d864d03o1.html) Walaupun
pemerintah RI belum mengeluarkan pernyataan resmi, saya mohon kepada
seluruh umat Buddha untuk lebih berhati-hati dan jika tidak terpaksa,
hindari dulu daerah selatan Thailand sampai permasalahan ini reda.Namo Amitofo
Dear Bang Arcon,
Wah ternyata pernah tinggal di Depok juga toh…
Saya di Depok Timur, Bang..jadi kalo dari Tri-M di jalan baru masih belok kiri n masuk lebih ke dalam lagi. Depok sekarang udah beda banget dengan dulu…semakin ngga nyaman buat tempat tinggal. Developer rame balapan bikin mal,n payahnya lagi semuanya numplek plek di Margonda. Sepertinya adanya UI cuma ngaruh jadi potential market aja buat bermacam bisnis di Margonda, tapi kontribusi keilmuan UI untuk pengembangan kota Depok bisa dibilang ngga ada.
Saya ngga berubah kok, Bang…dari dulu yah seperti ini, di kanan agak ke tengah dikit
Kalo dulu keliatan agak reaksioner dan militan waktu ngebahas demo2 mahasiswa ,mungkin karena waktu itu saya masih muda (sekarang udah lebih tua 2 tahun) dan lebih banyak ditugaskan di garis depan (siapa yg nugasin, kok mhs tapi ada penugasan, saya yakin Bang Arcon ngerti lah… )
Dibanding Bang Arcon, mungkin pencarian saya kalah seru…saya kenal Tarbiyah sejak SMP (ini Depok, Bang ). Tapi tentu saja waktu itu mentoringnya masih gaya ABG lengkap dengan ngumpul bareng anak2 Rohis sambil nasyidan…
Sewaktu hijrah ke Magelang, saya otomatis putus dengan kegiatan Tarbiyah. Di TNlah petualangan saya dimulai…karena memang dari kecil sukanya baca, perpustakaan TN jadi tampat favorit saya. Sampai umur segitu saya belum pernah ketemu perpustakaan dengan koleksi selengkap itu. Saya peling suka baca buku-buku sejarah dan biografi, dari jajaran novel favorit saya Alistair Maclean, Tom Clancy, Jack Higgins, sama Forsythe. Nah , dari perpustakaan ini jugalah saya berkenalan dengan banyak pemikiran Islam ….Ali Syari’ati, Emha, Cak Nur, Amien Rais, Kuntowijoyo, Komaruddin Hidayat, Kang Jalal, Mohamad Sobary. Buku-buku mereka sangat mewarnai pemikiran keislaman saya, apalagi Bang Arcon tahu sendiri bagaimana pelajaran Agama di TN lebih mendekati pelajaran sejarah zaman Jepang, sementara pengajian di hari Mingggu sangat hambar.
Waktu mulai kuliah di UI, saya kembali ke pangkuan Tarbiyah. Saya kembali intens mengikuti kajian2 mereka, dan melibatkan diri sebagai aktivis dalam kegiatan2 mereka. Berbagai pemahaman yang saya internalisasi selama di TN membuat saya mejadi jundi yang sangat kritis…bahkan bisa dibilang bandel n mbalelo. Sering sekali saya mempertanyakan keputusan-keputusan ,bahkan kadang menunjukkan sikap2 pemberontakan. Tapi, ada hal-hal yang membuat saya yakin dengan pilihan saya (sedikit di antaranya mungkin sudah Abang baca di reply terakhir saya ke Anjar ) dan terus berusaha memperbaiki pemahaman,komitmen, dan amal saya dalam ber-dienul Islam.
Sekitar semester 5, saya bergabung dalam sebuah program pembinaan SDM milik Nuruk Fikri. Digagas dan dioperasikan oleh orang-orang Tarbiyah , program ini berwujud pesantren mahasiswa yang pesertanya heterogen. Ada temen2 yang pernah nyantri di Jombang, ada yg dari ponpes Persis di Garut, ada yang masih ponakannya Gusdur, ada yang HMI totok. Di program inilah saya banyak belajar bersama dan dari teman-teman yang lain. Kita biasa berdiskusi secara informal tentang berbagai hal, dan kadang2 pengelola mendatangkan tokoh-tokoh untuk diskusi bareng. Di sinilah saya merasakan sekali bagaimana perbedaan yang kalo di luar keliatannya kok ngga mungkin jalan bareng, kok ya adem tentrem ,bahkan produktif buat perkembangan pribadi kita masing2…
Bang Arcon, sampai sekarang saya sama dengan Mbak Aida n Bang Arcon juga masih mencari…Tapi, kalo memang Schuon dkk benar tentang all paths lead to One Truth saya memilih untuk mencari di satu path saja. Bagi saya memilih berarti memfokuskan diri saya untuk berjuang dan berkontribusi di jalan tersebut.
Ini bukan berarti saya menutup mata dengan mereka yang memilih path yang berbeda atau mereka yang memilih untuk mencoba semua path, Saya termasuk penggemar posting2 Bang Arcon karena banyak memberikan view baru dari path2 yang buanyak sekali di luar sana, saya menyikapi pemikiran,pemahaman,pendapat yang berbeda sebagai suatu pengayaan terhadap apa yang sudah ada pada saya.
Tentang ISTAC dan Islamia, saya sepakat lah kalo Bang Arcon melihat mereka ortodoks. Yang jelas yang saya kagumi dan ingin belajar dari mereka adalah kesungguhan mereka untuk ikut berperan membangun kembali peradaban Islam. Untuk itu mereka mengajak untuk kembali pada tradisi keilmuan Islam, tapi sambil begitu mereka juga tak mengharamkan penyerapan unsur-unsur peradaban lain. Bukan sekedar menerjemahkan atau jadi bebek, mereka melakukan mekanisme dan proses ilmiyah yang akhirnya menghasilkan suatu sintesa yang orisinal dan kuat, serta suatu islamisasi konseptual.
Tentang Pattani, ah ..saya rasa Abang bisa kira2 lah jawaban saya seperti apa.

papabonbon said
aresto, membahas istac dan rekan rekan insist, aku lagi banyak berusaha berdialog dengan mereka. sayang mereka eksklisif dan tidak menjadikan milis insist bagian dari tempat berdiskusi dan berwacana.
berikut ini kritik dari rekan di milis KMNU. salah satu kritik yang bahasanya lebih enak dan lebih mudah dimengerti dibandingkan tulisan aida. dan menurut aku, punya esensi yang sama dengan tulisan faraida. cuman kali ini lebih tajam langsung membahas teologi rekan rekan insist/istac
===
—– Original Message —–
From: irwan berhati nyaman
To: kmnu2000@yahoogroups.com
Sent: Sunday, December 31, 2006 8:45 PM
Subject: Balasan: Re: [kmnu2000] Menyoal ‘Pembaruan Islam’
Mas Anam, paradigma Hamid Fahmi Zarkasyi, Adian Husaini, dan koleganya yang lain memang demikian. Mereka sangat alergi Barat.
Rasionalisme, dalam asumsi mereka, tak lain adalah produk Barat. Mereka tidak menyadari bahwa sejatinya rasionalisme adalah inti dari bagian ajaran Islam itu sendiri. Terdapat puluhan ayat yang memotivasi umat Islam untuk berpikir kritis dan rasional, sehingga harmonisasi –lebih tepat integralitas– antara agama dan rasionalitas nampak aksiomatis.
Relativisme juga mereka anggap semata-mata sebagai produk postmodrnisme, tapi mereka lalai jika realativisme sesungguhnya selalu dijunjung tinggi oleh ulama klasik Islam. Dalam sebuah statemen yang cukup familiar, para raksasa klasik Islam menyatakan “ra`yuna shawab yahtamilu al-khatha` wa ra`yu ghayrina khatha` yahtamilu al-shawab” (pendapat kami benar tapi mungkin saja salah, sementara pendapat orang lain adalah salah tetapi ada kemungkinan benar). Dengan demikian, relativisme merupakan prinsip adiluhung bagi para ulama, bukan semata-mata diseruput dari Barat. Ulama benci otoritarianisme, absolutisme, dan monopoli klaim kebenaran mutlak.
Statemen tersebut secara eksplisit juga menandakan bahwa pendapat ulama hanyalah sekadar ra`yu fi fahm al-din, bukan agama Islam itu sendiri. Anehnya, mengapa Fahmi tetap saja menolak dikotomi antara pemikiran keagamaan dengan agama itu sendiri.
Sangat ngawur jika disparitas dan dikotomi antara pemikiran agama dengan agama hanya diklaim sebagai semata-mata diadopsi dari Barat.
Differensiasi antara pemikiran agama dan agama, bagi saya, adalah pintu masuk untuk melakukan pembaharuan, karena dengan begitu kita dapat melakukan desakralisasi terhadap khazanah intelektual klasik.
Meski demikian, memang harus diakui, bahwa differensiasi dan dikotomi itu semakin meniscaya lantaran didukung oleh pengalaman gelap keagamaan Barat. Di sini kritik kaum Marxis terhadap agama menjadi penting dicermati. Kalangan Marxis menyaksikan Kristen Eropa dibajak oleh para agamawan yang besekongkol dengan para borjuis untuk menindas kaum proletar. Marxis pun menyaksikan agama Yahudi diplintir oleh para agamawannya untuk menjustifikasi eksploitasi dan beberapa tindakan despotis lainnya. Di lain sisi, kaum Marxis juga melihat agama Hindu dibajak oleh para agamawan guna melegitimasi sistem kasta yang amat destruktif. Oleh sebab itu, tak pelak jika kaum Marxis akhirnya mengklaim agama sebagai candu yang membius masyarakat dalam suasana ketertindasan mereka dan hanya memberi kompensasi pahala akhirat sebagai ganti atas kegetiran masyarakat. Kritik Marx ini setidaknya juga berangkat dari ketiadaan pembedaan antara pemahaman keagamaan para agamawan dengan agama itu sendiri.
Sehingga agama tidak bisa lepas dari kritikan mereka.
Islam bisa saja dikritik sebagai candu masyarakat jika dalam realitasnya telah dibajak oleh agamawan maupun penguasa untuk melegetimasi kepentingan subjektif tertentu, antara lain kepentingan politik seperti yang terjadi pada masa silam pasca Arbitrasi.
Islam juga telah dibajak oleh para agamawan. Jika teks primer Islam (baca: al-Quran dan hadits) telah mengajarkan toleransi, maka fuqaha klasik dengan intoleransi rame2 berpendapat melarang mendirikan gereja dan berfatwa untuk merobohkannya. Jika al-Quran mencita-citakan pengenyahan praktik perbudakan, maka, seperti kata Gammal al-Banna, sebagian fuqaha malah menyatakan bahwa perbudakan adalah sistem abadi dan tidak boleh ditiadakan. Jika al-Quran mengajarkan egalitarianisme/feminisme, maka fuqaha patriarkis malah mencoba memarginalkan dan mendomestifikasi perempuan. Jika pernikahan adalah kontrak untuk mewujudkan keluarga sakinah, maka para fuqaha “dengan erotis” mendefinisikan nikah dengan “transaksi manfaat vagina”. Jika agama mengajarkan perdamaian, maka kaum radikal memahaminya sebagai agama yang lekat dengan fenomena bombing. dan banyak lagi penyelewengan dalam Islam.
Penyelewengan dan perselingkuahan ini akhirnya menuntut para pemikir progresif kontemporer untuk menggelindingkan ide dikotomis antara pemahaman keagamaan dengan agama. Pemahaman bersifat profan, relatif, nisbi, dan temporal, sementara agama bersifat sakral, absolud, etc.
Dikotomi ini amat perlu guna menyelamatkan Islam dari klaim-klaim bahwa Islam adalah candu masyarakat. Dari uraian ini setidaknya kita sadar bahwa ide dikotomi bukan semata-mata diadopsi dari Barat, melainkan juga memiliki kaki pijak referensial dari akar khazanah pemikiran Islam klasik.
Desakralisasi dan sekularisasi, menurut Fahmi juga dipandang semata-mata diadopsi dari konsepsi Harvey Cox dan R N Bellah. Bagi saya, klaim ini tidak tendensius dan terkesan simplistis. Memang benar bahwa Cak Nur acap mengutip pendapat keduanya dalam beberapa tulisannya, tapi bukan berarti Cak Nur hanya menjiplak pendapat Bellah dan Cox. Cak Nur Allahummaghfirlahu, dalam pembacaan saya, lebih tepat diposisikan seperti Ibn Rusyd ketika melakukan proyek harmonisasi antara filsafat dan Islam. Cak Nur tidak hanya mengcopy paste pandangan Cox dan Bellah, tetapi lebih jauh dari itu, seperti tercermin dalam buku Islam: Kemodernan dan Keindonesiaan, Cak Nur menemukan “konvergensi” antara gagasan Cox dan Bellah dengan teks-teks al-Quran dengan pemahaman yang kontekstual. Desakralisasi dan sekularisasi bagi saya bukan hanya adopsi dari Barat, melainkan juga terinspirasi dari ajaran Muhammad saw. Muhammad saw adalah Rasul yang sekular, karena menurutnya: “idza amartukum bi amr
dinikum fakhudhuhu, wa idza amartukum bi amr dunyakum faiianama anna basyar”. Anjuran Muhammad dalam persoalan duniawi, dalam kapasitas Muhammad sebagai manusia biasa, tidak usah diikuti, seperti kata al-Qarafi yang dikutip oleh N. J. Coulson dalam A History of Islamic Law.
Lebih jauh lagi, bagi saya, sekulariasi yang berarti “bentuk sakralisasi semata-mata hanya terhadap transendensi Tuhan dan mendesakralisasi hal-hal duniawi” adalah tingkatan tauhid yang paling tinggi.
Dalam persoalan lain, dalam sebuah pertemuan dengan Adian Husaini, saya juga pernah menyodorkan data-data valid terkait dengan adanya konvergensi sinergis antara hermeneutik dgn teori tafsir para raksasa klasik Islam, tetapi dengan simplistis dia menjawab, “jika dalam Islam sendiri ada tafsir, kenapa harus mengadopsi hermeneutik?” Intinya, dari awal temen-temen ISTAC sudah curiga dan alergi dengan Barat. Meraka tidak bisa mengambil hal-hal positif dari Barat. Barat bagi mereka hanya sampah. Semua sampah!!!
salam,
R-1 Masduqi
Dery said
mau tanya nih sobat2,
ada yang tau gak tempat latihan tapak suci di citayam?