Festival Nasyid, Mbak Inneke , dan pendapatku…
Posted by aresto on August 8, 2006
Di kepala sejak 2 minggu lalu, sekarang dipindah ke Tabulas
Di awal Ramadhan ini gue nyempetin menghabiskan waktu di rumah sekitar 3 hari. Ngga bener2 3 hari sih, karena biasanya baru nyampe rumah sebelum buka.
Waktu nonton TV setelah tarawih ada fenomena menarik yang mendorong gue untuk berpendapat. Pertama iklan Sunsilk Lime baru yang menampilkan Mbak Inneke yang cantik sebagai bintang iklan dan jelas ditujukan untuk segmen wanita berjilbab. Kedua adalah kehadiran 2 festival nasyid ala AFI di dua stasiun TV swasta berbeda.Dari segi syi’ar Islam , jelas adanya fenomena tersebut membawa angin segar. Keduanya membantu syi’ar Islam dalam mengangkat aspek-aspek keislaman di ruang kesadaran masyarakat. Iklan Sunsilk tersebut misalnya, membantu penegasan bahwa jilbab bukan sesuatu yang mewakili budaya Arab saja, atau simbol ketertindasan Muslimah. Sementara festival nasyid semakin mempopulerkan nasyid sebagai suatu alternatif kesenian bernafas Islami kepada masyarakat.
Tapi, dari segi lain ada hal yang perlu jadi perhatian. Kita tidak boleh lupa bahwa perusahaan produsen Sunsilk dan kedua TV swasta tersebut adalah entitas bisnis. Sebagai entitas bisnis, pertimbangan2 ekonomilah yang akan selalu menjadi prioritas. Maraknya partisipasi masyarakat dalam kegiatan-kegiatan Islami ditangkap sebagai suatu peluang market baru. Dengan menggunakan simbol-simbol agama mereka membidik konsumen secar emosional. Ikatan kepada agama yang kuat akan menjamin kesetiaan terhadap produk yang ditawarkan.
Untuk hal di atas, kita tidak bisa menyalahkan perusahaan2 tersebut. Karena sekali lagi itu sudah merupakan suatu trait alami dari suatu entitas bisnis. Yang menjadi kekhawatiran kita adalah apabila nilai-nilai Islam yang sampai ke masyarakat hanya sekedar cover dan bukan content. Jilbab misalnya hanya dimaknai sebagai aksesoris penutup kepala, tanpa disertai pemahaman akan konsep hijab. Yang lebih gawat lagi adalah ketika orang-orang yang diharapkan menjadi membawakan syi’ar Islam secara benar justru terjebak untuk menyesuaikan diri dengan selera pasar. Waktu menonton festival nasyid tersebut misalnya, gue cukup kaget melihat salah satu kelompk membawakan “In the Still of the Night”-nya 4PM. Lho, lagu ini kok bisa masuk kategori nasyid?
Itu pendapat gue. Buat rekan-rekan aktivis da’wah fenomena2 ini harus dilihat sebagai suatu tanda bagaimana da’wah sudah memasuki era baru. Materi2 halaqah kini dijual bebas dalam bermacam buku. Partai da’wah mengalami peningkatan suara signifikan dan beberapa kali disebut media sebagai partai paling berpotensi untuk keluar sebagai top three di tahun 2009. Para masyaikh da’wah kini sudah banyak yang menjadi tokoh publik bahkan selebritas. Gerbong da’wah kini dipenuhi orang-orang yang sangat heterogen. Ada tanggung jawab untuk memastikan gegap gempita nilai-nilai keislaman yang hidup dan berkembang di masyarakat lebih dari sekedar bungkus.
