Angels & Demons (Verdict : Nice Message, Lack Research)
Posted by aresto on August 9, 2006
Setelah membaca Da Vinci Code gue pikir itu akan jadi kali terakhir gue membaca karya Dan Brown. Terus terang gue ngga menemukan apa sebenarnya yang membuat Da Vinci Code bisa menjadi bestseller dunia. Mungkin bagi masyarakat Barat yang Kristen membaca Da Vinci Code “menantang iman dan akal mereka”, persis seperti yang diklaim oleh penerbitnya. Tapi, bagi gue Da Vinci Code tidak lebih dari sekadar conspiracy mambo jambo. Yang membuatnya sedikit menghibur adalah berbagai pengetahuan dan sejarah seputar Renaissans yang digunakan si tokoh utama dalam memecahkan misteri yang dihadapinya.
Ketika mendengar Angels & Demons (A&D) diterjemahkan dan membaca secara sekilas resensinya di koran, gue langsung berpikir kalau Da Vinci Code yang bestseller mengecewakan, apalagi buku ini yang merupakan karya Dan Brown sebelum Da Vinci Code. Sementara banyak orang mulai membicarakan A&D, gue sama sekali ngga memiliki minat untuk membacanya.
A&D terlupakan sampai kemudian Paus meninggal dan mendapat liputan luar biasa di media massa. Suatu hari, ketika sedang menonton liputan langsung dari Vatikan, Alief menceritakan bagaimana A&D juga mengambil setting waktu di seputar kematian seorang Paus dan bagaimana berbagai tradisi suksesi seorang Paus dijelaskan di novel itu. Tertarik, gue tambah excited ketika tahu Alief punya versi bahasa Inggris A&D, sebuah hadiah dari temannya yang akhirnya malah tidak terbaca karena kemudian dia memutuskan untuk lebih baik membeli dan membaca versi Indonesia.
A&D harus diakui lebih menarik dari perkiraan gue sebelumnya. Bukan ceritanya, bukan jalinan misteri yang baru terungkap di akhir. Petualangan Robert Langdon, profesor simbologi dan sejarah seni Harvard, dimulai dari kematian seorang ilmuwan di CERN. Langdon dipanggil untuk menyelesaikan kasus ini karena di dada si ilmuwan terdapat sebuah ambigram sempurna bertuliskan Illuminati. Bersama anak si ilmuwan, yang kebetulan seorang wanita seksi dan juga seorang doktor, Langdon menyusuri jejak si pembunuh dan berusaha mencegah meledaknya bom waktu antimatter yang dapat meluluhlantakkan Vatikan. Cerita ini menurut gue sangat biasa, dan lebih tidak menarik lagi dengan teori konspirasi yang dimasukkan ke dalamnya. Illuminati seperti kita mungkin tahu, adalah organisasi rahasia yang oleh banyak buku konspirasi ditempatkan dalam satu bab dengan Freemason, Knights of Templar, Rothschild, Rockerfeller, dan semacamnya. Ngga tahu ya kenapa, walaupun percaya dengan keberadaaan organisasi-organisasi ini gue benci membayangkan dunia begitu mudah diatur oleh lembaga-lembaga ini. Gue khawatir kalo terlalu percaya dengan teori konspirasi model ini akhirnya kita kok ngerasa lemah banget, dan take for granted kalo hidup kita memang ditentukan oleh bajingan2 itu.
Yang membuat gue tertarik untuk membaca adalah bagaimana Langdon mengajak kita untuk menjelajahi Vatikan, rahasia-rahasianya, dan tradisi njelimet yang dilakukan dalam memilih Paus baru. Membaca tentang hal-hal ini, apalagi sambil mengikuti liputan media massa tentang Paus bikin gue kagum melihat bahwa ternyata umat Katolik masih punya patron dan warisan organisasi dan tradisi yang relatif bertahan sampai saat ini. Sesuatu yang saat ini tidak dimiliki oleh umat Islam. Perpustakaan Vatikan misalnya, mungkin menyimpan koleksi literatur terlengkap tentang segala yang terkait dengan agama Katolik dan Renaissans. Bukan tidak mungkin sebagian koleksi dari masa keemasan Islam justru tersimpan rapi di sana. Dari segi aset, Vatikan juga memiliki kekayaan luar biasa: karya-karya terbaik masa Renaissans, bagian dari pampasan perang di Dunia Baru, setoran upeti dari monarki-monarki dunia pada masa ketika Vatikan dipimpin orang-orang korup, entah harta apalagi yang disimpan di ruang-ruang penyimpanan rahasia.
Hal kedua yang menjadi daya tarik A&D adalah kedalaman pesan yang coba disampaikan oleh Dan Brown. Melalui novel yang ditulisnya Dan Brown mencoba menggambarkan suatu masalah serius dalam peradaban Kristen Barat yaitu problematika sains dan agama. Memang nyatanya Barat menjadi peradaban maju dapat dikatakan tanpa teks suci, tanpa otoritas teolog, bahkan tanpa Tuhan. Barat adalah peradaban yang meninggalkan Tuhan dari wacana keilmuan, wacana filsafat, dan juga ruang-ruang bagi kehidupan publik. Sains adalah Promotheus yang mencuri api dari para dewa dan membawanya ke bumi untuk manusia. Dengan sains peradaban Barat berusaha menjawab seluruh pertanyaan yang dihadapi manusia, mulai dari fenomena alam sampai pertanyaan tentang Tuhan itu sendiri. Bacon pernah berkata “Theology is known by faith but philosophy should depend only upon reason”, artinya teologi tidak masuk akal dan filsafat harus nir-iman kepada Tuhan.
Problematika inilah yang diangkat dengan sangat baik oleh Dan Brown dalam A&D, simak saja apa yang dikatakan tokoh camerlengo dalam pidato putus asanya yang ditujukan pada Illuminati (p. 380): “The ancient war between science and religion is over. You have won, but you have not won fairly.You have not won by providing answers. You have won by so radically reorienting our society that the truths we once saw as signposts now seem inapplicable. Religion cannot keep up. Scientific growth is exponential. It feeds on itself like a virus. Every new breakthrough opens doors for new breakthroughs. Mankind took thousands of years to progress from the wheel to the car. Now we measure scientific progress in weeks. We are spinning out of control. The rift between us grows deeper and deeper, and as religion is left behind, people find themself in a spiritual void. We cry out for meaning. And believe me we do cry out. We see UFOs, engage in channeling, spirit contact, out-of-body experiences, mindquests-all these ideas havae scientific veneer, but they unashamedly irrational. They are desperate cry of the modern soul, lonely and tormented, crippled by its own enlightment and its inability to accept meaning in anything removed from technology.”
Yang membuat konflik ini makin intriguing dalam novel Dan Brown adalah pada akhirnya dia tidak mengambil sikap dan menyelesaikan novel dengan kemenangan salah satu pihak. Angels and Demons bukan representasi yang dia pilih untuk masing-masing pihak. Dan Brown justru memperlihatkan pada pembacanya Angel dan Demon adalah dua sisi yang terdapat baik dalam agama maupun sains dan manusialah yang menjadi bandul pendulum yang bergerak di antara dua sisi itu.
Dalam hal pesan tersirat inilah menurut gue A&D lebih bagus jika dibandingkan dengan Da Vinci Code.
Meskipun begitu, ada hal-hal yang cukup mengganggu dalam novel tersebut. Yang pertama adalah penggambaran tokoh Hassasin tak bernama yang berperan menjalankan rencana Illuminati. Istilah Hassasin merupakan sesuatu yang diambil dari sejarah peradaban Islam. Hassasin adalah sebutan bagi sebuah sekte Syi’ah penganut aliran Ismailiyah yang berdiri sekitar masa akhir khalifah Abbasiyah. Ada yang menyebut bahwa Hassasin berasal dari kata hashish yang sering digunakan oleh anggotanya sebelum melakukan pembunuhan, tapi ada juga yang menjelaskan bahwa nama hassasin berasal dari nama pendirinya . Didirikan oleh Hasan-i Sabbah , yang kemudian menjadi Grand Master pertama Hassasin bermarkas di sebuah benteng kokoh di puncak karang yang diberi nama Alamut. Hasan merekrut pemuda-pemuda fanatik dan dengan berbagai metode human programming melatih mereka menjadi pasukan pembunuh yang loyal, efisien, dan efektif. Salah satu ciri Hassasin adalah seni membunuh dengan menggunakan belati dan melakukan pembunuhan di muka publik untuk semakin memperkuat efek ketakutan yang timbul. Hassasin kemudian memiliki reputasi sebagai penebar teror dengan berbagai pembunuhan politik yang mereka lakukan untuk menghabisi lawan-lawan mereka atau untuk memenuhi pesanan dari pihak-pihak yang berkonflik saat itu. Banyak sumber sejarah menyebutkan bahwa “jasa” mereka digunakan baik oleh pihak-pihak yang terlibat dalam konflik internal khalifah maupun oleh pasukan Salib. Dari reputasi mereka inilah kemudian sampai sekarang kata assasin masih digunakan untuk menyebut pelaku pembunuhan dengan motif politik.
Pembaca yang tidak pernah membaca sejarah Hassasin akan mendapat kesan bahwa Hassasin adalah orang Arab, Muslim, menjalankan tugasnya sebagai bagian dari pembalasan dendamnya pada pasukan Salib, dan menikmati tubuh perempuan sebagai hadiah bagi setiap kemenangan. Ini cukup membuat gue jijik. Padahal kalau saja dan Brown berniat baik dan mau menghabiskan sedikit waktu untuk riset sejarah sebagaimana dia meriset Vatikan dan karya-karya renaissans, Dan Brown akan menemukan fakta-fakta berikut : Satu, Hassasin bukan penganut Islam mainstream , bahkan beberapa kali otoritas Islam masa itu mencoba menghancurkan benteng Alamut tapi selalu gagal karena kuatnya pertahanan alam dan terlatihnya garnisun Hassasin. Saladin, misalnya, setelah menutup cabang Hassasin di Damaskus kemudian tiba-tiba seperti enggan berurusan dengan mereka setelah Hassasin mengumumkan niat untuk membunuh semua kerabat Saladin, ada juga cerita yang mennyebutkan bahwa Saladin mengurungkan niatnya setelah Hasan sendiri secara pribadi ,entah bagaimana caranya, meletakkan sebuah belati di dada Saladin ketika beliau tidur. Kedua, Hassasin tidak akan memiliki dendam kesumat terhadap pasukan Salib. Sepanjang perang Salib praktis Hassasin mengambil sikap oportunis dan satu-satunya yang mereka bela adalah kepentingan mereka sendiri. Kalau memang seorang keturunan Hassasin menaruh dendam harusnya kepada pasukan Mongol yang pada invasinya di bawah Ulagu Khan berhasil menghancurkan Alamut dan menghabisi sebagian besar anggota Hassasin. Ketiga, seorang Hassasin tidak akan mau bekerja dengan penuh setia sebagai agen Illuminati. Setiap tugas yang dijalankan anggota Hassasin berasal dari Grand Masternya, dan tidak pernah atas perintah orang lain apalagi Illuminati yang jelas punya keyakinan agama berbeda dengan mereka.
Selain misguiding lead yang sepertinya disengaja, pembaca Da Vinci Code yang kemudian juga membaca A&D akan bertanya-tanya tentang begitu banyaknya kemiripan antara keduanya. Kalau dipetakan misalnya : ada Galileo dan Bernini yang punya peran yang sama dengan Da Vinci, Illuminati bisa dibandingkan dengan Opus Dei, Hassasin dengan Silas, Maximilian Kohler dengan Bezu Fache dan banyak lagi. Seakan-akan kedua novel tersebut dibuat dengan template yang sama. Ada kecurigaan bahwa Dan Brown memoles ulang A&D yang tidak laku menjadi Da Vinci Code yang kemudian ternyata berhasil menjadi best seller.

papabonbon said
ttg asasin.
===
elceem
to apakabar
show details
5/11/06
> From: “helsing744″
> Kalau pasukan Ottoman yg dididik sebagai pembunuh sadis itu saya
> kira lebih dikenal dgn sebutan “hassashin” (dulu ada film Mandarin
> yg saya suka yg berjudul “Assasin Nations”), yg kata Dan Brown
> berasal dari kata “hasshis” karena pasukan tersebut selalu berpesta
> pora menggunakan hasshis setelah mereka ´sukses´ membatai musuh2nya
> *******************
Tulisan rekan saya, Herman Ardiyanto – yang mengulas latar belakang
kelompok Assasin dan hubungannya dengan tokoh Thio Boe Kie di cerita
To Liong To, sekte Ismailiyah, sekte Beng Kauw, Omar Khayam.
Pertama kali dimuat di milis Tjersil dan kemudian sekarang ini
diarsipkan di:
http://indoforums.info/index.php?option=com_content&task=view&id=17&Itemid=99999999
Herman Ardiyanto: Ismailiyyah dalam Beng Kauw
====================================================
Beberapa saat setelah boe kie bermimpi menikah dengan tio beng, tjie
djiak, in lee yang sudah berubah tjantik, serta siauw tjiauw ketika
terombang-ambing di laut lepas, in lee mengigau dan menyanyikan
beberapa rubai.
“pada achirnja badan manusia
tak bisa lari dari hari itu
hari ini ada kesenangan
nikmatilah kesenangan itu
siang dan malam seratus tahun
jang berusia tudjuhpuluh sudah djarang ada
sang waktu mengalir bagaikan air gelombang demi gelombang”
lalu sebuah lagu parsi yang diajarkan Han hoedjin (Taykis) :
“datang, bagaikan mengalirnja air
pergi laksana siliran angin
entah dari mana datangnja
entah dimana tudjuannja”
ketika ditanya Tio Beng, Tjia Soen mendjawab :
“Beng-kauw berasal dari Persia dan meskipun bukan lagu Beng-kauw, lagu
itu mempunjai hubungan rapat dengan Beng-kauw,” djawabnja, “lagu itu
telah digubah pada dua abad lebih jang lampau oleh seorang penjair
persia jang paling terkemuka, jaitu Omar Khayyam. sepandjang tjerita,
lagu itu dapat dinjanjikan hampir oleh setiap orang Persia. dahulu,
waktu aku mendengar njanjian Han Hoedjin, aku pernah menanjakan
asal-usulnja dan han hoedjin telah memberi keterangan djelas kepadaku.
tjeritanja adalah begini: alkissah, pada djaman itu di Persia terdapat
seorang guru besar, imam Mowaffak. ia mempunjai tiga orang murid
terkemuka, jaitu Omar Khayyam, Nizam ul Mulk, dan Hasan ben Sabbah.
omar khayyam mengutamakan ilmu sastera, nizam terutama mempeladjari
ilmu politik, sedang hassan unggul dalam ilmu silat. mereka bertiga
bersahabat erat dan belakangan, mereka bersumpah untuk sama-sama
senang dan sama-sama susah.
“sesudah mereka keluar dari rumah perguruan, nizamlah jang paling
beruntung dan ia mendjadi vizier, atau menteri pertama, dari shah
persia. waktu kedua sahabat karibnja datang kepadanja, nizam merasa
girang dan memohon supaja radja persia memberi pangkat kepada mereka
itu. hasan diberi pangkat dan menerimanja, tapi omar menolak. ia hanja
minta tundjangan uang, supaja ia bisa mempelajari ilmu bintang,
menjusun kalender dan menulis sadjak-sadjak, tanpa harus memikiri soal
penghidupannja. dengan rasa menjesal, nizam meluluskan permintaan
sahabat itu.
tapi hasan seorang jang berangan-angan besar dan tidak bisa terus
menerus berada dibawah kekuasaan orang lain. ia memberontak dan
setelah pemberontakannja ditindas, ia menjembunjikan diri disebuah
gunung¹. ia mengumpulkan orang-orang jang tidak keruan dan melakukan
perbuatan-perbuatan terkutuk, seperti membunuh dan sebagainja. ia
mendjadi kepala dari sebuah gerombolan jang namanja menggentarkan
dunia dan diantara para pedjoang salib, ia terkenal sebagai “si orang
tua dari pegunungan”. di daerah barat, banjak sekali manusia jang
binasa didalam tangan hasan dan pengikut-pengikutnja².
“menurut keterangan han hoedjin, diudjung daerah barat terdapat sebuah
negeri, jaitu negeri inggeris. radja inggeris, edward, dimusuhi oleh
“si orang tua dari pegunungan” jang belakangan mengirim orang untuk
membunuh radja tersebut. pengawal-pengawal radja ridak berhasil
memukul mundur orang-orangnja hasan dan radja dilukai dengan golok
beratjun. sjukur tanpa memperdulikan keselamatan diri sendiri,
permaisuri memberi pertolongan dengan mengisap luka sang suami dan
menjedot keluar ratjun itu. dengan demikian, radja terluput dari
kebinasaan.
“hasan benar-benar djahat. belakangan, ia bahkan memerintahkan orang
untuk membunuh nizam ul mulk, sahabat karib jang pernah memberi banjak
bantuan kepadanja. pada waktu mau melepaskan napasnjajang penghabisan,
nizam telah mengutjapkan dua baris sadjak jang tadi diutjapkanoleh in
kouwnio, gubahan omar khayyam.
“achirnja han hoedjin memberitahukan, bahwa banja pengikut beng-kauw
di persia mempeladjari ilmu silat “si orang tua dari pegunungan”. ilmu
silat dari sam-soe sangat aneh. sangat mungkin, ilmu silat mereka
didapat dari tjabang itu.”
“loo ya tjoe” kata tio beng, “sifat han hoedjin menjerupai sifat ’si
orang tua dari pegunungan’ kau mentjintai dia, tapi dia mentjelakai kau.”
tjia soen menghela nafas. “dalam dunia ini, mebalas kebaikan dengan
kedjahatan adalah kedjadian lumrah,” katanja dengan suara berduka. ”
kau tak usah merasa heran.”
¹ pada tahun 1090, hasan merampas benteng alamut, di propinsi rudbar,
didaerah pegunungan selatan laut kaspia ² di benua eropa, hasan dan
pengikutnja dinamakan “assassin”. mungkin sekali perkataan “assassin”
muntjul dari perkataan “hashish” sematjam tumbuh-tumbuhan jang daunnja
memabukkan, seperti madat, dan jang digunakan oleh manusia-manusia itu
sebelum mereka melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk.
sedikit tentang beng kauw [b] beng kauw atau agama terang jalah
manichaeism atau agama dari mani. mani (terlahir dalam tahun 216)
adalah puteranja seorang bangsawan, penduduk ecbatana. ia dididik baik
oleh ajahnja dan dipelihara dalam lingkungan sekte mandaeans. ketika
ia dilahirkan, terdapat dua agama besar jang saling bertentangan,
agama kristen dan mithraism. mani mempeladjari kedua-duanja dan iapun
mempeladjari magism dari persia sendiri (sekarang iran). agama
manicheism memiliki bagian-bagian dari agama-agama tersebut… dst
djilid 7 hal 457 … bahwa beng kauw sering dinamakan orang sebagai
“agama iblis” (mo kauw), bukan sama sekali tidak beralasan, sedang
ilmu silat [b]seng-hwee-leng adalah gubahan “si orang tua dari
pegunungan,” “si radja iblis” jang bisa membunuh manusia tanpa berkesip…
ulasan tentang beng kauw “Jin Yong’s Ming Cult: A Historical
Verification” pernah dikirim oleh krikil, bisa ditemukan
http://groups.yahoo.com/group/arsiptjersil2003/message/1347 (bisa
dibaca di ujung surat ini). selain itu, beberapa posting berikut juga
berkaitan
* aris http://groupsyahoo.com/group/tjersil/message/2317 JY sendiri
membuat24 catatan kaki dalam tulisan mengenai Jengis Khan ini dan
menggunakan 11 referensi termasuk 5 referensi asing. Satunya catatan
perjalanan Marco Polo dan satunya buku Russia mengenai Jengis Khan
sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Tionghoa sedangkan 3 lainnya dalam
bahasa Inggris. Di salah satu catatan kaki, JY bicara tentang Shan
Zhong Lao Ren (atau Orang tua dalam gunung) dan para pembunuh yang
dikenal dengan nama Haschachihn dalam bahasa Tuli (entah ini bahasa
apa lagi?) dari salah satu sekte “sesat” (menurut JY). Konon, kata
Assassin dalam bahasa Inggris itu asalnya dari Haschachihn dalam
bahasa Tuli dan anak buah SZLR dari Persia ini.
* herman http://groupsyahoo.com/group/tjersil/message/2320 assassin
ini salahsatu ordo sufi. artinya fundamentalis, bukan pembunuh.
pendirinya memang “orang tua dari pegunungan”. saya pernah baca ini
dalam kumpulan tulisan nurcholis madjid hasil diskusi di yayasan
paramadina.
* azis http://groupsyahoo.com/group/tjersil/message/2326 Setuju dengan
suhuaris. assassin sering diasosiasikan berasal dari kata “hashish”
yaitu bahasa Afghanistan dan sekitarnya untuk opium. Biasanya para
pembunuh bayaran mengkonsumsi hashish sebelum memulai kerjanya, dan
dari sanalah kata assassin bermula. mengenai “orang tua dari gunung”,
bukankah dalam footnote di To Liong To disebutkan mengenai istilah
ini, yang dinisbahkan ke Omar Shariff dari Persia (sebagai penemu
pelengkap jurus Kian Kun Tay Lo I)?
* stefanus tombeng http://groupsyahoo.com/group/tjersil/message/2400
Assassins, secret society of Muslims that existed during the Crusades.
Founded in Iran in the 1090sby a Fatimid missionary, Hasan-I Sabbah,
the order was purportedly composed of users of the drug hashish. The
Assassins originated in the Ismaili branchof the Shia sect of Islam.
They had a hierarchical system of power, headed by the
Shaykh-al-Jabal, who was known to the Crusaders as the “Old Man of the
Mountains.” This leader was aided by two groups of subordinates, and
below them were members of the society who obeyed the commands of
their chief, even unto death. From their base in the city of Qazvin in
Iran, the Assassins originally spread their influence throughout the
Islamic world by establishing a chain of hill forts in northern Iran
and by pursuing a policy of secret assassination against their
enemies. Toward the close of the 11th century, the Assassins also
gained a foothold in northwestern Syria, where they are said to have
terrorized the invading Crusaders in a campaign of systematic murder.
In 1256, however, the Persian strongholds of the order were destroyed
by the Mongols under Hulagu, founder of the il-Khanid dynasty in
Persia. Sixteen years later the Assassins in Syria were wiped out by
Baybars I, ruler of the Islamic Mamluks. Bagaimana menghubungkan
cerita To Liong To dengan Lempeng Tanda Bengkau yang berisi jurus
jurus Bengkau dari Persia/Iran (?) Sedangkan Mani sendiri tidak
mengajarkan Islam. Yeah mungkin inilah cerita yang dibuat berdasarkan
sejarah yang copy and paste (?).
1. tentang hubungan nizam al mulk, omar, dan hasan dalam catatan akhir
buku omar khayyam, harold lamb menulis : “there isno evidence that
omar had any intercourse with hassan or the assassin propagandists.
but the legend of the three schoolfellows – which makes out,long after
they were all dead, that nizam al mulk, omar and hassan went to school
and formed a compact that they would aid each other thereafter -
pictures him as intimate with hassan. omar and hassan were two of the
leading spirits of persia in their generation; they appeared on the
scene at the same time, and they died within a year of each other;
hassan is almost ubiquitous in his travelling about, and it was his
custom to invite distinguished men to alamut. so there is a strong
probability that omar may have been one of the guests of alamut.
adapun nizam al mulk, terlalu tua buat menjadi teman sekolah omardan
hasan. lagian dia jadi perdana menteri sultan alparslan dari bani
saljuq yang mati dibunuh kaum ismailiyyah.
2. orang tua dari pegunungan.
http://homepage.ntlworld.com/anthony.campbell1/assassins/ : Count
Henry of Champagne visited the Assassins in 1194, and is supposed to
have witnessed a remarkable display of loyalty on behalf of the
followers of the “Old Man of the Mountain”. (This is another
misconception: “Old Man” is a literal translation of the Persian word
“pir”, which here means “sheikh” or “master”.) sheikh al jabal = hasal
al sabah (sabah kemungkinan berarti tujuh, karena dia penganut syiah
imam tujuh / ismailiyah, sama seperti omar khayyam. khayyam = tukang
tenda, nama bapaknya ibrahim), bukan omar shariff (bintang film ?)
3. nama assassin. saya salah, hasan al sabah tidak pernah mendirikan
assassin. dia cuma ketua cabang ismailiyyah di parsi (pusatnya di kairo).
From all this modern scholarship has emerged a picture of the
Assassins which, if it lacks some of the lurid qualities of the
legend, has at least the merit of credibility. Moreover, the truth
turns out to be more enthralling than the fiction. No longer can we
believe in the Old Man of the Mountain hatching his evil plots and
sending forth his murderous emissaries drugged with hashish. Such a
state of mind hardly seems compatible with the legendary
accomplishments of the assassins — their superlative cunning,
patience, knowledge of languages, and so forth — and in any case our
modern experience of terrorism does not suggest that its perpetrators
require any narcotic stronger than fanaticism itself. Besides, if the
claims of modern users of hashish are to be believed, the effects of
the drug tend more towards pacificism than murderousness. But there is
no real evidence that the Assassins used hashish at all, at least for
this purpose. (It is possible that they used it as a psychedelic agent
for religious reasons, but that is another matter.) The term
“hashishin”, from which our word Assassin very probably derives, was
not used by members of the sect themselves but was a nickname applied
by their enemies; even so, it was notin common use. The usual names
for the Assassins were “esotericists” (batinis), Ismailis, or Nizaris.
4. mengingat beberapa fakta di atas, juga perjalanan lenghou tiong ke
markas tiau yang sin kauw (mo kauw juga) ke atas tebing yang mirip
dengan alamut, serta kian koen tay lo ie yang sepuluh tingkat, maka
dengan ini dinyatakan bahwa dalam gado2 beng kauw adonan chin yung,
selain terasa manis gula mani dan gurih kacang goreng zoroaster,
lidahku juga merasakan pedas cabe ismailiyah Smile
5. omar ini edun. punya observatorium, ngarang rubaiyyat (1004 bait !,
kabarnya), ngomentarin euclides, bikin buku aljabar (pemecahan
persamaan pangkat tiga seperti yang diceritakan harold lamb bisa
dilihat di
http://jwilson.coe.uga.edu/emt669/Student.Folders/Jones.June/omar/omarpaper.html).
bing, sepertinya liang ie shen tidak menyiksa jagoannya, kalau mau
belajar banyak ya jadinya susah kawin. kayak omar, kayak jagoan liang
ie shen, kayak ahli liang ie shen… he he he
herman [b]Jin Yong’s Ming Cult: A Historical Verification *Written by
Laviathan
The Ming Cult is a long-forgotten religion which had ceased to exist
for centuries. In the past, it only drew the attention of a small
number of scholars like archaeologists and historians. In the 1970’s,
wuxia novelist Louis Cha (Jin Yong) used this sect as a topic in his
novel “Heaven Sword and Dragon Saber”. Since then, the once obscure
Ming Cult has become the center of attention of millions of readers.
Jin Yong definitely did research on the historical Ming Cult for his
novel, studying books on the subject, including the history of certain
secret religious movements which had connections with the Ming Cult.
The Ming Cult followersand their activities in the novel, therefore,
do match with historical facts. But fiction remains fiction, a wuxia
novel is not a history book… Jin Yong’s Ming Cult is therefore
somewhat different from the historical Ming Cult.
The origins of the Ming Cult
What kind of religion was the Ming Cult? In chapter 25 of the novel,
Zhang Wuji read a book written by Yang Xiao called “Record of the
Spread of the Ming Cult in China”, in which it is mentioned: [i]“The
Ming Cult originated in Persia and its’ original name was Mani Cult.
It was introduced in China during the reign of Female Emperor Wu
Zetian in the first year of Yanzai of the Tang dynasty. The Persian…
presented the Bible of Dualism to the court. Since then, the Chinese
began to study this scripture… Ming Cult temples were erected in
Chang’an and Luoyang named “Great Cloud Temple of Light”… But in the
third year of Huichang, the imperial government ordered the execution
of Ming followers, the power of the cult was severely weakened. Since
then, the Ming Cult became a banned religion… for survival, the Ming
Cult was forced to operate in secret. Eventually the name of Monijiao
(Mani Cult) was bastardized into Mojiao (Demon Sect)…” [/i] The
founder of the Mani Cult was the prophet Mani (216- 276), who was born
in the province Babylon which was under Persian rule. At the age of 12
and 24, Mani had visions where an angel told him that he would be the
prophet of a last divine revelation. At the age of 26 Mani started on
a long journey, where he stood forward as ‘Messenger of Truth’, and he
traveled through the Persian Empire and reached as far as India, where
he became influenced by Buddhism. Mani practiced under the
protectionof the Persian emperor, Shapur I, most of his life. As his
teaching quickly gained ground, he came in opposition to the
Zoroastrian priests, and with the emperor Bahram I from 274, Mani lost
his protection, and he either died in prison or was executed. The
death of Mani, is retold as an incident similar to the crucifixion of
Jesus. The teachings of Mani is called Manichaeism, it is a
combination of Christianity, Gnosticism, Zoroastrianism and several
other religious doctrines. Central in the Manichaean teaching was
dualism, that the world itself, and all creatures, was part ofa battle
between the good, represented by the God of Light, and the bad, the
darkness, represented by a power driven by envy and lust. These two
powers were independent from each other, but in the world they were
mixed. Most human beings were built from material from the bad power,
but in everyone there was a divine light, which needed to be released
from the dark material of the body. Whenthe world and all creatures
were created, the attacking darkness was mixed withsome of the divine
light. While the battle between light and darkness had been fought in
cosmos until creation, creation made the world of man the new
battleground. Everything that gives light in this world belongs to the
divine realms, while everything that absorbs light, belongs to the
darkness. The meaning of lifeis therefore the same as the meaning of
the world, namely to participate on the divine side of this battle.
Every man carries inside him a seed of light, and the only way to help
free this seed from darkness is through the insight inthe process of
cosmic battle and insight in how to fight envy and lust. Manichaeism
spread out over most of the known world of the 1st millennium AD, from
Spain to China.But the religion disappeared from the West in 10th
century, and from China in the 14th century, and today it is extinct.
Manichaeism in China It is generally accepted that Manichaeism was
officially introduced in China during the reign of Wu Zetian in the
year 694 AD (as mentioned in the novel). But some scholars claim that
Manichaeism was already known in China prior to the reign of Empress
Wu. For about 80 years, starting in 762, Manichaeism was the state
religion of the Turkic people Uighurs, the powerful ally of the Tang
Empire. With the backing of the Uighur Khans, Manichaeism became
extremely influential in China and was considered the leader of the
Three Foreign Religious Sects (Manichaeism, Nestorianism and
Zoroastrianism). Butwith the decline of the Uighur Empire, the Ming
Cult slowly lost power. In the third year of Huichang (843 AD) Tang
emperor Wuzong officially banned the Mani Cult and its’ followers were
prosecuted. The cult members who escaped the oppression went into
hiding and lost contact with the Mani Cult headquarters in the Western
Regions. In later generations Mani followers in China adapted the
teachings of Confucianism, Buddhism and Taoism, slowly forming a
distinct form of Manichaeism with Chinese characteristics. It was
during this period that the Mani Cult was named Ming Cult by its
Chinese followers. Temples were erected in the style of Buddhist
monasteries in order to avoid trouble. The temple on Huabiaoshan in
Quanzhou City, Jinjiang Prefecture in Fujian Province is the only
remaining Mani Temple in the world. The Ming Cult was infamous for
its’ rebellious nature, during the Latter Liang dynasty (907-923). The
Ming Cult started the Yi Mu Rebellion. During the Northern Song
dynastythe Ming Cult was involved in many rebellious activities,
especially in the South-Eastern provinces of Jiangsu, Zhejiang and
Fujian. The Ming Cult had a short revival during the Yuan dynasty when
many people joined their ranks to fight the Mongolian government, but
after the founding of the Ming dynasty in 1368, the cult slowly
disappeared and eventually ceased to exist. The Chinese Ming Cult and
the Persian Ming Sect In the novel, the Persian Ming Sect sent their
Guardian Lords and Messengers to China to catch Golden Flower
Granny,and even tried to take control of the Chinese Ming Cult with
the Scepters of Holy Fire. The Chinese Ming Cult leader Zhang Wuji had
to engage in battle with the Persians (chapter 29). But what is the
true historical connection between the Persian Sect and the Chinese Cult?
According tohistorical research, after Mani’s death in 276, many of
his followers fled to the eastand established a branch of Manichaeism
in Central-Asia. In the 6th century, the faction in Central-Asia
officially broke with the Persian headquarters in Babylon. The Mani
religion was brought to China via the Silk Road by the members of this
faction, not by its Persian counterpart. The headquarters of the
Chinese Ming Cult was situated in Samarqand. So actually, the Chinese
Ming followers didn’t have connection with the Persian sect
whatsoever. Furthermore, the story of Heaven Sword and Dragon Saber
took place around 1360, during that time Manichaeism has become
extinct in both Persia and Central-Asia where the Muslim faith had
become the major religion. The Ming Cult in China was then the only
Manichaeist movement of significance in the world. So things like the
Persian Ming Sect coming to China, their search for the Holy Virgin,
Xiaochao going to Persia to become the leader of the Ming Sect etc.
(chapter 30) couldn’t have happened. The Ming Cult and the Ming Dynasty
At the end of the novel, Zhu Yuanzhang managed to trick Zhang Wuji and
seize power. When he became emperor, he named his dynasty Ming to
honor the Ming Cult. But historically, Zhu Yuanzhang was a general
under the command of Liu Futong. Liu Futong was a member of the White
Lotus Sect, a semi-religious organization which was heavily influenced
by the Ming doctrine. Liu Futong claimed that the son of White Lotus
leader Han Shantong, Han Lin’er was the descendant of the Imperial
House of the Song dynasty. He then proclaimed Han Lin’er as
“Xiaomingwang” or Little King of Light (the King of Light is the same
as the God of Light in Manichaeism), emperor of the new Song dynasty.
After the death of Liu Futong, power slowly moved into the hands of
Zhu Yuanzhangand Han Lin’er became just a puppet emperor. Zhu
Yuanzhang then had Han Lin’er assassinated and became emperor. Zhu
then named his dynasty the Ming dynasty to “honor” Xiaomingwang and to
prove that he is the legitimate successor of Han Lin’er’s throne.
There’s no historical evidence that Zhu Yuanzhang was a follower of
the Ming Cult, nor is it certain that the dynastic name is really
derived from the Ming Cult.
Furthermore,it is also mentioned in the novel that rebel leader Fang
La of the Northern Song dynasty once was the leader of the Ming Cult.
In the past, many scholars thought Fang La was indeed Manichaeist –
just because he was a vegetarian. In recent years, research has proved
that Fang La had no connection with the Ming Cult at all.
The Ming Cult’s traditions and customs Regarding the traditions and
customs of the Ming sect, Jin Yong did manage to describe it very
correctly. Archaeological discoveries in North-West China have proved
that many things in the novel were accurate, like Ming Cult members
burying their corpses naked, etc. Jin Yongwas respected and praised by
many experienced archaeologists for it.
Some minor inconsistencies in the novel were: 1. About the prohibition
of consuming meat and alcohol In the novel, Zhang Wuji abolished the
rules prohibiting cult members to eat meat and drink wine, due to the
fact that food was scarce in war-torn China (chapter 25). Another
reason given was that the headquarters of the Ming Cult was situated
on Kunlunshan in Western China, an area where vegetables were scarce,
to live a vegetarian life-style would therefore be difficult (chapter
23). This is of course incorrect. In the past, oases in the Western
Regions produced large numbers of fruits, which is the ideal food for
Ming Cult members (who saw fruit as the seed of Light). Furthermore,
though food was scarce during the political turmoil at the endof the
Yuan dynasty, Ming Cult members never abolished the rules concerning
eating meat. The rules were strict and the level of discipline was
high, only renegade Ming members would break the rules and eat meat.
2. Clothing In the novel, Ming Cult members wore white robes with the
symbol of the Holy Fire embroidered on it. Historically, priests of
the Ming Cult indeed wore white robes and white hats. Laymen Ming
members were not obliged to do this but they too like to wear white
clothing. But the symbol of fire is solely an invention of Jin Yong.
3. The worship of fire In Heaven Sword and Dragon Saber, Ming Cult
members worshipped fire. In reality, although Manichaeism respects the
Light, its’ followers did nothad any fire rituals. Fire-worshipping is
an aspect of Zoroastrianism. The historical Ming Cult never had this
sort of practice, so there was no reason to wear the symbol of fire on
their clothing. For some reason, Jin Yong borrowed the Zoroastrian
aspect of fire-worshipping and used it in his story to makethe
Manichaeist Ming Cult more interesting. Some people notice the
worshipping of fire in the novel and therefore conclude that the Ming
Cult is Zoroastrian. I have written this article to try to correct
this common-made mistake.
[b]SOURCES: “Heaven Sword and Dragon Saber”, Louis Cha “Jin Yong
bixiade Ming Jiao yu lishi de zhenshi”, Lin Wu-Hsu “Wo xin de Jin Yong
lishi”, Wang Yue “Mani”, Encyclopedia of the Orient “Manichaeism”,
Encyclopedia of the Orient
papabonbon said
tentang science dan gereja
===
Shinjai Hayashi
to apakabar
show details
5/12/06
From: “Kang Muroni”
Aku ingin menambahkan satu bacaan sejarah yang bagus yang ditulis oleh seorang
scholar ketimurtengahan, Bernard Lewis (yang juga disebut oleh Shinjai) dalam
bukunya “What Went Wrong? : The Clash Between Islam and Modernity in the Middle
East.” Buku ini menulis chronicle sejarah kejayaan Islam selama hampir seribu
tahun, dalam ekspansinya menaklukkan dan menduduki dan mengkonvert
negara/kerajaan di benua eropa sampai ujung Rusia dan ke timur sampai
China/Mongol. Selanjutnya negara/kerajaan yang terjajah ini mulai bnagkit dan
menguasai teknologi yang lebih maju, sementara kejayaan Islam memudar karena
menganggap enteng, complacent, dan pertikaian internal. Sejarah adalah
serangkain peristiwa sebab-akibat — tak ada peristiwa yang berdiri sendiri …
tak ada api tak ada asap.
*********************
Iya, dulu pernah saya membaca pemikiran tulisan BL tersebut
diatas, dimana BL memaparkan incompability antara Islam
dan modernity. Walaupun disana juga dipaparkan bagaimana
Ottoman pada akhirnya berusaha keras untuk mengakuisisi
pengetahuan dan kemajuan Barat lewat mendatangkan
intelektual Barat, tetap saja tidak berhasil dilakukan untuk
mengejar ketinggalannya.
Permasalahannya, menurut BL, bahwa dunia Islam bukan
saja tertinggal dari dunia Barat, tetapi bahkan tertinggal jauh
dari Korea misalnya, dan jangan membandingkan dengan
China. Dua negara subcontinent India, yang terbagi menjadi
India, Pakistan dan Bangladesh, hanya India yang sekarang
melesat maju, Pakistan dan Bangladesh terkatung2 di belakang.
Saya sendiri melihat bahwa Islam tidak pernah mampu untuk
mengembangkan peradaban modern, dengan alasan2 yang
bisa kita liha dalam sejarah. Ingat bahwa dinasty2 Islam maju
jestru karena bersentuhan dan mendayagunakan peninggalan
kebudayaan Yunani. Kebudayaan Yunanilah yang memajukan
Dinasty2 Islam dulu.
Tetapi faktor Islam itu faktor crucial waktu penaklukan, karena
berhasil mempersatukan kekuatan para Beduin yang tersebar
di Jazirah Arab. Islam menjadi agama penguasa, dan itu diadopsi
oleh beberapa bangsa nomad lain, seperti bangsa Turkic dan
Mongol, yang juga memang kerjanya melakukan penaklukan.
Sesudah penaklukan, kejayaan dinasty ditopang oleh peninggalan
kebudayaan tinggi lain yang bersifat local dari daerah tersebut.
Pertanyaan utama adalah: Kenapa Islam gagal menjadi arsitek
modernitas?
Jawabnya simple. Untuk menjadi MODERN, maka harus
BERUBAH. Kalau kita membangun rumah gubuk, dan mau
mengubahnya menjadi gedung sky-scrapper, kita tidak bisa
melakukannya dengan fondasi gubuk tersebut. Fondasi harus
dibangun ulang.
Dan umumnya para ulama Muslim menolak perubahan, dan
itu dibakukan dengan semua alasan2, segala pandangan
tak masuk akal tentang Kitab yang harus diperhatikan sampai
titik koma, tentang harus selalu merefer ke cara2 hidup manusia
padang pasir 1400 tahun lalu di Arabia.
Dalam dunia Islam sendiri terjadi pengembangan Filsafat, dalam
mana itu hal bagus. Tetapi perlu diingat, bahwa filsafat Islam itu
berfondasi pada Filsafat Yunani. Para filsuf muslim mempelajarinya
dan membuat commentaries yang bagus. Masalahnya adalah,
mereka sungkan menyentuh inti2 agama, dan
berkembang di luar wilayah para ulama. Waktu dimana para
filsuf2 utama muslim hidup seperti Ibnu Sina, Ibn Farabi, etc,
itu hanya ada pada durasi waktu yang sempit. Dan sesudah itu
terjadi gerakan anti-filsafat, yang dimotori oleh Al Ghazali
(Al Ghazali itu sendiri dianggap ilmuan besar Islam).
Al-Ghazali itu sendiri seorang spiritualist, dan preferensi
spiritualnya membuatnya mempromosikan keunggulan spiritual
dan keimanan di atas pemikiran rasional.
Dalam dunia Islam, Islam sebagai Ideologi sudah menang,
mengalahkan manusia2 penganutnya itu sendiri. Setiap muslim
diharapkan untuk takluk pada Ide yang abstrak itu,
memujanya sampai sel otak terakhir harus dikorbankan.
Pertanyaan kemudian, kenapa dunia Eropa bisa malah maju
dengan cepat setelah Renaisance?
Berbeda dengan Islam, dimana ulama bersifat antipati pada
pemikiran rasional, di dunia Kristen, malah sebaliknya.
Setelah jatuhnya Romawi, dan munculah Abad Kegelapan
di Eropa karena serangan2 menghancurkan pusat2 kebudayaan
di Eropa, menghilangnya kehidupan intelektual, dan mengentalnya
Christianity yang juga mencoba untuk menguasai banyak harkat
kehidupan manusia.
Dalam situasi ini, muncul satu gerakan dalam Christianity sendiri,
yaitu gerakan MONASTRY, yaitu hidup membiara. Mereka
mencoba hidup sesuai dengan ajaran agama. Mereka mencoba
menjauhkan diri dari pusat kekuasaan Gereja.
Tetapi lucunya, jestru dalam kehidupan seperti itulah, ilmu
pengetahuan berkembang pesat. Selama ratusan tahun,
biara2 di Eropa adalah sumber pengetahuan, dan pusat2
pemikiran. Para ilmuwan adalah biarawan.
Lihat kontrast bukan dengan dunia Islam, dimana para ulama
itu mengambil sikap bermusuhan dengan pemikiran rasional
dan selalu kembali ke Kitab2 agama, para biarawan ini jestru
merekrut pemikiran rasional, dan mencoba menggabungkannya
dengan pemikiran agama.
Pada waktu Renaisance, ilmuwan2 yang mentransfer kembali
pengetahuan2 Yunani ke Eropa itu para biarawan. Merekalah
yang pertama2 merumuskan kembali pemikiran filsafat. Inilah
Era Scholastic ( dari kata yang berarti “sekolah”). Era
pengetahuan modern di Eropa muncul dari biara2.
Dan ketika pengetahuan sudah menumpuk terlalu banyak,
maka diperlukan institusi lain untuk mengajarkannya, dibentuklah
Universitas2. Ketika Universitas2 ini sudah terlalu banyak,
maka terjadilah decoupling antara pengembangan pengetahuan
dengan kehidupan Gereja, karena pada saat itu
Gereja sudah tidak bisa lagi menampungnya, dan menjadi
malah menjadi beban. Muncullah era pengembangan pengetahuan
sekular yang terpisah sama sekali dengan agama dan lembaga
gereja (yang kemudian malah melahirkan pemikiran yang
bertentangan dengan ajaran gereja, itu bagus)..
Apa yang membelengu Dunia Islam sehingga terbelakang saat ini?
Jawabnya sebenarnya obvious — agamanya itu sendiri.
Get online casino bonus cash said
Get online casino bonus cash
Get online casino bonus cash
Carnival casino bonus said
Carnival casino bonus
Carnival casino bonus
idola bachura said
bisnis terror,kalau melihat ctt sejarah,yang menerima sedekah itu fakir miskin ,fidais,hashishin.yang memberi sedekahitu ahli bait nabi hadits muslim.imamnya al abbas al calandar,semua penganut ajaran nabi kuning nabi ishak nabi syuaib nabi yakub keterangan dari seminari 1972.cerita aslinya vendeta hasan al hasyir hasan al baqir,keluarganya dibantai rampok 56 orang.diburu semuanya dalam kurun waktu 13 tahun.yg tertulis mereka bubar spt knight of templar , hasisin,thn 1387,hadir lagi tahun 1876 di iran ctt hukum inggris pelaku pembunuhan orang2 mabuk,siapapun targetnya,termasuk ulama2 dr national geography bab sejarah.pemalsuan sejarah melulu mending main assassin creed