aresto in-depth

my words,my opinions

Pelajaran dari Biografi

Posted by aresto on August 9, 2006

Hari Selasa kemarin, sewaktu jalan bareng Barkah ke Gudang Buku di Pasar Festival, gue membeli sebuah buku bagus berjudul “Manusia dalam Kemelut Sejarah”. Sebenarnya buku itu bisa dibilang “kenalan lama” karena sekitar 1 tahun lalu pernah gue pinjam dari Perpus Pusat. Gue memututskan untuk membeli karena walaupun dalam keadaan bekas, buku terbitan tahun 70an itu tak ternilai isinya.

Tidak seperti ukurannya yang kecil, buku itu memuat kumpulan biografi orang-orang besar Indonesia. Ada 8 tokoh bangsa yang dibahas dalam buku itu : Sukarno, presiden pertama republik; Soedirman, panglima yang lebih cinta kemerdekaan daripada perdamaian; Sutan Sjahrir, salah satu nakhkoda awal kapal republik yang sering dilupakan; Agus Salim, yang hidupnya menjadi contoh tepat ungkapan “memimpin adalah menderita”; Tan Malaka, si revolusioner yang Madilog-nya jadi kitab suci lokal gerakan kiri; Kahar Muzakkar, patriot atau pemberontakkah ?; Amir Sjarifuddin, tokoh revolusi yang hidupnya berakhir tragedi;dan Rahmah El Yunusiyyah, Kartini Minang yang mendirikan perguruan Islam wanita pertama.

Isinya membuat buku itu melengkapi buku “Membincangkan Tokoh-tokoh Bangsa” yang sudah lebih dahulu menjadi koleksi gue. Tapi, berbeda dengan “Membincangkan tokoh-tokoh Bangsa” , “Manusia dalam Kemelut Sejarah” merupakan kompilasi tulisan dari beberapa penulis berbeda. Onghokham, Nugroho Notosusanto, dan Romo Mangun adalah sebagian dari tokoh yang tulisannya tercakup dalam buku itu.

Gue selalu tertarik membaca biografi tokoh-tokoh nasional, karena menurut gue mereka adalah orang-orang hebat yang semakin langka ditemui di Indonesia. Menarik mencoba memahami bagaimana mereka, dengan latar belakang yang berbeda-beda, tumbuh menjadi tokoh bangsa. Lebih menarik lagi mencoba memahami bagaimana mereka berinteraksi dengan lingkup ruang dan waktu saat itu serta bagaimana mereka mempengaruhi sekaligus dipengaruhi oleh konteks hidup di sekitar mereka.

Ada pelajaran lain dari membaca biografi yang juga mencerahkan. Menurut sejarawan Taufik Abdullah, ada dua jebakan yang dihadapi seorang penulis biografi. yang pertama, si penulis terjebak hanya menyampaikan data dasar mengenai tokohnya. Di mana lahirnya? Apa sekolahnya? Riwayat jabtannya?. Dan seterusnya. Tak salah, tapi terasa dangkal karena tidak ada usaha memahami si tokoh.

Yang kedua, si penulis tidak berangkat dari titik netral. Dia telah terlebih dahulu menentukan pilihan ideologisnya. Biasanya akibat keterliabtannya dengan si tokoh , si penulis beranggapan bahwa peranan tokohnya begitu dominan. Lebih jauh, yang dihasilkan kemudian adalah riwayat “orang suci”, bukan manusia biasa. Sebagai contoh, buku-buku biografi Soeharto yang ditulis semasa dia berkuasa. Mulai dari “The Smiling General” sampai “Soeharto: Anak Desa” begitu kental dengan nuansa Asal Tokoh Senang.

Nah, kalau ditarik ke dunia perkawanan, kita membutuhkan sahabat-sahabat,teman-teman yang punya punya kualitas “penulis biografi yang baik”. Ia harus “mengetahui” sekaligus “menghayati”. Dengan menjembatani dua dimensi inilah akan lahir pengertian. Di dalam pengertian ini menempel usaha untuk menempatkan diri pada posisi sahabatnya-seakan-akan terliabt dalam proses kejiwaan sahabatnya dan, seklaigus berada di luarnya- ia “tahu” apa-apa yang mungkin terluput dari jangkauan indra dan kesadaran sang tokoh. Dari pengertianlah, seorang sahabat dapat memberi masukan-masukan yang positif. Interaksi yang dibagun di atas saling pengertian akan meberi kesempatan bagi semua partisipannya tumbuh bersama.

Bagi gue, salah satu hal yang luar biasa ketika kita berhubungan dengan orang lain adalah bagaimana dalam hubungan itu kita menemukan cerminan-cerminan diri kita sebagaimana terekam oleh orang lain. Seiring kedekatan kita dengan orang lain, perlahan sebuah citra diri kita terbentuk dalam benak orang lain (proses ini juga terjadi sebaliknya). Kemudian, melalui perilaku orang lain terhadap kita, kita samar-samar dapat mengetahui citra diri kita itu. Bagi gue ini tak ternilai karena “the other self” kita itu seperti kepingan-kepingan kecil dari sebuah puzzle bernama Konsep Diri. Kita mungkin memegang kepingan-kepingan besar , tapi tanpa kepingan-kepingan kecil tersebut apa yang kita punya hanya sebuah citra egois diri kita sendiri.

Semoga hidup kita diwarnai oleh orang-orang terdekat yang mampu teurs mendorong perbaikan diri kita dan semoga kita menjadi sahabat-sahabat luar biasa dalam hidup orang lain.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>