Pertanyaan Maryam
Posted by aresto on August 9, 2006
Dulu di sekitar tahun 77, Indonesia dihebohkan oleh suatu berita luar biasa. Cut Zahra (kalo ngga salah ini nama yang disebut Pak Musholli), seorang ibu asal Aceh, mengaku bahwa janin dalam kandungannya dapat berbicara. Berita ini dengan cepat menyebar luas ke seluruh negeri. Orang-orang mulai mendatangi Cut Zahra untuk mendengarkan janin yang dapat berbicara. Ada yang datang karena tidak percaya, ada yang ingin mendapatkan dari si janin terhadap permasalahannya, yang lain terpukau mendengarkan bagaimana si janin juga dengan lancar membaca Al Qur’an. Berita terus menyebar dan semakin banyak orang datang menemui Cut Zahra dan janinnya. Masyarakat pun ramai membicarakan tentang keajaiban dan mukjizat seperti yang terjadi pada bayi Isa. Mencoba mendapatkan penjelasan atau mungkin juga klarifikasi bahwa fenomena itu adalah keajaiban, ulama kemudian menjadi sasaran pertanyaan media.
Ada komentar dari dua ulama berbeda yang di-highlight oleh Pak Musholli. Di zaman itu Pak Musholli masih seorang pemuda yang sedang berkobar-kobar semangatnya mempelajari Islam. Karena itu, beliau juga termasuk mereka yang bergantung pada ulama untuk penjelasan. Buya Hamka ketika diminta penjelasannya menjawab dengan singkat, “Jika itu kehendak Allah, semua bisa terjadi”. Sementara, Bang Imad, saat itu masih aktivis Masjid Salman, menjawab dengan skeptis,”Saya ingin fenomena itu diselidiki sampai benar-benar terbukti sebagai sesuatu yang penjelasannya gaib.”
Kehebohan yang ditimbulkan oleh fenomena itu mulai membuat pemerintah khawatir. Pak Harto tentunya tidak rela jika posisinya di mata rakyat tergeser oleh seseorang yang bahkan belum lahir ke dunia. Investigasi pun mulai dilakukan polisi terhadap fenomena itu. Setelah beberapa lama kemudian polisi mengungkapkan bahwa selama ini Cut Zahra menggunakan pemutar kaset yang disembunyikan dengan aman di salah satu bagian tubuhnya. Suara seperti bayi kemudian terungkap dihasilkan dengan suatu metode rekayasa rekaman audio.
Setelah tsunami menghantam Aceh salah satu yang banyak dibahas adalah bagaimana beberapa masjid tidak roboh diterjang tsunami. Seorang kameraman amatir, menjelaskan bagaimana dia menyaksikan gelombang pasang seakan menjadi tenang ketika memasuki kawasan Masjid Raya. Yang lain membahas bagaimana PLTD apung berbobot 700 ton nyasar ke tengah kota. Semua fenomena tersebut diperlakukan seperti sebuah kejaiban dan tidak ada penjelasan rasional yang dapat digunakan. Tidak pernah ada yang mencoba membahas arsitektur masjid-masjid yang tidak roboh, atau seperti apakah lokasi Masjid Raya, dan lupa juga bahwa ketika hanyutnya PLTDA dilihat sebagai sesuatu yang ajaib, USS Abraham Lincoln dengan gagah mengapung di lepas pantai Aceh. Yang berbahaya adalah jika digunakan logika terbalik apakah kemudian Allah berkurang kuasa-Nya jika masjid-masjid itu roboh diterjang tsunami ? Dalam buku Manusia Indonesia, Mochtar Lubis menyebut kepercayaan terhadap takhayul seagai dalah satu karakter manusia Indonesia. Masyarakat kita lebih tertarik untuk mengaitkan segala sesuatu dengan hal-hal gaib dan mistis. Anehnya keimanan pada yang gaib ini tidak dalam bentuk keimanan yang substansial seperti keimanan terhadap Allah dan hari pembalasan. Keasyikan membahas hak-hal gaib dan ajaib inilah yang mungkin membuat lambatnya usaha-usaha untuk mengantisipasi bencana alam semacam itu di masa depan.
Ada sebuah episode dalam AlQur’an yang perlu kita renungkan dalam konteks pembahasan ini. Dalam surat Ali Imron ayat 45-47 diceritakan dialog yang terjadi antara Maryam dan malaikat yang menemuinya, “(Ingatlah) ketika para malaikat berkata, “Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang sebuah kalimat (firman) dari-Nya(yaitu seorang putra), namanya Isa Al masih, Isa putra Maryam, seorang yang terkemuka di dunia dan di akhirat, dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah). dan dia berbicara dengan manusia (sewaktu) dalam buaian ketika sudah dewasa, dan dia termasuk di antara orang-orang saleh. Dia (Maryam ) berkata, “ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku akan mempunyai anak, padahal tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuhku,” Dia (Allah) berfirman ,” Demikianlah Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, kun fayakuun.”
Perhatikan bagaimana respon Maryam terhadap berita yang disampaikan oleh malaikat. Maryam perlu kita ingat adalah wanita yang di ayat 42 ditegaskan sebagai perempuan yang “disucikan dan dilebihkan atas segala perempuan di seluruh alam (pada masa itu)”. Perempuan yang super-sholehah ini ketika diberi tahu oleh malaikat bahwa dia akan mengandung bayi Isa mengeluarkan sebuah pertanyaan sebagai respon pertamanya. Bukan anggukan mengiyakan, atau diam tanda setuju, Maryam justru bertanya “bagaimana mungkin?”. Baru setelah Allah menegaskan bahwa apa yang akan terjadi pada Maryam adalah sebuah intervensi gaib, Maryam berserah diri pada kehendak Allah.
Terkadang kita terjebak untuk begitu mudahnya beralih kepada suatu yang gaib sebagai penjelasan terhadap apa yang ditemui. Segala hal diterima sebagai sesuatu yang “maktub”, sudah tertulis dan tidak mungkin berubah dengan usaha kita. Kita lupa bahwa Allah ketika mencipta Adam juga mengajarkannya dengan “nama-nama seluruh benda”. Kita tentunya tahu dalam proses belajar bahwa dari namalah kita kemudian mengetahui tentang proses, karakter, atribut, dan hukum-hukum alam yang berlaku pada benda itu. Pengetahuan dan akal adalah karunia Allah pada manusia yang membuat bahkan malaikat pun bersujud. Pengetahuan dan kemampuan menggunakan akal menjadi bekal penting bagi manusia dalam menjalankan tugas kekhalifannya. Coba pikirkan kenpa Allah menjelaskan bahwa alam semesta tercipta dalam enam masa ? Bukankah Dia punya kuasa untuk menjadikannya melalui sebuah kun fayakuun ? Allah mencoba untuk mengajarkan pada kita bahwa ada hukum-hukum alam yang harus dihormati dan dipelajari. Allah mengajak kita untuk berpikir dan menghargai proses kauniyah. Keabaian terhadap ayat-ayat kauniyah dan pengetahuanlah salah satu faktor utama yang membuat umat Islam semakin tertinggal dan tertinggal. Gawatnya lagi para ulama yang tidak emiliki pemahaman yang komprehensif terhadap Islam, gagap dalam membimbing umat untuk mempelajari ayat-ayat kauniyah. jawaban Buya Hama dalam cerita Cut Zahra di atas tidak salah. Tidak ada yang tidak mungkin terjadi kalau Allah sudah berkehendak. Tapi, Buya Hamka lupa untuk mendidik umat untuk menggunakan akalnya dan pengetahuan akan ayat kauniyah.
Salah satu contoh kegagapan itu juga terdapat dalam penyampaian hikmah kekalahan umat Islam di Perang Uhud. Banyak penjelasan yang berhenti pada ketidakpatuhan sebagian pasukan Islam terhadap perintah Allah dan Rasul. Ketika orientasi akhirat digantikan oleh orientasi materi-jangka pendek yang diwakili oleh ghanimah yang terserak, umat Islam menerima pelajaran melalui kekalahan. Tapi, lebih sering tidak dibahas bahwa kekalahan itu juga terjadi akibat pelanggaran terhadap hukum kauniyah oragnisasi tempur. Khalid, sang panglima jenius, saat itu tidak memikirkan apakah umat Islam melanggar perintah Allah dan Rasul atau tidak. Yang dilihat oleh matanya yang terlatih adalah suatu kelemahan organisasi yang bisa dia manfaatkan untuk merubah angin pertempuran.
Umat Islam harus sadar bahwa ayat-ayat kauniyah juga merupakan ayat-ayat Allah yang harus dibaca dan dipahami. Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa “tidaklah Allah menciptakan ini dengan sia-sia” sebelum kita benar-benar menguasai ciptaan itu. Jangan sampai yang terjadi pada umat Islam adalah bukti empiris ungkapan “Agama adalah candu” yang dikatakan karl Marx. Agama menjadi candu ketika umat kehilangan geliatnya karena merasa bahwa keterpurukannya merupakan takdir yang tak dapat diubah, dan hanya dapat diubah bukan oleh tangannya melainkan hanya oleh keajaiban mesiahtis yang entah kapan datangnya.
[Tadinya ini kultum yang gue sampaikan di depan liqo. Karena materinya berasal dari materi yang selalu diulang-ulang oleh Pak Musholli, gue pikir ada baiknya ditulis agar tidak lupa. Bagi yang sudah pernah mendengarkan mungkin akan menyadari berbagai perbedaan akibat perubahan dari bahasa tutur ke bahasa tulis. Substansinya jelas dari Pak Musholli, tapi karena gue yang nulis tanggung jawab isinya ada di gue.]

abu yusuf said
Ya akhi,
Semoga dengan semangat antum untuk berdakwah menjadikan antum bersemangat untuk mencari ‘ilmu.
Sungguh sudah ada contoh pada kisah “Abu Bakroh, yang saking semangatnya maka ia mendesak masuk untuk sholat di shof yang pertama, padahal sholat sudah berdiri. Di lain kisah saking semangatnya dia mengamalkan sunah maka Abu Bakroh menjawab ucapan “Alhamdulillah” orang yang bersin dalam sholat, sedang ia; Abu Bakroh; juga dalam keadaan sholat. Di kisah lain bagaimana Abu Bakroh bergeser sambil bersujud untuk masuk shof karena ingin mengamalkan sunah jika ia mendapati imam dalam sholat jama’ah maka ikutilah keadaan imam tersebut. Maka Abu Bakroh mendapat Nabi sedang sujud, dan iapun sujud serta bergeser menuju shof.
Ya akhi, liputilah semangat dengan ilmu, karena itulah yang membedakan.