Sehari di Ke;kun
Posted by aresto on August 9, 2006
Sebenarnya selama ini gue tetap nulis, tapi entah kenapa males gue posting di tabulas. Ini salah satu dari masa vakum gue
Setelah sekian lama ngga ada agenda dengan Pak Kemal, kemarin Pak Kemal ngundang beberapa alumni PPSDMS untuk acara nonton bareng. Pertemuan kemarin memang beda dengan pertemuan2 sebelumnya. Pertama, agendanya yang dimulai dengan nonton bareng dan tempatnya yang bukan di rumah beliau, melainkan di sebuah kafe bernama Ke;kun yang ternyata dikelola oleh salah satu putra Pak Kemal.
Gue seneng banget begitu tahu film yang bakal ditonton ternyata Hotel Rwanda yang belum pernah gue tonton. Tambah seneng lagi begitu tahu kita nontonnya di sebuah bioskop pribadi lengkap dengan full service makanan kecil n minuman. Yang datang kemaren cuma 9 orang orang dan gue pikir ngga ada dari kita yang ngga menikmati kemewahan kemarin.
Hotel Rwanda sesuai review2 yang pernah gue baca ternyata memang film yang sangat “berisi”. Karena diangkat dari kisah nyata yang berlalu belum begitu lama, menonton film itu jadi serasa membca buku sejarah yang berusaha menyajikan ke pembacanya interpretasi terhadap sebuah fakta sejarah. Beda dengan temen2 gue yang lebih tersentuh dengan penggambaran genosida dan konflik etnis yang praktis mewarnai seluruh film tersebut, gue justru lebih tertarik dengan perubahan yang terjadi pada diri si tokoh utama, Paul Rusesabagina.
Perubahan pertama itu terkait dengan pandangan Paul tentang relasi dia dan bangsa barat. Paul ini kan manajer hotel asing yang sehari-harinya bergaul akrab dengan tamu-tamunya yang bule. Dia berpakaian seperti mereka, makan minum, dan menikmati gaya hidup yang sama seperti mereka. Tapi, akhirnya si Paul sadar bahwa orang Barat tersebut tidak pernah memandangnya sederajat. Bagi mereka Paul betapapun terhormatnya tetap saja warga dunia kelas dua. Paul pun harus menerima kenyataan ketika mereka hanya melakukan tindakan yang too little too few untuk menolong para korban genosida.
Film itu juga dengan bagus menggambarkan bagaimana Paul si businessman, yang pilihannya selalu didasari hitung-hitungan pragmatis untung-rugi, seorang family man yang siap melakukan apa saja demi keselamatan hanya diri dan keluarganya perlahan berubah sampai akhirnya bahkan berani mengambil resiko kematian demi menyelamatkan sesama manusia. Ini seperti mengulang pelajaran tentang bagaimana kebahagiaan dapat diraih justru ketika kita memberi kebahagiaan ke orang lain. Kita pasti tahu banget bahwa konsep tersebut gampang ngomongnya tapi susah banget ngelaksanainnya. Mungkin itu karena manusia pada dasarnya itu egois dan tamak, sehingga AlQur’an penuh dengan peringatan agar kita tidak melupakan kewajiban sosial dalam berbagai bentuk. Yang jelas Hotel Rwanda jelas memperlihatkan bagaimana Paul yang sebenarnya bisa saja dengan mudah menyelamatkan diri dan keluarganya memilih untuk bertahan demi kedelamatan pengungsi yang menggantungkan diri pada perlindungan hotel yang dikelolanya. Mungkin Paul sadar, walaupun dia selamat dirinya tahu bahwa dia ngga akan bisa lagi melihat dirinya sebagai manusia. Akhirnya kita bisa melihat bagaimana keputusan Paul membuat sejarah mencatatnya sebagai pahlawan.
Setelah nonton kami pindah ke teras untuk makan. Pak Kemal yang memilih sendiri Hotel Rwanda sebagai film yang ditonton hari itu memulai dengan peringatan bahwa apa yang terjadi di film itu dapat dan mungkin sudah terjadi di Indonesia. Dia mengingatkan ke gue n temen-temen untuk selalu memelihara sikap toleran dan moderat kalo suatu saat nanti mau jadi pemimpin yang baik. Pesan soal toleransi, moderasi, dan inklusifisme memang termasuk yang sering sekali diulang2 oleh Ustad Musholli, Pak Kemal, dan inner circle yang lain. Apalagi setelah gue n yang lain lulus dan mulai bertebaran di lingkungan kerja yang berbeda2. Mereka sepertinya ngga mau kami memelihara sikap eksklusif dan sempit yang justru akan merugikan di lingkungan yang amat plural seperti Indonesia.
Selain pesan toleransi, Pak Kemal juga ngingetin kami pentingnya mulai berbuat sesuatu yang konkret. Pak Kemal cerita bagaimana waktu dia di Amerika dia terkesan dengan suksesnya community school. Jadi di sana setelah waktu sekolah abis, semua fasilitas sekolah dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitarnya untuk menjalankan pendidikan dari,untuk, dan oleh masyarakat. Yang bisa tenis ngajarin yang mau main tenis, yang programmer ya bikin workshop programming, bahkan sampe kursus2 yang kedengarannya ngga penting seperti benerin sepeda, origami, menulis indah (kaligrafi maksudnya). Pak Kemal mendorong kami untuk mulai merintis hal-hal semacam itu. Kenapa di pendidikan ? karena Pak Kemal menilai pendidikanlah media paling signifikan untuk melakukan perubahan. Selalu saja ada pelajaran setiap bertemu Pak Kemal…
~Ngobrol punya ngobrol dateng deh pesenan makan gue, spicy cajun fried rice with tuna…namanya sih keren tapi kok masih enakan masakan nyokap sih….wah gue oedipus complex nih kalo soal makanan.

papabonbon said
baca blognya aresto, looks like orang iiner circle pks mendidik generasi mudanya dgn pluralisme. … cuman heran ajah, kok beda yah, ama yang di lapangan. gap yg beda jauh antara yg di inner circle dengan yg di lapangan ini berkali kali aku tanyakan dalam diskusi ama HNW waktu perjalanan di pesawat sepuluh jam dulu banget. dan sampai sekarang, masih belum mendapat jawaban memuaskan. minimal dari diriku sendiri.