Supaya Selalu Ingat
Posted by aresto on August 9, 2006
Hidup hanya sekali, semoga tercapai dalam rentang hidup ini .
Sendiri atau bersama.
Semoga banyak orang yang melakukan hal yang sama bahkan lebih dengan rentang hidupnya.
FINA Af’idatussofa (14) bukan siswa sekolah internasional
dan bukan anak orang berada. Ia lahir sebagai anak petani di Desa
Kalibening, tiga kilometer perjalanan arah selatan dari kota
Salatiga menuju Kedungombo, Jawa Tengah. Karena orangtuanya tidak
mampu, ia terpaksa melanjutkan sekolah di SMP Alternatif Qaryah
Thayyibah di desanya. Namun, dalam soal kemampuan Fina boleh
dipertandingkan dengan siswa sekolah-sekolah mahal yang kini
menjamur di Jakarta.
MESKI bersekolah di desa dan menumpang di rumah kepala
sekolahnya, bagi Fina internet bukan hal yang asing. Ia bisa
mengakses internet kapan saja. Setiap pagi berlatih bahasa Inggris
dalam English Morning. Ia pernah menjuarai penulisan artikel on line
di kotanya. Ia juga berbakat dalam olah vokal meski ia mengatakan
tidak ingin menjadi seorang penyanyi.“Kalau menjadi penyanyi, pekerjaanku hanya menyanyi.
Padahal, cita-citaku banyak. Aku ingin jadi presenter, aku ingin
jadi penulis, pengarang lagu, ilmuwan, dan banyak lagi.. Aku juga
ingin berkeliling dunia,” kata Fina.SMP Alternatif Qaryah Thayyibah resmi terdaftar sebagai SMP
Terbuka, sekolah yang sering diasosiasikan sebagai sekolah untuk
menampung orang-orang miskin agar bisa mengikuti program wajib
belajar sembilan tahun. Namun, siswa SMP Alternatif Qaryah Thayyibah
sangat mencintai dan bangga dengan sekolahnya.
![]()
Pukul 06.00 sekolah sudah mulai dan baru berakhir pada pukul
13.30. Akan tetapi, jam sekolah itu terasa sangat pendek bagi
murid-murid sekolah tersebut sehingga setelah makan siang mereka
biasanya kembali lagi ke sekolah. Mereka belajar sambil bermain di
sekolahnya sampai malam, bahkan tak jarang mereka menginap di
sekolah.Murid-murid SMP Qaryah Thayyibah memang sangat menikmati
sekolahnya. Bersekolah merupakan sesuatu yang menyenangkan. Guru
bukanlah penguasa otoriter di kelas, tetapi teman belajar. Mereka
bebas berbicara dengan gurunya dalam bahasa Jawa ngoko, strata
bahasa yang hanya pantas untuk berbicara informal dengan kawan akrab.Di kelas mereka juga sangat bebas. Mereka bisa asyik
mengerjakan soal-soal matematika dengan bersenda gurau, ada yang
mengerjakan soal sambil bersenandung, yang lain bermain monopoli.
Suasana bermain itu bahkan di taman kanak-kanak pun kini makin
langka karena mereka dipaksa oleh gurunya untuk membaca dan menulis.SMP Qaryah Thayyibah lahir dari keprihatinan Bahruddin
melihat pendidikan di Tanah Air yang makin bobrok dan semakin mahal.
Pada pertengahan tahun 2003 anak pertamanya, Hilmy, akan masuk SMP.
Hilmy telah mendapatkan tempat di salah satu SMP favorit di
Salatiga. Namun, Bahruddin terusik dengan anak-anak petani lainnya
yang tidak mampu membayar uang masuk SMP negeri yang saat itu telah
mencapai Rp 750.000, uang sekolah rata-rata Rp 35.000 per bulan,
belum lagi uang seragam dan uang buku yang jumlahnya mencapai
ratusan ribu rupiah.“Saya mungkin mampu, tetapi bagaimana dengan orang-orang
lain?” tuturnya.Bahruddin yang menjadi ketua rukun wilayah di kampungnya
kemudian berinisiatif mengumpulkan warganya menawarkan gagasan,
bagaimana jika mereka membuat sekolah sendiri dengan mendirikan SMP
alternatif. Dari 30 tetangga yang dikumpulkan, 12 orang berani
memasukkan anaknya ke sekolah coba-coba itu. Untuk menunjukkan
keseriusannya, Bahruddin juga memasukkan Hilmy ke sekolah yang
diangan-angankannya.“Saya ingin membuat sekolah yang murah, tetapi berkualitas.
Saya tidak berpikir saya akan bisa melahirkan anak yang hebat-hebat.
Yang penting mereka bisa bersekolah,” kata Bahruddin.Bahruddin mengadopsi kurikulum SMP reguler di sekolahnya. Ia
menyatakan tidak sanggup menyusun kurikulum sendiri. Lagi pula
sekolah akan diakui sebagai sekolah berkualitas jika bisa memperoleh
nilai yang baik dan mendapatkan ijazah yang diakui pemerintah.
Karena itulah ia memilih format SMP Terbuka. Akan tetapi, ia
mengubah kecenderungan SMP Terbuka sekadar sebagai lembaga untuk
membagi-bagi ijazah dengan mengelola pendidikannya secara serius.Sekolah itu menempati dua ruangan di rumah Bahruddin, yang
sebelumnya digunakan untuk Sekretariat Organisasi Tani Qaryah
Thayyibah. Jumlah guru yang mengajar sembilan orang, semuanya
lulusan institut agama Islam negeri dan sebagian besar di antaranya
para aktivis petani.Guru pelajaran Matematika-nya seorang lulusan SMA yang kini
mondok di pesantren. Akses internet gratis 24 jam diperoleh dari
seorang pengusaha internet di Salatiga yang tertarik dengan gagasan
Bahruddin. Dengan modal seadanya sekolah itu berjalan.Ternyata pengakuan terhadap keberadaan SMP Alternatif Qaryah
Thayyibah tidak perlu waktu lama. Nilai rata- rata ulangan murid SMP
Qaryah Thayyibah jauh lebih baik daripada nilai rata-rata sekolah
induknya, terutama untuk mata pelajaran Matematika dan Bahasa
Inggris.Sekolah itu juga tampil meyakinkan, mengimbangi
sekolah-sekolah negeri dalam lomba cerdas cermat penguasaan materi
pelajaran di Salatiga. Sekolah itu juga mewakili Salatiga dalam
lomba motivasi belajar mandiri di tingkat provinsi, dikirim mewakili
Salatiga untuk hadir dalam Konvensi Lingkungan Hidup Pemuda Asia
Pasifik di Surabaya. Pada tes kenaikan kelas satu, nilai rata-rata
mata pelajaran Bahasa Inggris siswa Qaryah Thayyibah mencapai 8,86.SMP Alternatif Qaryah Thayyibah juga maju dalam berkesenian.
Di bawah bimbingan guru musik, Soedjono, anak-anak sekolah bergabung
dalam grup musik Suara Lintang. Kebolehan anak-anak itu dalam
menyanyikan lagu mars dan himne sekolah dalam versi bahasa Inggris
dan Indonesia bisa didengarkan ketika membuka alamat situs sekolah
www.pendidikansalatiga.net/ qaryah. Grup musik anak-anak desa kecil
itu telah mendokumentasikan lagu tradisional anak dalam kaset, MP3,
maupun video CD album Tembang Dolanan Tempo Doeloe yang diproduksi
sekaligus untuk pencarian dana. Seluruh siswa bisa bermain gitar,
yang menjadi keterampilan wajib di sekolah itu.Sulit dibayangkan anak- anak petani sederhana itu
masing-masing memiliki sebuah komputer, gitar, sepasang kamus bahasa
Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris, satu paket pelajaran Bahasa
Inggris BBC di rumahnya. Semua itu tidak digratiskan. Anak-anak
memiliki semua itu dengan mengelola uang saku bersama-sama sebesar
Rp 3.000 yang diterima anak dari orangtuanya setiap hari. Uang
sebesar Rp 1.000 dipergunakan untuk mengangsur pembelian komputer.
Untuk sarapan pagi, minum susu, madu, dan makanan kecil tiap hari Rp
1.000, sedangkan Rp 1.000 lainnya untuk ditabung di sekolah.
Tabungan sekolah itu dikembalikan untuk keperluan murid dalam bentuk
gitar, kamus, dan lain-lainnya.Tidak mengherankan jika anak-anak dan orangtua mereka bangga
dengan sekolah itu. Betapa tidak, di sekolah yang berdekatan dengan
rumah di sebuah desa kecil mereka mendapatkan banyak hal yang tidak
diperoleh di sekolah-sekolah yang dikelola dengan logika dagang.Ismanto (43) menceritakan, anaknya sempat down saat
mendaftar SLTP di Salatiga dua tahun lalu. Uang masuknya Rp 200.000,
belum termasuk buku dan seragam. Tidak ada seorang murid pun ke
sekolah dengan berjalan kaki selain anaknya, Emi Zubaiti (13). Kini
Emi menjadi seorang anak yang pandai dalam berbagai mata pelajaran,
pintar bernyanyi, dan percaya diri. Ia tidak pernah membayangkan
bisa menyekolahkan Emi, anak pasangan tukang reparasi sofa dan bakul
jamu gendong, mendapat sekolah yang baik.Bahkan Ismanto ikut menikmati komputer yang dikredit dari
uang saku anaknya. Dibimbing anaknya, sekarang Ismanto mulai belajar
komputer. “Tidak pernah terpikir, saya bisa membelikan komputer.
Kini saya malah bisa ikut menikmati,” kata Ismanto.(P Bambang Wisudo/ Rien Kuntari)

hadi said
kreatif men….!
tanagekeo said
Desa tidak identik dengan bodoh. Orang kampung juga tidak selalu kampungan. Semuanya hanya bisa terjadi bila pendidikan tidak menjadi barang mewah. Pendidikan harus dapat dijangkau orang sederhana. Bravo blognya.