aresto in-depth

my words,my opinions

The Inner Circle

Posted by aresto on August 9, 2006

Kemarin Senen hari pertama resmi jadi pengangguran, ngga ada yang perlu diceritain di pagi dan siangnya, yang menarik adalah yang terjadi di malam harinya. Sesuai agenda yang sudah ditetapkan minggu lalu, malam kemarin alumni PPSDMS menjadwalkan pertemuan di rumah Pak Kemal Stamboel untuk peresmian program Inner Circle alumni PPSDMS. Jujur aja gue udah excited banget dengan pertemuan ini, sampai sejak minggu lalu agak serius nyiapin cv, life plan, sama proposal .

Gue berangkat ba’da Ashar bareng Budiman naek 48. Biasanya waktu masih kerja di Benhil begitu nempel di kursi 48 gue langsung tidur, tapi kemarin karena ada Budiman gue sepanjang jalan ngobrol melayani pertanyaan Budiman yang macem2. Yang dibahas cukup panjang adalah masalah konsep negara Islamnya Natsir (Budiman lagi nge-review skripsi temennya yang anak politik) dan novel Da Vinci Code. Akhirnya selama perjalanan ke Mampang gue muter otak ,menjelajahi laci-laci memori yang nyimpen perdebatan Natsir-Soekarno, relevansi ide Natsir untuk Indonesia sekarang (Bud..tega loe, gue anak fasilkom nih),….terus sampai tentang Holy Grail, Vitruvian Man, Opus Dei dan temen2nya.

Eniwei, sampai di rumah Pak Kemal ternyata udah rame. Pak Musholli, Bang Ikhsan, anak2 termasuk Suryo yg udah lama ilang udah datang duluan.Pak Kemal datang agak telat, jadinya kita sempet ketawa-ketiwi sembari ngabisin penganan n coca cola.

Setelah Pak Kemal dateng, obrolan langsung mulai. Suasananya santai dan akrab. Di awal pembicaraan Pak Kemal lebih banyak berbicara sekitar career warfare. Pak Kemal mengingatkan sekali lagi kalau dunia pasca kampus berbeda sekali dengan dunia kampus yang cenderung homogen. Perlu kemampuan pribadi yang matang agar kita dapat mendialogkan hal-hal yang mungkin selama ini kita yakini dengan tuntutan lingkungan. Hasil yang diharapkan tentu saja kita dapat well-adjusted dalam lingkungan baru tersebut dan proses yang kita alami menjadikan diri kita semakin matang lagi. Selain itu Pak Kemal juga menyinggung sedikit tentang bagaimana menghadapi bos, serta pertimbangan2 sebelum memutuskan pindah kerja.

Tepat sebelum makan malam, temen gue Alief mengajukan sebuah pertanyaan yang cespleng sekali. Si Alief ini memang menurut gue jatmika (ini bahasa Jawa, terjemahannnya apa ya?) sekali, tangkas dan cerdas dalam menggunakan kata-kata. Dia menanyakan pengalaman hidup Pak Kemal sampai mencapai posisi sekarang ini dan dari pengalaman itu adakah pesan-pesan yang ingin Pak Kemal sampaikan buat kami-kami ini yang masih muda. Wah, ini pertanyaan hebat sekali toh ? meminta orang untuk menceritakan tentang dirinya sendiri, pas sekali dengan jurus-jurus Dale Carnegie di How to Win Friends and Influence People.

Setelah diselingi makan malam barulah Pak Kemal menceritakan kisah hidupnya. Pak Kemal lahir dari keluarga jenderal yang sering berpindah-pindah tugas. Sejak SMA, beliau sudah hidup mandiri, ngekos di Bandung menyelesaikan sekolah. Selepas SMU beliau memilih untuk melanjutkan ke Psikologi Unpad karena waktu itu beliau pikir ilmu memahami manusia adalah ilmu yang akan membuat dia mampu berja di berbagai bidang. Zaman itu mahasiswa Psikologi masih sedikit, dan Pak Kemal bilang beliau beruntung karena dosen-dosennya waktu itu adalah dosen-dosen muda yang baru menamatkan pendidikan mereka di Eropa. Karena di Eropa, sebagian besar mereka adalah penganut mazhab psikoanalisa Freudian, yang berbeda dengan mazhab behaviourismenya Skinner yang berkembang di Amerika. Selain itu, saat itu Psikologi Unpad dipercaya menangani pembinaan mental ABRI sehingga sejak kuliah pun Pak Kemal sudah terlibat dalam masalah-masalah dunia nyata.

Setelah kuliah Pak Kemal bersama teman-temannya mendirikan sebuah biro psikologi yang menangani proses rekrutmen pegawai di beberapa instansi pemerintah. Tidak lama, Pak Kemal merasakan kehilangan suatu social environment yang menantang sehingga memutuskan untuk memulai karir di swasta. Kebetulan, saat itu proyek PLTA Asahan mulai dikerjakan. Proyek ini di sekitar tahun 77 adalah sebuah megaproyek dengan anggaran sekitar 1,4 milyar dollar. Pak Kemal berkesempatan untuk bergabung sebagai tenaga HR dalam tim konsorsium Jepang yang mengerjakan proyek tersebut. Di sinilah Pak Kemal mulai belajar bekerja dalam budaya yang berbeda dan lingkungan yang sangat heterogen, Apalagi setelah PLTA Asahan beroperasi, paling tidak menyerap sekitar 2500 tenaga kerja.

Beberapa tahun di proyek tersebut, Pak Kemal kemudian bergabung dengan konsultan bisnis Price-Water. Di masa ini Pak Kemal menyempatkan diri untuk mengambil MBA di Harvard, merasakan bagaimana harus kembali belajar ilmu-ilmu baru yang belum dia kuasai.Sewaktu Price-Water dimerger dengan Cooper, bosnya keluar karena tidak setuju dengan dampak dari merger tersebut terhadap unit di Indonesia. Akibatnya, Pak Kemal kemudian dipercaya untuk memimpin PriceWaterHouseCooper Indonesia, sekaligus menjadi satu-satunya partner berkebangsaan Indonesia di firma konsultan tersebut. Saat itulah Pak Kemal menghadapi tantangan mengelola bagian dari sebuah perusahaan multinasional.Pernah dalam suatu waktu,beliau membawahi sekitar 50 orang staf asing yang bekerja di Indonesia.

Tantangan selanjutnya muncul ketika divisi konsultan bisnis PWC harus di-spinoff dari perusahaan induknya. Sempat hampir menjadi sebuah perusahaan baru , beberapa raksasa teknologi berminat untuk mengakuisisi divisi tersebut. HP gagal di saat-saat terakhir karena sahamnya jatuh dilanda badai “The Fall of DotComs” , akhirnya divisi tersebut diakuisisi oleh IBM dan berubah namanya menjadi IBM Business Consulting Services. Proses akuisisi ini tidak kecil karena saat itu, di seluruh dunia unit konsultan bisnis PWC memiliki sekitar 30000 pegawai. Pak Kemal yang sudah
mendekati usia pensiun memutuskan untuk memastikan proses tersebut berlangsung llancar di Indonesia, sebelum kemudian mengajukan pensiun dini ketika beliau menilai semua sudah established.

Sekarang beliau lebih banyak aktif sebagai konsultan bisnis pribadi, sambil sibuk di beberapa LSM seperti WWF, MTI, PMKI, dan tentu saja PPSDMS. Selain itu namanya juga tercatat sebagai anggota dewan pakar di PKS.

Beberapa pelajaran yang beliau ditekankan adalah perlunya kewaspadaan kita terhadap jebakan kondisi nyaman. Beliau selalu berusaha agar dirinya dihadapkan pada tantangan-tantangan baru yang menuntut kerja kerasnya. Apabila sikon tidak mampu menyediakan tantangan2 tersebtu, maka beliau akan menciptakannya. Mendengar ini gue jadi inget kata2 Nobunaga,”Kebahagiaan terbesar dalam hidup adalah ketika aku dihadapkan pada suatu kesulitan yang menantang, berjuang keras untuk menyelesaikannya, dan akhirnya aku menatap ke belakang melihat begaimana aku berhasil melewatinya.”

Kedua, Pak Kemal menekankan bagaimana nanti dalam hidup kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak semuanya mudah. Terkadang pilihan tersebut penuh risiki dan menuntut pengorbanan yang tidak kecil .Pak Kemal bilang tidak ada formula khusus untuk menghadapi hal tersebut, karena toh jalan tiap orang berbeda lika-likunya. Yaag jelas , lanjut beliau, bila saatnya kita memutuskan kita harus berusaha memastikan bahwa keputusan yang kita ambil adalah keputusan yang terbaik.

Setelah wejangan Pak Kemal, acara dilanjutkan dengan perkenalan dari kami alumni. Saat itu menyusul datang bapak-bapak lain yang juga nanti akan aktif di program inner circle ini. Pak Sudirman Said, direktur keuangan di sebuah perusaahan petrokimia milik Sudwikatmono; Pak Farid Rachman, dirut bank yang tergabung dalam group Medco;Pak Haris, partner senior di firma hukum LGS. sementara yang seharusnya datang tapi berhalangan adalah Pak Arief Surowidjojo, founding partner di firma hukum LGS.

Jujur aja, berada di tengah2 bapak-bapak ini gue kok jadi rikuh dan agak kurang pede. Lha gue ini siapa ho ? beda dengan Alief yang mapres atau Opie yang juara dunia.Biasanya kalo muncul perasaan begini, pas perkenalan gue memperkenalkan diri sambil menyelipkan joke-joke .Keliatannya gue humoris, padahal sebenarnya itu mekanisme defensif gue untuk mengatasi kurang pede : )

Di akhir pertemuan bapak-bapak itu sekali lagi menegaskan komitmen mereka untuk menjadi mentor kami alumni. Meminjam istilah Pak Musholli , mentor kauniyah implementatif yang membagi knowledge hidup mereka ke kami. Karena ini mentorship, jadinya kami juga sebagai mentee mengambil peran sebagai subjek yang ikut juga mengarahkan keberhasilan mentoring itu.

Gue memilih untuk menjadi menteenya Pak Kemal, gue ngerasa banyak yang gue bisa pelajarin dari beliau. Mudah-mudahan ini bisa ngebantu gue melakukan pengembangan diri. Jalannya ,alhamdulillah sudah tersedia di depan gue, sekarang tinggal balik lagi ke effort yang gue siap lakukan untuk menempuh jalan itu.

Untuk menutup, ada kutipan yang sanadnya dari Alief dari buku yang dia baca tapi lupa judulnya,”Yang membedakan diri kita sekarang dengan diri kita 5 tahun yang lalu dan diri kita 5 tahun mendatang adalah buku yang kita baca dan orang-orang dengan siapa kita berkomunikasi”.

~blog panjang tanda ngga ada kerjaan? kekekeke

One Response to “The Inner Circle”

  1. papabonbon said

    aresto, kalau ada acara bareng pak kemal dan lain lain, boleh ikutan ndak ? mau pengembangan diri juga nih … :D

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>