aresto in-depth

my words,my opinions

20something Dilemma

Posted by aresto on August 15, 2006

Gue lagi bingung nih. Ngga berapa lama setelah mutusin kontrak di Infokomputer dan mulai nyari2 lagi, gue ditawarin kerja oleh seorang senior gue di TN. Cukup bikin kaget mengingat jauhnya umur dia dan jarangnya kami berinteraksi. Waktu pertama mendengar tawarannya gue membayangkan pekerjaan yang sederhana, maksudnya masih pekerjaan level engineer hijau yang lulus belum lama deh. Tapi, setelah gue tindak lanjuti (baca:ngirim CV n datang interview) rupanya posisi yang ditawarkan itu jauh dari bayangan gue. Gue belum bisa cerita terbuka, yang jelas pekerjaan itu menuntut tanggung jawab lebih besar dari sekadar jenjang staf, memungkinkan gue untuk bekerja lebih independen dan ngambil keputusan.

Respon spontan gue tentu saja menolak. Gue ngerasa belum punya kualifikasi dan pengalaman yang menurut gue dibutuhkan untuk posisi semacam itu. Kalo life plan gue dijadikan patokan, menerima tawaran itu berarti melakukan lompatan luar biasa.

Senior gue itu, yang dalam hal ini juga bertindak sebagai promotor gue, berpendapat sebaliknya. Dia bilang kalo gue terlalu teoritis dan harusnya lebih melihat ini sebagai kesempatan. Dia dan atasannya percaya penuh ke gue. Menurut dia, walaupun gue ngelihat pekerjaan itu butuh kualifikasi hebat, tapi sebenarnya yang diperlukan hanya “orang baik”, dapat dipercaya, dan siap kerja keras. Terus dia berkali-kali meyakinkan gue kalo gue ngga akan sendirian dan semua jenis dukungan yang gue perlukan dapat disiapkan.

Masih belum mantep, akhirnya gue minta waktu sampai akhir bulan ini untuk berpikir. Sudah sekitar seminggu sekarang, dan gue masih bingung. Di posisi gue sekarang, sebenarnya bisa dibilang gue nothing to lose. Secara materi gue ngga mempertaruhkan apapun, dan sebagai bujangan jelas gue belum punya tanggungan keluarga yang masa depannya tergantung gue. Tapi, menurut gue ada risiko yang membuat tawaran itu masuk kategori high risk-high gain. Risiko terkait kredibilitas gue di mata orang. Okeh, mungkin orang2nya dalam hal ini terbatas, tapi tetep aja gue ngga bisa sembarangan sama yang namanya amanah orang. Selain itu, gue ngelihat diri gue sebagai orang yang sangat hati-hati dan selalu berusaha meminimalisir risiko. Bukan gue sendiri aja yang bilang, psikotes gue juga bilangnya kira2 begitu. Ilustrasinya, gue tipe orang yang pergi kemana-mana selalu nyempetin diri ngelihat peta n ngapalin rute angkutan, nanya-nanya ke orang yang sudah pernah, dan nyiapin bekal lebih banyak dari orang lain. Atau kalo pake setting Taiko, gue tipe jenderal yang waktu ninjanya bilang “Jenderal, kami dapat info komandan benteng mati kepleset di kamar mandi. Kami yakin ini saat yang tepat untuk melancarkan serangan pamungkas.” Gue terus bilang ,”Beri saya waktu tiga hari untuk mastiin, kerahkan semua anak buah kamu untuk mendapatkan bukti info itu.” (Ngga penting ya ilustrasinya :D ). Pokoknya gue ragu deh apa pekerjaan itu cocok untuk orang semacam gue.

Gue udah minta pertimbangan dari temen2 gue dan sedang mencoba buat janji untuk konsultasi ke Pak Kemal. Gue juga berdoa terus semoga Allah nunjukin pilihan terbaik ke gue seperti yang sudah-sudah.

Tahu ngga ? ternyata yang lagi menghadapi dilema speerti ini bukan gue aja lho. Coba aja tanya temen-temen seumur loe atau tanya ke diri loe sendiri. Sepertinya di umur-umur sekarang ini emang kita dituntut untuk membuat pilihan-pilihan sulit. Sulit karena setiap keputusan pasti pengaruhnya ngga sedikit buat masa depan kita selanjutnya. Ya ngga sih ?

~thanks buat Aa Fitra untuk judulnya

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>