aresto in-depth

my words,my opinions

Arang di Wajah

Posted by aresto on August 15, 2006

Kemaren malam lihat beritanya di Metro TV terus barusan baca di headline Koran Tempo.


Markas Ahmadiyah di Cianjur Dirusak

Sekitar seribu orang menyerbu perkampungan Ahmadiyah di Neglasari, Kecamatan Campaka, Cianjur, Jawa Barat….Penyerbuan mengakibatkan sedikitnya 70 rumah dan enam masjid rusak berat. Massa yang meneriakkan takbir saat mnyerbu juga membakar rumah, dua mobil, dan tiga sepeda motor.

Gimana perasaan loe baca berita semacam ini ? Gue sedih dan marah. Sedih karena merasa ada tanggung jawab sebagai bagian dari aktivitas da’wah(ya ngga ya?Liqo extra diitung ngga?) yang bisa melakukan sesuatu untuk mencegah hal-hal seperti itu. Marah karena kejadian-kejadian seperti itu seakan menghancurkan semua usaha untuk menampilkan wajah Islam yang sebenarnya, yang moderat dan rahmatil lil ‘alamin (sounds more like a bitter irony these days).

Gue juga denger Komunitas Utan Kayu alias JIL akhir-akhir ini dapat ancaman yang semakin intens dari orang-orang tertentu yang ingin mereka membubarkan diri. Wah, kalo JIL bubar siapa yang jadi lawan wacana tentang gender, tentang ruu aborsi, tentang hermeunetika teks Qur’an, tentang negara Islam, tentang Jihad, tentang banyak lagi. Terus, kalo ngga ada lawan wacana gimana ya dampaknya pada daya kritis, pada gairah menuntut ilmu, pada usaha menggali sumber-sumber Islam untuk menjawab problem kekinian ? Atau jangan-jangan ini bagian dari yang disebut inferiority complex itu ?Jangan-jangan sudah merasa ketinggalan dan tidak berada di level yang sama ? Jangan-jangan ini rasa takut yang diproyeksikan ke amuk dan beringas ? Astagfirullah.

Ada tulisan bagus dari Aksara Kauniyah


Wahai Tuan, yang bukan Ibrahim. Wahai Puan, yang bukan Hajar. Wahai Tuan, yang bukan Musa. Wahai Puan, yang bukan Aisiyah. Agama mengagungkan seluruh proses detachment—buah dari iman yang tulus dengan peniadaan terhadap diri dan segala. Peniadaan terhadap segala jenis congkak yang mebludak, karena angkuh adalah pakaian Tuhan. Karena, tak seorang pun bisa memastikan sebuah akhir—antara khusnul dan su’ul. Bahkan, akhir kehidupan Tuan dan Puan—yang bukan Ibrahim dan bukan Hajar, tak bisa Tuan dan Puan jaminkan sendiri.


Maka kini, yang menjadi soal bukan lagi perkara maaf atau rekonsiliasi—melainkan kerendahan hati. Karena di pusara semesta, manusia hanya sebutir slilit. Hingga terbayanglah kini, paras angkuh seorang lelaki yang menghunus pedang ke leher Muhammad sambil bertanya, “Siapa yang bisa melindungimu?” Wajah pongah itu terkejut dengan lutut gemetar saat lelaki agung itu menyebut nama Allah. Pedang itu terjatuh, dan dipungut Muhammad yang kini membalik pertanyaan sambil menaruh pedang itu di dada lelaki tadi. Yang tersisa adalah, keterkesimaan yang mulia terhadap lelaki utusan Tuhan yang tak menciderai, tak memberi petuah—hanya sekadar menyuruh lelaki yang ingin membunuhnya itu pulang.


Betikan cerita itu adalah sebuah testamen tentang kekuasaan yang bukan milik manusia. Ada yang lebih berkuasa atas nadi leher seseorang. Ada yang lebih berkuasa atas mati dan hidupnya manusia melampaui ratusan kompi serdadu yang menghunus pedang. Barangkali, lelaki pongah tadi akhirnya mengerti mengapa Muhammad tak membunuhnya: karena sang nabi juga merasa tak berkuasa. Barangkali juga, lelaki pongah tadi akhirnya bisa mengerti bahwa Nabi mengajar pekerti dan keadilan. Dan bahwa keadilan, sama sekali berbeda dari pembalasan. Dan episode sejarah yang membanggakan adalah, bahwa saat berlangsung penaklukan atas kota Mekkah tak diikuti dengan pembasmian terhadap semua yang pernah memusuhi, terhadap semua yang tak sama. Dengan begitu, saat seseorang merasa berotoritas menjungkal nyawa, atau saat merasa berhak mendudukan manusia dalam kategorisasi munafiq dan mukmin—maka, pada saat itulah ia telah merasa jadi yang mahakuasa. Pada saat itulah peran Mutakabbir direbut dari Tangan Tuhan Yang Mahaesa.


Maka, berdirilah Muhammad dengan sikap penuh hormat. Ada iringan jenazah hendak lewat di kejauhan. Saat rombongan mendekat ada sahabat buru-buru memberi ingat, “Tapi, itu jenazah orang Yahudi!” Dan, sang Nabi tetap tegak. Ucapnya cuma singkat, “Jika ada iringan jenazah lewat, berdirilah.”


Warisan cemerlang itu ialah keteladanan tentang penghormatan dan solidaritas terhadap semua sisi kemanusiaan—sejauh apapun perbedaan ras, golongan, pikiran, dan bahkan, agama. Kemanusiaan yang sama tanpa batas lewat pendampingan yang ikhlas terhadap peristiwa kematian, bencana, kesedihan.


Kesadaran yang diajarkan Muhammad mewariskan benih yang indah tentang budi luhur—dalam pengertian reason dan moralitas. Sebuah Das Sein (realita) yang tak berjarak dari Das Sollen (idealita). Kapital besar yang memiliki kesanggupan mengatasi benci dan amarah yang mungkin. Dalam prasangka-prasangka yang keruh, sisi kemanusiaan yang diajarkan sang Nabi menjadi sumber terang profetik yang melegakan.


Maka, bilamana, atas nama iman dan tuhan, sekumpulan orang merayakan kegembiraan atas musibah yang jatuh, sungguh, betapa najisnya agama yang dianut, betapa najisnya tuhan yang disembah. Entah nabi dan tuhan mana yang ingin diturut. Tapi kata Padre Bartolomeu Lourenço dalam Memorial do Covento, “Tuhan pasti lemah lembut terhadap mereka yang gila, orang cacat, penduduk yang miskin. Dan yang pasti tidak terhadap Dinas Suci Inkuisisi.” Padri itu memang mencemooh tuhan yang selalu diilustrasikan haus darah dan gemar meminta korban nyawa dalam nama-Nya.


Dan akhirnya. Adakah tempat yang bebas bagi orang yang dianiaya karena dianggap ganjil dan anomali—tak sejalan dengan mereka yang mengklaim sebagai penjaga iman? Ada. Dalam dongeng, atau dalam ketawa lirih seorang penyendiri yang sunyi. Saat kembali ke dunia nyata, kita dipaksa lagi berhadapan dengan kekejaman para setan yang diciptakan manusia (Dostoyewski, novelis).

One Response to “Arang di Wajah”

  1. papabonbon said

    yang jadi gegetun, orang DDII yang jadi korlap untuk pengerbuat tim FUI, DDII, FPI ke ahmadiyah itu adalah bapak mertua anak TN juga. aku ama khaidar malah datang ke kawinan mereka. :( pengen liat ajah. orangnya biasa biasa aja, kecil, bermata tajam, pas kita liat di kawinan. tapi ideologi dan cara berpikir gampang gampangan telah membuat rekan rekan itu melakukan aktivitas pembela kebenaran di luar struktur negara. hayah …

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>