Lantai 24 Gedung B Bank Indonesia
Posted by aresto on August 15, 2006
Pertemuan Inner Circle kali ini memberi gue kesempatan untuk bertemu dengan Pak Maulana Ibrahim, salah satu deputi gubernur Bank Indonesia. Waktu pertemuan yang jam 4 sore membuat sebagian besar alumni PPSDMS yang sudah bekerja tidak dapat hadir. Gue sendiri bisa hadir karena kebetulan waktu deadline redaksi baru saja berakhir, sehingga gue bisa izin meninggalkan kantor lebih awal. Selain gue ada Faisal yang membawa dua orang temannya, Wiwid yang baru saja secara de facto meraih SH, Sorong si macan kampus yang sepertinya lebih betah berorganisasi dan tak kunjung lulus, Budiman yang sekarang termasuk staf ahli Pak Dayat, Didi yang media executive di Lowe, dan Berno yang juga baru saja lulus. Pertemuan dilakukan di ruang Pak Maulana, di lantai 24 Gedung B Bank Indonesia.
Begitu kaki gue melangkah keluar lift di lantai 24 gue kaget melihat lantai itu bisa dibilang kosong melompong. Ruangan-ruangan terletak di bagian pinggir sementara di bagian tengah lantai terdapat tangga. Melihat jumlah ruangan yang ada sepertinya memang satu lantai itu hanya ditempati oleh seorang pejabat.
Ruangan untuk deputi gubernur seperti Pak Maulana terdiri dari ruangan kerja, lounge untuk tamu, dan ruang rapat. Gue dan teman dipersilakan untuk duduk di lounge sambil menunggu Pak Maulana yang sedang tidak ada di tempat. Menunggu cukup lama, kami ngga bisa menahan diri untuk tidak melihat-lihat sekitar. Lounge tersebut terhubung langsung dengan ruang rapat sehingga kami bisa bebas menjelajahi kedua ruangan itu. Kedua ruangan itu termasuk mewah dengan dinding dan langit-langit yang dihiasi ornamen bernuansa Jawa. Di kedua ruangan juga banyak terdapat lukisan dan berbagai cendera mata yang sepertinya oleh-oleh yang didapat Pak Maulana dari berbagai daerah atau luar negeri.
Setelah usai kagum. gue perlahan mulai merasa mual dengan semua yang gue lihat. Ada aura pemborosan dan hirarki birokratis yang bagi gue sangat tidak pada tempatnya. Semua lampu dan AC menyala, perabot-perabot di kedua ruangan tersebut jelas bukan jenis frnitur kantor yang minimalis karena didominasi penggunaan kayu dan kulit. Sementara ketika masuk ruang rapat, gue melihat di salah satu pojok terdapat sebuah workstation Dell Pentium IV, printer laser, dvd player lengkap dengan sound system, LCD projector dan layar, serta sebuah papan tulis elektronik (gue ngga tahu namanya) yang semuanya dalam keadaan menganggur. Gue ngerasa hal seperti ini ngga pas kalau ditemui di sebuah instansi pemerintah dari sebuah negara seperti Indonesia. Yang bikin tambah miris, sepanjang ingatan gue berkunjung ke country office perusahaan raksasa seperti HP, IBM, Fujitsu, atau NEC pemandangan sedemikian ngga pernah gue temui. Gue berpikir wah ini baru sebuah lantai di BI, jangan-jangan semua instansi pemerintah juga seperti ini menterengnya dalam kesia-siaan.
Pak Maulana sendiri sangat ramah dan senang bisa bertemu dengan kami. Dia satu almamater dengan Pak Kemal sehingga sudah sering mendengar tentang PPSDMS. Karena keterbatasan waktu kita lebih banyak bicara ringan tentang pengalaman dia. Sebelum kami pulang, Pak Maulana membagi sebuah kisah faktual yang memberinya sebuah hikmah yang terus dia pegang sampai sekarang.
Ceritanya begini, aktivitasnya sebagai pembina UKM di sebuah lambaga keuangan membawanya berkunjung ke kediaman seorang pengusaha tahu di Sumedang. Pengusaha tahu itu, sebut saja Pak Haji, memiliki sebuah pabrik dan warung tahu yang terletak di sebuah gang dan untuk mencapainya orang harus berjalan cukup jauh dari jalan utama. Usaha tahu Pak Haji cukup berhasil, saat itu omzet penjualan tahunya mencapai sekitar 20 juta per minggu. Sudah tiga kali meminjam uang untuk mengembangkan usahanya, pinjaman terakhirnya sebesar 20 juta membuat Pak Haji dapat memiliki mesin pemrosesan tahu untuk pabriknya. Yang unik adalah Pak Haji selalu menghentikan aktivitas pabrik dan warungnya tepat pukul dua siang dan tidak punya rencana untuk memindahkan warungnya ke pinggir jalan raya. Pak Maulana yang saat itu datang ditemani pihak bank penasaran dengan hal ini dan menanyakannya ke Pak Haji,”Pak Haji, kenapa Bapak ngga meneruskan aktivitas sampai sore dan ngga pindah saja ke pinggir jalan ? Bukankah Bapak sebenarnya bisa meraih hasil yang lebih besar kalau melakukan itu ?” Pak Haji dengan tenang menjawab “Saya ngga mau memindahkan lokasi usaha saya karena rezeki Allah buat saya ada di sini. Biar orang harus jalan cukup jauh untuk bisa ke sini kalau memang sudah hak rezeki saya pasti ada yang datang ke sini. Kalau saya memindahkan warung saya berarti saya merebut hak rezeki orang lain di pinggir jalan raya sana”. “Kalau soal tutup jam dua, saya punya komitmen untuk membalas kebaikan Allah pada saya sejak pagi hingga siang. Selepas jam dua adalah waktu saya untuk melakukan kegiatan amal sholeh dan ibadah, dan saya tidak mau diganggu dengan urusan bisnis.” Mendengar jawaban Pak Haji, Pak Maulana dan rekannya langsung terdiam. Pak Maulana begitu tersentuh menemukan seorang pengusaha yang sama sekali jauh dari ketamakan dan keinginan untuk mendapatkan lebih dan lebih, tak kenal kata cukup.
Begitulah di ruang rapat deputi gubernur, di lantai 24 Gedung B Bank Indonesia, giliran gue tercenung mendengar kisah tentang Pak Haji.

papabonbon said
hal ini bisa dilihat dalam berbagai perspektif sih…. dari yang baik baik sampai yang buruk buruk … capek deh …