aresto in-depth

my words,my opinions

Menyimak Tanya Lang

Posted by aresto on August 15, 2006

Kita bersyukur dilahirkan sebagai Muslim dengan dua orangtua Muslim yang kemudian mewarnai kita dengan Islam. Tapi, jika dilihat dari sisi lain, Islam by birth ini membuat kita buta terhadap pengalaman penemuan keimanan seperti Nabi Ibrahim. Kita hanya bisa meraba-raba bagaimana pada suatu momen hidayah menyentuh begitu kuat sehingga mampu merubah hidup seseorang.

Keingintahuan tentang pengalaman menemukan Islam ditambah kebutuhan kita akan peneguhan ketinggian Islam membuat kita begitu antusias mengikuti cerita seorang mualaf. Mungkin dorongan itu juga yang membuat gue membeli buku Even Angel Ask karangan Dr. Jeffrey Lang. Tak disangka buku itu ternyata memberikan lebih dari sekadar penuturan seorang mualaf tentang sebuah perjalanan pribadi mereka menuju suatu agama tertentu.

Lang menulis buku keduanya ini dengan sangat pribadi. Mungkin karena buku ini sama dengan buku pertamanya, dia niatkan sebagai warisan bagi kedua putrinya sehingga mereka tidak perlu melakukan pencarian dari awal dan tinggal melanjutkan dari jawaban-jawaban yang sudah diperoleh Lang. Membaca buku ini terasa berbicara langsung dengan Lang yang dengan jujur menceritakan kisah-kisah pribadinya dan jawaban-jawaban yang dia temukan setelah bergumul dengan banyak pertanyaan. Menurut gue, apa yang diniatkan Lang untuk kedua putrinya menjadi karya yang terlalu berharga untuk dilewatkan oleh Muslim manapun.

Lang yang sebelumnya ateis menyebutkan alasannya untuk pindah ke Islam adalah karena Islam dia rasakan memaksa secara rasional, intelektual, spiritual. Lang yang Barat dan profesor matematika tidak cukup dengan pengalaman spiritual saja, baginya Islam harus mengalahkannya dalam sebuah debat dan menyajikannya jawaban-jawaban yang tak dapat disangkal argumentasinya. Penuturan Lang ini mengingatkan gue tentang fenomena yang gue dapati di umat Islam Indonesia. Ngga tahu cuma perasaan gue saja atau memang benar, gue merasa orang kita lebih getol merawat keimanannya dari segi spiritual saja.Hasilnya adalah iman yang tidak hidup dan solutif, iman yang gagap ketika berhadapan dengan pihak-pihak yang lihai membungkus agenda dengan bungkus kajian-kajian dan pemikiran yang njelimet, iman yang bingung menerjemahkan idealita kitab dalam menjawab berbagai pertanyaan kontemporer. Lang mengingatkan kita untuk beragama dengan kritis, tidak perlu ragu menanyakan kegalauan kita, meskipun itu membuat iman kita dipertanyakan oleh orang-orang yang merasa semua kebenaran sudah final.

Membaca Lang, gue langsung teringat dengan suatu pengalaman gue sewaktu di TN. Gue dulu punya teman, sebut saja namanya TJ. Dia termasuk jagoan matematika dan sempat ikut seleksi timnas TOMI walaupun akhirnya gugur di tingkat nasional. Pertama gue deket sama dia juga karena matematika. Dialah yang jadi tempat gue nanya setiap kali bertemu kesulitan soal matematika. Banyak temen gue yang jago matematik tapi biasanya penjelasan mereka malah buat gue tambah bingung. Beda dengan TJ yang dengan sabar menuntun gue mengerjakan soal langkah demi langkah. Ketika kami makin dekat, dia jadi sering bertanya tentang Islam. Oh ya gue belum cerita kalo TJ beragama Katolik dan tumbuh di lingkungan keluarga Katolik yang taat. Setiap pertanyaan TJ tentang Islam coba gue jawab sebaik mungkin, seringkali kami terlibat dalam diskusi seru tentang berbagai aspek Islam. Sering juga gue ajak dia ke seksi Islam di perpustakaan TN dan di sana kutemani dia mencari buku-buku yang bisa membantu menjawab pertanyaan-pertanyaannya tentang Islam. Akhirnya, setelah berselang satu tahun TJ mengambil sebuah keputusan penting dalam hidupnya, dia memutuskan untuk pindah agama dan memeluk Islam. Gue ingat sekali bagaimana bersyukurnya gue waktu itu ketika dia mengungkapkan keputusannya itu. Ketika dia pulang mengucapkan syahadat di sebuah masjid di luar lingkungan kampus (tahu lah gimana sensitifnya masalah seperti ini untuk institusi seperti TN) dengan penasaran gue bertanya ke TJ, “Kenapa gue ? Kenapa milih gue jadi tempat bertanya ?” Ketawa, TJ balik bertanya “Nah loe kenapa kalo nanya matematik ke gue ?” Mikir sebentar gue jawab “Karena lo bikin gue ngerasa setiap jawaban itu jawaban gue” TJ terus bilang “Sama dengan gue. Loe beda. Yang laen nyodorin jawaban mereka, loe doang yang ngebantu gue nemu jawaban gue sendiri. Dan itu penting buat gue.” TJ, gimana ya kabar loe sekarang, kita ngga pernah kontak lagi setelah kuliah.

Hal lain yang patut disimak dari Lang adalah kritiknya atas kelemahan orang-orang Islam. Secara khusus Lang mengecam kurangnya toleransi antara mazhab, dominasi ciri-ciri berbau Arab yang tidak punya signifikansi keagamaan, dan terlalu fokus pada aspek-aspek cara hidup yang tidak esensial dan marginal ketimbang mencari ajaran etika dan spiritual umum dari sunah Nabi, dan ketidakpercayaan sistematis orang Islam “asli” pada sumbangan-sumbangan para mualaf Barat. Gue sepakat dengan Lang yang melihat faktor-faktor ini menjadi sebab stagnannya umat Islam dan kegagalan umat Islam mengambil peran lebih besar dalam peradaban global. Seringkali kita terlalu menganggap penting sesuatu yang secara historis sebenarnya produk budaya lampau sehingga terus ketinggalan dan tanpa sadar justru mengkerdilkan Islam. Iqbal pernah menulis bahwa Muslim tidak ditelan cakrawala seperti kafir, tapi justru menelannya. Sejarah memperlihatkan bagaimana framework Islam sebenarnya memungkinkan Islam menelan cakrawala pemikiran asing tanpa perlu mengorbankan hal-hal yang pokok. Itulah sebabnya kita lihat bagaimana peradaban Islam memanfaatkan administrasi Persia, organisasi militer Romawi, filsafat Yunani, sampai mesiu Cina. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana menyadarkan umat Islam seluas-luasnya tentang frawework Islam yang benar sehingga umat Islam dapat mengambil manfaat dari apa yang sudah dicapai oleh Barat.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>