aresto in-depth

my words,my opinions

Tak Tersentuh Ayat-ayat Cinta

Posted by aresto on August 15, 2006


“Jarang ada buku seperti ini…Begitu menyentuh. Begitu dalam. Dan begitu dewasa!” -Mohammad Fauzil Adhim


“Novel yang tidak klise dan tak terduga pada setiap babnya….”-Helvy Tiana Rosa


“Sangat romantis dan humanis!…Luar biasa, hati saya gerimis selesai membacanya!”-Hamizar Ridwan

Itu kata mereka. Gue justru memiliki pendapat yang berbeda tentang novel Ayat-ayat Cinta.

Ayat-ayat Cinta karangan Habiburrahman El Shirazy mengangkat kisah hidup Fahri bin Abdullah, seorang santri salaf metropolis yang sedang menempuh studi S2 di Al Azhar. Kisah berkisar pada bagaimana Fahri dengan kesolehan, ketaqwaan, pengetahuan agamanya yang luas, dan kelembutan hatinya membuat dirinya tanpa sengaja telah membuat empat wanita yang berbeda jatuh hati kepadanya. Fahri yang tulus tidak pernah menyangka hal sedemika dapat terjadi dan ketika akhirnya dia memilih untuk menetapkan cintanya pada salah seorang wanita itu dia dihadapkan pada konsekuensi dan efek pilihannya pada ketiga wanita yang lain.

Tidak klise? menurut gue justru sebaliknya. Penokohan dalam novel ini begitu stereotip. Fahri yang santri, soleh luar biasa, hafidz, paling sedikit menguasai tiga bahasa asing, orang desa, latar belakang ekonomi sederhana; Maria yang orang Mesir, cantik, Kristen Koptik, simpati pada Islam, punya keluarga bahagia; Noura yang mahasiswi Al Azhar, juga orang Mesir, cantik tentu saja, tidak pernah bahagia, korban kekerasan rumah tangga; Nurul adik kelas di Al Azhar, gadis Jawa, cantik Indonesia, anak kyai pemilik pesantren, aktivis kampus yang sholehah, pemalu dalam hal cinta; Aisha yang berdarah Turki-Jerman, cantik seperi bidadari, cerdas, sholehah, berasal dari keluarga konglomerat yang kaya raya. Coba tebak dengan siapa akhirnya Fahri menikah ? Rasanya tidak sulit untuk menjawab Aisha. Fahri yang tokoh protagonis digambarkan begitu lempeng tanpa cela, dan konflik batin paling berat yang harus dihadapinya adalah ketika dia diminta untuk menikahi Maria untuk menyelamatkan nyawa Maria yang sedang terbaring sekarat.

Unsur-unsur seperti bayi tertukar di rumah sakit, diperkosa ayah sendiri, dikasari kakak tiri, fitnah, penjara, poligami, menambah lengkap klisenya novel cinta ini. Gue rasa sangat potensial jika novel ini diusulkan untuk dibuat menjadi sinetron Ramadhan. Kalo memang ada produser yang tertarik gue usul peran Fahri diberikan pada Fahri Albar, sementara Aisha cocok dimainkan oleh Tamara Blezinsky atau Nadine si Putri Indonesia. :P

Sebagai novel religius Ayat-ayat Cinta jua tidak memberikan yang gue cari. Menurut gue novel religius itu bukan novel yang kaya dengan kutipan ayat Qur’an dan hadits, atau kutipan dari ulama-ulama besar seperti Ibnu Qayyim, Yusuf Qardhawi, Abbas Assisiy. Novel religius harus mampu mengajak pembacanya merasakan pengalaman spiritual pribadi si penulis ketika “menemukan” hikmah-hikmah dalam hidupnya yang disampaikan lewat kisah tokoh-tokoh dalam novelnya. Penulis tidak menyodorkan ayat, hadits, atau kutipan kepada pembacanya. Dia mengundang pembaca untuk mengikuti sebuah metafora perjalanan yang pernah dia alami, kemudian membiarkan pembaca melihat hal-hal yang ditemui sepanjang perjalanan, dan membebaskan pembaca menyimpan berbagai kenangan dan pelajaran. Yang pernah membaca novel Atheis-nya Achdiat Kartamihardja, cerpen-cerpen AA Navis, atau karya-karya Emha, Sobary, atau Romo Mangun pasti tahu betapa hebatnya pengalaman itu.

Atau jangan-jangan yang salah ada pada diri gue ?

20 Responses to “Tak Tersentuh Ayat-ayat Cinta”

  1. papabonbon said

    impresi umumnya sih sama lah kita.
    cuman aku menghargai kang abik yang dengan tekun memberikan contoh contoh yg sifatnya memang menggurui. banyak yang merasa tenang dan nyaman denan cara ini. jadi memang segmen ini yang ditembak oleh kang abik, dan dia cukup berhasil.

    semau persoalan dunia, cuman jadi pelengkap deh :D

  2. mzs said

    Mungkin memang tipikal pembaca muslim kita seperti itu. Lebih suka menghadapi hidup secara hitam-putih.
    Yang putih ya pasti putih semuanya. Tanpa cela sama sekali. Saya mau tanya. Ada yang bisa menemukan kejelekan si Fahri ?
    Yang hitam pasti nggak ada bagus-bagusnya. Saya mau tanya lagi. Ada nggak sisi baik si Bahaddur ?

    Sayang sekali dunia nyata tidak berlaku seperti itu.

    Jadi di luar kesuksesan novel ini– yang tidak akan saya sangkal atau saya rendahkan sama sekali– saya ingin berpendapat bahwa Novel ini terlalu kekanak-kanakan dan penuh dengan semangat menggurui dan tidak memberi kesempatan kita untuk merenung.
    Yang tersisa adalah dari pembaca adalah angan-angan : Andai aku bisa seperti Fahri.

  3. Setujuuuuuuuu Toooo..

    Awalnya ekspektasi gw tinggi ketika memutuskan melampiaskan rasa penasaran gw untuk membaca buku ini..”Bagus nih ka..mesti baca, menyentuh banget..”

    Setelah buku itu habis gw baca dalam waktu sehari..yang ada malah kecewa,
    Sorry to say..tapi buku ini memang gak menyentuh banget buat gw, gak ada impresi yang tersisa, gak ada satu scene pun dari kisah si Tokoh yang bisa membekas dan bermakna buat gw..

    Pengalaman batin yang luar biasa dan perjalanan spiritualitas justru gw dapatkan ketika gw membaca Rubuhnya Surau Kami dan Atheis..
    Ketika gw sebagai pembaca dibiarkan berpikir dan belajar berkontemplasi mengenal Tuhan, tanpa digurui dan digiring ke arah tertentu…

    Tapi sayangnya gak banyak yah karya sastra kita yang bisa “dewasa” bercerita

  4. okta said

    coba lo2 pada baca sekali lagi. pasti beda!

  5. aresto said

    Daripada harus baca sekali lagi, mending nonton pelemnya. Kalo ga salah lagi dibuat dengan sutradara Hanung Bramantyo.

  6. meritajolie said

    kalo ada orang yang sebaik itu di dunia aku ga bakal semenderita ini.
    maaf bukannya aku merendahkan tapi ko dunia sepertinya hanya ramah sama orang2 cantik ya?

  7. gardino said

    Well, even the holly Quran doesn’t meant to touch every one…So if you don’t touch by the book, please don’t judge it with a minus tone. It was becoming the best seller book in Indonesia for a reason. And none of you can do such a thing, right? And I think none of your writer, that you said in your article, can do such a thing either…

  8. aresto said

    Excuse me, just in case you forgot, this is my blog. So it’s really about my opinion n I have all the rights in the world to judge any book I want with a minus tone. I never say anyone must think the way I think about this book.

  9. Terus terang sama sekali novel ini tak menyentuh blasss… Karena tokoh Fahri hanya sebagai angan-angan pengarangnya saja yang terlalu tinggi tentang idealisme Laki-laki dalam pencapaian logika tertingginya ketika tidak mampu mendapatkan perempuan yang sempurna. Mengapa demikian? Karena pertama, Orang Turki banyak yang tidak mau menikah dengan orang Jerman karena Jerman termasuk negara yang melindungi bangsa Armenia sewaktu terjadi pembantaian besar2an pemerintah Turki terhadap bangsa Armenia. Jadi kalau orang Turki tidak mau menikahi orang Jerman, mengapa lantas ada orang keturunan Turki-Jerman. Kalaupun ada mungkin akibat korban pemerkosaan sewaktu jamannya Nazi berkuasa di Jerman. Lagipula Orang Turki di Mesir sendiri hidup secara eksklusif dan tidak mau bergaul dengan bangsa Asia, apalagi Indonesia yang berhidung pesek. Tidak pernah ada catatannya seorang mahasiswa Cowo menikah dengan mahasiswa Turki-Jerman. Yang ada malah kebalikannya, ada satu orang mahasiswi cewe Indonesia yang menikah dengan orang Turki, tapi bukan Turki Jerman. Itupun mungkin alasan si cewe ini karena orang Turki lebih banyak hartanya dan lebih besar kelaminnya. Who Knows? Whatever, tapi sangat jarang sekali orang Indonesia menikah dengan orang asing, paling banter ya dengan orang Mesir, itupun bisa dihitung dengan Jari, dan lebih banyak perempuan Indonesia yang menikah dengan lelaki Mesir ketimbang lelaki Indonesia menikah dengan perempuan Mesir. Karena mahar perempuan Mesir harus minimal satu rumah. Sedangkan mahar orang Indonesia cukup dengan cinta kali yeee… Paling banter cowo Indonesia menikah dengan orang asing ya kalau gak dengan cewe mesir (jarang sekali), ya dengan orang malaysia yang masih serumpun itu ngakunya (tapi pencuri). So, penggambaran si Fahri dalam ayat-ayat cinta cuma ekspektasi si pengarang yang gak kesampaian belaka dan jauh dari fakta sebenarnya, jika maksud si penulis selain adalah membeberkan fakta kondisi sosial masyarakat Indonesia di Mesir, maka sebenarnya para pembaca telah ditipu oleh angan2nya saja. Tidak lebih

    oleh: orang yang pernah tinggal di Mesir seperti si Habib

  10. ekanurlita said

    Hehehe… Trsentuh atau tidak itu khan hak prerogatif, bukan masalah ada yang salah atau enggak pada diri kita.
    Jadi inget dalam sebuah pengajian, ketika seorang temen akhwat bilang gini ” Seperti sebuah cerita yang bagus sekali dalam novel Ayat-ayat Cinta…”
    Belum selesai dia ngomong, saya dan seorang temen keburu nyeletuk “Ngga bagus, ah…”

    Entah, itu objektif atau subjektif…

    Dan kita pikir novel2 cekalan lebih berani mengungkap kebenaran…
    Huffh… Wallahu’alam, Res..

  11. magnificent said

    Gue rasa sang pengarang hanya ingin berdakwah sambil menghibur para pembacanya, jadi gak perlu dipusingkan dengan beban harus logis dan realistis. Toh sebenernya juga nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini…

    Dan emang nggak ada buku yang bisa menyentuh hati semua orang selain kitab suci Al-Quran itu sendiri…ya gak?? Itu juga kalo insya Allah hati pembacanya terbuka.

    Alhamdulillah novel ini membantu hati gue untuk lebih tersentuh dengan ayat suci Al Quran karena udah menafsirkan beberapa ayat dalam cerita kehidupan sehari-hari yang lebih mudah gue pahami…

    Betewe udh pada nonton Get Married belum?? Nahahaha, tuh ceritanya lebih kagak logis lagi…kalo ada cowok kayak si Rendi ngelamar, siapa jugaaaaa yang nggak mau….tajir lagih…

  12. yoyok said

    to Magnificent:
    gue gak mau dilamar si Rendi…walau tajir sekalipun

  13. Ayoem said

    ya bolehlah setiap orang mengungkap berbagai sisi dan kemungkinan. bebas!!! toh hanya berpendapat. tapi sayang sekali rasanya kalo kita meluangkan waktu kita yang amat berharga untuk membaca, namun setelahnya bukan mengambil pelajaran malah mencela.agh…ruginya.
    mungkin memang benar novel ayat-ayat cinta begitu kekanakan, dan klise.tetapi saya setuju si fahri dibuat begitu sempurna disana. karena biasanya kesalahan pemeran protogonis dalam sebuah cerita yang uwagh…, kerap kali dijadikan rujukan para pembaca (dg sadar/tdk disadarinya) berkompromi dengan alasan untuk berbuat yang tidak seharusnya. sayang sekalikan???

  14. Azayaka said

    Mungkin emang gak semua orang tersentuh ma novel Ayat-Ayat Cinta, tapi setidaknya aku setuju ma Kang Abik soal kita yang selama ini kekurangan ‘tokoh baik’ yang masih bisa dinalar kayaknya.
    Jadi hafizd, kuliah di Al-Azhar,sholeh, lembut masih bisa dimiliki oleh orang kebanyakan. tapi kalo liat tokoh baik selama ini kayak spiderman, batman, itu kan gak mungkin banget.

    Klise mungkin iya, tapi paling nggak mungkin akan ada orang yang tersentuh dan pada akhirnya bisa jadi sosok kayak Fahri, who knows??

  15. aresto said

    Kaget juga dengan bnyaknya respon soal ini. Tapi, wajar juga mengingat lakunya buku Ayat-ayat Cinta.

    Ini cuma opini pribadi, gue cuma ngga suka aja kl orang mencandu mimpi. And when u look around, jelas banget bangsa ini kecanduan mimpi. Mungkin karena udah mulai ngga percaya kl realitas bisa diubah dan akhirnya memilih lari dengan menikmati mimpi.

    Kekurangan tokoh baik yang bisa dinalar ? Ah rasa2nya sih ngga. Kalo mau teliti sedikit banyak kok kita temukan pulau-pulau integritas yang berputar pada pribadi-pribadi luar biasa. Dengan segala kelemahan manusianya menunjukkan bahwa everyone can make difference….

  16. Lia said

    “Ayat-ayat Cinta”? aku sih bacanya cuma sekali duduk. Aku baca dari halaman paling belakang trus maju kedepan. Cerita yg bagus, penulisnya punya imajinasi yg tinggi. Disitu ada beberapa paragraf yg melukiskan panasnya Mesir, dan bagaimaa mereka makan ayam panggang diatap apartemen mereka (justru ini yg aku ingat betul..hahahah). Tapi kalau keindahannya aku juga memang ga dapet “feel”-nya. Mungkin bukan jenis novel yg bisa menyentuh hatiku. Tapi salut buat penulisnya yg bisa membuatnya disukai kalangan luas. Kalau ga salah ada disitu digambarkan ada tokoh yg menangis dan dideskripsikan bahwa dia menangis..hik..hik..hik.. (aku fikir kok karya sastra ada adegan menangis hik hik hik, apa ga digambarkan “dia menangis begitu sedihnya”).

  17. andi said

    sebegitu populernya ayat-ayat cinta, bahkan sajadah cinta yang sudah dibuat sinetronnya pun, andi belum tertarik membacanya tuh, merasa “biasa aja tuh”.

    tapi bolehlah jika kang abik mengisi deretan novelis jaman baru sastra indonesia :)

    salam kenal deh, btw kamu aresto yg andi kenal bkn ya? :)

  18. emzen,,, said

    yach,,,,,,
    anda benar,,,,,!!!!!!!!!

    mang ada yg salah dgn diri anda,,,,,

    bukan saya ato mereka dan yang lainna,,,,,,

    walallaakakakkakakaka,,,,,,,,!!!!!!!!

  19. Kolonel Inf. Daryatmo said

    Aresto, segeralah anda meniru Fahri ya?

  20. A.B. Raturangga said

    Ramai kali orang menonton, tidak ketinggalan presiden RI Pastilah ada sesuatu yang baru dan menarik.
    Ramai kali komentar dan kritikan orang banyak.
    So pasti suatu karya seni apapun penilaian kita, haruslah kita berikan apresiasi yang tinggi.
    DIA SENIMAN, TELAH MENCIPTAKAN “DARI TIADA MENJADI ADA,”
    BUKAN BEGITU TEMAN?
    Aku sendiri belum nonton,
    fokusku pada film-film KESUKAAN ANAKKU, pasti kami nonton bareng.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>