
Sejak dulu gue ngga pernah tertarik dengan yang namanya MLM. Ngga tahu kenapa, tapi ada sesuatu dalam diri gue yang otomatis menyetel gue ke guard mode, stealth mode, atau flight mode begitu radar ini menangkap indikasi seseorang mulai mengarahkan pembicaraan ke MLM. Jangankan datang ke presentasi begitu ada kata-kata “peluang investasi”, “kesempatan langka”,”passive income“, gue biasanya langsung waspada. Kemudian pembicaraan berakhir dengan gelengan sopan gue atau pada beberapa kesempatan penolakan yang sedikit ketus. Tapi belakangan seorang keluarga dekat gue menjadi anggota sebuah MLM, dan perlahan tapi pasti setiap kali bertemu dengannya gue semakin kerap menangkap sinyal-sinyal halus ajakan untuk bergabung. Mengingat gue sangat menghormati beliau, hubungan antara kami, dan binar semangat di matanya ketika mulai bicara tentang MLM, gue putuskan untuk melengkapi penolakan gue dengan argumen yang solid sekaligus mengungkapkan sisi lain dari fenomena MLM.
Saturasi Pasar:Fakta yang Terabaikan ?
Dalam dunia bisnis, inovasi dalam marketing adalah hal yang biasa dan menarik untuk dipelajari. Ada kisah WalMart yang sukses melakukan inovasi dalam hal distribusi barang, ada juga paradigma seperti Marketing in Venus yang ditelurkan guru seperti Hermawan. MLM biasanya mengklaim bahwa cara yang mereka pakai adalah cara pemasaran yang jitu dan tak ada bedanya dengan perusahaan yang menawarkan produknya secara direct sales. Tapi, benarkah klaim itu ? Mengapa tidak ada perusahaan yang kita masukkan kategori “sukses berkelanjutan” menggunakan pemasaran ala MLM ?
Bayangkan sebuah produk baru dengan kualitas bagus bernama Acme yang dijual dengan harga Rp15.000(fixed supya gampang). Pastinya, meskipun semua orang dapat membeli Acme, tidak semua orang akan membeli. Ada yang ragu-ragu dengan produk baru. Ada yang loyal kepada produk yang sudah ada. Ada yang memilih untuk membeli produk yang lebih murah. Ada yang justru memilih produk mahal dengan kegunaan sejenis atas nama gengsi dan gaya. Ada banyak alasan, dan faktanya hanya akan ada sejumlah X produk Acme yang terjual. Barang dan jasa apapun pasti memiliki penetrasi pasar yang terbatas, tidak ada permintaan yang tak terhingga.
Cara menjawab pertanyaan berapa X adalah bagian penting dari ilmu pemasaran. Manajemen suplai dan permintaan, dan prakiraan cerdas tentang penetrasi dan saturasi pasar menjadi krusial bagi setiap bisnis. Sulitnya menjawab berapa X bukan berarti X tidak ada.
Masalahnya adalah siapa yang bertugas mengawasi nilai X dalam sebuah MLM? Siapa yang bertanggungjawab mengatur tuas suplai ? Adakah MLM yang pada satu titik bilang “oke kita sudah mempunyai cukup anggota untuk melayani permintaan pasar, mulai sekarang MLM ini tidak akan merekrut anggota baru” ? Itulah yang tragis, di MLM nilai X mungkin akan terlewati tanpa ada seorangpun yang sadar. Misalkan saja nilai X sudah tercapai di suatu MLM,saturasi pasar sudah terjadi; Anda seorang prospek yang dengan semangat mendengarkan presentasi sebuah MLM. Apakah si pembicara akan menyinggung masalah saturasi pasar ? Apakah dia kan jujur bilang bahwa karena saturasi pasar sudah terjadi, semua yang bergabung setelah hari ini membeli harapan palsu alias ndobos ? Tidak mungkin, si presenter akan terus membombardir kita dnegan marketing plan, bonus perkembangan, passive income puluhan juta rupiah setiap bulan. Dan Anda menerimanya tanpa sadar Anda termakan bualan dan satu langkah lebih dekat untuk menjadi seorang pembohong.
Organisasi Piramid: Sebuah Eksploitasi ?
Gue tadi bicara tentang pemasaran produk. Tapi, jangan lupa bahwa di MLM produk bukanlah gacoan utama. Produk hanya berfungsi sebagai pembenar dari cara utama menghasilkan duit.
MLM biasanya dapat dimodelkan sebagai deret geometrik, yang dapat digambarkan dalam bentuk piramid dimana setiap jenjang piramid mendapat bonus yang berbeda. Bayangkan: jika faktornya 10, maka untuk kedalaman tiga saja berarti ada 1000 orang yang bergabung. Untuk kedalaman enam berarti ada 1 juta orang bergabung karena percaya mereka bisa dapat menjual. Tapi ke siapa ? Betulkan sekian banyak distributor dibutuhkan untuk melayani pasar yang terbatas ? Bahkan konsep direct selling atau franchise pun sangat tegas dalam mengatur pembagian wilayah dan target pasar. Sangat absurd MLM disebut sebagai implementasi wajar dari praktek distribusi yang sudah ada. Tentunya sangat tidak rasional dan efisien jika sebuah produk dijual dengan harga yang mencakup porsi untuk begitu banyak lapisan distributor yang sebenarnya tidak perlu.
Berhadapan dengan ajakan untuk bergabung dengan sebuah MLM, seorang yang kritis harus bertanya berapa sebenarnya persentase orang yang masuk kategori sukses dalam sebuah MLM. Bagaimana mungkin sebuah sistem di mana setiap orang didorong untuk merekrut sebanyak mungkin dalam sebuah rantai yang tak putus dapat menguntungkan semuanya ? Yang pasti terjadi adalah sebuah sistem yang mengeksploitasi mayoritas untuk minoritas yang jumlahnya kecil. Bayangkan banyaknya uang, waktu, dan energi yang disedot untuk sebuah mimpi yang melenakan
Masalah Etika: Emang Gue Pikirin ?
Ngga usahlah kita bicara halal-haramnya MLM, gue udah coba nyari dan memang masalah MLM ini masih menjadi perdebatan dan belum ada pendapat yang kuat. Kalau untuk yang sifatnya money game mungkin sudah cukup jelas, tapi kalau untuk MLM yang menjual produk sepertinya masih belum sepakat. Yang pertama ingin gue angkat adalah masalah materialisme dan keserakahan, kalo untuk dua hal ini gue yakin setiap agama secara moral mengutuk.
Coba liat marketing kit, majalah, atau brosur sebuah MLM dan pasti di sana kita akan lihat sebuah tawaran telanjang untuk menjadi matre dan serakah. Yang dikupas dan diangkat adalah ajakan untuk meraih “hidup enak”. Biasanya lengkap dengan foto pribadi sukses di depan rumah mewah, BMW seri terbaru, yacht, atau pesawat pribadi.
Tidakkah ini membuat kita berpikir ? Kenapa perlu mengekspos habis2an godaan terhadap nafsu-nafsu kita yang paling dasar ? Mungkinkah ini untuk membuat otak kita yang harus berpikir kritis menjadi majal ? Tentunya kita tahu setelah pembahasan sebelumnya mengapa distraksi penting untuk membuat kita lupa menanyakan hal-hal yang menggelitik kecerdasan kita.
Sebelum memutuskan untuk menjadi anggota, coba tanyakan apakah Anda memang tertarik untuk menjadi salesman materialisme yang mengajak orang membeli harapan kosong dengan iming-iming hidup enak dengan segala kenikmatan dunia. Lagian coba dipikir lagi, menurut Anda BMW, yacht, dan pesawat pribadi itu masuknya pos aset atau cost? Ingat tidak ada yang salah secara moral dalam menjadi orang kaya, tapi ada batas setipis rambut antara kaya dan bermewah-mewah.
Masalah etika kedua terkait dengan MLM yang khusus berjualan suplemen (kebetulan ini jenis MLM yang gue hadapi). Menurut gue ngga etis kalau orang awam disuruh jadi jualan sesuatu yang berhubungan dengan kesehatan. Apalagi dengan hanya berlandaskan testimoni-testimoni dan klaim-klaim yang susah dicari kebenaran ilmiahnya. Curangnya, dengan bermain di wilayah suplemen MLM bebas (setidaknya kurang dituntut) dari tuntutan untuk membuktikan klaim dampak positif dari pemakaiannya. Gampangnya begini: kalau sukses kemungkinan dari efek placebo atau sangat kasustik, sementara kalau ga sukses orang ga akan komplain karena no harm’s done. Dan kalau diperhatikan, kelihatan sekali kalau suplemen-suplemen yang dijual MLM bersangkutan itu kebanyakan diklaim mengandung bahan-bahan eksotis seperti kalsium dari sapi mongolia atau lumut cordyceps dari dataran tinggi tibet, bahan-bahan yang bahkan buat mereka yang niat mencaripun sulit dibuktikan khasiatnya. Lebih memprihatinkan lagi kalau yang aktif berjualan produk MLM juga kebetulan dokter. Jelas dia telah melacurkan ilmunya, memanfaatkan keawaman pasien untuk ambisi pribadinya sebagai anggota MLM.
Relasi Pribadi: Ibuku Prospekku ?
MLM tumbuh dengan mengeksploitasi hubungan pribadi. Buat mereka yang sudah atau akan bergabung dengan MLM, konsep ini diterima dengan bungkus “membangun jaringan bisnis”. Buat mereka yang tidak setuju dengan MLM, kesan yang timbul adalah persahabatan cuma jadi awal ajakan bergabung, dan keramahan lebih terlihat sebagai topeng yang dipakai untuk rekruitmen.
Dalam hal berjualan produk, mungkin anggota MLM tidak lebih agresif dari salesman biasa. Itu wajar mengingat sebagian besar anggota MLM memang awalnya bukan salesman, sehingga jualan produk biasanya lebih bersifat kasual, sambil lalu, atau dalam event khusus yang dirancang untuk berjualan. Yang menjadi sangat beda adalah ketika si anggota MLM mulai berusaha untuk merekrut Anda menjadi downline. Ingat, insentif seorang anggota MLM sangat tergantung dari luasnya downline yang dapat dia bangun, tak heran kalau tuntutan ini membuat anggota MLM seringkali menghalalkan segala cara untuk membuat orang termakan untuk mendaftar. Batas-batas kesopanan dan ketulusan pertemanan bahkan keluarga pun dilabrak demi naik jenjang dan bertambah bonus, tak peduli meski itu berarti kemungkinan melakukan investasi negatif dalam bentuk janji yang diingkari atau harapan yang tak terpenuhi.
Sekarang tinggal kita tanya ke diri kita sendiri apakah itu semua worth it? Apalagi setelah tahu kebusukan di balik MLM. Teman dan keluarga seharusnya diperlakukan sebagai teman dan keluarga, bukan sebagai sasaran tembak eksploitasi.
***
Sebuah fakta menarik gue temukan ketika gue memeriksa laporan keuangan MLM “Singa Terbang” untuk periode kuartal pertama 2006 yang tersimpan di database SEC Amerika. Di laporan itu dijelaskan bahwa selama periode pelaporan keuangan tersebut dicatat peningkatan pendapatan sebesar 3 juta dollar dari Indonesia! Kalau bukan di republik mimpi, di mana lagi mimpi laku dijual ?

Dunia dibuat gempar ketika Paus Benediktus XVI, dalam sebuah kuliah umum yang disampaikan di Universitas Regensburg, dikabarkan mengeluarkan pernyataan yang mengkritik keras konsep jihad dalam Islam. Paus, yang pernah menjadi dosen di universitas itu, sebenarnya sedang memberikan kuliah tentang hubungan iman Kristen dan logika. Tapi, sebuah kutipan yang diangkat Paus sebagai ilustrasi untuk menggiring pendengar ke ide besar pidatonya membuat kuliah Paus ini spontan ditanggapi keras oleh dunia Islam. Kutipan yang diangkat Paus berasal dari kata-kata Kaisar Manuel II Paleologus yang diterjemahkan menjadi,”…Tunjukkan padaku apa yang baru dari ajaran Muhammad, dan disana akan kau temukan hanya hal-hal jahat dan tidak manusiawi, seperti perintahnya untuk menyebarkan dengan pedang iman yang diajarkannya…”. Kata-kata ini tak pelak membangkitkan kemarahan umat muslim yang diwakili oleh tokoh-tokoh muslim di seluruh dunia. Ulama seperti mufti Al Azhar, Muhammad Mahdi Akef dari Ikhwanul Muslimin, sampai Dr Yusuf Qardhawi sepakat menyuarakan keberatan dan tuntutan agar Paus meminta maaf dan menarik ucapannya. Reaksi ekstrem pun bermunculan sepert penyerangan beberapa gereja di Tepi Barat, pembunuhan seorang suster di Somalia, dan ancaman pembunuhan terhadap Paus, menunjukkan betapa Tahta Suci Vatikan telah menyinggung wilayah sensitif. Itulah mengapa SBY dengan sigap mengeluarkan pernyataan yang menyesalkan tindakan Paus sekaligus mengajak rakyat Indonesia utnuk tetap sabar dan mencegah tindakan-tindakan yang mengancam stabilitas, persatuan, dan kesatuan.