I Don’t Want to Fly with You
Posted by aresto on September 20, 2006

Sejak dulu gue ngga pernah tertarik dengan yang namanya MLM. Ngga tahu kenapa, tapi ada sesuatu dalam diri gue yang otomatis menyetel gue ke guard mode, stealth mode, atau flight mode begitu radar ini menangkap indikasi seseorang mulai mengarahkan pembicaraan ke MLM. Jangankan datang ke presentasi begitu ada kata-kata “peluang investasi”, “kesempatan langka”,”passive income“, gue biasanya langsung waspada. Kemudian pembicaraan berakhir dengan gelengan sopan gue atau pada beberapa kesempatan penolakan yang sedikit ketus. Tapi belakangan seorang keluarga dekat gue menjadi anggota sebuah MLM, dan perlahan tapi pasti setiap kali bertemu dengannya gue semakin kerap menangkap sinyal-sinyal halus ajakan untuk bergabung. Mengingat gue sangat menghormati beliau, hubungan antara kami, dan binar semangat di matanya ketika mulai bicara tentang MLM, gue putuskan untuk melengkapi penolakan gue dengan argumen yang solid sekaligus mengungkapkan sisi lain dari fenomena MLM.
Saturasi Pasar:Fakta yang Terabaikan ?
Dalam dunia bisnis, inovasi dalam marketing adalah hal yang biasa dan menarik untuk dipelajari. Ada kisah WalMart yang sukses melakukan inovasi dalam hal distribusi barang, ada juga paradigma seperti Marketing in Venus yang ditelurkan guru seperti Hermawan. MLM biasanya mengklaim bahwa cara yang mereka pakai adalah cara pemasaran yang jitu dan tak ada bedanya dengan perusahaan yang menawarkan produknya secara direct sales. Tapi, benarkah klaim itu ? Mengapa tidak ada perusahaan yang kita masukkan kategori “sukses berkelanjutan” menggunakan pemasaran ala MLM ?
Bayangkan sebuah produk baru dengan kualitas bagus bernama Acme yang dijual dengan harga Rp15.000(fixed supya gampang). Pastinya, meskipun semua orang dapat membeli Acme, tidak semua orang akan membeli. Ada yang ragu-ragu dengan produk baru. Ada yang loyal kepada produk yang sudah ada. Ada yang memilih untuk membeli produk yang lebih murah. Ada yang justru memilih produk mahal dengan kegunaan sejenis atas nama gengsi dan gaya. Ada banyak alasan, dan faktanya hanya akan ada sejumlah X produk Acme yang terjual. Barang dan jasa apapun pasti memiliki penetrasi pasar yang terbatas, tidak ada permintaan yang tak terhingga.
Cara menjawab pertanyaan berapa X adalah bagian penting dari ilmu pemasaran. Manajemen suplai dan permintaan, dan prakiraan cerdas tentang penetrasi dan saturasi pasar menjadi krusial bagi setiap bisnis. Sulitnya menjawab berapa X bukan berarti X tidak ada.
Masalahnya adalah siapa yang bertugas mengawasi nilai X dalam sebuah MLM? Siapa yang bertanggungjawab mengatur tuas suplai ? Adakah MLM yang pada satu titik bilang “oke kita sudah mempunyai cukup anggota untuk melayani permintaan pasar, mulai sekarang MLM ini tidak akan merekrut anggota baru” ? Itulah yang tragis, di MLM nilai X mungkin akan terlewati tanpa ada seorangpun yang sadar. Misalkan saja nilai X sudah tercapai di suatu MLM,saturasi pasar sudah terjadi; Anda seorang prospek yang dengan semangat mendengarkan presentasi sebuah MLM. Apakah si pembicara akan menyinggung masalah saturasi pasar ? Apakah dia kan jujur bilang bahwa karena saturasi pasar sudah terjadi, semua yang bergabung setelah hari ini membeli harapan palsu alias ndobos ? Tidak mungkin, si presenter akan terus membombardir kita dnegan marketing plan, bonus perkembangan, passive income puluhan juta rupiah setiap bulan. Dan Anda menerimanya tanpa sadar Anda termakan bualan dan satu langkah lebih dekat untuk menjadi seorang pembohong.
Organisasi Piramid: Sebuah Eksploitasi ?
Gue tadi bicara tentang pemasaran produk. Tapi, jangan lupa bahwa di MLM produk bukanlah gacoan utama. Produk hanya berfungsi sebagai pembenar dari cara utama menghasilkan duit.
MLM biasanya dapat dimodelkan sebagai deret geometrik, yang dapat digambarkan dalam bentuk piramid dimana setiap jenjang piramid mendapat bonus yang berbeda. Bayangkan: jika faktornya 10, maka untuk kedalaman tiga saja berarti ada 1000 orang yang bergabung. Untuk kedalaman enam berarti ada 1 juta orang bergabung karena percaya mereka bisa dapat menjual. Tapi ke siapa ? Betulkan sekian banyak distributor dibutuhkan untuk melayani pasar yang terbatas ? Bahkan konsep direct selling atau franchise pun sangat tegas dalam mengatur pembagian wilayah dan target pasar. Sangat absurd MLM disebut sebagai implementasi wajar dari praktek distribusi yang sudah ada. Tentunya sangat tidak rasional dan efisien jika sebuah produk dijual dengan harga yang mencakup porsi untuk begitu banyak lapisan distributor yang sebenarnya tidak perlu.
Berhadapan dengan ajakan untuk bergabung dengan sebuah MLM, seorang yang kritis harus bertanya berapa sebenarnya persentase orang yang masuk kategori sukses dalam sebuah MLM. Bagaimana mungkin sebuah sistem di mana setiap orang didorong untuk merekrut sebanyak mungkin dalam sebuah rantai yang tak putus dapat menguntungkan semuanya ? Yang pasti terjadi adalah sebuah sistem yang mengeksploitasi mayoritas untuk minoritas yang jumlahnya kecil. Bayangkan banyaknya uang, waktu, dan energi yang disedot untuk sebuah mimpi yang melenakan
Masalah Etika: Emang Gue Pikirin ?
Ngga usahlah kita bicara halal-haramnya MLM, gue udah coba nyari dan memang masalah MLM ini masih menjadi perdebatan dan belum ada pendapat yang kuat. Kalau untuk yang sifatnya money game mungkin sudah cukup jelas, tapi kalau untuk MLM yang menjual produk sepertinya masih belum sepakat. Yang pertama ingin gue angkat adalah masalah materialisme dan keserakahan, kalo untuk dua hal ini gue yakin setiap agama secara moral mengutuk.
Coba liat marketing kit, majalah, atau brosur sebuah MLM dan pasti di sana kita akan lihat sebuah tawaran telanjang untuk menjadi matre dan serakah. Yang dikupas dan diangkat adalah ajakan untuk meraih “hidup enak”. Biasanya lengkap dengan foto pribadi sukses di depan rumah mewah, BMW seri terbaru, yacht, atau pesawat pribadi.
Tidakkah ini membuat kita berpikir ? Kenapa perlu mengekspos habis2an godaan terhadap nafsu-nafsu kita yang paling dasar ? Mungkinkah ini untuk membuat otak kita yang harus berpikir kritis menjadi majal ? Tentunya kita tahu setelah pembahasan sebelumnya mengapa distraksi penting untuk membuat kita lupa menanyakan hal-hal yang menggelitik kecerdasan kita.
Sebelum memutuskan untuk menjadi anggota, coba tanyakan apakah Anda memang tertarik untuk menjadi salesman materialisme yang mengajak orang membeli harapan kosong dengan iming-iming hidup enak dengan segala kenikmatan dunia. Lagian coba dipikir lagi, menurut Anda BMW, yacht, dan pesawat pribadi itu masuknya pos aset atau cost? Ingat tidak ada yang salah secara moral dalam menjadi orang kaya, tapi ada batas setipis rambut antara kaya dan bermewah-mewah.
Masalah etika kedua terkait dengan MLM yang khusus berjualan suplemen (kebetulan ini jenis MLM yang gue hadapi). Menurut gue ngga etis kalau orang awam disuruh jadi jualan sesuatu yang berhubungan dengan kesehatan. Apalagi dengan hanya berlandaskan testimoni-testimoni dan klaim-klaim yang susah dicari kebenaran ilmiahnya. Curangnya, dengan bermain di wilayah suplemen MLM bebas (setidaknya kurang dituntut) dari tuntutan untuk membuktikan klaim dampak positif dari pemakaiannya. Gampangnya begini: kalau sukses kemungkinan dari efek placebo atau sangat kasustik, sementara kalau ga sukses orang ga akan komplain karena no harm’s done. Dan kalau diperhatikan, kelihatan sekali kalau suplemen-suplemen yang dijual MLM bersangkutan itu kebanyakan diklaim mengandung bahan-bahan eksotis seperti kalsium dari sapi mongolia atau lumut cordyceps dari dataran tinggi tibet, bahan-bahan yang bahkan buat mereka yang niat mencaripun sulit dibuktikan khasiatnya. Lebih memprihatinkan lagi kalau yang aktif berjualan produk MLM juga kebetulan dokter. Jelas dia telah melacurkan ilmunya, memanfaatkan keawaman pasien untuk ambisi pribadinya sebagai anggota MLM.
Relasi Pribadi: Ibuku Prospekku ?
MLM tumbuh dengan mengeksploitasi hubungan pribadi. Buat mereka yang sudah atau akan bergabung dengan MLM, konsep ini diterima dengan bungkus “membangun jaringan bisnis”. Buat mereka yang tidak setuju dengan MLM, kesan yang timbul adalah persahabatan cuma jadi awal ajakan bergabung, dan keramahan lebih terlihat sebagai topeng yang dipakai untuk rekruitmen.
Dalam hal berjualan produk, mungkin anggota MLM tidak lebih agresif dari salesman biasa. Itu wajar mengingat sebagian besar anggota MLM memang awalnya bukan salesman, sehingga jualan produk biasanya lebih bersifat kasual, sambil lalu, atau dalam event khusus yang dirancang untuk berjualan. Yang menjadi sangat beda adalah ketika si anggota MLM mulai berusaha untuk merekrut Anda menjadi downline. Ingat, insentif seorang anggota MLM sangat tergantung dari luasnya downline yang dapat dia bangun, tak heran kalau tuntutan ini membuat anggota MLM seringkali menghalalkan segala cara untuk membuat orang termakan untuk mendaftar. Batas-batas kesopanan dan ketulusan pertemanan bahkan keluarga pun dilabrak demi naik jenjang dan bertambah bonus, tak peduli meski itu berarti kemungkinan melakukan investasi negatif dalam bentuk janji yang diingkari atau harapan yang tak terpenuhi.
Sekarang tinggal kita tanya ke diri kita sendiri apakah itu semua worth it? Apalagi setelah tahu kebusukan di balik MLM. Teman dan keluarga seharusnya diperlakukan sebagai teman dan keluarga, bukan sebagai sasaran tembak eksploitasi.
***
Sebuah fakta menarik gue temukan ketika gue memeriksa laporan keuangan MLM “Singa Terbang” untuk periode kuartal pertama 2006 yang tersimpan di database SEC Amerika. Di laporan itu dijelaskan bahwa selama periode pelaporan keuangan tersebut dicatat peningkatan pendapatan sebesar 3 juta dollar dari Indonesia! Kalau bukan di republik mimpi, di mana lagi mimpi laku dijual ?

nuri sadida said
SEPAKAT ABIS2AN!!!!! mulut gw ampe bebusa buat menerangkan betapa ‘ga masuk akal’ bisnis MLM
malah gw ampe ga abis pikir, kenapa korban2 MLM bnyk yang pendidikannya tinggi, ngajinya lama, dll..
rasanya gw ga butuh banyak argumen, cukup dengan pertanyaan
“emang berapa orang sih di dunia ini yang punya pesawat pribadi?”
dan mereka pikir dengan ikut MLM bisa dapet pesawat?!?!?! sayangnya sebelum dapet pesawat, mereka harus kerja keras untuk balikin modal mereka dulu, which ga semua orang modalnya balik.. apa mau dikata, hare gene emang banyak day dreamers
yoyok said
to, artikel lo gue kopasin ke temen2 bento sama smansa yaa…
Aresto said
Monggo wae
di2k said
hehe… muncul juga artikelnya…
priandoyo said
wah To berarti Ahad-Net, MQ-Net, hmmfff susah juga ya
alief said
shoot!!
seenggaknya perlu ditambah kata2 menyedihkan yang kerap diucapkan mereka yang memprospek kita:
“setelah ikut bisnis ini, hidup saya lebih termotivasi, saya jadi lebih mengerti arti kawan dan jaringan…bla..bla..”
crap!
and nice closing word btw.
republik mimpi,pyuh…!!
joesatch said
Yaaa… menurutku MLM bikin kita jadi menilai manusia bukan sebagai manusia, tapi sbg obyek!
FYI, aku berantem sama bapakku gara2 masalah ini, hehehehe!
aSti said
saya setuju banget!!
menurut saya ini salah satu cara marketing yang paling menyakitkan, karena harus mengorbankan banyak hal; termasuk persaudaraan. Yang pasti, kenapa mesti ‘menjerat’ korban dengan mimpi-mimpi yang engga pasti?
dengan topeng bahwa mereka sangat memperhatikan kesehatan, ekonomi, ataupun yanglainlain, mereka justru hanyaa melihat manusia engga lebih sebagai alat untuk memperdagangkan sesuatu, dan yang lebih parah, para manusia itu adalah relasi terdekat “korban” tersebut.. mengenaskan.
Dimas said
Iseng2 buka web apli ketemu dengan perbandingan direct selling dan ‘anak haram’nya, sistem piramida.
Tertarik dengan klaim pembinaan mitra usaha(9) dan pembinaan downline oleh upline(11). Yg saya tahu di lapangan, sebagai org yang pernah diajakin MLM, pembinaan yang dilakukan upline pd downline atau mitra usaha kemudian menyebabkan pelaku direct selling ‘menyeberang’ ke bagian sistem piramida. Pernyataan ini didasarkan pada perkataan teman saya yg mengajak MLM, bahwa ia salah strategi ketika berusaha meningkatkan level dengan menjual sebanyak2nya. Ia seharusnya lebih memperluas jaringan (bhs halus untuk mencari downline). Pernyataannya mungkin didapat dari pembinaan dari upline dia yg melengkapi dia dgn stater kit spt cd, kaset, brosur.
Awalnya dari direct selling menjadi rekrutmen anggota. Atau memang direct selling = rekrutmen anggota?
nuryazidi said
Wah, To, akhirnya gw bisa ngasih argumentasi lain selain kata ‘haram’ yang sebetulnya masih debatable… Cuma karena yang gw tahu waktu itu cuma itu.
Kayaknya MLM emang meresahkan.. iya ga sih?
amelain said
apa ya sih mas..menurut gw tgt qt yang ngejalanin…bgmn cr qt memandang..hidup MLM..Luar Biasa..Singa Terbang!!
kabababrubarta said
Nice site! kabababrubarta
si tampan said
Artikel anda lucu juga….
Kliatan bgt gt klo anda tidak memahami MLM secara mendalam…
Sebagai orang awam….
Saya nga’ tau secara pasti kenapa Donald Trump, Aa Gym,, dan banyak tokoh lainnya memandang MLM sebagi bisnis yg amat sangat positif…
Dan .. yg jelas.. kya’nya lebih gew lebih percaya deh ma mereka.. lebih credible gt…
Aresto said
Mas Indra,
saya selalu menulis dengan mengharapkan komen dari orang lain. Komen yg berguna pastinya, bukan komen2 asbun yg tak punya added value
So, kl menurut Mas Indra artikel saya lucu, boleh dong saya dengar opini berseberangan dari seseorang yang memahami MLM secara mendalam seperti Mas Indra.
Gampangnya gini, kl Mas Indra ingin mengajak saya join MLM, apa yang akan Mas Indra sampaikan ?
joe said
Goooooood……
Semua yg disampaikan benar 1000% g ada yg salah…but only tuk org yg g suka ama MLM aja seh…
Tapi kalo bagi org yg suka dg MLM gmn ato boleh dibilang udah merasakan nikmatnya hidup dr MLM??? pasti 1000% g ada yg benarKan!!!
Jadi boleh dibilang semua itu tergantung dari caranya kita memandang MLM itu sendiri…
* ada tmn gw yg hampir Cerai dg suaminya gara2 istrinya jlnkn MLM,kejam bgtkn MLM,gini kata suaminya”lo milih aku atau MLM??”akhirnya milih suami deh…
* adalagi tmn gw cewek yg sering tengkar dg ortunya gara2 MLM jg,cos sering pulang di atas jam 10malam…
Tapi…
* ada tmn gw yang sekarang udah punya mobil,rumah dari hasil MLM…hidupnya udah bisa dibilang UUUUENAK..daripada tmn2 yg udah kerja bertahun2 di perusahaan…
Emang sih org yg sukses diMLM sdikit bgt,yg gagal jutaan..
Tapi kayaknya smuanya didunia ini emang gitu deh(model PIRAMID),
cth:
Direktur cuma 1 org sementara karyawannya ribuan…(bayangkan jika:Direkturnya ada ribuan trus Karyawannya cuma 1 org,bisa STREESSSS karyawannya)
nah kira2 lbih enak jadi Direktur yg kaya ato Karyawan yg bekerja???
HOW ABOUT YOU????
semua tergantung pilihan Anda :>
kalo gw lebih memilih jadi direktur yg kaya aja..
Bukannya Matre & serakah,tp coba Anda bayangkan seandainya anak anda sedang sakit,tabungan udah abis & butuh biaya pengobatan yang biayanya 5x lipat dari gaji/bln apa yg akan anda lakukan(mbiarkan anak anda mati,trus bikin anak baru lagi/cari pinjaman duit buat berobat)??pinjam duitnya kesiapa???ke orang Kaya kan,mana mungkin pinjem ke org miskin..bayangkan aja sendiri deh kalo ini benar2 terjadi kpd Anda…!!!apa keputusan anda??
UANG BUKAN SEGALA-GALANYA,TAPI SEGALA-GALANYA BUTUH UANG!!!!
Zacki said
Wah, menurut penulis blog orang ini aneh sekali. Memang apanya yang salah bila kita menjual sesuatu kepada keluarga sendiri, apalagi jika produk yang kita tawarkan memang bagus. Saya saja yang pernah berjualan kelontongan, keluarga pulalah yang kerap membelinya. Hubungan ekonomi adalah hubungan antar manusia, Anda harus bisa professional dalam hal ini. Bisnis adalah bisnis, tidak masalah kan berbisnis dengan sanak keluarga dan kerabat dekat. Toh dalam hal ini kita sama-sama akan diuntungkan. Kecuali bila kita punya niatan jahat untuk menipu atau merugikan mereka.
Masalah punya impian untuk sukses, bukan berarti punya sifat materialistik. Toh agama pun menganjurkan supaya kita berusaha dan kaya! Bagaimana mau bisa naik haji, membangun masjid, membayar zakat, bersedekah, kurban, dll bila kita sendiri kekurangan. Justru paham “sederhana” yang ditafsirkan secara keliru itu bisa membunuh banyak orang, hingga mereka tanpa sadar melemahkan kepercayaan diri. Itulah yang menyebabkan bangsa kita banyak tertinggal dan hanya bisa “pasrah menyalahkan nasib”.
MLM is the way to survive in global market. Bermimpi itu tidak buruk, bermimpi itu sangat bagus untuk memacu kreatifitas dan kepercayaan diri. Jangan pernah berhenti untuk bermimpi. Imajinasi lebih berharga dari sekedar ilmu pasti… Albert Einstein. Apa jadinya dunia ini tanpa para pemimpi. Anda menggunakan komputer ini pun dari hasil impian dan imajinasi orang terdahulu, ya kan?
aresto said
Sebenarnya agak males jawab komen yang ditulis orang yang baca tulisan guenya ngga serius.
Eniwei,
1. Gue ngga pernah menghujat orang yang jualan ke keluarganya. Tapi, gue menyesalkan orang yg merekrut keluarganya jadi downline.
2. Gue ngga pernah nabarakin sukses vs matrealistik atau jadi kaya vs agama. Siapapun yg baca sirah para sahabat tahu gmn kontribusi sahabat2 yang kaya terhadap da’wah. Yang gue serang adalah penggunaan motif matrealistik dalam bentuknya yang paling mentah dalam MLM.
Gimana Mas ? Sudah dibaca ulang tulisan saya ?
Opini Saya Tentang MLM (12-07-2008) « Bayu Hebat said
[...] I Dont Want To Fly With You (aresto) [...]
Catshade said
Saya tanya balik: Apakah Donald Trump dan Aa Gym dulu pada awalnya jadi kaya dari bisnis MLM?
Opini Saya Tentang MLM (14-07-2008) | Bayu Hebat said
[...] I Dont Want To Fly With You (aresto) [...]
Andrew said
LOL
that doesn’t even make any sense!
bang samiun said
@catshade:
ya sudah jelas, Donald Trump dkk ngga kaya dari bisnis MLM. gitu aja koq repot.