aresto in-depth

my words,my opinions

Puasa Dulu Baru Raya

Posted by aresto on October 30, 2006

Ramadhan selalu memiliki segala kelengkapan untuk menjadi sesuatu yang sangat dirindukan. Bisa jadi karena banyak hal penting dalam hidup gue terjadi di bulan Ramadhan. Mungkin karena tahun ini Ramadhan datang di saat yang tepat, ketika gue sedang butuh jeda dari berkelahi dengan dunia. Jalaluddin Rahmat pernah menulis, alasan rasional yang membuat Ramadhan seharusnya begitu dinanti adalah karena dengan segala pernak-perniknya bulan itu menyediakan pemuas bagi dahaga kebutuhan spiritual. Kebutuhan yang justru terpuaskan ketika pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah kita dipangkas sedemikian rupa selama sebulan. Jalaluddin menuturkan bahwa sebagian besar orang justru perkembangan pribadinya berhenti pada pemenuhan kebutuhan jasmani, dan tidak pernah tahu apa sih kebutuhan spiritual itu. Itulah sebabnya Al Qur’an menggunakan panggilan “orang beriman” untuk kewajiban berpuasa. Hal itu juga yang membuat Nabi memperingatkan kemungkinan puasa hanya menghasilkan penalti jasmaniah berupa lapar dan haus, karena memang banyak orang yang tidak sungguh-sungguh dalam menahan kompleksitas nafsunya atau lalai dalam memanfaatkan momentum Ramadhan sebagai madrasah takwa.

Ramadhan ini menandai satu tahun masa kerja gue di firma, dan menjelang akhir tahun seperti ini berarti mulainya hari-hari tersibuk sebagai auditor. Itu berarti gue harus mengeluarkan usaha lebih untuk bisa menikmati Ramadhan. Gue cukup beruntung karena Ramadhan ini harus menghabiskan waktu kerja di dua klien seperti Bank Mandiri dan Telkomsel. Berbeda dengan suasana kantor yang dingin, lingkungan kedua perushaan itu lebih kondusif untuk berpuasa (simple note for those thinking of searching a new job). Setidaknya gue bisa ikut mendengarakan tausiyah-tausiyah ba’da Dhuhur dari ustadz-ustadz ternama, tahsin gratis, dan ifthar gratis (penting tau yg gratis2). Di akhir Ramadhan juga gue sempat mersakan dua kali i’tikaf yang cukup berkesan (thanks to Didik for the company). Alhamdulillah, setidaknya target-target kuantitas ibadah kurang lebih tercapai, keerinduan pun terobati.

Kemudian tibalah hari Fitri yang dinanti. Sekali lagi diwarnai perbedaan ketetapa 1 Syawal, yang walaupun dijelaskan sebagai sebuah rahmat dalam kehidupan umat, tetap saja membuat hati masygul. Kalau satu negara saja berbeda dalam menentukan 1 Syawal, bagaimana mau bicara khilafah?

Satu catatan kecil lain gue buat ketika menyaksikan berita kericuhan acara pembagian zakat di daerah. Memang sudah menjadi tradisi memanfaatkan momen Idul Fitri, ada pribadi-pribadi atau lembaga yang mengadakan pembagian zakat tunai atau sembako secara langsung ke masyarakat. Kerap yang terjadi adalah kericuhan akibat membludaknya peminat zakat sehingga menimbulkan korban. Secara pribadi ada hal-hal yang menurut gue ngga pas dari fenomena ini. Salah satunya, berbeda dari semangat keadilan sosial dan distribusi kekayaan yang diusungnya, zakat lebih sering dilihat sebagai sarana money/sin laundering. Dikeluarkan hanya menjelang Id, dengan persepsi salah bahwa mengeluarkan sebagian kecil dapat membuat sebagian besar sisanya menjadi halal dan bersih. Padahal, maksud mensucikan harta dari zakat adalah memberikan hak mustahiq yang ada di harta kita, bukan mensucikan harta yang didapat dengan cara haram. Lebih sedih lagi, stereotipe mustahiq yang lebih umum dipahami membuat orang memberi dalam bentuk yang short lasting seperti uang receh dan sembako. Dari sisi mustahiq pun, stereotipe ini membuat dhuafa lebih senang menengadahkan tangan bahkan rela saling sikut dengan sesamanya untuk mendapatkan sedekah yang tak seberapa. Memilih untuk percaya bahwa mereka tak punya potensi yang dapat diberdayakan dan tanpa sadar melestarikan jurang antar kelas.

Kembali ke hari kemenangan, ada analogi menarik yang digunakan oleh Mohamad Sobary. Menurut dia, Idul Fitri harus kita rayakan sebagai keberhasilan kita naik tahta menjadi seorang raja. Puasa membuat kita berhasil menaklukkan sebuah wilayah dan di hari Idul Fitri sebagai raja kitalah yang berkuasa mengatur taklukan kita. Raja berhak atas kepatuhan dan pengabdian dari domain kekuasaannya, bukan sebaliknya. Pertanyaannya tentu saja berapa lama kita dapat bertahan sebagai raja ? Semoga bulan-bulan ke depan membuktikan Ramadhan kita dan semoga diberi kesempatan berjumpa ramadhan tahun depan.

One Response to “Puasa Dulu Baru Raya”

  1. Didi said

    Yah… semakin tinggi pohon kelapa, semakin kenceng juga khan anginnya? Insya Allah, Dia punya mekanisme yang adil untuk menilai ibadah seseorang. Bobot ibadah anak kecil, anak sekolah, anak kuliah, dan orang kerja tentu beda… Ya ga?

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>