Timnas Instan ala Bung Nurdin
Posted by aresto on November 30, 2006
Gue termasuk orang yang dengan sabar menunggu kapan timnas kita mampu bicara di pentas dunia. Gue berkhayal suatu waktu bisa bareng anak gue menonton friendly match Indonesia vs Brazil di Senayan, memakai kostum timnas dan mengibarkan merah-putih mini sambil ikut bernyanyi Indonesia Raya, berteriak sekerasnya memberi semangat, melakukan standing ovation ketika timnas-yang kalah 3-1 tapi berjuang sepanjang pertandingan-meninggalkan lapangan. Pulang dengan tahu bahwa hari itu anak gue belajar bahwa seperti hidup sepakbola punya kalah-menang, tapi yang paling penting adalah pantang menyerah sebelum peluit akhir berbunyi.
Dengan harapan setinggi langit macam itu, pastinya gue kecewa dengan kondisi sepakbola tanah air hari ini. Timnas senior kita berturut-turut kalah dari Kamerun, Finlandia, dan Vietnam di ajang turnamen BV Cup, gilanya adalah tiga tim itu semuanya tim U-23. Kemudian yang lebih memalukan adalah kabar timnas U-23 yang selama 6 bulan berlatih di Belanda dan menghabiskan duit 28 miliar dihajar telak dua kali berturut-turut oleh timnas U-23 Irak dan Suriah, dan mencatat rekor spesial karena di dua pertandingan itu dua pemain timnas dikartumerah karena pelanggaran bodoh.
Foppe De Haan, pelatih timnas U-23 Belanda yang diminta membantu melatih timnas U-23 selama di Belanda, sudah menjelaskan sebab kenapa timnas berprestasi begitu memalukan. Menurut dia meski memiliki bakat bagus, pemain-pemain Indonesia tidak pernah mengalami pembinaan serius sejak usia dini dan tidak terasah dalam kompetisi berjenjang yang ketat. Dua catatan yang sebenarnya sering juga disampaikan wartawan sepakbola, pengamat, dan mantan pemain-pemain Indonesia yang legendaris. Entah kenapa justru dua hal itu yang sepertinya tidak dilirik sama sekali oleh pengurus PSSI. Pembinaan usia dini tidak jelas grand desainnya dan hanya berjalan bila ada sponsor, sementara kompetisi kita carut-marut, penuh konflik kepentingan, dan sama sekali tidak kondusif bagi pengembangan pemain lokal.
PSSI di bawah Bung Nurdin Halid sepertinya justru lebih memilih cara-cara instan. Proyek mercusuar timnas U-23 di Belanda misalnya, yang hasilnya kita tahu sendiri seperti apa. Yang lebih kontroversial adalah rencana Bung Nurdin melakukan naturalisasi untuk mengisi skuad timnas. Kalau yang dinaturalisasi pemain-pemain muda berdarah Indonesia yang tinggal di luar negeri masih okelah, toh pilihan untuk mempunyai paspor Indonesia dan kemudian membela merah-putih ada di tangan pemuda-pemuda itu. Seperti Camoranesi yang lebih memilih membela Italia, atau Adu yang lebih sreg dengan AS. Masalahnya adalah yang makin mendekati kenyataan adalah rencana naturalisasi empat orang pemain asal Brasil.
Penggunaan pemain naturalisasi di dunia internasional sampai sekarang masih menjadi perdebatan. Banyak yang berpendapat, seperti penggunaan mercenary untuk perang adanya pemain naturalisasi mengaburkan identitas nasional yang seharusnya melekat pada timnas. Kesetiaan dan patriotisme, kalaupun ada, ditentukan oleh bayaran bukan keterpanggilan membela bangsa. Tiadanya identitas nasional ini juga membuat kepemilikan bangsa ini pada timnas jadi rancu. Bayangkan jika keempat pemain itu menjadi starting lineup, yang mengisi setiap lini timnas, masih layakkah disebut timnas Indonesia ?
Lebih bahaya tentunya adalah kenyataan bahwa penggunaan pemain asing tidak akan berdampak positif bagi persepakbolaan Indonesia. Dipakainya pemain asing melecehkan potensi bakat bibit pemain lokal yang gue yakin sebenarnya menunggu perhatian. Selain itu sudah pasti melukai perasaan orang-orang yang, beda dengan Bung Nurdin dan sejawatnya yang menjadikan PSSI tempat mencari duit, dengan tulus mencurahkan perhatiannya bagi kemajuan sepakbola nasional.
Jika saja Bung Nurdin mau sedikit saja belajar dari sepakbola, Bung Nurdin harusnya paham bahwa seperti hidup, sepakbola menghormati keberadaan proses serta sunnatullah hubungan antara hasil dan kerja keras.

anton said
secara garis besar sudah tepat apa yang disampaikan bung aresto, mgkn sedikit menambahkan adalah keseriusan dalam membina sepakbola indonesia.
Kebetulan gw punya cerita seorang teman yg sedang seleksi salah satu klub ibukota. si “A” adalah seorang pemain berbakat, teknik luar biasa, dan masih muda. hal ini dibuktikannya ketika menjadi top scorer di piala suratin.
Namun akhirnya dia tidak terpilih masuk skuad ibu kota ini bukan karena kalah skill, namun kalah “duit”.. yaa, tragis memang, kalau baru mulai saja bibit2 emas sudah disingkirkan cara-cara kotor..
Hal yang sama terjadi juga di Liga indonesia dengan tajuk kasta tertinggi. Kabar baik bahwa nilai kontrak pemain kita yg jor-joran dan menyentuh angka 1 M per musimnya, ternyata hanya penggelembungan angka. sesunguhnya bahwa terdapat persentase untuk pengurus PSSI dan sebagian kecil pengurus klub dari setengah nilai kontrak pemain adalah kemafhuman yang sudah ditolerir pada saat ini.
Jadi kalo dari akar budaya busuk ini belum juga dicabut di PSSI beserta lingkungan, saya yakin bung aresto beserta anaknya tidak akan pernah menyaksikan Pato, Rafael sobis, dkk beraksi di senayan..
Salam sportivitas