aresto in-depth

my words,my opinions

Archive for December, 2006

Walikotaku Apa Kabarmu ?

Posted by aresto on December 28, 2006

Ngga terasa lho kurang lebih sudah setahun Pak Nurmahmudi menduduki jabatan sebagai walikota Depok. Rasa2nya baru kemaren “liqo extra” seru ngebahas haruskah nunut instruksi untuk ikutan kampanye Pak Nur. Masih hangat juga ketika beberapa personil “liqo extra” akhirnya beneran ikutan kelilin kampung Cipayung sono untuk nyebar2in atribut Pak Nur ke warga. Secara pribadi gue menaruh harapan yang cukup besar untuk melihat Pak Nur tampil memimpin dan membuat perubahan.Makanya gue ikut empot2an waktu pengangkatan Pak Nur terganjal keputusan PT Jabar sebelum kemudian dikukuhkan oleh MA. Inilah akhir Depok yang ruwet, seluruh Indonesia akan melihat hasil sebuah kepemimpinan yang beda, sebuah potret cerah dari bagaimana sebuah kota bisa kinclong di era otonomi daerah-begitu pikir gue waktu itu.

Tapi, kenyataan setelah setahun berlalu ternyata jauh panggang dari api. Setahun memang bukan waktu yang lama, tapi relatif cukup untuk menilai hasil atau setidaknya proses. Faktanya tidak ada terobosan berarti yang dapat dibanggakan dari kinerja Pak Nur. Gue ngga berharap hasil muluk2 seperti mengurai kemacetan Margonda atau janji2 kampanye Pak Nur seperti santunan kematian atau pemanfaatan lahan tidur untuk pertanian, gue bicara soal small wins yang sepele tapi memberi isyarat bahwa pendulum mulai bergerak ke arah lain. Misalnya, bagaimana agar proyek galian tidak terlihat asal-asalan dan tabrak lari? bagaimana juga agar warga tidak bingung kenapa setiap proyek perbaikan jalan selalu bersamaan dengan musim hujan ? terus mengapa jembatan penyebrangan Margo-Detos tak kunjung terealisasi ? Maaf-maaf saja kalau orang mulai berpikir bahwa bersih-peduli itu tidak berarti efektif-berorientasi hasil.

Mungkin ada yang berkilah dengan mengatakan bahwa Pak Nur tidak efektif karena energinya habis buat berkonflik dengan kelidan jaringan Badrul Kamal-Naming Bothin yang sudah begitu kuat di Depok. Sampai sekarang pun posisi Pak Nur terus menerus digoyang, bahkan goyang-menggoyang ini satu-satunya berita yang terdengar dari kepemimpinan Pak Nur. Lho dul, memangnya risiko Pak Nur berhadapan dengan hal seperti itu tidak terpikir waktu dulu memutuskan untuk bertarung di pilkada Depok ? Harusnya udah ada dong itung2an jika kondisi seperti itu terjadi dan bagaimana mengatasinya. Tidak mudah pastinya, tapi rakyat mah kaga mau tahu. Langkah taktis politik praktis kan harusnya jadi gawean orang-orang lingkar dalam, yang rakyat tahu Pak Nur walikota Depok dan harus bisa nunjukin hasil kerja dia sebagai walikota. Oh ya, baliho gede-gede(dan jelek, tidak artistik, plus tidak jelas pesannya) di Margonda tuh ngga bisa dihitung sebagai hasil kerja, sorry lah yaw.

Tulisan ini bukan keluar dari perasaan sentimen atau benci. Gue cuma pengen Pak Nur (dan pendukungnya) tahu kalau Pak Nur punya investasi kepercayaan yang besar di warga Depok dan seharusnya bisa berbuat lebih baik untuk menuntaskan kepercayaan itu. Buat aktivis-aktivis pendukung Pak Nur, gue serukan untuk jangan cuma semangat waktu kampanye atau jadi saksi TPS aja, aplagi kalau ikut2an perang demo dengan pendukung Badrul-Naming. Kita harusnya bisa memainkan peran sebagai warga yang cerdas dan kritis, yang bisa mendorong pemimpinnya untuk berbuat lebih banyak dan lebih baik. Ruang perbaikan masih terbuka luas lho, coba lihat Sragen dan Pare-pare yang kinclong karena sukses menerapkan good governance dan peningkatan kualitas layanan publik yang signifikan. Kalaupun memang menjadi walikota yang efektif dirasa terlalu sulit karena kuatnya pertarungan politik, ya lebih baik mundur saja. Entah kenapa sejak bergaul dengan komunitas LSM, gue tambah percaya kalo banyak kontribusi riil yang bisa dilakukan tanpa harus menjadi pemerintah. Toh saat ini kita sudah begitu terbiasa bertanya “Di mana negara ?”.

Posted in Ya Basta ! | 16 Comments »

Memahami untuk Membasmi

Posted by aresto on December 11, 2006

Hari Sabtu(9/12) lalu diperingati sebagai Hari AntiKorupsi Sedunia. Sebuah peringatan yang merujuk pada tanggal 9 Desember 2003, saat PBB meratifikasi Konvensi Anti Korupsi. Gue ingin memanfaatkan momentum ini untuk menyegarkan kembali kebencian kita pada korupsi dan semangat untuk bersama membasminya

Seperti penyakit yang mengerogoti tubuh, korupsi membuat negara kita menjadi penyakitan. Tak berbilang berbagai rekor yang dicetak bangsa kita perihal korupsi, Indonesia pun dikenal dunia sebagai negara yang menjadi penghuni setia rangking negara terkorup bersama negara-negara gagal lainnya. Korupsi meluas dan berlangsung sistematis. Dari pusat ke pinggir, dari atas ke bawah semuanya ikut bermain melestarikan korupsi. Korupsi menjadi kenyataan sehari-hari dan perlahan mulai dianggap biasa dan dimaklumi. Alangkah menakutkan ketika masyarakat sudah begitu akrab dengan korupsi sehingga tidak dapat lagi membedakan mana yang tindakan yang korup dan mana yang tidak.

Minggu lalu, Wapres Kalla menyatakan aksi KPK membuat para pejabat takut mengambil keputusan, proyek terbengkalai, dan anggaran tidak terealisasi. Kita yang waras pun dibuat masygul mendengar komentar macam ini, karena Kalla sama saja mengatakan bukan korupsi tapi pemberantasan korupsilah yang berdampak buruk pada perekonomian. Ini potret bagaimana mengakarnya korupsi melahirkan mindset salah bahwa tanpa korupsi urusan serba mampet dan mandeg.

Untuk menepis ragu sekarang mari kita tanyakan bersama-sama: apa benar korupsi membuat hidup kita sengsara? Tentu saja jawabnya iya. Koruptor menuai keuntungan dan manfaat dari korupsi. Tapi rakyatlah yang harus membayar apa yang dinikmati para koruptor. Lewat korupsi, koruptor mengambil kekayaan dan kesempatan yang seharusnya dapat dipergunakan untuk memakmurkan kehidupan rakyat.

Infrastruktur yang dibangun seadanya, akses pendidikan yang mahal, standar kesehatan yang buruk, eksploitasi yang mengorbankan lingkungan, seretnya investasi adalah sebagian contoh akibat korupsi. Ya ! para koruptor langsung atau tidak langsung bertanggung jawab akan malapetaka yang menimpa negeri ini. Korupsi menjadikan beban hidup yang harus ditanggung melebihi kemampuan rakyat. Mari kita luruskan cara berpikir kita dan merumuskan kembali siapa sih musuh rakyat yang sebenarnya

KPK dalam berbagai publikasi menekankan rumus pemberantasan korupsi. Menurut KPK, Pemberantasan korupsi = pencegahan + penindakan + peran masyarakat. Dari rumus itu jelas kita sebagai rakyat punya peran besar dalam memberantas korupsi. Bila kita sungguh peduli dengan bangsa ini, mulailah dengan keyakinan lurus bahwa Indonesia akan menjadi lebih baik tanpa korupsi.Kemudian kita harus belajar mengenali korupsi. Kita harus berusaha tahu hak dan kewajiban kita dalam hukum, sehingga tidak takut berhadapan dengan para koruptor. Kita juga harus tahu prosedur yang legal sehingga bisa menjauh dari godaan bersengkokol dengan oknum-oknum pelaku korupsi, sebaliknya kita justru bisa mengambil peran pengawasan (kontrol sosial)

Keyakinan dan pengetahuan tadi harus diwujudkan dalam sikap menolak segala bentuk korupsi. Kita harus mulai dari diri sendiri, dan tidak ada toleransi sama sekali! Bukan hanya masalah mengurus KTP atau SIM, kita juga harus berusaha tidak melakukan berbagai bentuk korupsi abu-abu seperti korupsi waktu atau korupsi amanah. Kemudian kita tidak boleh ragu-ragu untuk melawan dan melaporkan tindak korupsi yang terjadi di lingkungan sekitar kita, kepada penegak hukum atau KPK.

Pilihan sikap hidup anti korupsi itu harus kita lakukan secara konsisten dan terus menerus. Untuk memompa semangat, mengingat mati dan hidup dengan standar di bawah kemampuan kita sebenarnya membantu kita melawan godaan korupsi. Semakin banyak orang yang berperilaku sama dengan kita semakin cepat korupsi musnah dari negeri ini.Mau kan mewariskan Indonesia bebas korupsi buat anak cucu kita nanti?

~disarikan dari buklet “Mengenali & Memberantas Korupsi” keluaran KPK

Posted in Ya Basta ! | 7 Comments »

Ma, Papa Ingin Poligami

Posted by aresto on December 4, 2006

Papa: Mama keliatan cantik sekali hari ini, baru facial ya Ma ?
Mama: Hmm…
Papa: Sayur asem bikinan Mama tadi enak sekali lho Ma, kerasa banget asemnya…seger
Mama: Hmm…
Papa: Ma, inget kan janji kita untuk selalu jujur dan terbuka satu sama lain ?
Mama: Hmm…
Papa: Mmmm, Mama ingat Lina? Itu lho Ma, staf humas di kantor Papa. Yang waktu gathering kantor ngobrol akrab sama Mama soal resep puding. Terus pas kita pulang, Mama bilang ke Papa kalo dia cantik, denok, dan ramah.Terus Mama bilang kasian dia anak masih kecil udah ditinggal mati suami..inget kan Ma ?
Mama:Hmm…
Papa:Nah, Papa sedang berpikir…berpikir nih Ma…Bagaimana kalau Papa nikah lagi sama Lina? Mama ngga keberatan kan ?
Papa: Pasti dong Mama ngga keberatan, itu kan nyunah dan mencegah perbuatan tidak baik. Coba mending begitu kan daripada jadi teman tapi mesum model YZ dan ME ?
Papa: Lagian Mama kan juga suka ngingetin Papa untuk mengambil teladan yang baik? Mama juga yang paling rajin ngajak-ngajak Papa ke pengajian MQ.
Papa: Ma, Papa yakin Mama juga ingin mencontoh keikhlasan Teh Ninih ? Iya toh Ma ?

Papa: Bener lho Ma, sayur asem yang tadi masih terasa asemnya….

Posted in Seeking Paradise | 12 Comments »

Kaya Visi, Miskin Implementasi

Posted by aresto on December 4, 2006

Gue dan Anjar punya klub yang anggotanya cuma kami berdua, klub itu sering kami refer sabagai Klub Kaya Visi-Miskin Implementasi. Klub tanpa bentuk karena agendanya lebih sering sporadis dan iseng-iseng mengisi waktu luang (dan waktu kerja). Pernah kita punya rencana untuk bikin agenda rutin, tapi batal karena itu berarti menyalahi nama klub itu sendiri. Kami kan harus konsisten..kaya visi miskin impelementasi :D

Paling sering sih kita ngobrol di waktu makan siang. Ini pun agak jarang karena sebagai auditor berpangkat strip satu kita lebih sering nongkrong di klien. Makanya setiap kita bisa makan siang bareng tuh rasanya bikin ketagihan. Apa sih yang kita obrolin ? Tentu saja tentang berbagai visi yang miskin impelemntasi. Kita bisa bincang seru tentang rencana bisnis, terutama terkait dengan opportunity yang kita lihat di klien. Wah kalo udah gitu kadang kita bisa semangat ngebahas apa value yang kita tawarkan, gimana marketingnya, sampai action plan untuk launch tuh bisnis. Kadang kita bahas juga ide-ide gila yang asik untuk dikerjain, contohnya nih karena sama-sama gila nulis kita sering berencana membuat buku dengan topik yang menurut kita bakal mencerdaskan masyarakat sekaligus laris manis di pasaran. Terus mana hasilnya ? sekali lagi klub kita namanya kaya visi miskin implementasi :D

Selain sewaktu makan siang, kita gue dan Anjar juga sering terjerumus ke obrolan asyik ketika salah satu dari kita bertemu dengan obyek-obyek yang inspiring. Biasanya sih success stroy individu gitu deh, contoh yang paling baru adalah waktu gue ngebaca biografi Pahala Kencana(?), CFO Bank Mandiri yang umurnya baru 35. Kalo success story individu gini biasanya sih biasanya bikin kita menelisik career pathnya tuh orang hebat, terus sok2 bikin rencana buat career path kita.

Oh ya kadang-kadang Anjar suka cerita juga sih soal pernikahannya yang baru berumur seminggu. Terus kita ngobrol-ngobrol deh soal lokasi rumah atau kendaraan idaman. Kalo Anjar udah cerita gantian gue yang cerita soal…(eits ga di sini deh). Pokoknya untuk soal satu ini Anjar sudah melewati tahap tanpa implementasi.

Gue pikir-pikir bicara visi menyenangkan karena bikin kita teralih sebentar dari masa kini. Tapi, tidak bisa benar-benar lepas dari kekinian karena kemudian kita harus tetap menimbang kondisi-kondisi kini. Makanya obrolan gue n Anjar sering berlangsung seru karena melihat masa depan dengan perspektif visioner bikin kita semangat menjalani hari ini. Setidaknya jadi tidak lupa kalau mimpi hari ini boleh jadi kenyataan esok hari. Hmmpf….jadi kangen nih gue sama Anjar, udah lama ngga ketemu. Beda dengan gue yang kliennya seputar Gatsu, Anjar kedapetan klien-klien eksotis di ujung-ujung Indonesia :) Ada yang mau ikutan Klub Kaya Visi Miskin Implementasi ?

Posted in ABCs of Life | 5 Comments »