aresto in-depth

my words,my opinions

Archive for January, 2007

Finance Should Be Practical

Posted by aresto on January 19, 2007

Salah satu kebiasaan gue setiap weekend adalah nyapu-ngepel rumah sambil dengerin Hard Rock FM. Di antara lagu-lagu enak yang diputer Hard Rock ada segmen fitur singkat yang berjudul “Finance Should Be Practical”. Sesuai namanya, fitur tersebut mengangkat masalah personal finance yang dikemas khusus untuk segmen pendengar Hard Rock yang katanya sih sebagian besar eksmud atau yupee.

Finance Should Be Practical dipandu Lidwina Hananto, seorang personal finance consultant, profesi yang terdengar keren sekaligus sedang ngtren. Dalam segmen yang ngga lebih dari 3 menit itu, Mbak Wina memilih pertanyaan dari email atau sms yang masuk kemudian menjawabnya dengan tips finansial yang ringkas-bernas. Kebanyakan pertanyaan berkisar pada masalah finansial yang kerap dihadapi kawula muda seperti kita2 ini. Ada Betty misalnya, yang dengan gaji 3 jutaan ingin tetap bisa nanbung tanpa mengorbankan hobi belanjanya. Ada juga Randy dan Lani, pasangan muda dengan joint income 12 juta yang sedang bingung memilih asuransi pendidikan buat si kecil Alfi yang masih TK.

Dari sekian tips dari Mbak Lidwina ada beberapa yang ingin gue highlight kepada pembaca yang tidak sempat nyapu-ngepel rumah setiap weekend:


  • Tetapkan tujuan finansial, tujuan finansial kata Mbak Lidwina adalah sesuatu yang ingin loe capai finacially speaking. Tujuan finansial tiap orang bisa beda n gak ada benar salah soal ini. Contohnya punya tabungan untuk nikah, bisa bayar uang muka Toyota Rush, naik haji, atau cukup duit untuk backpacking ke Malaysia. Semuanya boleh-boleh aja, yang penting menurut Mbak Wina adalah disiplin kita untuk mewujudkan tujuan finansial kita itu. Mbak Wina menyarankan untuk membantu kita mencapai tujuan finansial, kita harus membuat budget pribadi yang rinci dan realistis.Berapa income kita ? Apa saja pos pengeluaran kita ? Semuanya harus dicatat sehingga kita bisa melihat dan kemudian memutuskan praktik finansial seperti apa yang harusnya kita lakukan

  • Utamakan nabung, Mbak Wina sering mengulang2 pentingnya nabung. Kita harus ngusahain minimal 10% dari income kita jadi tabungan. Untuk memaksa, bisa dengan memilih produk tabungan yang sifatnya susah cair dan berjangka. Biasanya produk tabungan itu otomatis mendebet jumlah tertentu dari rekening sumber, dan tidak boleh diambil dalam jangka waktu tertentu. Mudah kan ? apalagi sekarang banyak produk tabungan seperti itu yang dilengkapi iming2 hadiah sebagai insentif.

  • Hati-hati dengan utang Catat baik2 utang-utang kita, begitu kata Mbak Wina. Usahakan untuk menghindari utang-utang konsumtif yang habis dipakai memuaskan nafsu belanja. Apalagi sekarang kartu kredit dan personal loan ditawarkan dengan begitu agresif dengan segala kemudahannya. Kalaupun berutang, usahakan besar cicilan yang harus dibayar tiap bulan tidak lebih dari 30% income kita. Terus usahakan juga untuk selalu membayar cicilan tepat waktu sehingga tidak bikin bunga berbunga tambah lebat :) Terus yang rajin baca “Allahumma inni ‘audzubika minal hammi..dst” hehehe kalau ini tips dari Ustadz Musholli.

Gimana ? bener kan ? Finance should be practical, yang ngga practical itu nyari duitnya :D

Untuk referensi dan tools bisa klik di Feed The Pig, atau di MSN Money, atau di Get Rich Slowly

Posted in ABCs of Life | 6 Comments »

Make It Your Year

Posted by aresto on January 3, 2007

Those who achieve success are not those who never fail; they are those who learn from failure and move on. Pete Carroll was laughed out of the NFL before he became the most dominant coach in college
football; Donald Trump was seeking bankruptcy protection before he made his real estate fortune.
These aren’t men who said, “Well, I tried, I failed, I think I’ll sit on the couch, wallow in guilt and misery…oh, look, Doritos!” They failed, and then they changed.

A lot of us would like to invite change into our lives. We’d like to clean out the cobwebs, suction off useless flab, wake up the dead spots. But as much as we hope, forces align themselves with the same old same old. It’s almost like an echo of the force of gravity. Marriages made in Hollywood fall apart. Politicians remind us of what they gave up to pursue their careers.

Instead, consider the positive spin: You’re just 5 weeks from the start of better things. That’s because 5 weeks, it turns out, is a magical length of time: New research from the University of Sheffield, in England, tells us that if you can stick with a new health initiative for that length of time, it will become a habit.

…Change isn’t just possible, it can happen sooner than you think. And this can be your year to win it all!

Taken from opening remark in Men’s Heallth Tips 2007 booklet

Posted in ABCs of Life | 4 Comments »

Sunduquna Juyub…..na Adang

Posted by aresto on January 3, 2007

Buat warga Jakarte, nih tahun 2007 bakal jadi tahunnya milih gubernur baru, pertama kalinya gubernur ibu kota dipilih lewat pilkada langsung.Gubernur DKI Jakarta bukan posisi sembarangan. Jabatan ini merangkum reputasi, wewenang, posisi strategis, dan sudah pasti duit yang luar biasa besarnya. Ngga heran kalau parpol2 sudah jauh2 hari ngambil ancang2 untuk memperebutkan jabatan ini. Kalo rakyat mungkin mikir apa perbaikan apa yang dapat dilakukan gubernur baru, parpol2 so pasti berpikir apa yang bisa didapat dengan menjadi gubernur. Apalagi Pemilu 2009 akan berlangsung dalam masa jabatan gubernur baru yang terpilih.

Salah satu bakal calon gubernur yang akhir-akhir ini kita lihat begitu gencar nongol di media adalah Adang Dorodjatun. Komjen polisi ini nongol dalam poster lomba olahraga, iklan selamat bertanding buat kontingen Asian Games, sampai yang terbaru iklan ucapan Selamat Idul Adha dan Selamat Tahun Baru. Adang tampil dengan berbagai label mulai dari mantan Wakapolri yang tak berhenti mereformasi Polri di majalah Saksi (btw thanks to Adang, untuk pertama kalinya iklan Saksi ada di Kompas) sampai ketua organisasi ujug-ujug nongol seperti Kerukunan Warga Jakarta. Ngga hanya media cetak, wajah Adang juga kerap menyapa kita di layar televisi.

Sekarang anak-anak, apa yang bisa terlihat dari maraknya iklan Adang ini ? Betul, jawabannya tidak lain adalah duit dan duit. Kalau sebelum masa kampanye resmi saja Adang sudah begitu gencar beriklan, bisa dibayangkan berapa besar cadangan “sembako” Adang. Jumlah yang luar biasa mengingat jabatan Adang yang hanya Wakapolri, tapi mungkin wajar mengingat nama Adang diisukan termasuk dalam daftar 15 perwira tinggi Polri dengan rekening mencurigakan versi PPATK. Faktor rupiah ini juga yang disitir majalah Tempo membuat Adang menjadi cagub PKS, isunya sih Adang meminang PKS dengan mas kawin berjumlah wah. Tentu saja isu yang dibantah kedua pihak sambil tak lupa menjelaskan proses internal pemilihan cagub PKS.

Ngomongin ini gue jadi ingat kontroversi “Akh” Wiranto semasa Pemilu 2004. Gue inget banget menanggapi posting rekan Ronal di forum.agama.islam tentang “perlu”nya mendukung Wiranto di putaran pertama karena peluang menangnya lebih besar (alasan sama sempat diungkapkan “Bang Izzah” di “liqo Extra”), gue dengan sedikit emosi menjawab dengan posting yang isinya kurang lebih(gue lupa persisnya) “…sejak kapan end justify the means. Apakah menang begitu berarti sehingga membuat kita melupakan siapa Wiranto? Apakah citra PKS sekarang dibangun dengan mental yang penting menang tapi mengabaikan nilai ?…” Huufff…apa sudah saatnya gue tarik kata-kata gue waktu itu ?

Maaf kalau posting ini terkesan dibangun di atas dugaan-dugaan yang rapuh tanpa fakta solid. Gue cuma khawatir aja melihat indikasi bahwa birunya gobanan dan merahnya cepecengan semakin menentukan dibanding hitamnya kebatilan dan putihnya kebenaran. Kalau memang itu benar, gue sarankan teman-teman yang warga Jakarta bisa mulai memepertimbangkan tidak memilih sebagai sebuah pilihan. Ngga ada yang mau berkontribusi dalam mentasnya kedholiman kan ? Sebelum mulai terdengar seperti blog pkswatch, ada baiknya gue tutup posting ini dengan kalimat yang hampir tidak pernah gue pakai sebagai pamungkas tulisan. Wallahu ‘alam bishawab.

Posted in Ya Basta ! | 33 Comments »