Sunduquna Juyub…..na Adang
Posted by aresto on January 3, 2007
Buat warga Jakarte, nih tahun 2007 bakal jadi tahunnya milih gubernur baru, pertama kalinya gubernur ibu kota dipilih lewat pilkada langsung.Gubernur DKI Jakarta bukan posisi sembarangan. Jabatan ini merangkum reputasi, wewenang, posisi strategis, dan sudah pasti duit yang luar biasa besarnya. Ngga heran kalau parpol2 sudah jauh2 hari ngambil ancang2 untuk memperebutkan jabatan ini. Kalo rakyat mungkin mikir apa perbaikan apa yang dapat dilakukan gubernur baru, parpol2 so pasti berpikir apa yang bisa didapat dengan menjadi gubernur. Apalagi Pemilu 2009 akan berlangsung dalam masa jabatan gubernur baru yang terpilih.
Salah satu bakal calon gubernur yang akhir-akhir ini kita lihat begitu gencar nongol di media adalah Adang Dorodjatun. Komjen polisi ini nongol dalam poster lomba olahraga, iklan selamat bertanding buat kontingen Asian Games, sampai yang terbaru iklan ucapan Selamat Idul Adha dan Selamat Tahun Baru. Adang tampil dengan berbagai label mulai dari mantan Wakapolri yang tak berhenti mereformasi Polri di majalah Saksi (btw thanks to Adang, untuk pertama kalinya iklan Saksi ada di Kompas) sampai ketua organisasi ujug-ujug nongol seperti Kerukunan Warga Jakarta. Ngga hanya media cetak, wajah Adang juga kerap menyapa kita di layar televisi.
Sekarang anak-anak, apa yang bisa terlihat dari maraknya iklan Adang ini ? Betul, jawabannya tidak lain adalah duit dan duit. Kalau sebelum masa kampanye resmi saja Adang sudah begitu gencar beriklan, bisa dibayangkan berapa besar cadangan “sembako” Adang. Jumlah yang luar biasa mengingat jabatan Adang yang hanya Wakapolri, tapi mungkin wajar mengingat nama Adang diisukan termasuk dalam daftar 15 perwira tinggi Polri dengan rekening mencurigakan versi PPATK. Faktor rupiah ini juga yang disitir majalah Tempo membuat Adang menjadi cagub PKS, isunya sih Adang meminang PKS dengan mas kawin berjumlah wah. Tentu saja isu yang dibantah kedua pihak sambil tak lupa menjelaskan proses internal pemilihan cagub PKS.
Ngomongin ini gue jadi ingat kontroversi “Akh” Wiranto semasa Pemilu 2004. Gue inget banget menanggapi posting rekan Ronal di forum.agama.islam tentang “perlu”nya mendukung Wiranto di putaran pertama karena peluang menangnya lebih besar (alasan sama sempat diungkapkan “Bang Izzah” di “liqo Extra”), gue dengan sedikit emosi menjawab dengan posting yang isinya kurang lebih(gue lupa persisnya) “…sejak kapan end justify the means. Apakah menang begitu berarti sehingga membuat kita melupakan siapa Wiranto? Apakah citra PKS sekarang dibangun dengan mental yang penting menang tapi mengabaikan nilai ?…” Huufff…apa sudah saatnya gue tarik kata-kata gue waktu itu ?
Maaf kalau posting ini terkesan dibangun di atas dugaan-dugaan yang rapuh tanpa fakta solid. Gue cuma khawatir aja melihat indikasi bahwa birunya gobanan dan merahnya cepecengan semakin menentukan dibanding hitamnya kebatilan dan putihnya kebenaran. Kalau memang itu benar, gue sarankan teman-teman yang warga Jakarta bisa mulai memepertimbangkan tidak memilih sebagai sebuah pilihan. Ngga ada yang mau berkontribusi dalam mentasnya kedholiman kan ? Sebelum mulai terdengar seperti blog pkswatch, ada baiknya gue tutup posting ini dengan kalimat yang hampir tidak pernah gue pakai sebagai pamungkas tulisan. Wallahu ‘alam bishawab.

john said
Membayangkan nih, kalo di Indonesia setiap hari ada pilkada dan acara sejenisnya, artinya kan makin banyak uang yang dibagi-bagiin, bodo amat dah uang darimana
, setidaknya hari lapar berkurang. Eh… lagipula siapun yang terpilih –entah dimanapun– kok sepertinya sama aja, dodol-dodol juga. sinis gue. Begitu pak..
aresto said
Sepakat sama loe John, sayangnya bagi2 duit cuma pas kampanye kalo udah jabat ya gantian ngambil2 duit
Ya yang penting boleh putus asa pada pemimpin tapi jangan putus asa beramal
priandoyo said
hmm, kalau dilihat dari frekuensinya, bapak fauzi bowo lebih kenceng lho promosi di medianya, logikanya sembakonya fauzi bowo lebih besar dari pada adang kan.
aresto said
Probably, tapi gue emang pengen ngangkat calonnya PKS sih, soalnya kecewanya terasa lebih personal
zfath said
Kecewa, maksudnya?
aresto said
By the way busway, udah baca blognya belum sih. Aneh deh…
Zfath said
Kan hanya nanya Pak! Lagian, indikasi kekecewaan secara personalnya samar-samar. Tapi setelah ditelaah, mungkin kalimat ini penandanya, ya :
““Bang Izzah” di “liqo Extra””
““Bang Izzah” di “liqo Extra””
““Bang Izzah” di “liqo Extra””
Ok, deh.
Tapi, menolak kritis (dg gampangnya bilang probably) kpd ‘kelas kakap’, krisis juga. Ternyata virus TEBANG PILIH sudah menular ke mana-mana ya!
*mungkin terlalu prematur k-lo sy hrs bilang komen ini sbg bentuk kekecewaan personal juga*
alief said
u. atas gue:
maksudnya?
aresto said
Hihihi Bang Zaki kok ngga ngangkat bagian yang ini :
“…sejak kapan end justify the means. Apakah menang begitu berarti sehingga membuat kita melupakan siapa Wiranto? Apakah citra PKS sekarang dibangun dengan mental yang penting menang tapi mengabaikan nilai ?…” Huufff…apa sudah saatnya gue tarik kata-kata gue waktu itu ?
Kalo soal Fauzi Bowo n kelas kakap lainnya mah kaga usah dibahas lagi. Semua juga udah tahu, lah wong di APBD DKI 2007 ada mata anggaran pembelian 3 buah laptop = 150 juta, ada anggaran SKJ untuk sudin pemadam kebakaran = 200 juta. Nah, gue bahas karena Adang ini calonnya PKS yang katanya bersih dan peduli. Kalo Bang Zaki kader (beda dengan gue yg bukan kader) harusnya malah Bang Zaki yang lebih kritis, coba Adang itu siapa coba ? pernah nanya2 ngga ?
Zfath said
“kalau posting ini terkesan dibangun di atas dugaan-dugaan yang rapuh tanpa fakta solid.”
*kok sy bisa lupa saran utk baca ati2 ya*
sbg mrk yg tmasuk blm mengenal secara lebih dekat, secara sebenar-benarnya, dan secara terbuka dg ia yg berinisial AD, sy mrasa krg enak menaruh komen di sini. terus terang sy tdk bermaksud ikut menjulangkan bangunan rapuh.
*sambil mikir, dulunya Umar bin Khaththab itu siapa ya? dulunya Khalid bin Walid itu siapa ya? dulunya Wahsyi itu siapa ya?*
Salam.
aresto said
Hehehe rupanya begini toh mikirnya yg namanya kader … bagus tuh berprasangka baik. Walaupun gue bisa nanya balik Umar, Khalid, Wahsyi itu produk dari masyarakat seperti apa? lepas dari kejahiliyannya nilai-nilai apa yang dijunjung tinggi bangsa Arab waktu itu? Dengan kelancangan kita sebagai mahluk berpikir, kenapa Islam diturunkan di jazirah Arab ?
Terus dengan logika Bang Zaki, kalo besok Soeharto dateng ke kantor PKS terus bilang tobat dan menyatakan siap mendukung cita-cita da’wah dengan segala sumber daya yang dia miliki, kita lupa gitu dengan yang namanya proses hukum dunia dan pengembalian harta ?
Eniwei, profiling gue dari komen2 Bang Zaki sampai pada kesimpulan bahwa Bang Zaki jelas belum pernah bertemu gue atau kenal dengan teman-teman gue. Gue mohon maaf jika posting ini menyinggung sesuatu yang Bang Zaki anggap sakral atau menggoyang suatu imaji ideal yang mengakar.
Bang Zaki, gue kenal banyak temang yang tulus berjuang sbg satria2 kecil di garis depan untuk sebuah cita2 yang lebih besar dari lambang. Gue ngga ingin Bang Zaki menghabiskan energi yang ngga perlu untuk berdebat dengan gue, gue yakin banyak yang harus dikerjakan.
zfath said
Sy tdk memiliki perbedaan pendapat dg yg dimaksudkan Mas Aresto pd komen di atas, kecuali bagian “posting ini menyinggung sesuatu yang Bang Zaki anggap sakral atau menggoyang suatu imaji ideal yang mengakar.” Nggak kok, gak ada yg tersinggung maupun tergoyang. Toh, loyalitas muslim tdk digantungkan pada makhluknya yg tdk ma’shum.
Salam Hangat.
nuri said
iya nih, kok bang zaki nesu…
Dimas said
“gue sarankan teman-teman yang warga Jakarta bisa mulai memepertimbangkan tidak memilih sebagai sebuah pilihan”
Akhirnya ada yang pilihanku yang lebih dulu aku lakukan daripada Aresto. Sejak pemilu anggota DPR.
arek said
dah lama saya ndak ‘milih’ mas,
mending kerja nyata (walau terkadang merasa fighting a loosing battle-tapi kalo bukan kita ? siapa lagi ?)
yuuu…
yoyok said
lha ? baru baca saya…pkswatch pindah di marih ???
kunderemp said
Saya tidak akan memilih Adang Daradjatun karena alasan pribadi.
Rumah saya berada di dekat rumah Adang Daradjatun dan jujur saja, sebagai salah satu tetangga walau tak dekat (berjarak 100-200 m), saya kecewa dengan beliau yang tidak sensitif terhadap daerahnya.
Semoga saya salah, karena saya dengar Adang adalah salah satu calon kuat. Karena bila saya benar, dan Adang akhirnya menjadi gubernur, maka mungkin akan jadi awal mimpi buruk baru dari Jakarta.
Yudy said
Assalamu’alaikum Bos…
Bos menurut ane ente terlalu naif nihh memandang persoalan politk, jadi menelan mentah2 setiap informasi yang sampe ke ente, atau ente denger.
Ente tau siapa yang bikin Tempo, siapa yang punya, dan atas kepentingan ideologi apa mereka membangunnya, kalo belum ya coba ente selidikin dulu deh.
Jangan percaya begitu aja bos.
Bener sih informasi bisa jadi valid dan sesuai fakta, tapi dia udah investigasi ke dalam-dalamnya belum, jangan asl ngutip informasi dari ppatk, yang itu juga bisa jadi dikeluarin ananlisisnya untuk alasan politik.
Tau dong bos, apa sih yg ga mungkin di politik
Menanggapi persoalan pilkada kaya’nya skrg lebih jelas deh bos, siapa yang takut kekuasaannya hilang, dan siapa yang berani untuk memperjuangkan amanah.
Masak untuk ngelawan partai sekecil PKS harus keroyokan, mental tempe tuh, jangan2 gara sering mkn tempe ya atau ada motif lain ya dibalik itu.
Wallahu ‘alam bishowab
Aresto said
Assalamu’alaikum Bang Yud,
Tahu ngga apa yg lucu ? Yg lucu adalah semua yg komen posting ini gak ada satupun yg ngasih fakta solid kl Bang Adang itu orang yang bersih paling tidak cukup bersih untuk jadi calon PKS
Bang Yud, gue lulusan Tarnus n ngeliat dengan mata kepala sendiri gimna institusi Polri merubah temen2 gue yang baik, sederhana, dan idealis jadi kampret2 berseragam. Ini jujur aja bikin gue sama sekali gak percaya sama seseorang yang dibesarkan di institusi Polri.
Kalo Bang Yudi bilang info Tempo politis, ya sekarang Bang Yud kasih dong info sebaliknya yg gak politis. Tunjukkan bukti bahwa harta Adang didapat dengan cara2 halal dan bukan pampasan korup.
Ngapain ngomongin tempe, lagi2 Bang Yudi gagal bicara dalam konteks…menyedihkan
Wassalam
yudy said
Wah Bos ente dong yang harusnya cari fakta tentang hal yang lebih mendalam dari calon-calon gubernur kita, biar orang-orang yang baca blog ente bisa menentukan pilihan, which one the best, memilih diantara salah satunya atau tidak menentukan pilihan.
Kenapa harus ente ? karena ente yang memulai wacana ini, dan tentu kalau bicara soal akademis atau ngga akademis, berarti ente yang harus menyelesaikan wacana, jangan cuma mengajak orang untuk golput, tapi ngga ada penjelasan yang jelas.
Satu lagi bos, ente juga out of konteks nih kalau ngebicarain ente lulusan tarnus, apa cuma mau menambah pd aja waktu ente bicara tentang polisi korupsi semua.
Kalau boleh saran, orang-orang kaya’ ente yang tetep idealis harusnya meneruskan tarnus ke akademi kepolisian, jadi polisi sekarang bisa berubah, atau ente yang jadi calon gubernur kita di masa mendatang.
Sorry kalau out of konteks, dan mungkin lebih terasa personal buat ente.
Oke boss, just my opinion loh, boleh setuju boleh ngga’
Aresto said
Hmm, gue mulai merasa kl entah knp gue selalu jadi magnet buat orang2 yg asal njeplak n sama sekali gak niat diskusi.
Nih gue kasih posisi sekarang :
1. Di tulisan gue n reply atas komen2 untuk tulisan itu gue udah menyatakan pesan bahwa : Adang n Foke sama2 kampret, daripada milih kampret lebih baik gak milih.
2. Gue memohon dengan plis..plis..plis kl ada yang mau konter pendapat gue plis..plis..plis kasih argumen yg solid, contoh : Oh Adang tuh bersih lagi, dia kaya karena emang dia punya software house yang punya banyak klien di Abu Dhabi. Alamat companynya itu di http://www.adangadvancetech.com
3. Lho kok orang2 yg konter kl gak emosi malah menebar diversion yg bikin pembicaraan makin gak jelas juntrungannya atau malah menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Jadi stalemate lah diskusinya kalo gak ada fakta baru yg diungkap
4. Jadi apa salah gue ? Masa harus berdoa “Ya Allah gunakan kuasa-Mu untuk membuat orang2 yg kompeten dan paham untuk membaca blogku dan mereply tulisanku ” ? Oh ya tambahan doanya “Ya Allah kalo bisa orang2 itu juga punya sens of humour yg tinggi, hati dan pikiran yang lapan pada perbedaan “..Amiiin
yudy said
Oke bos ane kasih fakta, walaupun fakta ini tidak pernah diungkap keluar dan hanya berada dalam lingkaran jama’ah PKS saja, dan tim sukses Fauzi Bowo (kebetulan kaka’ ane masuk dalam tim suksesnya, sorry hanya untuk nambah pede aja kalo ngomongin Fauzi Bowo
1. Kalau ente bilang bahwa PKS hanya karena uang saja kemudian menjatuhkan pilihan kepada Adang Dorodjatun, ente salah besar karena :
a. Kalau mau PKS lebih memilih Fauzi Bowo, karena sejak semula Fauzi Bowo dan PKS telah membicarakannya, dan Fauzi Bowo siap mengucurkan dana miliaran rupiah.
Lantas pertanyaannya kemudian, kenapa PKS tidak memilih, padahal menurut beberapa kesaksian ikhwah yang berada dilingkungan PNS, Fauzi Bowo termasuk salah seorang yang relatif bersih, jujur, dan taat dalam menjalankan ibadah diantara para birokrat lainnya ?
Karena Fauzi Bowo tidak sepakat dengan beberapa agenda yang ditawarkan PKS, termasuk didalamnya clean governance, termasuk pengusutan dugaan korupsi dalam proyek Busway, dsb, yang melibatkan Sutiyoso.
2. PKS tidak seberapa mendapatkan dana dari Adang Dorodjatun, maaf ane lupa jumlah pastinya berapa, yang pasti jauh lebih kecil dari yang ditawarkan Fauzi Bowo.
Bukti yang paling konkret adalah ketika PKS menggelar Mega Survey, beberapa bulan yang lalu, setiap kadernya ditarik infak lebih dari sepuluh ribu rupiah.
Kalau PKS benar2 mendapatkan dana yang berlimpah dan atas dasar alasan itu kemudian memilih Adang, maka buat apa setiap kader kemudian ditarik infak untuk kegiatan yang jelas-jelas mencoba mensosialisasikan nama Adang.
Lantas kenapa kemudian PKS memilih Adang ?
Para pejabat di kalangan PKS mengakui bahwa Adang mungkin termasuk yang lemah dalam ketaatan dalam beribadah, dan bagian dari sebuah lembaga yang terkenal korup dan punglinya, Polisi gitu loh.
Namun, setidaknya Adang mempunyai kemampuan mendengar, dan merasa bahwa beliau pun harus berubah ke arah yang lebih baik.
Hal ini dibuktikan dengan kemauannya mengikuti proses tarbiyah yang wajib dilakukan untuk setiap kader PKS.
Setidaknya inilah alasan minimal yang dijadikan pertimbangan bagi MS PKS untuk memilih Adang.
Jadi menurut ane, ente dulu bos deh yang coba untuk cek dan ricek, jangan asal menebar wacana.
Sorry lagi kalau ada yang menurut ente out of konteks
Aresto said
Coy, gue balik nanya nih…
Kalo alasannya cuma agenda, ikut tarbiyah, mau mendengar, condong pada kebaikan lho kenapa harus Adang ?
Rasa2nya PKS gak pernah kekurangan kader pilihan yang punya semua kualitas itu.
Siapa Adang ? Sebenarnya ini pertanyaan utamanya.
NB: Baca komen no 11
yudy said
Bos…
Rasanya ko’ ane justru merasa ente terlalu berlebihan menjustifikasi seorang Adang, yang wallahu’alam sampai sekarang apakah benar dia mendapat seluruh harta kekayaannya dari korupsi atau tidak.
Dari komentar ente no. 11 justru ane melihat bahwa ente ko’ justru menganalogikan Adang dengan Soeharto.
Kalau Soeharto, jelas secara kasat mata dia melakukan KKN dengan anak-anaknya, nah kalau Adang.
Siapa Adang, justru itu yang memang menjadi pertanyaan mendasar.
Kalau ane justru berprasangka baiklah, selama seorang Adang tidak terbukti melakukan tindak kejahatan korupsi, ane masih menganggap dia orang yang relatif bersih.
Oh iya bos ane mau kasih fakta lagi nih, ini dari berita Trans 7 beberapa hari yang lalu, bahwa kekayaan Adang ke KPK dari tahun 2001-2005 adalah sebesar 18 M lebih, sementara Fauzi Bowo juga mempunyai kekayaan sebesar 18 M lebih, tapi itu data terakhir yang dilaporkan Fauzi Bowo ke KPK pada tahun 2001, dan sampai sekarang Fauzi Bowo belum melaporkan harta kakayaannya lagi.
Jadi, begitu Bos, kalau menurut pendapat ane dari laporan kekayaan ke KPK aja sudah jelas siapa yang berani mempertanggungjawabkan kekayaannya, siapa yang tidak.
Aresto said
Coy…
Jujur aja gue menangkap kesan kuat kalo loe bisa diibaratkan seperti seseorang yang menghadapi potongan jigsaw puzzle n sebenarnya udah tahu gambar utuh dari jigsaw itu tapi dengan berbagai alasan menolak untuk menyatukan potongan2 itu sambil berteriak lantang apa gambar utuhnya. Gue bersimpati dengan orang2 dalam kondisi seperti loe
Prasangka baik, sungkan, dan balas budi yang bikin pemberantasan korupsi di Indo jalan di tempat. Dalam konteks ini gue lebih memilih untuk berprasangka buruk. Apalagi sebagai auditor, gue tahu banget bahaya berprasangka baik dalam menelisik dugaan fraud.Gue ngga negliat sesuatu yg istimewa dalam pelaporan kekayaan pejabat selama di Indonesia ga dipakai azas pembuktian terbalik. Jawab sendirilah wajar tidaknya jumlah harta segitu untuk seorang pensiunan pejabat polisi (kecuali dia punya software house di Abu Dhabi ya)
Gue merasa wajib untuk terlalu menjustifikasi karena kita lagi ngomongin calon PKS. Kalo kita lagi ngomongin calon Golkar atau PDIP terserahlah, tapi ini kita lagi ngomongin PKS, partai yang modal nilai dan idealismenya gue yakin bisa ngebawa perubahan di negara ini.
Karena kenal baik dengan ideologi dan metode perjuangannya, sekali lagi gue bilang gue yakin PKS ga kehabisan kader-kader luar biasa yang rame ing gawe-sepi ing pamrih. Orang-orang low profile yang kesehariannya sibuk menanam pohon amal yang buahnya rimbun. Gue rasa orang2 seperti ini lebih layak dapat dukungan, bukan orang2 dari barisan Fir’aun, Haman, dan Qorun.
masuzii said
“Prasangka baik, sungkan, dan balas budi yang bikin pemberantasan korupsi di Indo jalan di tempat. Dalam konteks ini gue lebih memilih untuk berprasangka buruk. Apalagi sebagai auditor, gue tahu banget bahaya berprasangka baik dalam menelisik dugaan fraud”.
Gut job. Profesionalitas (itqon) adalah satu langkah menuju ihsanul ‘amal. Wallahu yuhibbul muhsiniin
fau said
nih dari sumber terpercaya, konon Faisal Basri dulu ingin jadi calon dari PKS. Tetapi PKS minta setoran yang jumlahnya jelas tidak akan dipunyai seorang FB. So he’s out. (is FB worse than Adang and Foke?? yah pertanyaan subjektif)
Siapa Adang?
Istrinya pengusaha kaya. Jadi bisa jadi kayanya dia adalah harta dari istrinya.
Tapi jangan lupa:
1. Banyak proyek2 besar perusahaan istrinya itu didapat selama suaminya jadi wakapolda Jawa Barat, (dan mungkin juga sesudahnya). Ada yang bisa memastikan bahwa jabatan suaminya has nothing to do with that?
*naif mode*
2. Dalam sistem kepolisian RI. Ada nggak ya orang yang bener2 jujur bisa mencapai jabatan sampe Wakapolri?
satu lagi: banyak yang menduga ada hubungan erat antara TW dan Adang. Silahkan dibantah dg bukti. (Tapi TW juga gak cuma miara Adang, Foke juga kayaknya sih…)
Alamsyah said
Adang daradjatun… ? Nama yang sudah gw kenal sejak tinggal di Bandung, tempat di mana dia pernah menjadi Kapolda. Di saat dia menjabat, berbagai kasus perjudian malah makin merebak dan kasus-kasus kriminal yang melibatkan mafia tanah terus ditutupi. Saya puji PKS dengan kepercayaan dirinya yg tinggi, tapi saya sayangkan sikap mereka yang lebih terkesan ekslusif. Lihat aja di daerah lain, ada kok koalisi PKS-PDS… di saat perolehan suara PKS tidak signifikan. Islam menekankan Amar Ma’ruf Nahi Munkar tapi tidak dengan sikap munafik dan anti perbedaan. Apa gak ada tokoh lain yang bisa diusung PKS? atau PKS lagi butuh calon yang “berlimpah duit”. Warning: Hubungan Calon PKS dengan TW bandar keserakahan Jakarta dan P, bandar judi Bandung. Soal siapa yang menang, mudah2an kita tidak makin terbenam dalam Azab Allah SWT. Wallahu Alam Bissawab.
Tambahan “dikit” neh :
1. Alhamdulillah Adang gak jadi Cagub di Jawa Barat, semoga Jawa Barat nggak ikut2an terjebak situasi.
2. Kata orang partai preman sekalipun masih banyak juga orang baiknya, dan kata orang Partai ustad belum tentu gak ada orang jahatnya.
3. Demi Allah, dari orang PKS yang pernah jadi Caleg DPR-RI, mereka juga pernah berniat nawarin Jefry Geovanie untuk ikutan Pilkada DKI, Tapi kali Jefry gak punya duit sebanyak Adang, makanya ditinggal… senasib kayak Faisal Basri. Dan gw juga pernah denger kalo PKS sebetulnya nawarin Fauzi Bowo jadi calonnya, tapi karena Fauzi nolak platform PKS yang gak mau gabung partai Islam lainnya… Fauzi gak bisa kerjasama dengan mereka. Saudara2 di PKS, apa partai2 Islam lainnya dan orang2 Islam di luar saudara itu bukan merupakan saudara kita seiman?
4. Mau kayak Depok yang sampai sekarang juga gak ada perbaikan sejak dipimpin Nurmahmudi? Intinya… bukan asal partai dan platformnya, tapi yang penting kemampuan, kejujuran, kecerdikan, dan niatan Amar Ma’ruf Nahi Munkar.
5. Seumur-umur gw berhadapan dengan yang namanya Polisi, hanya ada 3 orang dari mereka yang bener2 jujur. Itupun mereka gak mampu melarang rekan2nya dari perbuatan munkar. Kata Ustad gw, lebih mudah beramar ma’ruf tapi paling sulit nahi munkar. Artinya untuk bener bagi diri sendiri sih lebih mudah, tapi ngajak orang lain bener dan melarang mereka berbuat jahat adalah hal paling susah.
6. Semoga yang salah cuma dari gw aja, Kebenaran hanya milik-NYA.
Wassalam
aresto said
Ya mudah2an cerita ini berakhir baik buat warga Jakarta. Thanks opininya Mas Alam
Alamsyah said
Untuk mengadili sebuah fakta, harus dengan bukti yang kuat. Untuk mengadili seseorang, harus dengan kesalahan yang nyata. Kalau hanya berdasar asumsi, pengakuan tak berdasar, dan emosi semata… marilah kita berserah Kepada-NYA. Yakin kalo Allah SWT nggak akan mendiamkan kebathilan berkuasa.
Maaf ya… bukannya gak percaya sama mas yudi yang ngakunya punya kakak di Tim Sukses Fauzi Bowo. Tapi setau gw yang pernah duduk bareng dengan Adang dan juga Fauzi Bowo, rasanya sudah cukup bagi untuk menentukan arah apa yang harus dipilih. Adang mungkin sedang dalam tahap “bertobat” dan hak itu yang dihargai PKS untuk mengusungnya, Fauzi Bowo mungkin sedang berupaya untuk meneruskan perjuangan pendahulunya sekaligus memperbaiki apa yang salah selama. Jadi dari keduanya mudah2an ada hal yang memang bisa ditingkatkan. Hanya saja gw perlu ingetin semua orang, mau dari Kubu Adang, Fauzi, Sarwono, maupun Agum… gak perlu deh black campaign lagi… karena toh semua punya kekurangan. Adang gak mungkin bisa benahi banjir jakarta tanpa bekerja sama dengan Pemerintah Pusat dan 2 Provinsi sekitar Jakarta. Fauzi Bowo gak perlu yakin sebagai ahli, karena toh perlu juga ahli-ahli lain yang dapat duduk bersama membangun Jakarta. Agum juga gak harus kecewa gak bisa jadi Cagub karena toh ladang amal di MNC bisa tetep bikin dia kaya dan beramal. Dan at last, Sarwono gak perlu lagi cape-cape menjual diri ke hadapan rakyat karena dia sudah cukup kenyang menikmati orde baru. Lihat dong abangnye, Muchtar Kusumaatmadja yang tetep harum namanya karena dia gak pernah terjebak ikut politik praktis.
Menilai politik memang tidak bisa dengan kacamata kuda, tetapi alangkah baiknya jika orang tetap dapat bersih di tengah kehidupan politik. Politik toh juga bisa menjadi ladang amal, tapi niat dan jiwa yang sudah ideal jangan dikotori oleh sedikit amarah dan emosi yang bisa mengubah sebuah amal baik menjadi amal jelek.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Mari Kita Jadikan Indonesia Yang Indah !!!
papabonbon said
buat tambahan data, bahwa pks emang bener bener minta uang dari Adang. [makanya Faisal basri pilih mundur ketika ditonjok dana ama PKS ini].
===
*PKS Akui Minta Adang Setor Dana*
Jum’at, 08 Juni 2007 | 21:41 WIB
*TEMPO Interaktif*, *Jakarta*:Sejumlah Partai politik membantah meminta dana
kepada calon gubernur, dan wakil gubernur yang mereka usung dalam pemilihan
kepala daerah di Jakarta. Hanya Partai Keadilan Sejehtera yang mengakui, ada
komitmen dana dengan Adang Daradjatun – Dani Setiawan, sebagai pasangan
calon yang mereka usung.
Presiden PKS Tifatul Sembiring mengakui untuk memenangkan pasangan calon
yang diusung memerlukan sejumlah dana. Saat mengusung calon, PKS telah
menyusun berbagai strategi untuk memenangkannya. satu di antaranya adalah
tentang pendanaan. “Karena untuk memenangkan calon, perlu biaya yang tidak
sedikit,” kata Tifatul ketika dihubungi, Jum’at (8/6) di Jakarta.
Anggaran dana kampanye menurut Tifatul disusun bersama antara Dewan Pimpinan
Wilayah PKS dengan Adang, dan Dani. PKS menurut Tifatul, akan menanggung
separuh biaya kampanye pemenangan calon. “Sisanya dibebankan ke Pak Adang,
dan pak Dani,” tambah Tifatul. Namun, Tifatul mengaku tidak mengetahui
jumlah dana yang harus ditanggung Adang, maupun PKS.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional, Sutrisno Bachir
membantah adanya komitmen dana dengan pasangan calon yang mereka usung dalam
pilkada DKI Jakarta. Pilihan dukungan terhadap Fauzi Bowo, menurut politisi
dari pekalongan ini, karena PAN tidak bisa mengusung pasangan sendiri.
“Seluruh wilayah di DKI mendukung pak Fauzi, kami harus menampung aspirasi
ini,” kata Sutrisno, ketika dihubungi, Jum’at (8/6) di Jakarta.
Senada dengan Sutrisno, Ketua DPP PDIP Tjahjo Kumolo, membantah partainya
pernah minta dana kepada Fauzi Bowo dan Prijono, untuk mengusungnya dalam
pilkada DKI Jakarta. “Tidak ada dalam tradisi kami (minta dana),” kata
Tjahjo ketika dihubungi, Jum’at (8/6) di Semarang.
Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Marzuki Ali mengatakan mendukung Fauzi
karena, dinilai menguasai semua permasalah yang terjadi di DKI Jakarta, dan
berpengalaman memimpin sebagai wakil gubernur di Ibukota. “Jadi tidak ada
komitmen dana, atau komitmen apapun,” kata marzuki ketika dihubungi, Jum’at
(8/6), di Jakarta.
Tifatul, Marzuki, Tjahjo, dan Sutrisno mendesak Sarwono, yang mengaku
dimintai dana Rp 400 miliar untuk transparan, menyebut identitas partai yang
memintanya dana. “Terus terang saja siapa, dan darimana partainya,” kata
Tjahjo.
hira said
menjadi pemimpin ga kaya dulu seperti kahlifah yang langsung di pilih oleh rakyatnya tanpa minta, tanpa dana, hanya di lihat dari akhlaq dan keimanannya sudah cukup mnjadikan mereka pemimpin, jangan samakan dengan sekarang yang masyarakatnya majmuk, ada 5 agama dan ada juga koruptor yg ingin mempertahankan kekoruptorannya, ada yg tdk mau meninggalkan jabatannya yg basah, ada partai dijadikan rumah koruptor, ada yg cuma bisa menjelek-jelekan orang/bikin fitnah, intinya :
anda pada mo jadi pemimpin anda musti keluar duit, apa lagi mimpin jakarta, sekarang milih rt saja musti keluar duit tergantung kapasitasnya, milih ga milih tetap saja jakarta akan ada yg mimpin, apakah dia kinerjanya baik atau tidak, kata orang bijak bilang pilihlah diantara yg jelek pasti ada yg agak bagus, anda pernah makan kacang goreng ? ……….. coba anda ajak teman anda makan kacang goreng dari awal hingga habis kacang tersebut. coba anda fikirkan…..
aresto said
pantes aja Indonesia ga dapet2 pemimpin bagus, lah milih pemimpin dianalogikan makan kacang. Kalo yg bagus syukur, kalo dapet yg jelek tahan aja pahitnya gitu ?
yang kite ingin terjadi proses yang memungkinkan pemimpin dipilih karena dia punya kualitas bukan karena duitnya. kalau yang jadi parameter utama duit tuh liat jadinya kayak pssi. Yang lebih bahaya kalau duit yang menentukan, akhirnya logika dagang yang dipakai. Hmmm gue jadi gubernur abis segini, berarti selama menjabat gue harus dapet segini dari proyek ini dan itu. Kalo bisa sih untung, supaya jadi modal buat ikut pilpres….
Kalo memang sekarang begitu, bukan berarti harus seterusnya begitu.
Kenapa gak lihat contoh perjalanan Barack Obama. Ketika mutusin mau jadi politisi dia mulai dari bawah, staf di lembaga advokasi publik. Kerjaannya muter2 nanyain orang ada keluhan gak, ada masukan gak buat peningkatan kualitas layanan publik. Dedikasinya pada kepentingan umum bikin reputasinya bagus, rakyat jadi percaya. Terus pelan2 jadi senator, sekarang balon Demokrat. Nah, masalah kemudian untuk keperluan kampanye nanti dia mengumpulkan donasi lewat malam gala atau internet, ya ga masalah. Karena orang yg nyumbang adalah orang yang PERCAYA dan MEMILIH untukmeberi AMANAH kepempinan pada dia.
Bisa liat bedanya kan ? Coba anda fikirkan sambil makan kacang…