aresto in-depth

my words,my opinions

Archive for March, 2007

Karena Kita Semua Narsis

Posted by aresto on March 26, 2007

ini Aresto, kalo sama dewi kh dipanggil To aja. beberapa tulisan beliau pernah aku sorot dan aku jadikan bahan diskusi dengan teman-teman WS. terutama tentang pak Adang.

To (ikut2an dewi kh) mungkin tidak bisa hanya dibilang pintar atau cerdas. aku lebih suka menyebutnya berbakat. kombinasi dari penguasaan ilmu yang luas dan inter disiplin (lulusan S1 Fasilkom yang kebanyakkan tulisannya menyoroti masalah sospol dengan gaya bahasa yang ‘baik dan benar’, layaknya citizen journalist sungguhan). mungkin saking pinginnya jadi citizen journalist, beliau suka memakai kosa kata khas citizen journalist di tulisannya. pokoknya tulisan To tuh punya bobot beratnya sendiri. kalo dia ga pake gw-elo dalam tulisannya, ppl wud think dia adalah seorang wartawan politik kawakan nyeleneh berusia 45 tahun.

dimana dia mendapatkan semua ilmu2 itu?

kamu ga akan heran kalo mengetahui habit membacanya.. (sebenernya aku juga gatau, nebak2 aja dari testim orang2 tentang dia).

temannya ada yang bilang, kalo ever ikut kuis who wants to be a millionaire dan dapet kesempatan untuk call a friend, orang yang first cross to his mind untuk ditelpon adalah aresto.

seolah,

aresto=perpustakaan berjalan, atau

= ensiklopedia yang berbicara

karena kekritisannya, suatu hari ada seorang (mungkin) kader sebuah partai yang loyal dengan partainya, habis-habisan menyerang dia dengan komen2 pedas. To meladeninya dengan (sok) santai, menurutku. walaupun sebenernya, dari awal udah keliatan, si pemberi komen itu bukan tipikal yang bisa diajak duduk bersama untuk menjelaskan permasalahan. dan menurutku To terlalu bersabar menghadapi si pemberi komen anonimus itu..

wah, aku kalau jadi dia.. mungkin bisa ga sabaran ngadepin si komentator. cuma bisa merendahkan, pengecut lagi (soalnya anonimus gitu..di dunia ini ada beberapa kategori orang menjijikkan, salah satunya adalah golongan anonimus).

aku tidak akan pernah bisa membayangkan menjadi pemberontak seperti To. tapi sungguh, dunia ini sepi tanpa pemberontak.. ruang pikir ini sempit tanpa wacana kritis. keta’atan jadi membosankan jika tidak ada riak gelombang.. halahh..

tetap kritis, to!

Tulisan di atas dipost di blognya Nuyi dan sukses bikin gue kembang-kempis :D Setelah beberapa lama menikmati perasaan melayang, gue jadi berpikir bagaimana kita begitu menikmati yang namanya pujian. Ada sesuatu pada ekspresi manusia bernama pujian itu yang sepertinya memuaskan dahaga primordial di dalam diri kita. Ingat ngga saat mama kita bilang kita pintar waktu kita melafalkan ABC pertama kita? Atau senyum puas di muka manajer waktu nge-review kerjaan kita? Priceless, kalo kata iklan kartu kredit. Kalo bisa sih pengennya momen itu kita rekam kemudian kita putar setiap hari lewat layar lebar di Bundaran HI.

Kadang begitu sakawnya kita pada yang satu itu, sampai kita melakukan manuver-manuver cantik sperti membelokkan obrolan ke arah “gue pernah tuh…”, malah tak jarang membesarkan peran kita di sebuah episode prestasi kolektif dimana porsi kita sebenarnya sekadar pelengkap. Karena perasaan itu memang luar biasa menyenangkan dan begitu sulit kita dapatkan, kita sering sengaja merekayasa keluarnya pujian itu dari orang lain. Semakin kita merasa insecure, semakin butuh kita dengan yang namanya pujian. Sebaliknya, pengetahuan kita tentang efek pujian bisa menjadi senjata luar biasa ampuh dalam perang persuasi.

Nuy, to make the score even :D Tahu ngga kenapa gue suka baca blog loe? Kata pertama yang terlintas adalah karena Nuyi “asli”. Mmm karena kata Indonesia kurang ekspresif, perlu ditambahkan kalo aslinya Nuyi tuh gabungan dari kata “original” dan “real”. Nuyi ini tipe orang yang kalo lagi diskusi rame2 loe bakal nengok ke dia n nanya “So, what’s ur opinion ?” Semua akan mendengarkan karena Nuyi akan mengungkapkan pendapatnya sendiri, dengan bahasa sendiri, hasil olahan kerja otaknya sendiri. Boleh dicoba, loe pasti gak akan nyesel dengerin ukh satu ini cas cis cus ngungkapin pendapatnya. And ketika dunia semakin klop dengan lagu Topeng-nya Peterpan, orang-orang “asli” begini yang harus dicari dan didengarkan. Met Ultah Nuy, sukses gak pujian gue ?

Posted in ABCs of Life | 3 Comments »

Pelajaran Hari Ini…

Posted by aresto on March 12, 2007

Buntalan bahan-bahan ramuan di pundakku terasa sedikit lebih berat ketika kupaksakan tubuh lelahku mendaki bukit itu. Aku yakin dia ada di balik pohon beringin tua di puncak bukit. Aku harus bertemu dengannya setelah apa yang kualami seharian ini. Sedikit lagi, batinku ketika nyeri terasa di pahaku. Kakiku berjingkat menghindari akar pohon yang menyembul di antara rumput tinggi. Begitu berada di puncak, sejenak kupuaskan mataku dengan pemandangan danau di balik bukit. Cermin biru yang tampak berkilau di bawah matahari sore itu.

Guru terlihat duduk di sebuah batu landai setengah jalan menurun menuju danau. Bahunya yang lebar menyembunyikan kepalanya yang menunduk. Dia seperti tak hirau dengan kehadiranku, pasti sedang sibuk dalam salah satu “waktu larut”nya. Kuambil beberapa langkah hingga ku berdiri di sampingnya, melihat apa yang sedang dia kerjakan. Tampak seekor burung kecil terbaring lemah di depannya, sayap kiri tampak terentang tak wajar dengan luka menganga sedikit di atas pangkal. Kedua tangan Guru yang keriput dengan telaten mengoleskan salep racikan dari sebuah cobet kayu di samping si burung. Kemudian perlahan Guru membebatkan serobek perca kecil menutup luka kemudian melingkari dada, memastikan balutan itu tak akan menghambat gerak si burung kecil. Menghela nafas lega, Guru perlahan mengangkat burung itu dengan kedua tangannya. Sesaat kulihat si burung kecil kepayahan ketika mencoba berdiri, tapi kemudian seperti menemukan tenaga baru dan menjejak terbang ke arah hutan di kiri danau. Senyum puas tersungging di wajah renta Guru, satu lagi keajaiban dibuatnya.

“Kau belajar banyak ?” tanyanya sambil menepuk tanah di sebelahnya.

Kududukkan tubuhku sambil menghela nafas panjang.

“Kau harusnya tahu pentingnya membersihkan tubuhmu setelah merawat orang” Guru melirik bercak-bercak darah kering yang menempel di tangan dan bajuku.

“Ada yang lebih mengusik pikiranku dibanding ini, Romo” jawabku.

“Kau sudah di sini, aku mendengarkan”

“Romo, kau telah mendidikku untuk menjadi seorang tabib terbaik di kolong langit,
“Romo, jika Allah memang Maha Pengasih dan Penyayang, Romo… mengapa Dia juga menciptakan penderitaan dan kejahatan ?”

Kutengokkan kepalaku ke arah Guru, menunggu komentar. Dia tampak tersenyum sementara tangannya sibuk mengusap jenggot putihnya yang panjang.

“Hampir sepuluh tahun Romo menggemblengku menjadi tabib terbaik di kolong langit, tapi hari ini aku merasa begitu tak berdaya…aku bisa membalut luka tapi bagaimana dengan duka? kau mengajariku mencegah wabah tapi bukan kehilangan dan putus asa? aku yakin bisa menyembuhkan demam tapi bagaimana mengusir keserakahan dan nafsu membunuh manusia ?” suaraku meninggi sementara semua hal yang kulihat hari ini berkecamuk di benakku.

“Burung kecil tadi, menurutmu akan lebih bahagia jika kubiarkan lepas atau kujadikan peliharaan dalam sangkar ?”

“Tentu saja burung itu lebih baik terbang bebas sesuai kodratnya ..”

“Meski itu berarti dia harus menghadapi sambaran elang dan panah pemburu ?”

“Ya, kurasa begitu…”

“Berbeda dengan burung itu, kita diberi Allah kebebasan dan kemampuan untuk memilih. Dan untuk menilai tanggung jawab kita pada anugerah luar biasa itu, Allah menaruh kita di dunia ini”

“Maksud Romo ?”

“Untuk melihat keberanian tentunya dibutuhkan tantangan, tak mungkin menguji kesabaran tanpa nestapa, dan kebenaran sudah pasti harus berhadapan dengan kejahatan….Muridku, jangan kau lupakan bahwa dunia bukanlah akhir. Semua yang kaulihat hari ini hanya kelebat dari yang sementara”

“Begitu banyak kepahitan untuk sesuatu yang sementara, Romo…”

“Tapi, tanpa semua yang sudah kauhadapi sampai hari ini kau tidak akan menjadi siapa kau sekarang, muridku..” Guru menepuk pundakku dengan lembut.” Sekarang yang penting adalah pilihanmu…mengeluh dan menyerah atau menjadikan semua yang kaualami sesuatu yang membuatmu terus berjuang”

Aku terdiam sambil menatap matahari yang mulai tenggelam, membuat permukaan danau berubah jingga.

” …..Bersihkan dirimu, kita shalat berjamaah”

Petamburan, Februari 2007

Posted in Seeking Paradise | 3 Comments »