ini Aresto, kalo sama dewi kh dipanggil To aja. beberapa tulisan beliau pernah aku sorot dan aku jadikan bahan diskusi dengan teman-teman WS. terutama tentang pak Adang.
To (ikut2an dewi kh) mungkin tidak bisa hanya dibilang pintar atau cerdas. aku lebih suka menyebutnya berbakat. kombinasi dari penguasaan ilmu yang luas dan inter disiplin (lulusan S1 Fasilkom yang kebanyakkan tulisannya menyoroti masalah sospol dengan gaya bahasa yang ‘baik dan benar’, layaknya citizen journalist sungguhan). mungkin saking pinginnya jadi citizen journalist, beliau suka memakai kosa kata khas citizen journalist di tulisannya. pokoknya tulisan To tuh punya bobot beratnya sendiri. kalo dia ga pake gw-elo dalam tulisannya, ppl wud think dia adalah seorang wartawan politik kawakan nyeleneh berusia 45 tahun.
dimana dia mendapatkan semua ilmu2 itu?
kamu ga akan heran kalo mengetahui habit membacanya.. (sebenernya aku juga gatau, nebak2 aja dari testim orang2 tentang dia).
temannya ada yang bilang, kalo ever ikut kuis who wants to be a millionaire dan dapet kesempatan untuk call a friend, orang yang first cross to his mind untuk ditelpon adalah aresto.
seolah,
aresto=perpustakaan berjalan, atau
= ensiklopedia yang berbicara
karena kekritisannya, suatu hari ada seorang (mungkin) kader sebuah partai yang loyal dengan partainya, habis-habisan menyerang dia dengan komen2 pedas. To meladeninya dengan (sok) santai, menurutku. walaupun sebenernya, dari awal udah keliatan, si pemberi komen itu bukan tipikal yang bisa diajak duduk bersama untuk menjelaskan permasalahan. dan menurutku To terlalu bersabar menghadapi si pemberi komen anonimus itu..
wah, aku kalau jadi dia.. mungkin bisa ga sabaran ngadepin si komentator. cuma bisa merendahkan, pengecut lagi (soalnya anonimus gitu..di dunia ini ada beberapa kategori orang menjijikkan, salah satunya adalah golongan anonimus).
aku tidak akan pernah bisa membayangkan menjadi pemberontak seperti To. tapi sungguh, dunia ini sepi tanpa pemberontak.. ruang pikir ini sempit tanpa wacana kritis. keta’atan jadi membosankan jika tidak ada riak gelombang.. halahh..
tetap kritis, to!
Tulisan di atas dipost di blognya Nuyi dan sukses bikin gue kembang-kempis
Setelah beberapa lama menikmati perasaan melayang, gue jadi berpikir bagaimana kita begitu menikmati yang namanya pujian. Ada sesuatu pada ekspresi manusia bernama pujian itu yang sepertinya memuaskan dahaga primordial di dalam diri kita. Ingat ngga saat mama kita bilang kita pintar waktu kita melafalkan ABC pertama kita? Atau senyum puas di muka manajer waktu nge-review kerjaan kita? Priceless, kalo kata iklan kartu kredit. Kalo bisa sih pengennya momen itu kita rekam kemudian kita putar setiap hari lewat layar lebar di Bundaran HI.
Kadang begitu sakawnya kita pada yang satu itu, sampai kita melakukan manuver-manuver cantik sperti membelokkan obrolan ke arah “gue pernah tuh…”, malah tak jarang membesarkan peran kita di sebuah episode prestasi kolektif dimana porsi kita sebenarnya sekadar pelengkap. Karena perasaan itu memang luar biasa menyenangkan dan begitu sulit kita dapatkan, kita sering sengaja merekayasa keluarnya pujian itu dari orang lain. Semakin kita merasa insecure, semakin butuh kita dengan yang namanya pujian. Sebaliknya, pengetahuan kita tentang efek pujian bisa menjadi senjata luar biasa ampuh dalam perang persuasi.
Nuy, to make the score even
Tahu ngga kenapa gue suka baca blog loe? Kata pertama yang terlintas adalah karena Nuyi “asli”. Mmm karena kata Indonesia kurang ekspresif, perlu ditambahkan kalo aslinya Nuyi tuh gabungan dari kata “original” dan “real”. Nuyi ini tipe orang yang kalo lagi diskusi rame2 loe bakal nengok ke dia n nanya “So, what’s ur opinion ?” Semua akan mendengarkan karena Nuyi akan mengungkapkan pendapatnya sendiri, dengan bahasa sendiri, hasil olahan kerja otaknya sendiri. Boleh dicoba, loe pasti gak akan nyesel dengerin ukh satu ini cas cis cus ngungkapin pendapatnya. And ketika dunia semakin klop dengan lagu Topeng-nya Peterpan, orang-orang “asli” begini yang harus dicari dan didengarkan. Met Ultah Nuy, sukses gak pujian gue ?
