Pelajaran Hari Ini…
Posted by aresto on March 12, 2007
Buntalan bahan-bahan ramuan di pundakku terasa sedikit lebih berat ketika kupaksakan tubuh lelahku mendaki bukit itu. Aku yakin dia ada di balik pohon beringin tua di puncak bukit. Aku harus bertemu dengannya setelah apa yang kualami seharian ini. Sedikit lagi, batinku ketika nyeri terasa di pahaku. Kakiku berjingkat menghindari akar pohon yang menyembul di antara rumput tinggi. Begitu berada di puncak, sejenak kupuaskan mataku dengan pemandangan danau di balik bukit. Cermin biru yang tampak berkilau di bawah matahari sore itu.
Guru terlihat duduk di sebuah batu landai setengah jalan menurun menuju danau. Bahunya yang lebar menyembunyikan kepalanya yang menunduk. Dia seperti tak hirau dengan kehadiranku, pasti sedang sibuk dalam salah satu “waktu larut”nya. Kuambil beberapa langkah hingga ku berdiri di sampingnya, melihat apa yang sedang dia kerjakan. Tampak seekor burung kecil terbaring lemah di depannya, sayap kiri tampak terentang tak wajar dengan luka menganga sedikit di atas pangkal. Kedua tangan Guru yang keriput dengan telaten mengoleskan salep racikan dari sebuah cobet kayu di samping si burung. Kemudian perlahan Guru membebatkan serobek perca kecil menutup luka kemudian melingkari dada, memastikan balutan itu tak akan menghambat gerak si burung kecil. Menghela nafas lega, Guru perlahan mengangkat burung itu dengan kedua tangannya. Sesaat kulihat si burung kecil kepayahan ketika mencoba berdiri, tapi kemudian seperti menemukan tenaga baru dan menjejak terbang ke arah hutan di kiri danau. Senyum puas tersungging di wajah renta Guru, satu lagi keajaiban dibuatnya.
“Kau belajar banyak ?” tanyanya sambil menepuk tanah di sebelahnya.
Kududukkan tubuhku sambil menghela nafas panjang.
“Kau harusnya tahu pentingnya membersihkan tubuhmu setelah merawat orang” Guru melirik bercak-bercak darah kering yang menempel di tangan dan bajuku.
“Ada yang lebih mengusik pikiranku dibanding ini, Romo” jawabku.
“Kau sudah di sini, aku mendengarkan”
“Romo, kau telah mendidikku untuk menjadi seorang tabib terbaik di kolong langit,
“Romo, jika Allah memang Maha Pengasih dan Penyayang, Romo… mengapa Dia juga menciptakan penderitaan dan kejahatan ?”
Kutengokkan kepalaku ke arah Guru, menunggu komentar. Dia tampak tersenyum sementara tangannya sibuk mengusap jenggot putihnya yang panjang.
“Hampir sepuluh tahun Romo menggemblengku menjadi tabib terbaik di kolong langit, tapi hari ini aku merasa begitu tak berdaya…aku bisa membalut luka tapi bagaimana dengan duka? kau mengajariku mencegah wabah tapi bukan kehilangan dan putus asa? aku yakin bisa menyembuhkan demam tapi bagaimana mengusir keserakahan dan nafsu membunuh manusia ?” suaraku meninggi sementara semua hal yang kulihat hari ini berkecamuk di benakku.
“Burung kecil tadi, menurutmu akan lebih bahagia jika kubiarkan lepas atau kujadikan peliharaan dalam sangkar ?”
“Tentu saja burung itu lebih baik terbang bebas sesuai kodratnya ..”
“Meski itu berarti dia harus menghadapi sambaran elang dan panah pemburu ?”
“Ya, kurasa begitu…”
“Berbeda dengan burung itu, kita diberi Allah kebebasan dan kemampuan untuk memilih. Dan untuk menilai tanggung jawab kita pada anugerah luar biasa itu, Allah menaruh kita di dunia ini”
“Maksud Romo ?”
“Untuk melihat keberanian tentunya dibutuhkan tantangan, tak mungkin menguji kesabaran tanpa nestapa, dan kebenaran sudah pasti harus berhadapan dengan kejahatan….Muridku, jangan kau lupakan bahwa dunia bukanlah akhir. Semua yang kaulihat hari ini hanya kelebat dari yang sementara”
“Begitu banyak kepahitan untuk sesuatu yang sementara, Romo…”
“Tapi, tanpa semua yang sudah kauhadapi sampai hari ini kau tidak akan menjadi siapa kau sekarang, muridku..” Guru menepuk pundakku dengan lembut.” Sekarang yang penting adalah pilihanmu…mengeluh dan menyerah atau menjadikan semua yang kaualami sesuatu yang membuatmu terus berjuang”
Aku terdiam sambil menatap matahari yang mulai tenggelam, membuat permukaan danau berubah jingga.
” …..Bersihkan dirimu, kita shalat berjamaah”
Petamburan, Februari 2007

nuri sadida said
tulisan ini gw kirim ke milis2. tentu gw cantumkan sumbernya..
papabonbon said
maksudnya apa yah .. ada yg sedang mencari ketenteraman batin kayakna .. :p
titih said
jadi pingin sholat berjamaah deh..;))