aresto in-depth

my words,my opinions

Beda Nasib Si Peniup Peluit

Posted by aresto on April 24, 2007

Sebuah entri di blog Wired dan sebuah berita di koran nasional membuat gue tergelitik untuk menulis.

Nun di Amrik sana, baru-baru ini pemerintah AS memutuskan bergabung dengan dua peniup peluit (whistleblower terjemahnya apa sih?) untuk menuntut Accenture, Sun, dan HP atas kejahatan penipuan. Kata bergabung dipakai karena memang tuntutan hukum itu dirintis oleh norman Rille dan Neal Roberts, duo mantan karyawan Accenture yang memutuskan untuk membuka kedok penipuan yang dilakukan bekas majikan mereka. Di bawah UU False Claim Act, warga negara AS memang diberi hak untuk mewakili negara mengajukan tuntutan hukum pada kejahatan fraud yang merugikan negara.

Yang lebih hebat dari UU itu adalah jaminan hukum bahwa si whistleblower itu bukan saja dilindungi tapi juga berhak atas 30% dari ganti rugi yang dijatuhkan oleh pengadilan untuk si pelaku fraud. Satu lagi (yang ini lebih hebat) jika fraud itu terbukti, nilai ganti rugi yang dapat dijatuhkan pengadilan adalah tiga kali lipat nilai kerugian pemerintah.

Dalam kasus Accenture, pemerintah AS menuduh Accenture melakukan penipuan senilai $30 juta. Tuntutan ini bermula dari keputusan pemerintah AS untuk menyewa Accenture sebagai konsultan pembelian infrastruktur TI, memastikan pemerintah memilih teknologi yang tepat dan harga yang pantas. Masalahnya, berdasarkan info dua whistleblower tadi, Accenture ternyata mendapatkan $4 juta sebagai kickback dari perusahaan2 yang mendapat kontrak dari permerintah berdasarkan rekomendasi Accenture. Pemerintah AS tambah berang karena Accenture sebagai buyer resmi pemerintah ternyata juga berhasil mengumpulkan keuntungan marjin sebesar $26 juta dengan membeli barang dengan harga grosir dan diskon dari rekanan kemudian menjualnya dengan harga lebih tinggi ke pemerintah AS (wow, ide bisnis brilian).

Sementara, nin(?) di Indonesia, seorang Wisjnu Permana Marsis melaporkan perihal sms Menristek Kusmayanto Kadiman kepada Presiden lewat sebuah surat rahasia tanggal 6 Desember 2006. Bukan sms biasa pastinya jika sampai dilaporkan ke Presiden. Wisjnu menyebutkan bahwa sms itu adalah bukti bahwa Menristek meminta imbalan duit terkait proses pemilihan Kepala Lapan yang baru.

Ceritanya, ada dua calon yang diusulkan Menristek sebagai pejabat Ketua Lapan yang baru, Arie Sadewo Salatun dan Wisjnu sendiri. Menurut Wisjnu, belakangan secara pribadi Menristek pernah menyatakan dukungannya untuk Wisjnu. Hari berganti, pada saat proses pemilihan Kusmayanto mengirim SMS bertanggal 20 Maret 2006 yang bunyinya:”Bos, tadi malam gue nge-’bom’ pihak-pihak yang maksa KaLapan musti dri luar. Gue talangin, Kita beresin belakangan, ya?” SMS ini diabalas Wisjnu dengan komentar:”Ya…,bagaimana Bapak sajalah.”. Kusmayanto, kemudian membalas dengan SMS:”Gerakan ini mesti clean dan elegant, ya”

Menurut Wisjnu (n rasa2nya sih semua orang yg baca ini) kalimat “gue talangin” mengandung isyarat2 berbau duit. Menristek meminta imbal jasa atas usahanya memastikan posisi Kepala Lapan diisi tetap diisi orang dalam.

SMS terakhir yang diterima Wisjnu pada tanggal 31 Agustus 2006 berbunyi:”Bos, TPA(Tim Penilai Akhir) sudah menetapkan ASS(Adi) sbg KaLapan. Wassalam” Kabar buruk berikutnya buat Wisjnu adalah beberapa bulan kemudian Adi mencopot Wisjnu dari jabatan sekretaris utama di Lapan. Pencopotan yang menurut Wisjnu, digerakkan oleh Mentistek karena tidak senang dengan laporan Wisjnu ke Presiden.

Buat yang bingung kenapa posisi Kepala Lapan saja sampai ribut2, harap jangan melupakan bahwa tahun ini rencananya Rusia akan mengucurkan bantuan puluhan juta dolar untuk kerja sama membangun pangkalan peluncuran roket di Biak. Sesuatu yang membuat posisi Kepala Lapan menjadi posisi “basah”

Moral of the story-nya: Lain ladang, lain belalang ! Butuh nyali baja untuk jadi peniup peluit di Indonesia. Karena jangankan perlindungan hukum atau insentif karena mengungkap kerugian negara, alih-alih justru kita yang dikuyo-kuyo. Mudah-mudahan tidak mengecilkan tekad untuk selalu berkata benar.

About these ads

18 Responses to “Beda Nasib Si Peniup Peluit”

  1. whistleblower kalo di bahasa Indonesia kayaknya tergantung dari siapa yang ngelihat. Bagi yang dirugikan karena kedoknya terbongkar, whistleblower ya berarti pengkhianat/pembocor rahasia (kaya kasus IPDN).

    Apakah ini ada hubungannya dengan filsafat orang Jawa, “mikul dhuwur mendhem jero”? Kalo di Islam seinget aku dilarang menyebar2kan aib seseorang, apakah ini juga menjadi faktor?

    Huhu.. kayaknya bisa menjadi artikel yang bagus tuh bro =) Faktor2 apa yang membuat Indonesia terpuruk dan susah bangkit

  2. Aresto said

    Kal ak gak salah sih, Mochtar Lubis pernah bikin pidato budaya yg kemudian dibukukan berjudul Manusia Indonesia. Di situ ditulis beberapa karakter orang Indo yang dianggap pro regressive :)

  3. yoyok said

    seperti konsep jawanisme yang ditentang oleh eyang Pram ?

  4. [...] bisnis ketia kuliahan dulu, ternyata masih belum mulus dilindungi di Indoensia. Postingan Aresto di sini membuat papabonbon termangu mangu. Welah welah … Jadi whistleblower tentang indikasi minta [...]

  5. papabonbon said

    papabonbon menulis juga tentang urusan kosmologi masyarakat kita ini, di :

    1. http://papabonbon.wordpress.com/2007/02/15/tidak-ada-tempat-bagi-demokrasi-di-hati-penggemar-wayang/
    2. http://papabonbon.wordpress.com/2007/04/28/apa-guna-kpk

  6. ohh kayak lagu dangdut kali ya korupsi itu hehehehe… dangdut is the my music of my country….

  7. aresto said

    Salam kenal Mas Sasongko…
    Hiks…ya gitu deh…goyang teruuuuus

  8. [...] dengan bekerja sama dengan vendor. Jreng-jreng Accenture dituntut $30 juta. Detail ceritanya di tulisannya Aresto. Repot kan, ini untuk dikampung orang, apalagi di Indonesia kan, harusnya hal beginian lebih parah [...]

  9. kunderemp said

    Oh ternyata yang wisjnu-nya pakai huruf ‘j’ tidak hanya saya seorang.

  10. adhi said

    Hmm.. emang ga mudah kalo bertahan idealis di tengah2 pemerintahan Indonesia, sama juga dulu punya pengalaman di perusahaan pemerintah. Kalo mo jadi peniup peluit harus dengan cara yang smart.

  11. yang menarik sih pengakuan Amien Rais tentang penerimaan dana DKP dari mantan menteri DKP itu, eh tim capres yang lain malah berkelit dan gak ada yang ngaku, kayaknya kasusnya juga bakal tenggelam

  12. aresto said

    Iya nih, pada gak ngaku. Giliran duitnya mau nerima, kalo soal ngaku ogah.

  13. [...] konsultan dinilai tidak berperan secara optimal. Kalaupun kasus ini digeneralisir seperti kasus persekongkolan Accenture pada proyek pengadaan IT pemerintah US sebagai mana ditulis Aresto. Ternyata, worldwide top consulting firm pun bisa melakukan [...]

  14. numpang_lewat said

    Seru juga ya “beda nasib peniup pluit”, kalo di Indonisia sih mendingan ikut arus aja dech.. seperti pepatah jawa “alon-alon asal kelakon” atau hiduplah seperti air mengalir kata; “Gede Prama” heheheh

  15. aresto said

    Wah bahaya Mas, kalo semua orang hidup alon-alon asal kelakon :D

  16. hebiryu said

    hehehe. numpang nyengir deh

  17. Krisna W. Marsis said

    Semoga keadilan dan kebenaran dapat ditegakkan…

    terima kasih telas menulis artikel ttg “beda nasib si peniup pluit”
    FYI: Wisjnu P. Marsis adalah ketua delegasi dari kerjasama dgn Rusia (Airlaunch)start from a scratch…….
    Sedikit banyak saya mengetahui perjalanan dari proses awal sampai penandatanganan MOU dgn Rusia mengenai Airlaunch.

    Regards,

    Krisna W. Marsis

  18. edo said

    saya ngga sengaja baca dari link mas anjar.
    ulasan menarik mas.
    salam kenal :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: