Posted by aresto on July 25, 2007
Walaupun di About Me tertulis “..to ponder life and share with others”, alasan gue menulis blog ini sebenarnya sangat self centered. Gue ingin blog ini menjadi dokumentasi hidup gue, untuk selanjutnya bisa menjadi legacy yang dibaca anak cucu. Karena sifatnya yang sangat pribadi itulah gue berusaha selalu jujur dalam setiap tulisan gue. Apapun yang tertulis adalah kata-kata yang keluar dari kepala gue, curahan dari berbagai perasaan di hati gue. Tentu saja tidak semua entri terkait masalah pribadi gue, karena gue memang tidak hidup di ruang vakum dan sama seperti Anda sedang menjalani pengalaman hidup di dunia.
Sepribadi apapun, tentunya naif kalo gue bilang gue ngga expect orang lain membaca blog ini. Apalagi gue dengan sadar memilih media yang bisa dibaca orang sedunia. Sedikit banyak bahkan tumbuh perasaan puas ketika tahu siapa-siapa aja pengunjung blog ini. Kadang tersenyum2 sendiri ketika ada orang dalam percakapan pribadi me-refer kata-kata yang pernah gue tulis di blog ini.
Kesadaran bahwa blog ini jadi konsumsi publik tentunya punya konsekuensi. Pertama, kebebasan berekspresi di blog ini dibatasi aturan2 yang berlaku di ranah publik. Kedua, gue harus paham bahwa gue bertanggungjawab penuh terhadap setiap kata di blog ini. Dua poin penting yang gue singgung di atas, jadi patokan pribadi gue setiap merilis sebuah entri baru. Bagaimana orang membaca entri ini? Adakah makna lain yang ditangkap pembaca di luar ekspektasi gue? Mungkinkah tanpa sadar gue menabrak rambu2 etika, sesumir apapun itu? Jujur aja, untuk gue sekalipun pelajaran tentang dua hal ini didapat seiring waktu. Beberapa kali gue diingatkan kalau there are things better left unsaid, kali lain it’s not what u said, but the way you said it.
Sering kita membuat kesalahan, tapi lebih penting belajar dari kesalahan itu. Mungkin kita bisa bilang blame it on my youth, for i’m a fool, tapi salahkah jika orang lain menuntut kedewasaan kita?
~teruntuk seorang kawan
Posted in ABCs of Life | 13 Comments »
Posted by aresto on July 20, 2007
Jatuh cinta lagi adalah istilah yang digunakan Tulus Wijanarko, wartawan Tempo, untuk menggambarkan euforia gibol Indonesia terhadap timnas yang berlaga di Piala Asia. Memang hanya jatuh cinta yang dapat menjelaskan kenapa seorang rekan dengan berkaca2 menceritakan bagaimana untuk pertama kalinya dia bergetar saat menyanyikan Indonesai Raya bersama puluhan ribu suporter lainnya di Gelora Bung Karno. Bukan dia saja, gue yakin teman2 lain yang sempat nonton langsung(tidak seperti gue) merasakan energi cinta luar biasa yang dihasilkan suporter Indonesia dalam setiap laga timnas.
Ponaryo dan kawan2 memang layak mendapat elu2 seperti itu. Timnas menjelma menjadi sepasukan hero yang menunjukkan bagaimana semangat juang bisa mengurangi jurang fisik dan teknik. Mereka “…bloody but unbowed”, meminjam istilah penyair William Henley. Timnas berjuang karena paham betul di pundak mereka sebuah mimpi diletakkan. Mimpi sebuah bangsa kalah yang sangat haus prestasi. Kalah dari Singapura dalam perjanjian, kalah juga dari korporasi busuk ketika membela korban lumpur Lapindo. Prestasi kita yang konsisten hanya korupsi, wajar bila sebagai bangsa kita punya semua alasan untuk mendapatkan momen kejayaan yang bisa mengembalikan harga diri.
Walaupun akhirnya kalah, toh kita semua sempat merasakan manisnya mimpi kemenangan. Kita juga jadi tahu kalau mimpi itu, setidaknya dalam prestasi sepakbola, tidak terlalu jauh dan mungkin dicapai.
Sedikit catatan untuk Bung Nurdin dan PSSInya, jangan berani2 mengkapitalisasi pencapaian Timnas di Piala Asia kemarin. Gue ngga mungkin lupa kasus suap Ketua Komdis PSSI yang menguap begitu saja, atau mencla-menclenya pengurus PSSI soal sanksi untuk Persebaya. Ketimbang membacot soal “permainan timnas sudah di level dunia” atau “sepuluh kesalahan wasit UAE”, harusnya Bung Nurdin dan PSSI makin sadar kalau kerja mereka belum ada apa2nya dibanding rindunya masyarakat terhadap prestasi sepakbola. Silakan saja kalau Bung Nurdin ingin menjadikan jabatan Ketua Umum PSSI sebagai jabatan seumur hidup dan kepengurusannya menjadi ajang koncoisme, tapi jangan lupa kalau privelese itu harus ditebus dengan prestasi, prestasi, dan prestasi.
Maju terus sepakbola Indonesia !
Posted in Ya Basta ! | 1 Comment »
Posted by aresto on July 18, 2007
Seperti yang pernah dibahas di blog-nya Anjar, semua orang tahu kalau gue dan Anjar punya reputasi sebagai dua orang auditor yang hampir selalu pulang tepat waktu. Gue bahkan punya semacam SOP sendiri: 5.25, menutup semua windows; 5.27 shutdown sambil membereskan prentilan ke dalam tas; 5.30, angkat kaki sambil tak lupa bilang “Duluan ya semua, thank you.”
Gue sama sekali ngga merasa bersalah dengan kebiasaan pulang cepat itu, karena memang tidak ada yang salah dengan itu. Walaupun hampir pasti pulang lebih dulu dari senior atau manajer gue, gue menganggapnya bukan masalah karena gue selalu komit tidak pernah pulang meninggalkan pekerjaan yang belum selesai. So, no harm’s done.
Karena kebiasaan pulang tepat waktu itu, gue selalu beranggapan lembur muncul karena kesalahan manajemen kerja. Gampangnya, loe lembur karena memang loe merencanakan untuk lembur, dan sebaliknya. Pastinya, ngga semua orang setuju dengan pendapat gue ini. Pernah gue ngomong pendapat gue itu ke seorang temen gue yang bekerja di bagian IT sebuah perusahaan telco, dia langsung menukas “Ngga gitu juga, To. Gimana kalo memang workload-nya memang ngga mungkin diselesaikan tanpa lembur ?”
Nah, di situ sebenarnya issue-nya. Gue ngga ada masalah kalau lembur harus dilakukan karena itu satu2nya cara agar kerjaan selesai. Workload super banyak, waktu terbatas, tangan loe cuma dua… ya wajar dong lembur. Yang gue ngga sreg adalah kalo loe lembur karena tidak efisien dalam memanfaatkan waktu. Atau loe lembur karena blunder dalam manajemen proyek yang berakibat workload tiba2 menumpuk menjelang deadline. Lebih salah lagi kalau loe lembur karena mengejar uang lembur, dan merekayasa cara kerja loe sehingga seakan-akan butuh lembur.
Gue nulis begini, karena Jumat kemarin untuk pertama kalinya gue harus ngga pulang karena harus lembur. Ngga tanggung2 gue n beberapa rekan ngga tidur semalaman n baru selesai kerja tepat jam 5 pagi hari Sabtu. Mungkin karena gue ngga terbiasa kerja malam, kalo boleh jujur sih terasa banget ngga efektifnya. Walaupun ngga ngerasa ngantuk, tapi kerasa banget badan sebenarnya bingung kenapa jam 2 pagi masih di depan laptop. Belum lagi cape yang datang esok harinya gara2 jam biologis kacau.
Setelah pengalaman itu, gue makin yakin kalau yang namanya berpanjang2 lembur itu sebisa mungkin dihindari. Bukan dengan menolak kerjaan, tapi memastikan kerjaan diatur dengan baik dan memaksa diri kita sendiri bekerja efektif sepanjang jam kerja. Jangan sampe deh ngga pulang lagi….
Posted in Office Hours | 7 Comments »
Posted by aresto on July 3, 2007
Ingat bagaimana gue begitu menikmati maen bola Sabtu? Ada yang sedikit berubah dengan agenda rutin gue itu.
Dahulu, semua begitu sederhana. Gue n temen2 biasa main di lapangan tanah samping BNI UI. Sempat juga di pelataran Rotunda, tapi belakangan jeri karena sering diusir satpam. Biasanya kemudian kita misuh2 karena lapangan terbuka di samping Fasilkom dengan semena2 diubah menjadi hutan jati, meninggalkan rasa iri kepada fakultas2 lain yang justru membangun fasilitas olahraga baru. Toh akhirnya kita bermain juga, menumpuk sandal jadi gawang di ujung imajiner lapangan yang tak rata. Menikmati setiap momen sepakbolaria di bawah terik matahari siang.
Sudah tiga minggu ini rutinitas lapangan samping BNI kami tinggalkan. Bermula dari ajakan bermain futsal untuk mengumpulkan bantuan buat Ariek yang digagas Didik, kini gue n temen2 justru ketagihan bermain futsal di Metro Futsal Pondok Indah. Semula diduga peminatnya gak akan banyak, tapi ternyata justru selalu ramai dan menarik beberapa orang yang sebelumnya jarang ikut bermain.
Gue tetap menikmati sepakbolanya, n gue yakin temen2 gue juga begitu. Mungkin malah lebih menikmati karena seksrang lebih terasa beneran dibanding saat bermain di lapangan tanah dulu. Sambil bermain gue juga jadi sadar satu hal. Sepertinya sekarang gue n temen2 sudah semakin memiliki kemampuan membayar
Biarpun kita memilih lapangan outdoor dan patungan karena pertimbangan ekonomis, jelas kemampuan membayar ini diikuti willingness to pay untuk mendapatkan fasilitas yang lebih baik. Bukan hanya untuk lapangan, beberapa temen malah khusus membeli sepatu futsal yang harganya lumayan.
Hehehe … semoga trus sukses deh semuanya, n never give up our love of the game.
Posted in ABCs of Life | 8 Comments »
Posted by aresto on July 2, 2007
Beberapa hari belakangan, selain pekerjaan waktu gue juga tersita untuk proses performance evaluation(PE). Ini proses tahunan internal EY yang dilakukan untuk mengevaluasi setiap karyawan, dan selanjutnya menentukan promosi karyawan itu. Gue akan share sedikit tentang proses itu disini, untuk menunjukkan contoh bagaimana proses kemajuan karir di sebuah firma international berbentuk partnership bekerja, dan poin2 kinerja karyawan yang dianggap penting.
Proses PE dimulai dengan tahap engagement review, setiap karyawan diminta untuk melakukan self-assesment terhadap pekerjaan yang telah dilakukan untuk empat engagement yang menyita waktu lebih dari 80 jam kerja. Untuk membantu self-assesment, sebuah form standar digunakan lengkap dengan poin2 kinerja yang harus diberi nilai(poin2 akan dibahas di bawah). Untuk tiap poin, gue diminta untuk memberi nilai dalam range antara Need Improvement sampai Exceptional. Setelah mengisi sendiri selesai, form yang sama kemudian harus didiskusikan dengan senior/manager in charge di setiap engagement tersebut. Sebagai reviewer, senior gue akan mengevaluasi kinerja gue di engagement itu kemudian memberi nilai dari sisi dia untuk setiap poin.
Proses selanjutnya adalah annual performance summary. Di sini gue membuat skor rata2 dari empat engagement tersebut kemudian menuliskan poin2 yang menurut gue menjadi kekuataan, poin2 yang perlu ditingkatkan, serta sedikit ulasan tentang minat karir gue ke depan. Beda dengan engagement review, di tahap ini gue mendiskusikannya dengan counselor gue. Counselor adalah senior yang ditunjuk menjadi semacam mentor selama kita bekerja di firma, dan bertanggung jawab menyediakan bimbingan karir. Berdasarkan diskusi, counselor kemudian akan memberikan semacam rating keseluruhan atas kinerja gue.
Sebagai pamungkas, dilakukan apa yang disebut round table meeeting. Untuk membahas “nasib” gue, rapat dilakukan dengan dihadiri counselor, senior yang menilai engagement review, dan manajer yang membawahi kita untuk setiap engagement. Dalam rapat itu, setiap pihak membahas dokumen engagement review dan annual review gue, kemudian mengungkapkan penilaian masing2 tentang kinerja gue. Penilaian tidak terbatas pada pakerjaan, tapi juga sisi-sisi subyektif. Di rapat inilah kemudian diputuskan apakah gue akan dipromosikan atau tetap pada level yang sekarang.
Supaya lengkap, berikut poin2 yang dianggap penting oleh firma seperti EY dan dilihat sebagai faktor penentu promosi lancarnya karir seorang karyawan:
- Client satisfaction, sebagai firma yang sifatnya client-serving, EY menuntut hubungan baik, penguasaan atas bisnis klien.
- Ensures quality Tidak ada tempat untuk pekerjaan asal jadi. Semua work deliverables harus memenuhi standar tinggi, jelas, terorganisir, dan tidak membtuhkan banyak perbaikan ketika di-review.
- Expertise Memiliki standar keahlian yang cukup sebagai IT auditor, paham dan fasih dalam menggunakan metodologi dan standar audit firma.
- Team orientation & communicationKarena semua engagement adalah team work, semua dituntup memiliki kualitas pribadi sebagai seorang team player
- Coaching & managing Sesuai posisinya, setiap karyawan harus memiliki kualitas sebagai manajer dan mampu berperan sebagai coach bagi anak buahnya.
- Counselling & mentoring Yang ini terkait hubungan counselor-counselee. Ada keterbukaan untuk meminta bimbingan karir ketika menjadi counselee. Sebaliknya, counselor harus proaktif dalam pengembangan karir semua couselee-nya.
- Recruitment & mentoring Hehehe…karena EY turn over-nya sangat tinggi, kemampuan mendapatkan “korban” baru dan kualitas pribadi yang mendukung retensi(betahnya orang lain) jadi bahan penilaian.
- Knowledge Sedikit beda dengan expertise, poin ini terkait dengan kemampuan mengolah dan memanfaatkan knowledge yang kita peoleh dalam engagement, termasuk kemampuan memanfaatkan teknologi dan tools terkini dalam audit.
- Self development Diharapkan tidak mandeg, karyawan punya keinginan untuk berkembang dengan memelihara sikap belajar dan terus mengevaluasi diri.
- Project management Kemampuan untuk bekerja secara efektif dan efisien. Dapat menentukan prioritas dan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.
- Business development & sales Punya kemampuan sebagai sales untuk layanan firma. Mampu mengendus kebutuhan klien sebagai peluang bisnis yang dapat diuangkan
- External/ Internal Initiatives Yang terakhir, setiap karyawan harus memiliki inisiatif untuk menjalin network yang sehat dengan sejawatnya di firma maupun organisasi2 profesi.
Mudah2an cukup bermanfaat untuk dijadikan masukan dalam menghadapi career warfare masing-masing.
Posted in Office Hours | 16 Comments »