Anda mungkin bukan pengguna minyak tanah, tapi pasti tahu kalau bahan bakar itu yang membuat dapur puluhan juta rakyat dan pedagang kecil tetap ngebul. Ketergantungan yang berarti APBN kita terbebani subsidi minyak tanah yang jumlahnya signifikan. Atas rasionalisasi itulah pemerintah kemudian meluncurkan program konversi minyak tanah ke gas yang untuk mengganti pola konsumsi masyarakat dari minyak tanah ke gas. Caranya dengan bertahap mengurangi distribusi minyak tanah bersubsidi sambil menyalurkan kompor gas dan tabung elpiji bersubsidi ukuran 3 kilo untuk masyarakat kecil.
Jelas bukan kapasitas gue untuk membahas tepat tidaknya keputusan pemerintah, atau menganalisis berhasil tidaknya program tersebut. Untuk soal itu rasanya sih ngga kurang pakar, wakil pemerintah, atau aleg yang membahasnya. Gue cuma ingin menuliskan lintasan pikiran yang muncul sewaktu menonton tayangan berita di TV.
Kalo ada yang memperhatikan, berita seputar konversi minyak tanah ke gas ini sedang mengambil porsi besar di media massa. Lebih tepatnya berita tentang kelangkaan minyak tanah di berbagai daerah akibat program tersebut. Jadilah kita bisa menyaksikan bagaimana masyarakat beramai-ramai antre minyak tanah, pemilik pangkalan minyak tanah yang bingung karena pasokan tidak sebanding permintaan, pedagang eceran yang terancam kehilangan pekerjaan, atau keluhan masyarakat tentang rendahnya kualitas kompor dan tabung yang dibagikan. Semuanya cold hard facts yang di zaman informasi ini hampir tak mungkin ditutup2i, apalagi kalau memang terjadinya seragam di berbagai daerah.
Nah yang bikin gue terkikik sedih(ekspresi baru nih) adalah saat jeda di antara tayangan berita antre minyak tanah, muncul iklan Pertamina yang menyodorkan ironi yang begitu paripurna. Iklan dalam rangka 50 tahun Pertamina itu mengangkat suksesnya program konversi minyak tanah. Kompor dan tabung gas baru menumpuk berkilau, komitmen Pertamina melayani masyarakat, lengkap dengan testimoni dari sosok rakyat kebanyakan yang menyuarakan puja-puji tentang bagaimana bersih-hemat-mudah-amannya memakai gas. Di usianya yang 50 tahun Pertamina membuktikan dirinya mencintai dan layak dicintai rakyat Indonesia.
Dalam dunia game dikenal istilah bullshot. Istilah itu disematkan pada iklan cetak atau trailer game yang menampilkan enhanced images dari sebuah game yang sedemikian kerennya walaupun gamenya sendiri tidak memiliki kualitas seperti itu. Iklan Pertamina adalah contoh bullshot. Loe tahu itu bullshot karena faktanya jauh dari gambaran yang disodorkan. Yang terjadi adalah bentuk komunikasi publik yang selevel dengan iklan pengobatan alternatif yang mengklaim mengobati kanker, sukses membuat kita berpikir “Do they think we’re that stupid to be fooled?” . Kalo loe bisa membayar mahal untuk mengganti logo, program corporate change, sampai “re-code your dna”, harusnya bisa dong membuat kebohongan yang lebih cantik dan aduhai. Usul gue, semboyan “Always there” di bawah logo Pertamina yang menutup iklan, sebaiknya diganti dengan “shitload of crap”.
Setelah itu gue berpikir, kenapa TV kita menayangkan iklan yang begitu kontradiktif dengan berita yang ditulis para jurnalisnya?(pertanyaan goblok). Itu kan berarti sebagai media mereka ikut membodohi masyarakat(what else is new?). Harusnya kalau memang ingin memutar iklan dengan standar kibul-o-meter setingkat itu dipilih waktu tayang di acara Republik Mimpi, sinetron, atau siaran ulang Aneka Ria Safari(yang membuat kita merasa masih di tahun 1987).
Kenapa sih sudah dipaksa menelan pil pahit masih harus dibohongi juga? Sebenarnya siapa sih yang untung?(goblok, pertamina untung bangsa untung, tauk!)
