aresto in-depth

my words,my opinions

Archive for August, 2007

No..no..no lies….

Posted by aresto on August 28, 2007

Anda mungkin bukan pengguna minyak tanah, tapi pasti tahu kalau bahan bakar itu yang membuat dapur puluhan juta rakyat dan pedagang kecil tetap ngebul. Ketergantungan yang berarti APBN kita terbebani subsidi minyak tanah yang jumlahnya signifikan. Atas rasionalisasi itulah pemerintah kemudian meluncurkan program konversi minyak tanah ke gas yang untuk mengganti pola konsumsi masyarakat dari minyak tanah ke gas. Caranya dengan bertahap mengurangi distribusi minyak tanah bersubsidi sambil menyalurkan kompor gas dan tabung elpiji bersubsidi ukuran 3 kilo untuk masyarakat kecil.

Jelas bukan kapasitas gue untuk membahas tepat tidaknya keputusan pemerintah, atau menganalisis berhasil tidaknya program tersebut. Untuk soal itu rasanya sih ngga kurang pakar, wakil pemerintah, atau aleg yang membahasnya. Gue cuma ingin menuliskan lintasan pikiran yang muncul sewaktu menonton tayangan berita di TV.

Kalo ada yang memperhatikan, berita seputar konversi minyak tanah ke gas ini sedang mengambil porsi besar di media massa. Lebih tepatnya berita tentang kelangkaan minyak tanah di berbagai daerah akibat program tersebut. Jadilah kita bisa menyaksikan bagaimana masyarakat beramai-ramai antre minyak tanah, pemilik pangkalan minyak tanah yang bingung karena pasokan tidak sebanding permintaan, pedagang eceran yang terancam kehilangan pekerjaan, atau keluhan masyarakat tentang rendahnya kualitas kompor dan tabung yang dibagikan. Semuanya cold hard facts yang di zaman informasi ini hampir tak mungkin ditutup2i, apalagi kalau memang terjadinya seragam di berbagai daerah.

Nah yang bikin gue terkikik sedih(ekspresi baru nih) adalah saat jeda di antara tayangan berita antre minyak tanah, muncul iklan Pertamina yang menyodorkan ironi yang begitu paripurna. Iklan dalam rangka 50 tahun Pertamina itu mengangkat suksesnya program konversi minyak tanah. Kompor dan tabung gas baru menumpuk berkilau, komitmen Pertamina melayani masyarakat, lengkap dengan testimoni dari sosok rakyat kebanyakan yang menyuarakan puja-puji tentang bagaimana bersih-hemat-mudah-amannya memakai gas. Di usianya yang 50 tahun Pertamina membuktikan dirinya mencintai dan layak dicintai rakyat Indonesia.

Dalam dunia game dikenal istilah bullshot. Istilah itu disematkan pada iklan cetak atau trailer game yang menampilkan enhanced images dari sebuah game yang sedemikian kerennya walaupun gamenya sendiri tidak memiliki kualitas seperti itu. Iklan Pertamina adalah contoh bullshot. Loe tahu itu bullshot karena faktanya jauh dari gambaran yang disodorkan. Yang terjadi adalah bentuk komunikasi publik yang selevel dengan iklan pengobatan alternatif yang mengklaim mengobati kanker, sukses membuat kita berpikir “Do they think we’re that stupid to be fooled?” . Kalo loe bisa membayar mahal untuk mengganti logo, program corporate change, sampai “re-code your dna”, harusnya bisa dong membuat kebohongan yang lebih cantik dan aduhai. Usul gue, semboyan “Always there” di bawah logo Pertamina yang menutup iklan, sebaiknya diganti dengan “shitload of crap”.

Setelah itu gue berpikir, kenapa TV kita menayangkan iklan yang begitu kontradiktif dengan berita yang ditulis para jurnalisnya?(pertanyaan goblok). Itu kan berarti sebagai media mereka ikut membodohi masyarakat(what else is new?). Harusnya kalau memang ingin memutar iklan dengan standar kibul-o-meter setingkat itu dipilih waktu tayang di acara Republik Mimpi, sinetron, atau siaran ulang Aneka Ria Safari(yang membuat kita merasa masih di tahun 1987).

Kenapa sih sudah dipaksa menelan pil pahit masih harus dibohongi juga? Sebenarnya siapa sih yang untung?(goblok, pertamina untung bangsa untung, tauk!)

Posted in Ya Basta ! | 1 Comment »

Keutamaan Ikhlas

Posted by aresto on August 16, 2007

Dalam waktu kurang dari sebulan (Insya Allah) adik gue akan menikah. Sebagai kakak tentu saja gue ikutan membantu, setidaknya hal2 kecil yang bisa gue kerjain. Dari proses persiapan pernikahan itu ada secuil cerita yang sedikit banyak menggambarkan kenapa korupsi ngga ada abisnya di negeri ini (of all possible stories, I chose this :P ).

Semua pasti tahu kalau namanya menikah harus berurusan dengan KUA. Se”peduli setan”nya orang sama agama dalam kesehariannya, paling ngga dia harus “berurusan” dengan agama lewat kantor ini.

Walaupun berencana melangsungkan akad nikah di sebuah gedung di daerah Pancoran, memiliki KTP Depok adik gue memilih untuk mengurus pernikahannya lewat KUA Depok. Setelah bertanya kesana-sini soal prosedurnya, membawa surat2 yang diperlukan, dan sejumlah uang untuk biaya, datanglah adik gue ke KUA Depok (jangan datang pagi2, hari di KUA dimulai lebih siang). Menurut pegawai KUA yang ditemuinya, biaya yang harus dibayar adalah 350k untuk surat2 dan 500k untuk penghulu. Jumlah yang harus dibayar untuk penghulu lebih besar dari fee normal karena dia harus bertugas di luar Depok. Adik gue membayar jumlah yang disebutkan walaupun dengan gondok karena si pegawai KUA tidak bisa menjelaskan rincian perhitungan yang menghasilkan angka tersebut dan tidak ada kuitansi resmi yang mencatat pembayaran itu. Pokoknya jumlahnya segitu menurut aturan yang berlaku, kata pegawai KUA. Dan memang jumlah yang diminta sesuai dengan hasil survei adik gue ke beberapa orang yang pernah ditanya soal biaya nikah di KUA Depok.

Adik gue mengira urusan dengan KUA sudah beres. Tapi, ketika menyinggung masalah ini dengan pengelola gedung tempat nikah, si pengelola gedung menyayangkan inisiatif adik gue itu. Dia justru menyarankan adik gue untuk mengurus nikahnya di KUA Pancoran untuk mencegah “situasi tidak enak” antara pengelola gedung dengan KUA setempat di kemudian hari. Pergilah adik gue ke KUA Pancoran, petugas di sana menguatkan pendapat pengelola gedung, tak lupa sambil ngedumel kalo KUA Depok udah lancang ngambil lahan orang lain. Adik gue pun memutuskan untuk mengikuti anjuran itu, itu berarti dia harus minta refund dari KUA Depok lalu mengurus ulang di KUA Pancoran(hmm..pasti tak semudah itu).

Petugas KUA Depok ngga terlalu mempermasalahkan keputusan adik gue itu, tapi tentu saja duit yang sudah masuk tak bisa kembali utuh. Si petugas bilang duit yang sudah diserahkan adik gue harus dipotong sejumlah 100k Waktu adik gue bertanya kenapa, dengan enteng si petugas menjawab karena sudah masuk ada biaya lain2. Ketika adik gue ngeyel terus karena gak puas dengan jawaban si petugas, akhirnya adik gue disuruh untuk langsung menemui penghulu yang sedianya ditugaskan untuk pernikahan adik gue. Di kantor si penghulu, lagi2 adik gue ngga mendapat jawaban memuaskan. Setelah alot ngalor ngidul makin gak jelas, akhirnya si penghulu menurunkan jumlah uang yang ngga kembali menjadi 50k Terus, enggan lebih berpanjang2 lagi, si penghulu berkata ” Gimana Dik ? Ikhlas kan kalau segitu ? Ikhlas ya 50k” Adik gue, muak dengan kelakuan “wakil agama” ini langsung menjawab ketus ” Saya ikhlas Pak kalau uang itu memang seusai prosedur resmi yang berlaku, tapi sampai kapan pun saya ngga akan ikhlas kalau uang itu untuk sesuatu yang Bapak ngga bisa jelasin ke saya…” sambil langsung ngeloyor pergi ninggalin kantor si penghulu.

Moral of the storynya 1) mengurus agama tidak tabu untuk disatukan dengan mencari pungli 2)beda dengan kata Nabi “yang menyuap dan disuap sama2 masuk neraka”, menurut KUA Depok “pungli oke yang penting ikhlas”

Update: menurut info teman2 dan setelah mengontak KUA Pancoran, adik gue jadi tahu biaya surat2 di Jakarta 150k, tapi untuk penghulu bisa sampai 750k-1,5mio. Waktu adik gue mencoba menawar biaya penghulu lebih rendah dari itu, si penghulu cuma tersenyum meledek sambil bilang “Mending kamu coba tanya2 dulu sama teman2 kamu berapa biaya penghulu”

Posted in Ya Basta ! | 16 Comments »