aresto in-depth

my words,my opinions

Archive for December, 2007

Menyibak Rahasia Meede

Posted by aresto on December 24, 2007

Sebenarnya gue agak skeptis dengan pengarang bernama pena “E.S Ito” ini. Waktu novel pertamanya Negara Kelima terbit gue sama sekali ngga berminat untuk membelinya. Alasan skeptisnya ngga mutu sih, setelah gue pikir2 lebih karena sombong aja berasumsi kalau novel itu tidak memenuhi standar layak baca gue.

Tapi entah kenapa, sebagai orang yang percaya buku itu memilih pembacanya, sejak pertama ngeliat Rahasia Meede di toko buku gue udah tertarik untuk membacanya. Lebih tertarik lagi setelah tahu pilihan tema dan ulasan positif tentang novel ini di Ruang Baca Koran Tempo. Setelah dibaca terbukti novel itu memang oke dan E.S. Ito layak mendapat acungan jempol.

Rahasia Meede berpangkal pada sebuah mitos yang sudah lama beredar luas di negeri ini. Mitos tentang harta karun revolusi(/Majapahit/Pajajaran/dll dari masa silam) berjumlah luar biasa yang dipercaya bisa mengentaskan nasib negara ini, atau untuk seorang pribadi serakah berarti kaya tujuh turunan.

Harta karun mitis itu ditulis sebagai harta karun peninggalan masa kolonialisme VOC dalam novel ini. Jalinan cerita pun dibangun pada persaingan dua kelompok untuk menemukan harta VOC berupa emas batangan yang jumlahnya setara deposit Fort Knox. Dua kelompok yang semula sekutu itu saling beradu muslihat, intrik, dan sumber daya dalam sebuah konflik memikat yang membuat novel ini harus dibaca sampai tuntas.

Tentu saja kalau hanya menceritakan perburuan harta karun gue lebih baik membaca Lima Sekawan dan tidak akan memuji novel ini dengan berapi-api. Menurut gue paling tidak ada tiga sebab besar yang membuat novel ini oke.

Sebab pertama adalah pilihan E.S. Ito untuk memasukkan pengalaman pribadinya di Tarnus ke dalam novel ini. Beda dengan Bang Aditya Mulya yang menyenggol dikit Tarnus untuk memberi identitas pada karakter Olip di novel Jomblo, bumbu Tarnus terasa sangat kental dan nostalgik di Rahasia Meede. Buat gue yang lulusan Tarnus, ini terasa seperti diajak kembali mengingat hal-hal kecil yang hanya diketahui seseorang yang pernah menghabiskan tiga tahun masa remajanya di sana. Di titik ini gue yakin ada pembaca yang menganggap gue bias dalam membahas novel ini. Tapi, gue justru berpendapat buat pembaca yang cuma tahu kalau Tarnus ini SMA terbaik di Indonesia pada masanya(sekalian biasnya), unsur Tarnus justru membantu lebih memahami tensi yang terjadi antara dua tokoh utama di novel ini. Love-hate relationship antara Kalek yang pentolan OTB Anarki Nusantara dengan Batu Mendrofa yang agen lapangan terbaik satuan Sandhi Yudha Kopassus. Dua pilihan karir yang sangat logis untuk seorang lulusan Tarnus.

Kedua, gue kagum sama riset yang dilakukan E.S. Ito untuk membuat novel ini utuh. Buat gue, penulis yang ngga pelit dalam riset adalah penulis yang menghargai pembacanya. Apalagi kalo pilihan latarnya adalah sejarah seperti novel ini. E.S. Ito sukses membuat pembacanya kagum dengan keluasan bahan pendukung yang meliputi sejarah VOC, adat Mentawai, sampai racun-racun khas negeri ini. Saking meyakinkannya kisah ini disampaikan, gue yakin ada orang yang tertarik untuk berburu harta karun VOC setelah membaca novel ini. Kalau ketekunan ini berlanjut dalam novel2 selanjutnya ngga heran kalau suatu saat E.S. Ito punya reputasi sebagai Michael Crichton Indonesia, yang tidak takut menjelajah berbagai tema karena pede dengan kualitas risetnya (sumpah lho gue ngga dibayar E.S. Ito, bukunya pun gue beli sendiri :P ).

Hal ketiga tidak akan mengagetkan kalau sudah mengenal sosok E.S. Ito sebelum membaca novel ini. E.S. Ito dengan pas menyelipkan berbagai kritik dan keprihatinan tentang kondisi bangsa ini. Kemalasan belajar dari sejarah , sikap inferior saat berurusan dengan bangsa asing, serta penghambaan pada harta dan kuasa berkali2 disinggung E.S. Ito sebagai penyakit yang tak kunjung sembuh.

Membaca novel ini di antara perjalanan ke Medan dan Makassar, gue jadi sedikit paham pesan rahasia di balik Rahasia Meede. Betapa kekayaan negeri ini sama seperti harta karun Meede, akhirnya hanya jadi rebutan kolonialisme baru bangsa asing dan syahwat kuasa oknum manusia Indonesia yang kemaruk. Tak pernah dan tak akan tentang perut rakyat.

~Bang Edri, ditunggu novel berikutnya…

Posted in Just Read It | 10 Comments »

Catatan dari Seberang

Posted by aresto on December 17, 2007

Gue menulis ini sambil berusaha keras membagi perhatian dengan tayangan big match MU vs Liverpool di ESPN. Sendirian di sebuah kamar hotel berbintang di Makassar membuat jari-jari ini gatal ingin berbagi cerita dari seberang lautan. Serunya pertarungan dua raksasa merah pun rasanya tak bisa menunda entry ini.

Setelah beberapa lama berkutat di kawasan Sudirman dan cuma bisa iri dengan Anjar yang mengunjungi pelosok Nusantra, tanpa disangka engagement di Big T memberiku kesempatan setidaknya mengunjungi dua kota yang selama ini asing. Minggu lalu tiga hari di Medan, dan sekarang rencananya tiga hari lagi di Makassar. Semuanya dalam rangka mengerjakan yang mungkin bisa dibilang “cuci piring”, kalau boleh meminjam kata-kata SBY.

Pekerjaan pulalah yang membuat gue ngga punya waktu untuk melayani ketertarikan luar biasa untuk menjelajahi lebih banyak dua kota itu (satu tepatnya, di Makassar kan baru semalam). Mungkin juga karena gue bertugas sendirian dan kehilangan teman untuk seru2an. So, it’s business all the way, menjalani peran konsultan dari Jakarta yang harus siap dengan jawaban ketika ditanya “Bagaimana Pak pendapatnya ?”

Di Medan cerita menarik justru gue alami dengan seorang supir yang saban pagi mengantar gue ke kantor. Mas Setyo. asli Jawa tapi sedari kecil sudah tinggal di Medan. Sejak pertama kali membuka obrolan, gue merasakan sesuatu yang lain pada diri supir ini. Gue ngga bermaksud merendakan supir, tapi ada pendar pengatahuan dan pede yang membuat obrolan dengan Mas Setyo tak pernah terjabak pada basa basi supir penumpang. Dia selalu punya pendapat dan perjalanan kami selalu penuh diskusi yang hangat. Tak kaget ketika belakangn gue tahu dia ternyata lulusan Al Azhar dan ketika di hari terakhir dia bercerita tentang niatnya merintis swalayan aksesoris motor, gue menemukan sesosok guru tentang bagaimana menjadi merdeka dan keyakinan penuh atas rezeki-Nya.

Menyimak entri-entri gue, mungkin banyak di antara pembaca yang merasakan nuansa negatif yang sepertinya menggelayuti gue. Jujur aja, di saat sendirian seperti ini kadang gue bertanya ke diri sendiri “am I running from something?” Lari atau tidak gue ngerasa saat-saat seperti bersama Mas Setyo lah yang akan gue kenang dan lebih menarik untuk diceritakan.

Posted in ABCs of Life, Office Hours | 4 Comments »

Pleto Saba Bandung (2) – Bittersweet Symphony

Posted by aresto on December 4, 2007

I start writing with the intention to write about culinary experience I have in Bandung. I have already take mental notes about every places I have visited and even already decided how I want to write the saliva inviting story.

But, as I face my laptop screen and begin to type, I realize there’s this feeling that have been nagging me the past few weeks. Suddenly, a piece about Bandung best places to dine become no longer interesting.

I’m having a blast in Bandung, there’s no denial about that. I mean, check my routine. An hour in the gym before work, freely choose where to eat without thinking about budget, use the cab everywhere, and went home to a cozy apartment room. You probably say there’s nothing I should be complaining about.

It’s just I can’t stop the feeling that I’m living someone’s else life, and I really don’t enjoy it. Back in Jakarta, my friends notice how most of the time I went separate way when it comes to lunch. That’s because I usually choose the economic option and eat frugally. My favourite spot around BEJ is S.Widjojo cafetaria, where you can buy Rp 9000 package of rice, veggies, one piece of non meat dish, and one fish/chick/meat dish. Meanwhile there’s one time in Bandung where I found myself actually talking about which Seinnheisser she must buy for her new IPod Nano, what a crap.

It’s not about living large. Maybe knowing this gonna be over pretty soon or maybe I really miss those little things in life that I value. I am sure it’s the latter. Somebody please give me a dose of reality.

Posted in ABCs of Life, Office Hours | 4 Comments »