Sebenarnya gue agak skeptis dengan pengarang bernama pena “E.S Ito” ini. Waktu novel pertamanya Negara Kelima terbit gue sama sekali ngga berminat untuk membelinya. Alasan skeptisnya ngga mutu sih, setelah gue pikir2 lebih karena sombong aja berasumsi kalau novel itu tidak memenuhi standar layak baca gue.
Tapi entah kenapa, sebagai orang yang percaya buku itu memilih pembacanya, sejak pertama ngeliat Rahasia Meede di toko buku gue udah tertarik untuk membacanya. Lebih tertarik lagi setelah tahu pilihan tema dan ulasan positif tentang novel ini di Ruang Baca Koran Tempo. Setelah dibaca terbukti novel itu memang oke dan E.S. Ito layak mendapat acungan jempol.
Rahasia Meede berpangkal pada sebuah mitos yang sudah lama beredar luas di negeri ini. Mitos tentang harta karun revolusi(/Majapahit/Pajajaran/dll dari masa silam) berjumlah luar biasa yang dipercaya bisa mengentaskan nasib negara ini, atau untuk seorang pribadi serakah berarti kaya tujuh turunan.
Harta karun mitis itu ditulis sebagai harta karun peninggalan masa kolonialisme VOC dalam novel ini. Jalinan cerita pun dibangun pada persaingan dua kelompok untuk menemukan harta VOC berupa emas batangan yang jumlahnya setara deposit Fort Knox. Dua kelompok yang semula sekutu itu saling beradu muslihat, intrik, dan sumber daya dalam sebuah konflik memikat yang membuat novel ini harus dibaca sampai tuntas.
Tentu saja kalau hanya menceritakan perburuan harta karun gue lebih baik membaca Lima Sekawan dan tidak akan memuji novel ini dengan berapi-api. Menurut gue paling tidak ada tiga sebab besar yang membuat novel ini oke.
Sebab pertama adalah pilihan E.S. Ito untuk memasukkan pengalaman pribadinya di Tarnus ke dalam novel ini. Beda dengan Bang Aditya Mulya yang menyenggol dikit Tarnus untuk memberi identitas pada karakter Olip di novel Jomblo, bumbu Tarnus terasa sangat kental dan nostalgik di Rahasia Meede. Buat gue yang lulusan Tarnus, ini terasa seperti diajak kembali mengingat hal-hal kecil yang hanya diketahui seseorang yang pernah menghabiskan tiga tahun masa remajanya di sana. Di titik ini gue yakin ada pembaca yang menganggap gue bias dalam membahas novel ini. Tapi, gue justru berpendapat buat pembaca yang cuma tahu kalau Tarnus ini SMA terbaik di Indonesia pada masanya(sekalian biasnya), unsur Tarnus justru membantu lebih memahami tensi yang terjadi antara dua tokoh utama di novel ini. Love-hate relationship antara Kalek yang pentolan OTB Anarki Nusantara dengan Batu Mendrofa yang agen lapangan terbaik satuan Sandhi Yudha Kopassus. Dua pilihan karir yang sangat logis untuk seorang lulusan Tarnus.
Kedua, gue kagum sama riset yang dilakukan E.S. Ito untuk membuat novel ini utuh. Buat gue, penulis yang ngga pelit dalam riset adalah penulis yang menghargai pembacanya. Apalagi kalo pilihan latarnya adalah sejarah seperti novel ini. E.S. Ito sukses membuat pembacanya kagum dengan keluasan bahan pendukung yang meliputi sejarah VOC, adat Mentawai, sampai racun-racun khas negeri ini. Saking meyakinkannya kisah ini disampaikan, gue yakin ada orang yang tertarik untuk berburu harta karun VOC setelah membaca novel ini. Kalau ketekunan ini berlanjut dalam novel2 selanjutnya ngga heran kalau suatu saat E.S. Ito punya reputasi sebagai Michael Crichton Indonesia, yang tidak takut menjelajah berbagai tema karena pede dengan kualitas risetnya (sumpah lho gue ngga dibayar E.S. Ito, bukunya pun gue beli sendiri
).
Hal ketiga tidak akan mengagetkan kalau sudah mengenal sosok E.S. Ito sebelum membaca novel ini. E.S. Ito dengan pas menyelipkan berbagai kritik dan keprihatinan tentang kondisi bangsa ini. Kemalasan belajar dari sejarah , sikap inferior saat berurusan dengan bangsa asing, serta penghambaan pada harta dan kuasa berkali2 disinggung E.S. Ito sebagai penyakit yang tak kunjung sembuh.
Membaca novel ini di antara perjalanan ke Medan dan Makassar, gue jadi sedikit paham pesan rahasia di balik Rahasia Meede. Betapa kekayaan negeri ini sama seperti harta karun Meede, akhirnya hanya jadi rebutan kolonialisme baru bangsa asing dan syahwat kuasa oknum manusia Indonesia yang kemaruk. Tak pernah dan tak akan tentang perut rakyat.
~Bang Edri, ditunggu novel berikutnya…
