aresto in-depth

my words,my opinions

Archive for January, 2008

Nada Sambung yang Tidak Merdu

Posted by aresto on January 28, 2008

Hari Minggu kemarin gue dikejutkan oleh sebuah sms dari nomor 888 yang mendarat di hp esia gue.”Nada sambung anda telah diaktifkan. Anda telah dikenakan biaya Rp 9000+PPN/bulan…dst”. WTF, gue langsung meriksa talktime gue dan ternyata memang sudah berkurang 9000. WTF karena gue yakin gak pernah sekalipun mendaftar layanan nada sambung dan tiba2 dikasih tahu gue harus membayar untuk layanan itu.

Setelah gue tanya kanan-kiri paling tidak ada lima orang pelanggan Esia yang gue kenal pernah mengalami hal yang sama. Cuma bisa pasrah haknya sebagai konsumen diinjak-injak dengan semena2 oleh operator. Gue makin kesel ketika seperti datangnya yang seperti siluman, cara menghentikan layanan nada sambung ini juga sangat susah dicari. Rupanya memang karena niatnya nilep sengaja dibuat supaya nilepnya bisa kontinu. Padahal kalau mau sedikit sopan setidaknya di akhir sms-nya kan bisa disertakan cara meng-unreg layanan nada sambung itu.

Kalau udah ngalamin hal-hal kayak gini, baru kerasa lemahnya jadi konsumen di Indonesia. Mau ngadu ke siapa, gimana cara ngadunya, kalau sudah ngadu terus apa, akhirnya cuma bisa misuh2 di blog atau surat pembaca. Paling dampaknya cuma bikin cara nilep berubah aja, hari ini begini besok iklan tarif yang bohong. Arrgh…………

~gimana nih unregnya?sumpah lagunya norak banget….

—————————-UPDATE—————————————-

Setelah gue mengirimkan compalint lewat situs Esia, gue menerima email balasan dari Customer Care Esia. Dalam email tersebut, Esia menjelaskan bahwa sesuai prosedur layanan nada sambung trial Esia telah mengirimkan dua buah sms yang berbunyi ““ Semoga anda suka dg NadaSambung ini & akan dikenakan Rp 9000/bln atau Rp 3000/mg sesuai dg talktime anda stlh 27Jan .Utk stop, sms RING UNSUB ke 888” pada tanggal 13 dan 24 Januari 2008. Karena gue tidak melakukan langkan unsub, maka nada sambung trail tersebut otomatis diperpanjang dan gue dikenakan charge.

Nampaknya justru disinilah pangkal masalahnya. Berbeda dengan log aplikasi Esia, gue yakin kalau gue tidak pernah menerima sms tersebut pada tanggal yang disebutkan. Karena sebagai auditor gue lebih percaya log ketimbang perasaan, gue menduga masalah terjadi karena log aplikasi tidak mencatat apakah sms yang dikirim memang delivered ke nomor gue. Dugaan gue penyebab tidak sampainya sms ini karena pada tanggal2 tersebut nomor gue sedang dalam status gogo di Bandung.

Gue menghargai respon yang cepat dari Esia, sambil tetap menyarankan untuk merubah prosedur layanan nada sambung trialnya. Ada baiknya sebelum secara otomatis memberi nada sambung gratis, pelanggan diberi pilihan untuk menerima atau tidak nada sambung gratis itu. Begitu juga pada hari tenggat masa gratis, pelanggan dikirimi lagi sebuah sms sebelum secara otomatis memotong talktime.

Posted in Ya Basta ! | 18 Comments »

Rokok Menyehatkan Bangsa ?

Posted by aresto on January 22, 2008

Ada sedikit pikiran yang ingin gue tulis setelah menonton babak final Copa Dji Sam Soe dan sebagian partai 8 besar Liga Djarum. Bukan masalah perilaku suporter, lucunya wasit, atau bisik2 tentang pengaturan skor yang ingin gue angkat. Gue lebih tertarik membahas lekatnya rokok dengan dunia olahraga di Indonesia.

Menurut gue kedua hal tersebut sangat tidak kompatibel. Rokok sudah diamini secara ilmiah sebagai benda yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Kalau loe baca artikel tentang gaya hidup sehat, sudah pasti ada reminder untuk menghindari rokok. Bahkan, industri rokok pun sudah ngga menolak fakta kalau rokok itu berisiko tinggi bagi kesehatan. Kalo ada yang pernah nonton film “Thank You For Smoking”, lobi dan pelintiran industri rokok sekarang fokus pada detail-detail seperti aturan dalam beriklan, skala pembatasan di ruang publik, harga cukai, dan tuntutan class action masyarakat.

Tapi, di Indonesia olahraga dan rokok justru menikmati hubungan yang sangat mesra. Sponsor utama event olahraga nasional dari sepakbola, basket, sampai bulutangkis semuanya perusahaan rokok. Tadinya gue berpikir ini karena perusahaan rokok punya dana yang sangat besar untuk menjadi sponsor. Berpikir lebih jauh lagi, gue sadar kalau masalahnya lebih ke “mau” ketimbang “bisa”. Untuk menyediakan dana sangat besar dengan menjadi sponsor, gue yakin banyak perusahaan bidang lain yang mampu. Perusahaan rokok mau banget karena ada kepentingan untuk mengaburkan fakta dampak negatif rokok untuk kesehatan sekaligus memastikan brand tetap melekat di kepala penggemar olahraga.

Nah, setahu gue hubungan erat rokok dan dunia olahraga hanya terjadi di Indonesia. Di luar negeri sepertinya (gue ngga tahu persis) ada aturan yang melarang rokok menjadi sponsor utama event olahraga (kecuali otomotif, yang menurut gue bukan olahraga).

Ini sekadar contoh kecil bagaimana nikmatnya jadi perusahaan rokok di Indonesia. Pasar luar biasa besar, regulasi antirokok yang mandul, cukai murah membuat pemain utama di Indonesia selalu sukses mencetak untung besar dan menempatkan pemiliknya di daftar 10 besar orang terkaya di Indonesia. Ngga ada yang peduli dengan makin mudanya usia perokok di Indonesia atau dampak negatif rokok bagi ekonomi rakyat kecil. Jadi, sepertinya sih memang masih akan lama bangsa ini dipecundangi rokok.

Posted in Ya Basta ! | 7 Comments »

Senjakala Si Maling Budiman

Posted by aresto on January 18, 2008

Gue benci Pak Harto. Kebencian yang bertambah seiring dengan banyaknya informasi tentang berbagai sepak terjangnya selama berkuasa. Yakin deh kalau loe peduli sangat sulit untuk tidak membenci bapak kita satu itu. Menurut gue kejahatannya teramplifikasi oleh kenyataan bahwa dia jadi orang nomor satu di negeri ini selama 32 tahun. Kalau dia hanya menjadi ketua rt yang menggelapkan iuran hansip, pastinya mudah untuk melupakan dan memaafkan.

Dengan kekuasaannya Pak Harto punya kesempatan untuk mewujudkan “Indonesia Lain”, negara Pancasila yang adil, makmur, sejahtera, disegani dalam pergaulan internasional, macan Asia dengan pertumbuhan ekonomi mencengangkan. Kenyataannya, Pak Harto sangat bertanggungjawab terhadap kenyataan Indonesia yang loe temui ketika loe bangun hari ini, negeri maling yang ndobos dimana keadilan sosial tidak pernah untuk seluruh rakyatnya.

Loe harus adil dong, To. Coba kita sebut jasa2nya: mewujudkan keamanan dan stabilitas (dengan membangun negara “Big Brother” yang menyebarkan ketakutan dan menginjak HAM), mewujudkan swasembada pangan (yang tidak memedulikan diversifikasi makanan pokok lokal sehingga bangsa ini tergantung pada beras kemudian impor beras), membangun 900 sekian masjid (dengan uang yayasan yang tak jelas sumbernya sambil memastikan Islam gerakan tetap dalam keadaan tiarap), menjadi pemain berwibawa dalam kancah internasional (sambil tetap menjadi bangsa kuli yang bertekuk lutut menyerahkan kekayaan sdanya untuk ditukar kick back yang menjamin anak cucu dewe sejahtera tujuh turunan). Wah, luar biasa besar memang jasa Pak Harto untuk bangsa ini.

Karena benci itulah, jadi eneg juga gue melihat liputan media atas sakitnya Pak Harto yang menurut gue sangat lebay. Semua media seperti berebut menyiarkan perkembangan menit ke menit, lengkap dengan parade istilah medis yang njelimet, dengan presentasi grafis yang lengkap, dan konferensi pers yang mungkin dirasa kurang afdol kalau tidak menjejerkan belasan dokter. Belum lagi ribut2 yang terjadi di luar, tentang memaafkan atau tidak memaafkan, diadili atau tidak diadili. Seakan kalau pake ribut2 kita ngga bisa nebak ini akhirnya gimana. Bahkan dari ranjang sekaratnya pun, bapak satu itu sukses mengkuyo-kuyo bangsa ini. Maling budiman 1 rakyat Indonesia 0.


..maling di negeriku
hidupnya terjamin
maunya dihukum
tapi ngga tahunya
yang menghukum
juga MALING….
~Maling Budiman, Orkes Sinten Remen

Posted in Ya Basta ! | 7 Comments »

Tempe Jangan Kau Pergi

Posted by aresto on January 15, 2008

Ada kabar buruk yang gue dengar dari abang tukang sayur ketika belanja tempe pesanan ibuku. “Beli yang banyak sekarang Mas, besok udah ngga ada” kata si abang ketika gue minta diambilkan tempe. Bercanda nih abang pikir gue. Indonesia kan negara tempe, wong sudah terinternalisasi jadi mental tempe, mana mungkin tempe bisa hilang di pasaran.

Setelah membuka koran, gue baru tahu ternyata si abang tidak asal ngomong.
Rupanya kenaikan haraga kedelai di pasar lokal sudah mencapai 150%. Awal Januari tahun lalu, kedelai masih dijual Rp 3400/kg. Harga itu terus merambat naik sampai puncaknya pada 2 Januari lalu mencapai Rp 7500/kg (Koran Tempo). Harga terkerek naik karena memang pasar kedelai dalam negeri yang 70% kebutuhannya disuplai impor sangat rentan terhadap pengaruh menurunnya produksi kedelai di Aregentina, Amerika, Cina, dan India akibat musim kering.

Kenaikan bahan baku gila2an tentu saja memukul industri tahu-tempe yang sebagian besar industri kecil. Ngga heran jika kemudian perajin yang bergabung dalam Koperasi Tahu-Tempe Indonesia mendemo Istana dan Gedung DPR dengan tuntutan terutama stabilitas harga dan swasembada kedelai. Untuk saat ini pilihan yang tersisa bagi mereka tinggal menghentikan produksi karena menaikkan harga tahu-tempe dapat membuat kedua makanan rakyat itu tak terjangkau oleh segmen pembelinya.

Tempe adalah lauk sarapan favorit gue. Ngga ada yang ngalahin enaknya tempe goreng dicocol sambel kecap dan segelas wedang teh manis. Bukan gue aja yang bakal kehilangan, tempe-tahu selama ini menjadi sumber protein murah yang terjangkau buat rakyat kebanyakan. Lagi-lagi menimbulkan pertanyaan apakah pemerintah benar-benar siang malam bekerja dan memikirkan rakyat. Selain itu, kita lagi2 dipaksa belajar bahwa penting untuk tetap independent di dunia yang interdependent.

Posted in Ya Basta ! | 2 Comments »