Rokok Menyehatkan Bangsa ?
Posted by aresto on January 22, 2008
Ada sedikit pikiran yang ingin gue tulis setelah menonton babak final Copa Dji Sam Soe dan sebagian partai 8 besar Liga Djarum. Bukan masalah perilaku suporter, lucunya wasit, atau bisik2 tentang pengaturan skor yang ingin gue angkat. Gue lebih tertarik membahas lekatnya rokok dengan dunia olahraga di Indonesia.
Menurut gue kedua hal tersebut sangat tidak kompatibel. Rokok sudah diamini secara ilmiah sebagai benda yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Kalau loe baca artikel tentang gaya hidup sehat, sudah pasti ada reminder untuk menghindari rokok. Bahkan, industri rokok pun sudah ngga menolak fakta kalau rokok itu berisiko tinggi bagi kesehatan. Kalo ada yang pernah nonton film “Thank You For Smoking”, lobi dan pelintiran industri rokok sekarang fokus pada detail-detail seperti aturan dalam beriklan, skala pembatasan di ruang publik, harga cukai, dan tuntutan class action masyarakat.
Tapi, di Indonesia olahraga dan rokok justru menikmati hubungan yang sangat mesra. Sponsor utama event olahraga nasional dari sepakbola, basket, sampai bulutangkis semuanya perusahaan rokok. Tadinya gue berpikir ini karena perusahaan rokok punya dana yang sangat besar untuk menjadi sponsor. Berpikir lebih jauh lagi, gue sadar kalau masalahnya lebih ke “mau” ketimbang “bisa”. Untuk menyediakan dana sangat besar dengan menjadi sponsor, gue yakin banyak perusahaan bidang lain yang mampu. Perusahaan rokok mau banget karena ada kepentingan untuk mengaburkan fakta dampak negatif rokok untuk kesehatan sekaligus memastikan brand tetap melekat di kepala penggemar olahraga.
Nah, setahu gue hubungan erat rokok dan dunia olahraga hanya terjadi di Indonesia. Di luar negeri sepertinya (gue ngga tahu persis) ada aturan yang melarang rokok menjadi sponsor utama event olahraga (kecuali otomotif, yang menurut gue bukan olahraga).
Ini sekadar contoh kecil bagaimana nikmatnya jadi perusahaan rokok di Indonesia. Pasar luar biasa besar, regulasi antirokok yang mandul, cukai murah membuat pemain utama di Indonesia selalu sukses mencetak untung besar dan menempatkan pemiliknya di daftar 10 besar orang terkaya di Indonesia. Ngga ada yang peduli dengan makin mudanya usia perokok di Indonesia atau dampak negatif rokok bagi ekonomi rakyat kecil. Jadi, sepertinya sih memang masih akan lama bangsa ini dipecundangi rokok.

papabonbon said
coba google di internet. antara rokok kretek dgn rokok putih kan aturan cukainya beda, nah hasil penelitian justru menyebutkan ada sebagian cukai rokok yg justru merugikan negara karena mengurangi potensi pajak, dan juga biayanya justru digeser oleh produsen ke petani tembakau dan cengkeh.
Dini said
tuhan Sembilan Senti (oleh Taufik Ismail)
August 8, 2007
“Salah satu puisi favoritku. Hmm, untuk para perokok, coba baca ini”
————————————
tuhan Sembilan Senti (oleh Taufik Ismail)
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.
Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok.
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok.
Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antarpulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok.
Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok.
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.
Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok.
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok, bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok.
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena,
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok.
Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok.
Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok, di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok.
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya.
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i. Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.
Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan.
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk.
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba.
Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya.
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.
Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
Dini said
Itu tadi yang diatas yang mengutip saya : Herwari P.
wikan said
Kalau di Jerman, sepakbola/olahraga disponsori oleh minuman keras.
Well, minuman keras gak haram di sana.
lulu said
abis mau gimana lagi, industri rokok pan emang termasuk yang dianakemaskan karena lumayan banyak menyerap tenaga kerja. kayanya itu salah satu faktor yang bikin pemerentah kaga bisa bikin aturan tegas perihal rokok–halah..kok ya gw sok tau sangat giniT_T.
doddy said
ga ada rokok ga ada liga indonesia
ga ada rokok ga ada delegasi olimpiade indonesia ke internasional (tau kan ?)
Saat ini indonesia bisa “berkembang” karena rokok
tapi apa kita mau Indonesia maju ke pentas internasional karena batangan 9 cm itu?
malu…
coba lihat Kostum sepak bola tim inggris atau itali.
apa ada pabrikan rokok?
mereka keren-keren sponsornya..produk olah raga, otomotif dsb..
coba lihat LIGINA….you know what lah….hehehehe
Elena said
yach…. g apa2 se klo rokok jd sponsor di pertandingan olahraga..
lha wong, orang – orang ttep pda ngerokok wlaupun rokok g jd sponsor
di pertandingan olahraga….
lgean klo bkn rokok, cp lge….