Stuck in Reverse
Posted by aresto on February 27, 2008
Ada banyak alasan mengapa orang memilih untuk resign. Mulai dari bos brengsek sampai tidak suka kopi. Gejala di permukaannya bisa beragam,tapi biasanya sih kalau dirunut-runut keputusan resign muncul karena perasaan tidak bahagia. Dan karena menurut gue bahagia tidak bisa dibeli, pilihan yang diambil adalah menjauhkan diri dari sumber tidak bahagia. Ini berarti resign kalau bicara kerjaan.
Ketika membicarakan bahagia-tidak bahagia ini seorang rekan bertanya, “Kalo loe gimana to, apa kira2 yang bakal jadi sumber tidak bahagiamu di kerjaan ?”
Hmm memikirkan jawaban pertanyaan itu gue jadi teringat lagu “Fix You” punya Coldplay. Di lagu itu ada frase “stuck in reverse”, yang terdiri dari dua kata: stuck dan reverse, keduanya memiliki arti negatif. Tepat sekali menggambarkan kondisi kemunduran yang konsisten. Seperti terikat di sebuah kereta luncur yang bergerak ke dasar lintasan spiral, setiap putaran membawa loe semakin ke bawah.
Dalam karir, gue pikir kondisi “stuck in reverse” terjadi ketika loe terjebak dalam posisi yang hanya mengekspos loe ke task yang begitu2 saja. Semua bisa ditebak, loe sudah paham setiap sela, dan perbedaan antara tiap hari kerja hanyalah pada dasi yang loe pakai. Ketika tantangan menghilang, ketika itulah perlahan loe semakin tumpul. Kemudian BAAAMMM !!! tiba2 loe sudah obsolete.
Sekarang, seperti biasa gue dengan sotoynya akan berbagi beberapa tips untuk mencegah itu terjadi pada loe.
Punya target. Kuncinya adalah jangan cepat merasa puas diri. Kita ngga pernah tahu batas potensi kita, dan gue ngerasa satu2nya cara adalah untuk tahu batas itu ya maksa diri ngadepin tantangan2 baru. Dan ngomong2 target usahakan untuk berpikir lateral, kalau emang di kerjaan mentok toh dunia masih menyediakan begitu banyak pilihan untuk dilakoni. Jadi juara sudoku kek, jagoan parkour, juragan bakmi, atau suami teladan PKK. Intinya adalah menetapkan tujuan untuk bisa melihat how far you can come.
Jangan berhenti belajar. Ini nerusin poin yang pertama, dan gue gak perlu ngulang disini hadits Nabi yang ngeharusin kita belajar sepanjang hayat. Kalo loe bekerja di perusahaan yang punya personal development program bagus buat karyawannya, loe beruntung karena tinggal mengikuti path yang telah tersedia. Perhatikan baik-baik asumsi knowledge dan skill yang harus dimiliki di tiap jenjang karir, kemudian jadikan itu untuk mengukur capaian kita. Untuk yang bekerja di perusahaan yang tidak memiliki kurikulum khusus (atau berwirausaha), jangan kemudian lengah. Pokoknya berusaha terus untuk jadi subject matter expert di bidang loe.
Show it off. Gimana Musashi bisa tahu dia sudah mencapai kesempurnaan jalan pedang sebelum dia berduel dengan klan Yoshioka atau Kojiro ? That’s right people, you have to go out there, take heads and make name. Loe harus lebih artikulatif dalam mengungkapkan kalao loe butuh dan bisa ngadepin tantangan baru di kerjaan. Pergunakan sebaik mungkin kesempatan untuk menunjukkan diri.
Semoga berguna. Jangan lupa untuk keep going forward.

Koko said
yang gara-gara enggak suka kopi tuh memang kejadian sebenarnya?
Sebenarnya yang perlu diinget juga sih bahwa kalau memang diperlukan berhenti untuk karier biar berkembang yah why not..
istilah quitter never wins tuh enggak sepenuhnya benar..winner quits in the right time
aresto said
Tul banget bro,
Kalo emang semua cara gak berhasil, resign justru langkah yang tepat.
Kadang it’s not about how you play the game, but the field you are playing in….
datums said
stuck in reverse… nice post…
bener2 a kick in my head…
amir karimuddin said
Jadi ada keinginan To?
edratna said
Perasaan seperti ini biasa di dunia kerja, pilihannya cari kerjaan baru atau membuat diri kita bahagia…..karena bahagia tak bisa diminta tapi harus dibuat.
Apa yang membuat kita bahagia? Masing-masing orang punya standar beda. Kalau saya bahagia tak diukur dari gaji, tapi apresiasi dari atasan, sekeliling, dan adanya kebebasan. Pada saat pekerjaan begitu menekan, cari jalan keluarnya…dulu saat saya memimpin Divisi restrukturisasi (Divisi berat pas saat krismon), sekaligus saya memulai kuliah lagi S2, akibatnya stres pada pekerjaan bisa dialihkan ke stres untuk belajar (kuliah sambil tetap kerja). Hasilnya? Ternyata sangat bagus untuk mengurangi stres….dan saat selesai kuliah, situasi krisis telah dapat dikendalikan…tapi hasilnya, sempat mendekam di RS gara-gara kelelahan, karena selama 2 tahun hanya tidur 3-4 jam tiap hari, dan hari libur untuk buat tugas.
aresto said
Kalo kata orang psikologi, salah satu kebutuhan manusia itu flow. Perasaan ketika ngeliat kesulitan, terus secara otomatis mind-bodynya nyetel untuk ngadepin kesulitan itu. Alami menggunakan seluruh sumber daya untuk bisa menang dari masalah.