Pagi ini rasa mual setelah menonton acara 100 Tahun Kebangkitan Nasional baru terobati ketika membaca Koran Tempo. Mohon maaf, bukannya gue tidak menghargai keseriusan persiapan acara yang dikemas sedemikian extravagant, tapi justru kemegahan acara itu yang turned me off. Pernyataan “Indonesia Bisa” yang ingin ditampilkan dalam semarak dan gegap gempita justru lebih terasa seperti parade simbol miskin isi. Mungkin ada pembaca yang dapat menjelaskan kenapa sepertinya bangsa kita gemar sekali acara2 simbolik seperti itu, Safari Gong Integritas misalnya sebagai contoh lain. Pengaruh budaya feodalkah ?
Anyway, Koran Tempo hari ini dengan edisi khusus Kebangkitan Nasionalnya jauh lebih sukses memberi roh ke kalimat “Indonesia Bisa”. Menariknya ini dilakukan Koran Tempo bukan dengan memotret kondisi bangsa saat ini, potensi Indonesia, atau capaian pemerintah. Seakan ingin mengingatkan bahwa sejarah Kebangkitan Nasional sejatinya adalah cerita tentang inisiatif dan jiwa merdeka, Koran Tempo mengangkat geliat beberapa lembaga swadaya masyarakat.
Miskin dana, sepi dukungan, miskin popularitas, LSM2 ini biasanya diawali kegelisahan pendirinya melihat “ketidakberesan”. Sejalan dengan dr. Soetomo yang kemudian mendirikan Budi Utomo, para penggiat LSM itu tidak berhenti pada taraf gelisah. Mereka memilih untuk menghadapi sumber kegelisahan itu, dan mulai berbuat dengan sumber daya yang ada di tangan. Yang bisa kita lihat kemudian adalah kerja luar biasa dari LSM2 seperti KKS Melati, 1001buku, Sekolah Qaryah Thayyibah, atau West Java Corruption Watch.
Gue rasa itulah yang harusnya kita lakukan. Ketimbang larut dalam gembar-gembor Indonesia Bisa, lebih berguna kalau kita membuat semboyan itu lebih personal. Gue bisa nyekolahin anak pembantu sampe lulus SD, gue bisa ngajak anak2 remaja di RW latihan futsal supaya ninggalin rokok, gue bisa modalin usaha pertanian organik di lingkungan villa bokap, dan sekian banyak “gue bisa…” lainnya. Jangan menunggu, masa bodo, atau cuma bisa mengumpat, negeri ini butuh sebanyak2nya yang kita bisa.
My hands are small I know
But they’re not yours, they are my own
I am never broken
In the end only kindness matters~My Hands, Jewel
