
Malam Minggu, macet di Margonda. Bukan sesuatu yang spesial, batinku. Toh memang Margonda semakin hari bertambah macet, tidak ada alasan malam ini harus berbeda. Lebih baik kuteruskan kantukku.
Tapi, raungan sirene dan riuh klakson memaksaku untuk membuka mata. Kuperbaiki posisi dudukku sambil melihat keluar jendela. Tiga motor mendahului bus yang kutumpangi dan memotong kemacetan sela beberapa mobil di depan. Beberapa pemuda bersarung dan berpeci putih lekas menghentikan arus lalu lintas dengan kibaran bendera dan senter isyarat. Padat merayap melambat untuk kemudian berhenti total.
Tak lama, suara sirene mewujud dalam sosok dua moge voorider yang bermanuver membuka jalan. Sebuah sedan mewah berplat B 1 NM meluncur membelah kemacetan. Di belakang mobil itu turut puluhan mobil dan ratusan motor dengan penumpang berpenampilan seragam. Baju koko, sarung, dan peci atau surban yang menggantikan
helm. Banyak di antara mereka mengibar2kan bendera yang sama, lafal Rasulullah dalam tulisan Arab kutangkap di kelebatnya.
Inikah saat yang tepat untuk merasa bangga? Momen kemenangan yang nyata ? Ketika simbol2 Islam begitu digdaya ditinggikan? Lalu kenapa perasaan yang spontan muncul dalam benakku justru umpat dan despise?
Ketika turun dari bus, aku disambut sebuah baliho raksasa. Tiga sosok habib muda tampak di situ. Sambil bergegas ke pangkalan ojek, pikiranku terus bertanya. Khalid yang begitu perkasa dibebastugaskan ketika Umar mendengar betapa pasukannya begitu memujanya. Soli deo gloria, bukankah untuk Allah saja semua elu ?
