Hidup di Tengah Para Psikopat
Posted by aresto on August 4, 2008
Salah satu hobi aneh gue adalah membaca biografi para serial killer dunia. Sejarah mencatat banyak sekali monster berdarah dingin yang kesadisannya membuat kita merinding. Ryan van Jombang akan terlihat cupu bila dibandingkan dengan nama-nama seperti Bundy, Gein, atau Gacy.
Kalau diperhatikan memang ada kemiripan mendasar antara mereka yang mendapat label psikopat. Sebagai individu mereka gagal dalam merasakan perasaan pada orang lain dalam hubungan dengan perbuatan mereka. Salah satu fiksi populer yang secara pas menggambarkan kepribadian seorang psikopat adalah serial Dexter. Kita dapat melihat bagaimana tokoh utama Dexter yang psikopat, sejak muda dididik ayahnya untuk dapat memainkan akting emosi-emosi dasar seperti sedih, gembira, marah, atau cinta sekadar agar Dexter tidak seperti alien di masyarakat manusia.
Masalahnya, jika kegagalan dalam merasakan empati pada perasaan orang lain menjadi ukuran, maka boleh jadi kita hidup di tengah masyarakat psikopat. Kejadian yang gue alami semalam misalnya. Dalam perjalanan di tol antara Jakarta Bandung, sebuah sedan tiba2 memotong jalan shuttle yang gue naiki dengan manuver yang sangat agresif. Tidak cukup sampai di situ, di depan shuttle gue mobil itu mengerem mendadak sambil membanting setir ke kanan. Sekali, dua kali sebelum kemudian tancap gas. Mungkin saja sebelumnya terprovokasi oleh tindakan supir shuttle gue, tapi aksi gagah2an tanpa memikirkan risiko keselamatan 10 orang penumpang shuttle menurut gue sih sudah tergolong aksi psiko.
Nah, cukup dijawab sendiri kan masuk golongan mana orang2 yang dengan entengnya menilep duit BOS, pembangunan Islamic Center, atau beras miskin ?
Lebih gawatnya lagi adalah penyakit psikopat ini menular. Yup, menurut gue salah satu teori good guys gone bad adalah karena semakin hari berbuat baik semakin makan hati. Bagaimana mau berprilaku sebagai manusia normal kalau sehari-hari tidak diperlakukan manusiawi? Perlahan ikut2an jadi psikopat jadi pilihan logis ketimbang keblangsak jadi korban.
Tapi, masa sih kesimpulannya kita harus ikut2an sadis ? Tentu tidak. Gue punya dua tips agar tidak ketularan jadi psiko. Pertama, usahakan untuk memiliki dan berpegang pada sebuah set of value. Sumbernya bisa dari mana saja dan tidak usah terlalu muluk, yang jelas harus dapat membantu kita membuat demarkasi yang tegas antara tindakan2 yang dapat kita lakukan dan tindakan yang menurut kita hanya layak dilakukan oleh monster tak berperasaan. Kedua, tanpa pernah bosan gue sarankan untuk berlatih memahami perasaan orang lain. Ketimbang menyibukkan pikiran sebatas kerjaan, sepatu Pedro dan dada Cynthiara Alona, coba untuk mulai belajar ikut merasakan perasaan orang lain.
Kalau kita bisa konsisten dengan 2 tips itu mudah2an kita ngga ketularan jadi psiko sekaligus mencegah semakin banyak orang ketularan jadi psiko.

Dewi said
Sepatu Pedro dan dada Cynthiara Alona ?
Hehe..
aresto said
jangan sampe berpikir construct tulisannya dimulai dari dua noun itu ya…hehhehe
yok said
OOT sedikit, setelah diperiksa tim dokter ryan van jombang diduga tidak mengidap kelainan jiwa…sori nda ngasih link sumber, saya tidak ingat…coba baca kompas terbitan kapan :p
mat said
Wah, To, dada Cynthiara Alona?
Ga fair dong kl cuma liat dia dari sisi kelebihan dadanya.
She’s got some fine *ss too you know. Huhehehhe.
Btw, pendapat “Pertama, usahakan untuk memiliki dan berpegang pada sebuah set of value.” agak riskan tuh, To.
Kl set of valuenya sama kaya Imam Samudra?
Cengkunek said
saya udah terlanjur ketularan
udah lama..
ungkapan goog guys gone bad memang fakta
aresto said
Wah, gue harus hati2 dong kl ketemu Mas Cengkunek