aresto in-depth

my words,my opinions

Archive for September, 2008

If…

Posted by aresto on September 29, 2008


If you can meet with Triumph and Disaster
And treat those two imposters just the same;

Sepotong baris puisi dari Kipling. Ramadhan ini mengajarkan seakrab apapun hidup kita dengan kemenangan-bencana, kesuksesan-kegagalan, kemudahan-kesulitan…toh menghadapi keduanya tak pernah jadi sesuatu yang mudah.

Posted in Seeking Paradise | 2 Comments »

Cerita Alas Kaki

Posted by aresto on September 17, 2008

Ada foto menarik di Kompas hari ini*). Obyeknya sederhana saja, rak sepatu istana yang disediakan untuk para pejabat negara yang menghadiri buka bersama rutin dengan SBY. Foto sederhana yang bisa bercerita banyak ketika kita lihat cerita di belakang foto tersebut.

Foto yang sedang kita bicarakan menampilkan perbandingan antara foto yang diambil pada acara buka bareng kemarin sore dengan foto rak sepatu pada acara yang sama minggu lalu. Perbedaan yang mencolok adalah di gambar yang lebih baru seluruh sepatu di rak terbungkus rapi dengan plastik putih. Lho kenapa kok pakai dibungkus2 segala ?

Jawabannya jadi jelas kalau kita sempat membaca Kompas minggu lalu (13/9). Di situ ada artikel singkat berjudul Melongok Alas Kaki Para Pejabat. Bahasannya sih remeh, si wartawan dengan iseng menuliskan laporan pandangan matanya atas sepatu-sepatu pejabat dan keluarganya yang dititipkan di rak sepatu istana. Maka meluncurlah cerita tentang Bally, Ferragamo, Tods, Vincci, dan Lulu.

Ternyata artikel yang sepintas remeh itu membuat tidak nyaman beberapa orang. Buktinya, seminggu kemudian sepatu2 itu sudah dibungkus untuk mencegah wartawan iseng ngelongok2. Mungkin takut melukai hati rakyat yang sedang tersentuh insiden Pasuruan? Ah lagi2 melarikan masalah ke urusan bungkus, padahal bungkus kan tidak mengubah isi.

*)Nuwun sewu, susah sekali mencari foto ini. Ada yang bisa bantu ?

Posted in Ya Basta ! | 1 Comment »

Kapan Ya Kita Bisa Punya Obama ?

Posted by aresto on September 2, 2008

Membaca bagaimana puja puji dilontarkan berbagai media tentang acceptance speech Obama di depan Konvensi Partai Demokrat, gue jadi penasaran dengan isi utuh pidato itu.

Di tengah banyaknya president wannabe yang terinspirasi Obama, gue tertarik untuk mengenal yang orisinil. Dan memang setelah membaca pidato Obama tersebut, terang benar apa yang membedakan kualitas seorang Obama dengan para president wannabekita. Sungguh amat disayangkan, yang digembar-gemborkan dan dimirip2kan oleh para president wannabe kita sebatas citra muda, fresh, dan eksis di YouTube n Facebook. Coba kita lihat apa yang dimiliki Obama.

Berjuang untuk nilai dan identitas bangsa. Obama memberi judul pidatonya The American Promise. Selain karena berisi janji kampanye, Obama juga merelasikan pidatonya dengan kegalauannya melihat realitas kekinian semakin jauh dari nilai yang menjadi identitas bangsa Amerika,…. that through hard work and sacrifice, each of us can pursue our individual dreams but still come together as one American family, to ensure that the next generation can pursue their dreams as well. Apa yang mengikat kita sebagai bangsa? Nilai apa yang membedakan Indonesia dan bangsa lain? Rasanya kok belum ada capres yang mengungkapkannya dalam kalimat sederhana yang dapat menjadi titik tolak sekaligus tujuan kepemimpinannya

Paham masalah rakyat.Dalam pidatonya Obama dengan terampil mengangkat masalah-masalah yang dihadapi rakyat Amerika. Walaupun contoh-contohnya sangat personal seperti …a woman in Ohio, on the brink of retirement, finds herself one illness away from disaster after a lifetime of hard work, tapi mewakili kekhawatiran yang saat ini dirasakan banyak orang Amerika. Obama mengerti masalah-masalah rakyatnya karena memang maju untuk menjadi solusi.

Saya dan dia beda. Mungkin karena iklim politik di Amerika hanya didominasi dua parpol, maka pidato Obama terasa sangat agresif. Tapi, yang paling penting menurut gue adalah Obama sukses menunjukkan perbedaan antara dirinya dan rivalnya. Seringkali justru ini yang tidak ditemui di Indonesia, debat pilkada boleh saja menghadirkan tujuh pasang calon, tapi menjemukan karena ketika dihadapkan kepada suatu isu tidak jelas benar perbedaan posisi masing2. Semua justru memilih untuk bersikap hati2, diplomatis, dan menebar smoke screen. Padahal, perbedaan itulah yang jadi salah satu pertimbangan rakyat untuk memilih. Kalau tidak ada bedanya, kenapa saya harus memilih A dan bukan B, atau C ?

Saya sudah berbuat sejak dulu.Tanpa gembar-gembor Hidup adalah Perbuatan pun semua calon pemilih Amerika tahu track record Obama. Kepemimpinan tidak pernah lahir dari ruang hampa, tapi harus sudah pernah menunjukkan kualitasnya dalam berbagai ujian. Obama yang hari itu dielu2kan puluhan ribu orang adalah Obama yang sukses sebagai community organizer, presiden Harvard Law Review, pengacara hak sipil, dan senator yang cemerlang. Obama earned his position in history.

Berjanji dengan angka Lihat bagaimana Obama berjanji tentang pemotongan pajak, mengurangi pengaruh lobbyist, mengakhiri ketergantungan pada minyak TimTeng, efisiensi anggaran, investasi di bidang energi terbarukan, pendidikan, dan health plan. Semua janjinya dilengkapi dengan parameter angka capaian atau kerangka waktu. Berani berjanji dengan angka berarti akuntabilitas.

Merangkul untuk tujuan bersama. Berbeda bukan berarti tak mungkin bekerja sama, apalagi kalau nasib bangsa yang jadi taruhan. So I’ve got news for you, John McCain. We all put our country first…..This too is part of America’s promise – the promise of a democracy where we can find the strength and grace to bridge divides and unite in common effort.

Ada yang bilang pemimpin adalah produk masyarakatnya. Pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini pada akhirnya kita2 juga yang dapat menjawabnya. Sebagai masyarakat kita punya tanggung jawab dengan memastikan suara kita mengangkat pemimpin yang benar dan menjatuhkan pemimpin brengsek. Selain itu, sudah saatnya kita mampu membesarkan potensi-potensi kepemimpinan di sekitar kita. Pemimpin-pemimpin yang hidup di tengah keseharian kita, dan selama ini sudah berbuat banyak tanpa dibuat-buat. Mereka yang militan dalam aksi yang terbatas, yang lebih peduli hasil ketimbang citra, yang tak perlu mengatrol nilai diri dengan prestasi orang lain. Pada merekalah harusnya kepemimpinan kita amanahkan.

Posted in Ya Basta ! | 10 Comments »