aresto in-depth

my words,my opinions

Archive for November, 2008

Mendengar Muslim Bicara

Posted by aresto on November 3, 2008

Dunia setelah 11 September adalah dunia yang tak lagi sama bagi semua Muslim. Rentetan kejadian setelahnya membuat kabur siapa sebenarnya yang menjadi sasaran tembak. Teroriskah atau Muslimkah ?. Sementara berbagai wacana di media arus utama semakin menempatkan Islam sebagai pesakitan dan terdengar seperti musik latar yang menjadi pembuka sebuah episode konflik tak terdamaikan. Riuhnya membuat banyak orang lupa bertanya, benarkah Islam yang dianut sekitar 1,3 milyar penduduk dunia adalah sumber kekerasan yang tidak kompatibel lagi dengan peradaban ?

Keingintahuan akan jawaban atas pertanyaan itu mendorong Gallup bertanya lewat sebuah proyek riset raksasa. Dan siapa lagi yang lebih tepat untuk menjawab pertanyaan itu selain umat Islam sendiri. Antara 2001 sampai 2007, Gallup melakukan puluhan ribu wawancara, tatap muka 1 jam, terhadap warga yang tinggal di lebih dari 35 negara berpenduduk mayoritas Muslim atau memiliki populasi Muslim yang cukup besar. Dirancang untuk mencakup semua sampel keragaman umat Muslim, metode sampling acak Gallup secara statistik memiliki margin kesalahan +/- 3 poin. Survei ini sukses menjadi survei terbesar dan paling komprehensif yang menangkap suara Muslim kontemporer.

Analisis terhadap data yang berhasil dikumpulkan survei itulah yang kemudian dipaparkan dalam buku Saatnya Muslim Bicara! terbitan Mizan ini. Tak sembarangan, prosesnya dipimpin oleh John L. Esposito, seorang pakar terkemuka dalam kajian Islam dan didampingi oleh Dalia Mogahed, Direktur Eksekutif Gallup Center untuk Kajian Muslim. Hasilnya adalah sebuah paparan yang menimbulkan berbagai Aha! ketika dibaca.

Siapakah Kaum Muslim ? Buku ini berangkat dari pertanyaan tersebut karena survei Gallup yang lain menunjukkan bahwa 57% keluarga Amerika menjawab “tidak tahu” atau “tidak ada” ketika ditanya apa yang paling mereka sukai dari Islam. Dari sini kemudian dijelaskan bahwa Islam yang asing itu dianut oleh 1,3 miliar umat yang tersebar di seluruh dunia dengan berbagai realitas keragaman. Tidak monolitiknya Islam inilah yang sering tidak dipahami oleh orang di luarnya. Tak heran apabila kemudian muncul anggapan gegabah Islam=Arab sementara faktanya hanya 20% umat Islam yang berbangsa Arab. Tapi, survei Gallup juga lalu menjelaskan bahwa dengan segala keragamannya keimanan dan keluarga menjadi nilai inti dalam kehidupan Muslim, dan dianggap aset masyarakat yang terpenting.

Demokrasi atau Teokrasi?Ekspor demokrasi sering dijadikan alasan Amerika dalam melancarkan invasinya ke Irak dan Afghanistan. Begitu antikah umat Islam pada Demokrasi? Hasil survei Gallup justru menunjukkan kesimpulan yang rumit. Kendati demokrasi jarang ditemukan di negara Muslim, sebagian besar umat Islam memandang prinsip-prinsip demokrasi dengan sangat positif. Di sisi lain, survei juga menunjukkan bahwa (ini menarik) sebagian besar umat Muslim ternyata mendukung syariat sebagai sumber hukum, tapi sebagian besar juga tidak menginginkan pemuka agama secara langsung berperan dalam membuat undang-undang. Kedua pendapat mayoritas ini dapat disimpulkan oleh hasil survei ketiga, bahwa secara keseluruhan kaum Muslim menginginkan sebuah model ketiga dimana prinsip Islam menjadi ruh dari sebuah kerangka demokrasi.

Islam=Radikal? Dalam analisa survei ini, Gallup mencoba memisahkan “kaum radikal politik” dari kaum moderat dengan mengajukan pertanyaan apakah serangan 11 September sepenuhnya dibenarkan dan menganggap AS sebagai musuh. Hasilnya ternyata hanya 7% dari responden yang kemudian masuk kategori radikal. Lebih jauh lagi, data survei menunjukkan kalau secara berturut2 kaum radikal lebih berpendidikan (67% SMP ke atas vs 52% kaum moderat), lebih baik ekonominya (65% menyatakan berpenghasilan di atas rata2 vs 55%), tak berbeda dalam soal menganggur (sama2 20% tingkat pengangguran), dan tidak berarti lebih religius (94% radikal dan 90% moderat menganggap Islam adalah bagian penting dari kehidupan sehari2). Yang berbeda secara signifikan adalah dalam survei kaum radikal menunjukkan ketakutan terbesar tentang masa depan negara mereka adalah intervensi negara lain dalam bentuk kolonialisme baru sementara kaum moderat lebih khawatir tentang kondisi ekonomi negaranya. Hasil survei ini menunjukkan bahwa mendiagnosis terorisme sebagai gejala dan Islam sebagai masalah ternyata sangat cacat logika. Diagnosis sedemikian justru dapat menguatkan keyakinan kaum radikal dan mengundang persepsi negatif lebih besar dari yang moderat. Radikalisme tak pernah bersumber dari agama, tapi justru lebih merupakan reaksi terhadap sepak terjang Barat.

Apa yang diinginkan perempuan Muslim? Di Barat kaum Muslimah sering digambarkan sebagai korban dari sebuah agama paternalistik yang menindas. Pembebasan Muslimah adalah salah satu argumen yang didengungkan saat invasi ke Irak dan Afghan. Lagi2 simplifikasi bahwa Islam menjadi biang keladi dibuktikan salah oleh data. Seperti disinggung di poin satu, mayoritas Muslimah melihat agama sebagai bagian penting dari kehidupan mereka termasuk hak2 Muslimah yang diatur dalam Islam. Selanjutnya, survei menunjukkan tidak lakunya ide pengadopsian nilai2 Barat sebagai solusi. Sebagian besar Muslimah menyukai aspek2 tertentu dari Barat, tapi mereka ingin mengadopsi nilai2 tersebut dalam konteks kultural mereka sendiri. Lalu apa masalah terbesar yang menjadi concern Muslimah? Survei menunjukkan bahwa kebutuhan mereka yang paling penting bukan kesetaraan gender tapi serupa dengan keluhan kaum prianya:kurangnya persatuan, korupsi politik dan ekonomi, serta ekstremisme.

Kelebihan buku “Saatnya Muslim Bicara!” adalah keseriusannya dalam membiarkan data memimpin wacana. Kearifan melihat data ini seharusnya menjadi penegas bahwa konflik yang terus berlangsung antara Barat dan Dunia Islam bukankah sesuatu yang tak terelakkan. Konflik lebih disebabkan oleh kebijakan politik yang tidak tepat, bukan pertikaian prinsip. Respek terhadap identitas Muslim dan perjalanan Muslim untuk menentukan nasib sendiri melalui pemilihan yang demokratis harusnya menjadi kunci dalam merebut hati mayoritas Muslim yang moderat. Saat itu dilakukan Barat, barulah mungkin suatu perubahan akan terjadi pada wajah dunia

~Whats so funny bout peace love & understanding?-Elvis Costello

Posted in Just Read It, Seeking Paradise | 3 Comments »