aresto in-depth

my words,my opinions

Nasihat Tahun Baru

Posted by aresto on January 6, 2009

Basi banget sih nih Aresto, udah lewat berapa hari baru ngomongin tahun baru. Mane blog-nye kaga di-update2.

Eniwei, seminggu sebelum tahun baru,gue sempet ikutan acara silahturahmi tahunan alumni PPSDMS. Di acara itu ada hadits luar biasa yang diangkat Ust. Abu Ridho dalam tausiyahnya. Sekarang gue ingin berbagi hadits itu sebagai renungan dalam mengawali tahun ini

Rasulullah saw bersabda kepada Abu Dzar al-Gifari: “Ya Abu Dzar perbaharuilah bahteramu, karena lautan begitu dalam, ambilah bekal yang cukup karena perjalanan sangat panjang, ringankanlah beban karena hambatan sangat berat, dan ikhlaskanlan amal karena pemeriksa sangat cermat.

Gue serahkan penghayatan hadits itu ke masing2 pembaca. Buat gue pribadi, pengaruhnya sangat luar biasa

7 Responses to “Nasihat Tahun Baru”

  1. Koko said

    selamat tahun baru yah…

    Koko
    lplpx.com

  2. Stranger said

    Dear Aresto,

    Di JIL (Jaringan Islam Liberal) ada pembahasan yang disebut dengan Hadits Kontemporer. Pada dasarnya adalah pembahasan hadits berdasarkan penafsiran masing-masing, berdasarkan akal masing-masing. Apa yang terjadi? Mereka (JIL) telah mengusulkan beberapa hadits berdasarkan proyeksi matan (isi) adalah tidak benar! Tidak menjadi so’al jika hadits yang dibahas memang dho’if atau maudu’ tetapi yang mereka (JIL) bahas adalah hadits shohih.

    Sungguh ‘Ali bin Abi Tholib Rodiyallahu ‘anhu pernah berkata “Sekiranya urusan ini (agama ini) adalah berdasar aql, maka tidaklah khuf (sarung kaki dari kulit tipis)itu diusap atasnya (maksudnya harusnya bawahnya karena pasti lebih kotor dari yang atas).

    Ya akhi, maka ambilah ‘ilmu dari sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Kita tidak perlu susah-susah berpikir sebagaimana terjebaknya kaum Kalam (seperti Al-Ghozali)yang akhir hayatnya penuh penyesalan karena ternyata ilmu kalam tidak membimbing kepada kebenaran, bahkan dia berkata bahwa metode mengimani lafadz adalah jalan tercepat menemui kebenaran agama ini.

    Maka sabda Nabi sholallahu ‘alaihi wa salam, antum a’lamu bi dunya (kamu sekalian lebih tahu tentang dunia daripada Aku) di situlah tempatnya Aql. Di situlah tempatnya logika. Di situlah ilmu dunia.

    Wa antum bi khoir ya akhi.

  3. Aresto said

    Loe mau ngomong apa sih ?Gue gak mudeng.

    Loe gak setuju dengan ajakan gue ke pembaca untuk melakukan penghayatan hadits di atas ke diri masing2 ?

    Gue ngomongnya penghayatan lho bukan penafsiran, n baca lagi haditsnya, ini kan hadits yang memang butuh penghayatan agar hati nurani kita tersentuh, kemudian dari penghayatan itu masing-masing kita bebas mem-follow upnya dengan amal yang pas.

    Gue misalnya, denger hadits itu bisa aja menghayati dengan : tingkatkan kapasitas dan kapabilitas diri, lengkapi diri dengan skill dan kompetensi yang tepat dengan tidak berhenti belajar, eliminasi semua distraksi dan hal-hal yang tidak penting, terus ikhlas ikhlas ikhlas dalam berkontribusi.

    Sekarang penghayatan loe apa ?

  4. stranger said

    Dear Aresto,

    Alangkah indahnya seorang muslim ketika ia mendengar suatu hadits atau suatu ayat Allah, lalu orang muslim tersebut langsung merasa bahwa hadits tersebut atau ayat tersebut adalah untuk dia. Dan kita ketahui bahwa Hadits adalah keterangan dari Ayat Allah atau Ayat Allah sendiri melalui Rasulnya Sholawatu ‘alaihi wa Salam.

    Dan demikianlah yang terjadi pada generasi terbaik umat Islam, generasi sahabat, “khoiro qurn quruni” kata Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salam dalam hadits shohih –> Sebaik-baik jaman (atau ditafsirkan generasi) adalah jaman yang bersamaku atau generasi yang bersama aku.

    Namun ketika antum bertanya mengenai pemahaman ana tentang hadits tersebut, maka percayalah apa yang ana lakukan pertama kali adalah mencari tahu dulu, darimana asal hadits tersebut. Meski antum mendapatkannya dari Ustadz, namun tidaklah kita boleh bertaqlid kepada ustadz tersebut. Kita dibolehkan taqlid hanya kepada ‘ulama yang i’tibar. ‘Ulama yang sudah jelas manhaj, ilmu dan aqidahnya. Meski antum tsiqoh kepada ustadz antum, apakah tidak lebih baik bagi antum untuk mencari tahu asal hadits tersebut lebih dahulu.

    Antum berkata bahwa menghayati hadits tersebut dengan amal sekapasitas diri antum. Ketahuilah wahai akhi, jikalah amal itu adalah ‘ibadah (penghambaan kepada Allah atau mengharapkan balasan dari Allah) maka wajib hukumnya antum mencari tahu dalil dari amal yang antum kerjakan. Sekiranya hadits itu shohih maka bersyukurlah antum. Jika sekiranya hadits tersebut dho’if maka hindarilah, sebelum antum terperosok ke dalam membuat urusan yang baru dalam ad-diin.

    Demikianlah wahai akhi, yang bisa ana sampaikan. Carilah ‘ilmu, mumpung antum masih dalam bi’ah (lingkungan) yang terjaga. Ana mengenal Ustadz Musholli, Ana mengenal Ustadz Suryama dan ana tahu manhaj mereka. Salam kenal untuk antum dan sampaikan salam saya kepada Ustadz Musholli saat antum ada waktu.

    Assalamu ‘alaikum wr. wb.,

  5. Aresto said

    Oh jadi itu masalahnya….bilang dong dari awal biar jelas daripada muter2 bikin bingung orang.

    Wahai orang yang dengan identitas dirinya sendiri saja masih malu, gue mungkin akan mendengarkan bla bla loe kalau kita sedang membicarakan hadits tentang ibadah. Misalnya tiba2 gue denger di kajian, ada ustadz ngomong hadits ttg syarat orang disebut mukim atau musafir shg bisa men jama’ sholatnya. Terus si ustad bilang oh kl kita dinas keluar kota tiga hari, kita tetap dianggap musafir shg walaupun nginep di hotel ya dipersilakan aja sholatnya jama’ terus. Nah, udah pasti gue akan bertanya2 n terus cari lebih jauh bener gak tuh begitu, kalau sampai salah kan gawat nanti jatohnya ngegampang2in ibadah.

    Tapi kita kan gak lagi ngomongin masalah itu. Kalaupun emang tuh hadits gak sahih apakah memang sama sekali gak ada kebenaran di kata2 itu ? Apa kalo kita ngerenungin kata2 itu terus ngejadiin itu untuk memperbaiki diri kita apa kita jadi dosa ?

    Gue rasa sih loe harus ngaca dulu kl mau ngomong soal taqlid. Siapa yg lebih dangkal dan mengecilkan potensi free will serta kemampuan otak dan hati kita dalam menerima kebenaran.

    N gak usah sok kenal deh, seakan menutup dengan salam kepada salah satu ustadz yang gue dengarkan membuat kabur fakta bahwa di pesan yang sama loe menyebut ustadz yang lain tidak jelas manhaj, ilmu, dan aqidahnya.

    Orang-orang macam loe yang membuat umat Islam terbelah-belah karena berebut klaim kebenaran, sambil membiarkan negara kafir menggunakan tanah-tanah Islam sebagai pangkalan angkatan perang.

  6. stranger said

    Assalamu ‘alaikum,

    Mudah-mudahan antum dalam lindungan Allah. Perpecahan umat Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salam, sudah menjadi dalil qowli seperti yang disering kita dengar dalam hadits “umatku terpecah menjadi 73 golongan, 1 selamat, lainnya di neraka”. Dalil Qowli terjadi atau tidak terjadi adalah terserah Allah. Jika Allah berkehendak terjadi maka itu terjadi, jika Allah berkehendak tidak jadi maka itu tidak terjadi.

    Memahami agama dengan akal adalah seperti perkataan shohabat ‘Ali bin Abi Tholib yang sudah sampaikan di atas. Kaum yang mengutamakan aql dalam beragama ini disebut kaum mu’tazilah contoh sekarang adalah para JIL. Namun antum benar dala kemampuan hati dalam menerima kebenaran, itu yang namanya fithrah. Tetapi apakah antum pikir Abu Jahal tidak punya kemampuan itu, atau fithrah itu? Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salam adalah keponakannya, yang secara pertalian darah amat dekat, meski Abu Jahl punya fithrah tapi dia tidak bisa menerima kebenaran. Di situlah letaknya persoalan wahai saudaraku…

    Bagaimana cara agar hati kita selalu mampu menerima kebenaran. Yakni dengan ‘ilmu. ‘Ilmu yang dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil. Tetap hanif, ikhlash dan yang terpenting adalah tidak jumud. Nabi sholallahu ‘alaihi wa salam selalu berdo’a di pagi hari dengan “Allahumma inni as-aluka ‘ilman nafi’aan, wa rizqon thoyiban, wa ‘amalan mutaqobalan” (HR ibu Majah dengan sanad hasan)

    Senang berbincang dengan antum, semoga Allah membimbing hati antum dan hati saya untuk selalu dapat menerima kebenaran dengan mudah.

  7. Aresto said

    Bagus lah kalau situ menikmati, gue ngga soalnya. Susah ternyata ngomong sama orang yang cume ngedenger dirinya sendiri.

    Nih PR buat loe…

    Loe gak setuju dengan ajakan gue ke pembaca untuk melakukan penghayatan hadits di atas ke diri masing2 ?

    Sekarang penghayatan loe apa ?

    Kalaupun emang tuh hadits gak sahih apakah memang sama sekali gak ada kebenaran di kata2 itu ?

    Apa kalo kita ngerenungin kata2 itu terus ngejadiin itu untuk memperbaiki diri kita apa kita jadi dosa ?

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>