Setelah sudah lama ngga mengikuti TV series, belakangan ini gue lagi demen nonton dua serial yang seru, Lie to Me dan The Mentalist. Walaupun angle-nya sedikit berbeda, kedua serial tersebut punya jualan yang sama dengan menyajikan serunya detective work dengan kemampuan observasi terhadap bahasa tubuh dan microexpression.
Kemarin waktu gue ikutan acara Student Meets Practitioner (SMP) Ikastara yang temanya seputar karir, gue jadi ngeh dengan alasan kenapa gue berminat sekali dengan dua serial tersebut (selain karena seru tentunya). Alasan yang gue baru sadari itu yang ingin gue ceritakan.
Salah satu sesi di acara SMP itu adalah simulasi DISC assessment. Gue yakin sama seperti gue, loe juga pasti sudah pernah mengikuti tes ini sebagai bagian dari proses rekruitmen kerja. Yang bikin beda dari pengalaman kemarin adalah tidak seperti biasanya yang hanya jadi peserta, sesi itu dilanjutkan dengan pembahasan hasil DISC kita. Saat mendengarkan pembahasan itulah gue langsung berpikir “oh pantesan aja gue suka banget nonton tuh 2 serial.”
Menurut tes itu gue temasuk kepribadian DC/CD (lihat di sini jika tertarik pembahasan lengkap profiling dengan DISC). Beberapa ciri yang bisa diidentifikasi dari kepribadian tipe ini adalah ngga suka basa-basi, gagap dalam mengungkapkan atau memberi perhatian untuk hal-hal halus seperti perasaan, mengutamakan fakta dan data, serta kaku dalam hubungan interpersonal. Semua ciri yang harus gue nilai memang gue banget.
Kedua serial tersebut menampilkan porsi yang sangat besar tentang observasi terhadap ekpresi-ekspresi paling kecil yang ditampilkan manusia. Ekpresi-ekspresi yang remeh dan sering lolos dari pengamatan biasa ini justru yang dapat menunjukkan perasaan yang disembunyikan. Kedua serial itu juga walaupun fiksi, menampilkan kepekaan terhadap perasaan terdalam manusia itu sebagai sebentuk science, yang berdasarkan riset, logis, dan dapat dipelajari. Nah, ngerti kan kenapa gue sangat tertarik dengan kedua serial itu ? Kedua serial itu memberi secercah cahaya tentang hubungan interpersonal bagi gue yang bawaannya memang harus berusaha lebih di area itu
Alasan sama, yang membuat bagaimana dulu waktu SMP gue beberapa kali membaca ulang How to Win Friends and Influence People karangan Dale Carnegie.
Tentu saja, bagi gue cara paling susah-susah gampang untuk memahami orang lain dalam hubungan interpersonal adalah benar-benar mendengarkan. Sesuatu yang terus-menerus gue harus perbaiki dengan sabar sambil berharap mudah2an orang lain sama sabarnya dengan gue
