aresto in-depth

my words,my opinions

mPedigree : Contoh Sukses Inovasi dari “Pinggir”

Posted by aresto on November 14, 2010

Salah satu privelese yang gue rasakan selama di CMU adalah kesempatan untuk mengikuti kuliah tamu dari tokoh2 ternama di bidang IT atau public policy. Kali ini yang gue ingin tulis secara singkat adalah kuliah lewat Skype yang disampaikan Bright Simmons, pendiri mPedigree.

Bright Simmons berasal dari Ghana dan sudah lama berkecimpung sebagai aktivis berbagai lembaga kemanusiaan di sana. Salah satu masalah serius yang menjadi perhatiaannya adalah luas dan bebasnya peredaran obat palsu di pasar. Dibuat dengan kandungan dan melalui proses yang asal, obat palsu ini sangat sulit dibedakan dari yang asli karena bentuk dan kemasannya sangat berhasil meniru penampilan obat asli. Tentu saja ini menjadi masalah serius yang menyangkut hajat hidup orang banyak karena obat yang banyak dipalsukan biasanya adalah obat yang sangat penting dalam menangani permasalahan kesehatan di Afrika seperti obat malaria dan obat demam untuk anak2.

Setelah melakukan riset tentang peredaran obat palsu ini, Bright makin khawatir karena ternyata ini bukan hanya jadi masalah di Ghana, tapi juga terjadi dalam skala besar di negara-negara berkembang di seluruh dunia. Walaupun perusahaan farmasi dan pemerintah juga menyadari bahaya peredaran obat palsu ini, tapi usaha pencegahannya tidak efektif karena hanya berupa razia dan pemusnahan yang sangat tergantung pada inisiatif aparat pemerintah. Di negara-negara berkembang di mana korupsi merajalela, usaha pencegahan macam ini biasanya dilakukan lebih sebagai lip service dan tidak pernah membongkar jaringan obat palsu sampai ke akarnya.

Bright paham bahwa cara efektif untuk menyingkirkan obat palsu dari pasar harus melibatkan partisipasi konsumen, ini satu bagian. Bagian lain dari ide Bright muncul dari pengamatan dia atas sangat luasnya penggunaan ponsel di Ghana, yang bahkan sampai menembus ke pedesaaan. Setelah memikirkan dua bagian ini, Bright akhirnya sampai pada ide yang membawanya mendirikan mPedigree. Idenya sederhana, Bright ingin perusahaan manufaktur obat2an mencantumkan kode rahasia di kemasan obat. Kode kriptografis ini dicetak di kemasan dan dilindungi dengan segel scratch supaya tetap rahasia sampai tangan konsumen. Kemudian, konsumen dapat mengecek kode itu lewat SMS ke nomor bebas pulsa yang tersedia lewat kerjasama dengan operator. Sistem mPedigree akan melakukan verifikasi dan membalas dengan SMS yang berisi info tentang palsu/tidaknya obat lengkap juga dengan tanggal produksi dan kadaluwarsa.

Untuk memastikan idenya efektif, Bright kemudian dengan gigih melobi dukungan dari berbagai pihak seperti pemerintah, perusahaan farmasi, operator telco, dan jaringan distribusi obat. Dengan model ini, mPedigree berhasil menciptakan solusi win-win untuk semua pihak yang terlibat dan menciptakan proses alami yang mengusir obat palsu dari pasaran. Setelah sukses di Ghana, Bright giat berusaha menjalin kerjasama dengan berbagai LSM di negara berkembang lainnya untuk dapat menjalankan model mPedigree di negara-negara tersebut. Potensi luar biasa dari mPedigree untuk keselamatan hidup orang banyak, kesederhanaan teknologi, dan model bisnisnya yang akomodatif membuat mPedigree sukses mendapatkan hadiah USD500 ribu dari kompetisi Global Security Challenge.

Karena sudah lama tertarik dengan topik innovation from the edge dan technology appropriation, di akhir sesi gue bertanya ke Bright tentang bagaimana melembagakan proses kreatif seperti yang dialaminya lewat mPedigree sehingga bisa melahirkan pemanfaatan teknologi yang tepat guna untuk suatu masalah yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Jawaban Bright menurut gue sangat inspiratif sekaligus actionable. Menurut dia inti dari pola pikir dan pola tindak seorang social entrepreneur adalah: (1) Kepekaan akan masalah-masalah berdampak luas yang dihadapi secara riil oleh masyarakat. Bright biasa melatih dirinya dengan membuat list masalah sekaligus daftar 5-whys yg membawanya menemukan akar masalah tersebut, (2) Karena LSM tidak memiliki akses ke sumberdaya seperti perusahaan komersial, Bright membiasakan diri dan rekan2nya untuk brainstorm solusi suatu masalah dengan sumberdaya yang dapat diaksesnya. Seperti MacGyver yang menggunakan apa yang dapat dijangkaunya, Bright memaksa otaknya mencari solusi “tiada rotan akar pun jadi”. (3) Untuk mendukung ide brilian butuh model bisnis yang tak kalah briliannya. Bright berusaha mengidentifikasi semua stakeholders yang mungkin terkena dampak idenya, dan kemudian berusaha menghasilkan model bisnis yang memberi insentif kepada semua pihak yang terlibat sehingga mereka mendukung atau setidaknya tidak menghambat.

It just blew my mind. Thanks Bright, for your inspiration

Advertisement

4 Responses to “mPedigree : Contoh Sukses Inovasi dari “Pinggir””

  1. [...] inspiring! poin no. 1 bener2 actionable. boleh dicoba tuh Salah satu privelese yang gue rasakan selama di CMU adalah kesempatan untuk mengikuti kuliah tamu dari tokoh2 ternama di bidang IT atau public policy. Kali ini yang gue ingin tulis secara singkat adalah kuliah lewat Skype yang disampaikan Bright Simmons, pendiri mPedigree.Bright Simmons berasal dari Ghana dan sudah lama berkecimpung sebagai aktivis berbagai lembaga kemanusiaan di sana. Salah satu masalah serius yang menjadi perhatiaannya adalah l … Read More [...]

  2. heningsept said

    keren! saya reblog ya kak :D

  3. Aresto said

    Monggo, dik Hening

  4. yandhie said

    Cerdas sekali. Salut untuk Mr. Bright! Mestinya bisa diterapin di Indonesia juga ya, mas Aresto.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.