I Went Down Under! Part 6 – Moving On
Posted by aresto on December 17, 2010
Rasanya baru kemarin mengungkapkan sedikit kecemasan karena akan melanjutkan kuliah di CMU, sekarang gue sudah menyelesaikan S2 di CMU dan akan segera kembali ke Indonesia. Benar juga kalau ada yang bilang semua hal itu lebih terkesan menakutkan ketika belum dijalani dan seringkali kita yang underestimate kemampuan diri kita untuk menghadapi tantangan. Gue tak henti bersyukur bisa bilang setidaknya gue udah berusaha maksimal dan mendapat hasil sesuai usaha gue itu.
Satu hal yang pasti ini benar2 tahun luar biasa buat gue. Pertama jelas seluruh pengalaman melanjutkan kuliah di CMU yang memberi kesempatan gue belajar banyak di lingkungan asyik penuh interaksi dengan orang2 luar biasa. Sekali lagi hanya bisa bersyukur dan kalaupun ada penyesalan adalah apabila ada peluang yang tak termanfaatkan optimal untuk belajar lebih banyak. Di luar urusan mendapat gelar master tadi, masih banyak alasan lain yang bikin bersyukur. Merasakan khidmatnya life changing experience di Ramadhan paling indah seumur hidup, bisa me-refresh silahturahmi dengan sahabat2 lama justru di saat jauh
, dan ehem….menemukan cinta di tikungan
Cinta? Yup, gue sangat jarang sekali menulis dengan tema perasaan yang satu itu di sini. Sampai ada pembaca setia yang mengeluh
(and i know my boring language doesn’t help either). Well, kali ini sepertinya cinta itu perlu dibahas sendiri setidaknya dalam satu dua paragraf. Dia spesial karena pertama terasa sangat serendipitious. Sebelum ada yang interupsi, gue tau salah satu kelemahan manusia itu suka membangun kebetulan jadi satu narasi besar. Tapi, di sisi lain rasanya hidup terlalu “menarik” untuk dibilang serba kebetulan. Nah, untuk kasus gue…gue merasakan bagaimana rangkaian kejadian bergulir setelah gue berdoa serius soal pasangan hidup. Jujur aja selama ini gak pernah berdoa soal itu
Hingga tiba di satu titik di mana kok capek ya sendirian….butuh seseorang untuk berbagi yang bisa saling menguatkan di level yang lebih dekat dari sekadar sahabat dan bisa saling bertukar pikiran mencoba make sense dunia yang makin ajaib ini. Permintaan ini yang gue selipkan di malam2 panjang Ramadhan kemarin.. dan selanjutnya seperti ada invisible hand yang bekerja menaruh kepingan-kepingan puzzle di tempatnya.
Lebih spesial lagi karena dia ini seseorang yang sangat tidak disangka2. I mean, if I’m a gambler I won’t put my money because it will be against all odds. Ketika cerita berlanjut, gue masih terus bertanya “kok bisa?” Tapi, apa sih yang gak mungkin? Yang terjadi adalah gue memutuskan untuk berani bertanggung jawab atas perasaan itu. She pushed all the right buttons. She just wowed me with her sense of purpose, this vibrant energy to grow, her humble intellect , and the right amount of witty sense of humour that brightens things up. Hebatnya, semua gue rasakan tanpa bertemu muka sama sekali (hingga posting ini ditulis).
Nah karena sudah 2 paragraf, gue ingin kembali ke topik kenapa posting ini ditulis
Hal penting yang terus gue ingatkan ke diri sendiri adalah tahun ini dengan segala keajaibannya akan segera berakhir dan satu pelajaran hidup yang selalu gue pelihara adalah mencegah diri untuk dwell on something, baik untuk hal baik atau buruk. Ada keharusan untuk mendidik diri kita sendiri untuk siap menghadapi perubahan dan punya fleksibilitas untuk segera well-adjusted dengan tantangan baru. Seriusnya masalah ini untuk seorang lulusan luar negeri yang kembali ke negara asalnya bahkan sampai perlu dibahas khusus di CMU Going Home Guide. Bagaimana mengelola tahapan-tahapan reverse cultural shock yang mungkin melibatkan depresi, alienasi, general despise towards home country, dan reverse homesickness.
Gue segera akan kembali ke Jakarta dengan segala rutinitas dan dinamikanya yang seingat gue sih seperti blackhole yang mengisap seluruh cahaya dari hidup loe (lebay). Kantor juga pasti sudah banyak berubah dan penuh wajah baru yang akan jadi rekan2 setim ke depan. Ekspektasi kualitas pekerjaan dari seorang lulusan CMU juga pasti sedikit banyak berpengaruh pada demand yang akan gue hadapi. Bahkan keberanian untuk bertanggung jawab terhadap cinta yang gue sempat singgung di atas juga akan membawa kompleksitas tersendiri dalam hal bagaimana gue harus menjalani proses berikutnya sambil memastikan tetap align dengan kehendak-Nya. Another ball you have to juggle, kata si dia.
Menakutkan tapi tentu saja bukan yang pertama kalinya gue hadapi dalam hidup. Gue suka menganalogikan perasaan in-between itu seperti perasaan saat berdiri di belakang garis start another distant run. Kita selalu berharap andai lebih siap ini dan itu. Pikiran ini menempel terus setelah kita mulai berlari dan sebenarnya malah menguras energi dan membuat setiap kilometer terasa lebih panjang. Padahal kalau kita pikir2, setiap garis start selalu hanya meminta kita mengeluarkan seluruh daya upaya yang kita punya dan tidak pernah lebih dari itu (silakan direnungkan) Seringkali yang terjadi adalah kita yang membuat batas yang mencegah daya upaya kita mencapai level “seluruh”. Kita akan selalu dihadapkan pada siklus mencapai satu garis finish untuk bertemu dengan garis start yang baru sepanjang hidup. Kecuali tentu saja kita lebih memilih untuk diam dan berhenti berlari.
The Edge
It doesn’t have to be terrifying.
Sometimes it’s simply curling your toes
over the end of the high dive,
bending your knees and lightly bouncing
up and down, as if your wings were fluttering.
Or it might be the moment when you’re waiting
dawn-at the border –
for the man in the blue uniform
to hand back your passport,
to say it’s all right to leap
from the train to the platform.
And after the flying and the splash,
after you haul your bag up on your shoulder,
it’s safe to say that before long
you’ll come to the edge of something
and have to leap again.
Maybe it’s someone you didn’t see
by the pool, wearing a flowered bathing suit –
maybe the love of your life.
or maybe it’s a museum with one painting
that finally explains everything.
And even if death is waiting,
you can still love
the perfect fit of the doorknob
in your hand as you open the door.
You can still search for the immortal
painting and buy postcards of it
to send all over the world.
You can leap
and let the water hold you,
throwing one hand over the other,
hoisting yourself up
to dry your body in the sun.
You can lift your rucksack –
the road rolling away before you –
and walk on joyfully,
going forward, forever leaping,
loving the high dive as well as the bottom stair,
loving the held breath, loving the tired feet.
(Richard Jones, ‘The Edge’)

Dewi said
ditunggu cerita merah jambu yang laennya gan, lanjoeetkan!
aresto said
mantan ADK ya mbak ? pake istilah merah jambu
Afifi said
Makasih utk dewi yg udh kasih link ini disaat gue lg butuh ‘hiburan’
pas baca judulnya udh semangat..
elaaaahh masih kurang yg bagian cintanya..We Want More…
hei hei sapaa diaa????
Aresto said
Yah…yg dikomentarin puisinya dong
hayooo siapa dia ?
vian199 said
nikahnya nunggu aku udah lahiran ya to.. biar punya baju kondangan
*penting gak sih :p*
Aresto said
jalan masih panjang kok mbak shin…doain aja
nura1200 said
Sangar to tulisanmu ….
,
Btw 2011 gak sih? kalau iya aku bikin Jas Mark&Spencer nih. Yang Mark tak pake ke kondangan Yadi, yang Spencer tak pakai ke kondangan Kamu
Aresto said
Hmm kyaknya ada larangan pakai jas, Ndri … hehehe doain aja bro
api said
aresto punya blog toh?…
*komentar ga penting saat pening bikin proposal*
riza said
cerita yang bagus..mas
ahhahaha