Omong-omong Sepatu…

Sudah lama sekali tidak menulis di sini jadi sebaiknya mulai kembali dengan topik ringan. Kali ini gue ingin menulis tentang sepatu, benda yang setia menemani langkah kita sehari2. Kebetulan juga beberapa minggu lalu sempat membaca di koran bagaimana industri sepatu lokal hampir habis diserbu made in china.

Seperti terhadap semua benda lainnya, gue termasuk kategori penganut mazhab form follow function. Dasar pertimbangan gue selalu nilai guna benda itu, soal gaya biasanya cenderung yang cocok sama selera gue aja dan bukan karena tren, sementara merk biasanya gue gak ambil pusing.

Pikiran di atas juga berlaku dalam memilih sepatu. Sepatu kerja yang dipakai sehari-hari menurut gue harus:(1) terbuat dari kulit asli sehingga tahan lama dan semakin lama dipakai semakin ngepas di kaki, (2)modelnya klasik sehingga tidak pernah out of date, syukur2 bisa pas banget dengan model yang gue pengen (3)Solnya enak dipakai dan durable untuk dipakai jalan, ngejer bis, dan naik turun KRL😛 (4)menutupi mata kaki agar gue terlindungi dari keseleo

Gue gak meragukan kemampuan merk2 seperti Clarks, Geox, atau Rockport dalam memenuhi tuntutan gue di atas. Tapi, nalar ekonomis gue belum bisa menerima harus membayar harga sedemikian untuk sepasang sepatu (at this point I want to remind all female readers to keep their rationales on buying designer’s shoes for themselves, i don’t wanna hear them). Bukankah harga premium porsinya lebih besar untuk membayar brand dan marketing? Apa tidak ada solusi ekonomis bagi sepatu ideal ?

Bayangkan betapa bersyukurnya gue ketika menemukan Doki2Waku2 Shop secara tidak sengaja di Kaskus 2 tahun lalu. Doki2Waku2 ini sebuah workshop di Bandung yang mengerjakan pesanan sepatu custom. Tadinya gue cukup skeptis karena dari nama dan sitenya sepertinya mereka fokus ke pengerjaan aksesoris cosplay. Tapi menjelang berangkat ke OZ, gue penasaran mencari sepatu dengan model yang bisa masuk ke busana formal maupun kasual. Akhirnya gue putuskan untuk mengirim gambar rinci sepasang sepatu merk Clarks yang ada di Zappos.com ke mereka lewat email. Pesan gue sederhana: kulit asli dan ikuti modelnya sedekat mungkin. Ketika sepasang sepatu itu datang ke rumah, mereka dengan sukses membuat gue kaget girang. Kulitnya asli gak perlu diragukan lagi kualitasnya, modelnya mirip sekali sampai detail2nya dengan gambar yang gue kirim, build-nya kokoh dan meyakinkan, dibuat khusus untuk gue seorang, dan yang bikin gue ngga percaya adalah harganya cuma Rp 230ribu saudara-saudara! (gambar sepatu coklat yang di kiri).

Terlanjur jatuh cinta, sepulang dari OZ gue kembali memesan sepasang sepatu untuk kerja. Kali ini yang jadi model adalah sepasang Chuck Taylor special edition, dan sekali lagi Doki2Waku2 tidak mengecewakan gue. Gue jadi bisa kerja dengan sepasang sepatu yang sangat nyaman karena atasnya kulit sementara solnya menggunakan sol converse (sepatu yang kanan). Oh ya hal lain yang gue juga salut dari mereka selain produknya adalah mereka gak cerewet banyak tanya tapi sangat komunikatif mengenai opsi improvisasi yang mereka miliki. Contoh, untuk si converse mereka sempat menanyakan apakah gue mau sol yang kualitasnya sama dengan converse atau mau yang di bawah itu. Produk top, service top…kurang apa lagi coba ?

Udah ah nanti dikira gue yang punya lagi tuh bengkel sepatu🙂

Seminggu untuk Selamanya (Insya Allah)


Apakah Aresto akhirnya bertemu dengan si dia? Siapakah si dia yang menunggu di tikungan? Akankah cerita ini berakhir bahagia? Temukan jawabannya di akhir posting ini:P

Bagian dari kebetulan yang sempat disinggung di posting terakhir adalah peluang gue untuk bertemu dia minggu terakhir bulan Desember. Dia ternyata ada jadwal untuk proyek di Indonesia selama dua minggu terakhir tahun 2010, mendengar informasi ini gue langsung mengubah jadwal kepulangan meskipun harus menambah ongkos sedikit. Ada windows of opportunity, bakal nyesel kalo gue tidak bisa memanfaatkan🙂

Hmm walaupun sebenarnya sudah kenal sejak kuliah, tetap saja tanggal 26 Desember kemarin adalah kali pertama gue dan dia bertemu lagi sejak 5-6 tahun lalu. Syukurlah hari pertama berlalu cukup baik. Dengan segala awkwardness yang menempel, gue dan dia makan siang bareng, bertukar oleh2, dan menonton musikal Laskar Pelangi. Bagian paling penting di hari itu adalah kesempatan gue untuk pertama kalinya memperkenalkan diri ke kedua ortunya. Sesuatu yang belakangan gue denger cukup mengejutkan papanya, karena tidak mengira putrinya tiba2 mengenalkan seorang cowok🙂

Dua-tiga hari berikutnya kami seperti melakukan airport test. Tahu kan? Pertemuan dan interaksi untuk menguji apakah kita bisa tahan menghabiskan waktu 12 jam dengan seseorang jika terpaksa harus terdampar di sebuah airport asing. Tentu saja jangka waktu yang jadi pertimbangan saat itu bukan sekadar 6-12 jam, tapi the rest of our lives🙂

Selain memberi kesempatan diri kami melakukan decision process, hal yang sangat penting tentunya adalah rasa nyaman dengan keluarga masing-masing. Kita berdua sadar, kalau proses melebur itu akan terjadi, bukan hanya melibatkan dua orang, tapi dua keluarga besar. Alhamdulillah, dari pertemuan yang jumlahnya sangat sedikit rasanya kami punya kesan positif tentang keluarga pihak lain. Begitu juga antar keluarga terasa tidak ada hal serius yang mengemuka jadi ganjalan.

Sejak bertemu pertama kali di hari Senin, gue sudah mengungkapkan niat gue yang sudah memutuskan untuk meneruskan proses sejauh memungkinkan selama seminggu itu. Alhamdulillah, semuanya terasa lancar dan di malam tahun baru gue mengungkapkan niat gue untuk meminang dia ke kedua orang tuanya. Malam itu gue mengungkapkan cerita bagaimana cerita terjalin antara gue dan dia, keyakinan bahwa dia partner yang tepat untuk membentuk keluarga yang akan jadi unit terkecil perubahan masyarakat, dan janji kami berdua untuk insya Allah bisa saling menghebatkan. Setelah mendapatkan jawaban ya dari dia dan keluarganya, hari Minggunya gue datang lagi dengan keluarga untuk acara lamaran formal kecil-kecilan. Senin malamnya dia sudah harus terbang lagi ke Inggris dan baru bisa kembali menjelang pernikahan kami yang direncanakan insya Allah bulan Oktober.

Mereka yang mendengar cerita kami biasanya berkomentar tentang cepatnya proses yang kami jalani. Tapi, percaya deh buat kami yang mengalami ini proses panjang yang sebagian kami timbang dengan rasional, di bagian lain kami coba dengarkan kata hati, dan sebagian besar kami serahkan kepada Yang Maha Berkehendak. Buat kami proses ini masih jauh dari selesai, jalan masih sangat panjang dan berbagai kompleksitas pasti menunggu. Hmmm yang jelas kami yakin berdoa dan berusaha adalah syarat keajaiban dan kemudahan. La hawla wala quwwata illa billah, hasbunallah wa ni’mal maula wa ni’man nashir.

Oh ya tentang siapa dia, coba cermati nama yang tiba2 gue mention di posting gue belakangan😉 Doakan kami yah…

I Went Down Under! Part 6 – Moving On

Rasanya baru kemarin mengungkapkan sedikit kecemasan karena akan melanjutkan kuliah di CMU, sekarang gue sudah menyelesaikan S2 di CMU dan akan segera kembali ke Indonesia. Benar juga kalau ada yang bilang semua hal itu lebih terkesan menakutkan ketika belum dijalani dan seringkali kita yang underestimate kemampuan diri kita untuk menghadapi tantangan. Gue tak henti bersyukur bisa bilang setidaknya gue udah berusaha maksimal dan mendapat hasil sesuai usaha gue itu.

Satu hal yang pasti ini benar2 tahun luar biasa buat gue. Pertama jelas seluruh pengalaman melanjutkan kuliah di CMU yang memberi kesempatan gue belajar banyak di lingkungan asyik penuh interaksi dengan orang2 luar biasa. Sekali lagi hanya bisa bersyukur dan kalaupun ada penyesalan adalah apabila ada peluang yang tak termanfaatkan optimal untuk belajar lebih banyak. Di luar urusan mendapat gelar master tadi, masih banyak alasan lain yang bikin bersyukur. Merasakan khidmatnya life changing experience di Ramadhan paling indah seumur hidup, bisa me-refresh silahturahmi dengan sahabat2 lama justru di saat jauh😛, dan ehem….menemukan cinta di tikungan🙂

Cinta? Yup, gue sangat jarang sekali menulis dengan tema perasaan yang satu itu di sini. Sampai ada pembaca setia yang mengeluh😛 (and i know my boring language doesn’t help either). Well, kali ini sepertinya cinta itu perlu dibahas sendiri setidaknya dalam satu dua paragraf. Dia spesial karena pertama terasa sangat serendipitious. Sebelum ada yang interupsi, gue tau salah satu kelemahan manusia itu suka membangun kebetulan jadi satu narasi besar. Tapi, di sisi lain rasanya hidup terlalu “menarik” untuk dibilang serba kebetulan. Nah, untuk kasus gue…gue merasakan bagaimana rangkaian kejadian bergulir setelah gue berdoa serius soal pasangan hidup. Jujur aja selama ini gak pernah berdoa soal itu🙂 Hingga tiba di satu titik di mana kok capek ya sendirian….butuh seseorang untuk berbagi yang bisa saling menguatkan di level yang lebih dekat dari sekadar sahabat dan bisa saling bertukar pikiran mencoba make sense dunia yang makin ajaib ini. Permintaan ini yang gue selipkan di malam2 panjang Ramadhan kemarin.. dan selanjutnya seperti ada invisible hand yang bekerja menaruh kepingan-kepingan puzzle di tempatnya.

Lebih spesial lagi karena dia ini seseorang yang sangat tidak disangka2. I mean, if I’m a gambler I won’t put my money because it will be against all odds. Ketika cerita berlanjut, gue masih terus bertanya “kok bisa?” Tapi, apa sih yang gak mungkin? Yang terjadi adalah gue memutuskan untuk berani bertanggung jawab atas perasaan itu. She pushed all the right buttons. She just wowed me with her sense of purpose, this vibrant energy to grow, her humble intellect , and the right amount of witty sense of humour that brightens things up. Hebatnya, semua gue rasakan tanpa bertemu muka sama sekali (hingga posting ini ditulis).

Nah karena sudah 2 paragraf, gue ingin kembali ke topik kenapa posting ini ditulis🙂 Hal penting yang terus gue ingatkan ke diri sendiri adalah tahun ini dengan segala keajaibannya akan segera berakhir dan satu pelajaran hidup yang selalu gue pelihara adalah mencegah diri untuk dwell on something, baik untuk hal baik atau buruk. Ada keharusan untuk mendidik diri kita sendiri untuk siap menghadapi perubahan dan punya fleksibilitas untuk segera well-adjusted dengan tantangan baru. Seriusnya masalah ini untuk seorang lulusan luar negeri yang kembali ke negara asalnya bahkan sampai perlu dibahas khusus di CMU Going Home Guide. Bagaimana mengelola tahapan-tahapan reverse cultural shock yang mungkin melibatkan depresi, alienasi, general despise towards home country, dan reverse homesickness.

Gue segera akan kembali ke Jakarta dengan segala rutinitas dan dinamikanya yang seingat gue sih seperti blackhole yang mengisap seluruh cahaya dari hidup loe (lebay). Kantor juga pasti sudah banyak berubah dan penuh wajah baru yang akan jadi rekan2 setim ke depan. Ekspektasi kualitas pekerjaan dari seorang lulusan CMU juga pasti sedikit banyak berpengaruh pada demand yang akan gue hadapi. Bahkan keberanian untuk bertanggung jawab terhadap cinta yang gue sempat singgung di atas juga akan membawa kompleksitas tersendiri dalam hal bagaimana gue harus menjalani proses berikutnya sambil memastikan tetap align dengan kehendak-Nya. Another ball you have to juggle, kata si dia.

Menakutkan tapi tentu saja bukan yang pertama kalinya gue hadapi dalam hidup. Gue suka menganalogikan perasaan in-between itu seperti perasaan saat berdiri di belakang garis start another distant run. Kita selalu berharap andai lebih siap ini dan itu. Pikiran ini menempel terus setelah kita mulai berlari dan sebenarnya malah menguras energi dan membuat setiap kilometer terasa lebih panjang. Padahal kalau kita pikir2, setiap garis start selalu hanya meminta kita mengeluarkan seluruh daya upaya yang kita punya dan tidak pernah lebih dari itu (silakan direnungkan) Seringkali yang terjadi adalah kita yang membuat batas yang mencegah daya upaya kita mencapai level “seluruh”. Kita akan selalu dihadapkan pada siklus mencapai satu garis finish untuk bertemu dengan garis start yang baru sepanjang hidup. Kecuali tentu saja kita lebih memilih untuk diam dan berhenti berlari.


The Edge

It doesn’t have to be terrifying.
Sometimes it’s simply curling your toes
over the end of the high dive,
bending your knees and lightly bouncing
up and down, as if your wings were fluttering.

Or it might be the moment when you’re waiting
dawn-at the border –
for the man in the blue uniform
to hand back your passport,
to say it’s all right to leap
from the train to the platform.

And after the flying and the splash,
after you haul your bag up on your shoulder,
it’s safe to say that before long
you’ll come to the edge of something
and have to leap again.

Maybe it’s someone you didn’t see
by the pool, wearing a flowered bathing suit –
maybe the love of your life.
or maybe it’s a museum with one painting
that finally explains everything.

And even if death is waiting,
you can still love
the perfect fit of the doorknob
in your hand as you open the door.
You can still search for the immortal
painting and buy postcards of it
to send all over the world.

You can leap
and let the water hold you,
throwing one hand over the other,
hoisting yourself up
to dry your body in the sun.

You can lift your rucksack –
the road rolling away before you –
and walk on joyfully,
going forward, forever leaping,
loving the high dive as well as the bottom stair,
loving the held breath, loving the tired feet.

(Richard Jones, ‘The Edge’)

M.U.A.K

Mudah-mudahan Bang Dodi gak keberatan emailnya di milis alumni TN gue posting di sini. Mungkin bisa jadi penegasan kepada publik, kalau rasa muak itu memang dirasakan banyak orang di berbagai kalangan dan semakin banyak yang semakin tidak tahan dengan rasa muak tersebut.

Kawan-kawan, sebenarnya perasaan ini sudah berkecamuk dalam hati dan jiwa, sejak beberapa tahun silam. Ketika masih berstatus sebagai wartawan, banyak sekali fakta di lapangan yang membuat muak, kesal, sebal,
mangkel dan berujung pada rasa skeptis dan apatis, terhadap kondisi sekitar. Hampir semua sendi kehidupan di negara ini, kacau balau. Terutama dalam hal perilaku korupsi. Semua tingkatan pemerintahan, mulai dari tingkat paling bawah korup. Dan nyaris seluruh tingkatan non pemerintah (swasta) pun korup. Bahkan lembaga
penjaga moral, yaitu departemen pendidikan dan departemen agama, saat itu sempat menduduki peringkat pertama yang paling korup, versi Transparansi Internasional. Satu yang berkecamuk dalam pikiran saat itu, “Pantes negara kita tidak bisa maju…”

Perasaan itu makin menyiksa, karena meski berjiwa bebas, tapi tak bisa berbuat banyak (kalau tak bisa disebut sebagai ‘tak berdaya’ dan ‘tak bisa berbuat apa-apa’). Sebagai wartawan, yang bisa dilakukan hanyalah menjadi wartawan yang baik, berusaha tidak menanggalkan seluruh idealisme dan tidak
terjerumus terlalu dalam pada lingkungan yang busuk.

Namun lama-lama tak tahan juga, sehingga pelan tapi pasti, sejumlah jurus dijalankan untuk segera keluar dari dunia itu. Dunia jurnalistik praktis, yang sebagian besar tak mampu menjadi benar-benar independen dan berpihak kepada publik seperti yang diamanatkan Bill Kovach dalam ‘Sembilan Elemen Jurnalistiknya’. Alhamdulilah, saya kemudian lebih banyak berkecimpung di dunia pendidikan/pelatihan dan tulis menulis buku. Di bidang yang baru ini, relatif sedikit kondisi busuk lingkungan. Secara sadar, saya mengakui, tak mampu bertahan dalam lingkungan yang terlalu busuk. Sulit mengikuti petuah para pamong di kampus dulu yang mengatakan, “Kiprah kita harus bisa memberi pengaruh positif pada lingkungan sekitar, walau lingkungan yang
terkecil sekalipun.” Lingkungan busuk, terlalu kuat untuk dilawan sendirian!

Perasaan tersebut makin menggila akhir-akhir ini, dipuncaki perilaku ‘mulia’ bagi-bagi duit oleh si muka badak Gayus Tambunan, koruptor kelas teri yang punya pengaruh kakap. Kelakuan Gayus dan semua pihak yang terkait, mengoyak hati nurani, membunuh semangat sebagian anak bangsa, dan memadamkan banyak sekali api
harapan. Semua rangkaian cerita memilukan itu (lebih memilukan dibanding bencana alam) dan memalukan, membuat jiwa ini kian tergoncang. Mau dibawa kemana perahu Indonesia ini? Lihatlah tingkah laku dan sikap para pemimpin itu… Mereka tampak biasa saja. Lama-lama, hal paling merendahkan derajat kemanusiaanpun akan dianggap biasa. Sejak tahu korupsi merajalela di Indonesia, saya yakin, Indonesia tidak akan bisa maju, selama korupsi masih dianggap biasa!

Namun saya masih bersyukur, karena di tengah-tengah perasaan galau (kata istri saya, “Kenapa sih? Kamu bukan pejabat, bukan pemerintah,bukan siapa-siapa, kok begitu galaunya?”) masih ada sedikit harapan. Harapan yang mungkin saja berubah juga menjadi kekecewaan. Apakah harapan itu? Saya masih punya kawan, teman dan sahabat
alumni SMA Taruna Nusantara! Sampai saat ini, saya yakin, alumni SMA tempat saya belajar itu, akan memenuhi harapan pada saatnya nanti.

Selama tiga tahun kita digembleng di Lembah Tidar, dengan berbagai kondisi ideal. Meski kondisi bangsa saat itu nyaris sama morat-maritnya seperti sekarang, tapi para pendiri, penyokong, pendidik di sana waktu itu, berharap, bahwa kita tidak ikut serta menambah carut marut itu. Bahkan sebagian dari mereka berharap ebagian kecil dari kita, mampu menjadi orang-orang yang memerbaiki kondisi itu.

Saat ini, banyak sekali alumni SMA Taruna Nusantara yang sudah lumayan mapan berkiprah di bidangnya masing-masing. Baik di sektor formal maupun informal. Dan itu sesungguhnya menjadi modal hebat buat kita, untuk memenuhi sebagian harapan pendiri, penyokong dan pendidik di SMA dulu, untuk TIDAK terperosok ke dalam lingkungan busuk. Syukur-syukur, bisa memengaruhi lingkungan dengan hal positif (Dan itu sudah ditunjukkan oleh sebagian alumni.)

Tapi, sungguh sangat amat menyedihkan jika ada sebagian dari kawan dan sahabat yang justru ikut serta menambah carut marut itu. Sangat mencoreng jiwa, hati dan nurani, jika ternyata ada sebagian kecil dari kita yang meniru Gayus dkk., yang hanya mementingkan dirinya sendiri, tanpa peduli urusan orang lain. Saya berharap, tak ada satupun kawan dan sahabat, yang seperti mereka. Sekali lagi, ini adalah harapan terakhir saya melihat kondisi bangsa yang amburadul.

Semoga!

Kalau ada di antara teman, kawan dan sahabat yang seperti itu, dengan ini saya memproklamirkan diri, untuk menjadi MUSUH Anda yang pertama dan utama, lahir dan bathin, dunia dan akhirat.

Dodi Mawardi

Penulis profesional dan pengajar

(Alumnus SMA Taruna Nusantara Angkatan I)


Saatnya menarik garis yang jelas tentang keberpihakan kita. Meskipun itu berarti berada di sisi yang berbeda dengan teman atau bahkan keluarga kita. Tapi, jangan lupa kalau sejatinya perbuatannyalah yang jadi musuh bersama kita, karena tidak adil jika kita mengabaikan potensi perbaikan yang ada di diri setiap orang (eh ini jangan dicampuradukkan sama keharusan proses hukum ya). Sebagian orang yang memiliki perilaku korup kemungkinan besar sebenarnya mereka yang kalah ketika harus berhadapan dengan sistem yang busuk. System pawns individual every time. Bagian besar dari usaha kita mengubah jadi keadaan justru dengan menjadi support group buat teman dan keluarga kita yang berjuang menjalani kesehariannya sebagai bagian dari sistem yang busuk.

mPedigree : Contoh Sukses Inovasi dari “Pinggir”

Salah satu privelese yang gue rasakan selama di CMU adalah kesempatan untuk mengikuti kuliah tamu dari tokoh2 ternama di bidang IT atau public policy. Kali ini yang gue ingin tulis secara singkat adalah kuliah lewat Skype yang disampaikan Bright Simmons, pendiri mPedigree.

Bright Simmons berasal dari Ghana dan sudah lama berkecimpung sebagai aktivis berbagai lembaga kemanusiaan di sana. Salah satu masalah serius yang menjadi perhatiaannya adalah luas dan bebasnya peredaran obat palsu di pasar. Dibuat dengan kandungan dan melalui proses yang asal, obat palsu ini sangat sulit dibedakan dari yang asli karena bentuk dan kemasannya sangat berhasil meniru penampilan obat asli. Tentu saja ini menjadi masalah serius yang menyangkut hajat hidup orang banyak karena obat yang banyak dipalsukan biasanya adalah obat yang sangat penting dalam menangani permasalahan kesehatan di Afrika seperti obat malaria dan obat demam untuk anak2.

Setelah melakukan riset tentang peredaran obat palsu ini, Bright makin khawatir karena ternyata ini bukan hanya jadi masalah di Ghana, tapi juga terjadi dalam skala besar di negara-negara berkembang di seluruh dunia. Walaupun perusahaan farmasi dan pemerintah juga menyadari bahaya peredaran obat palsu ini, tapi usaha pencegahannya tidak efektif karena hanya berupa razia dan pemusnahan yang sangat tergantung pada inisiatif aparat pemerintah. Di negara-negara berkembang di mana korupsi merajalela, usaha pencegahan macam ini biasanya dilakukan lebih sebagai lip service dan tidak pernah membongkar jaringan obat palsu sampai ke akarnya.

Bright paham bahwa cara efektif untuk menyingkirkan obat palsu dari pasar harus melibatkan partisipasi konsumen, ini satu bagian. Bagian lain dari ide Bright muncul dari pengamatan dia atas sangat luasnya penggunaan ponsel di Ghana, yang bahkan sampai menembus ke pedesaaan. Setelah memikirkan dua bagian ini, Bright akhirnya sampai pada ide yang membawanya mendirikan mPedigree. Idenya sederhana, Bright ingin perusahaan manufaktur obat2an mencantumkan kode rahasia di kemasan obat. Kode kriptografis ini dicetak di kemasan dan dilindungi dengan segel scratch supaya tetap rahasia sampai tangan konsumen. Kemudian, konsumen dapat mengecek kode itu lewat SMS ke nomor bebas pulsa yang tersedia lewat kerjasama dengan operator. Sistem mPedigree akan melakukan verifikasi dan membalas dengan SMS yang berisi info tentang palsu/tidaknya obat lengkap juga dengan tanggal produksi dan kadaluwarsa.

Untuk memastikan idenya efektif, Bright kemudian dengan gigih melobi dukungan dari berbagai pihak seperti pemerintah, perusahaan farmasi, operator telco, dan jaringan distribusi obat. Dengan model ini, mPedigree berhasil menciptakan solusi win-win untuk semua pihak yang terlibat dan menciptakan proses alami yang mengusir obat palsu dari pasaran. Setelah sukses di Ghana, Bright giat berusaha menjalin kerjasama dengan berbagai LSM di negara berkembang lainnya untuk dapat menjalankan model mPedigree di negara-negara tersebut. Potensi luar biasa dari mPedigree untuk keselamatan hidup orang banyak, kesederhanaan teknologi, dan model bisnisnya yang akomodatif membuat mPedigree sukses mendapatkan hadiah USD500 ribu dari kompetisi Global Security Challenge.

Karena sudah lama tertarik dengan topik innovation from the edge dan technology appropriation, di akhir sesi gue bertanya ke Bright tentang bagaimana melembagakan proses kreatif seperti yang dialaminya lewat mPedigree sehingga bisa melahirkan pemanfaatan teknologi yang tepat guna untuk suatu masalah yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Jawaban Bright menurut gue sangat inspiratif sekaligus actionable. Menurut dia inti dari pola pikir dan pola tindak seorang social entrepreneur adalah: (1) Kepekaan akan masalah-masalah berdampak luas yang dihadapi secara riil oleh masyarakat. Bright biasa melatih dirinya dengan membuat list masalah sekaligus daftar 5-whys yg membawanya menemukan akar masalah tersebut, (2) Karena LSM tidak memiliki akses ke sumberdaya seperti perusahaan komersial, Bright membiasakan diri dan rekan2nya untuk brainstorm solusi suatu masalah dengan sumberdaya yang dapat diaksesnya. Seperti MacGyver yang menggunakan apa yang dapat dijangkaunya, Bright memaksa otaknya mencari solusi “tiada rotan akar pun jadi”. (3) Untuk mendukung ide brilian butuh model bisnis yang tak kalah briliannya. Bright berusaha mengidentifikasi semua stakeholders yang mungkin terkena dampak idenya, dan kemudian berusaha menghasilkan model bisnis yang memberi insentif kepada semua pihak yang terlibat sehingga mereka mendukung atau setidaknya tidak menghambat.

It just blew my mind. Thanks Bright, for your inspiration

Born to Run: cerita tentang indahnya lari..


Mulai semester ini, `gue jadi librarian di perpus kampus. Jangan membayangkan perpus kampus Pittsburgh yang segedung, di kampus Adelaide perpus cuma sebuah ruangan pojok dengan koleksi buku yang ya cukuplah sehingga cukup ditunggui satu orang. Tiap hari gue punya jadwal 1 jam untuk melayani mahasiswa yang meminjam atau mengembalikan buku. Beberapa kadang mengajak ngobrol tentang buku, beberapa lainnya malah datang untuk meng-copy ebook dan film dari hd gue (harus menjaga reputasi sebagai orang Indonesia toh?). Anyway, punya satu jam waktu yang daripada banyakan bengong, lebih baik gue isi dengan menulis resensi buku yang pernah gue baca selama di sini

Untuk posting ini, mari mulai dengan pertanyaan, kapan kita terakhir kali menikmati lari? Kalau lari kemungkinan masih lekat, setidaknya lari dari masalah😛 Tapi, menikmati lari? Rasanya kata nikmat dan lari tidak mungkin disatukan dalam kalimat yang sama. Apa harus begitu?How come my foot hurts when running?

Pertanyaan itu membawa Christopher McDougall ke pengalaman yang akhirnya dia tuliskan dalam Born to Run. Sebagai jurnalis senior untuk majalah laki2 Men’s Health dan Esquire, Chris sering membuat liputan tentang olahraga ekstrem dan medan perang. Tapi, dengan segala ketangguhannya, dia selalu merasa punya masalah ketika harus jogging. Entah kenapa, ada rasa sakit luar biasa yang membuat lari seperti siksaan.

Setelah berusaha mencari jawaban dari dokter2 olahraga top yang dikenalnya dan tidak menemukan jawaban yang memuaskan, saat meliput di Meksiko Chris tanpa sengaja membaca sebuah artikel di koran lokal tentang suku Indian Tarahumara yang misterius.

Taramuhara adalah suku Indian yang tinggal di pedalaman Copper Canyon di Meksiko. Karena tinggal di lingkungan yang terisolasi, mereka cenderung menghindari kontak dengan dunia luar dan mempertahankan berbagai tradisi lokal yang unik. Yang membuat Chris tertarik adalah berbagai dokumentasi tentang kemampuan lari orang Taramuhara. Sebuah referensi ke catatan seorang sejarawan Meksiko misalnya, menyebutkan bahwa seorang juara lomba lari tradisional Taramuhara berlari nonstop selama 2 hari penuh dan menempuh jarak 435 mil!

Penasaran dengan kemampuan lari Taramuhara, Chris memutuskan untuk melakukan ekspedisi yang akan membawanya berinteraksi langsung dengan suku terasing itu. Maka dimulailah perjalanan sulit Chris untuk mendapatkan rahasia tentang lari dari suku Taramuhara. Dalam perjalanannya menembus Copper Canyon, Chris dibantu seorang eksentrik berjulukan Caballo Blanco. Setelah berinteraksi cukup lama dengan “keanehan” Blanco, belakangan Chris tahu bahwa Blanco sendiri adalah seorang mantan atlet ultrarunner yang memutuskan untuk meninggalkan peradaban dan hidup lebih dekat dengan suku Taramuhara.

Dengan kesabarannya sebagai jurnalis, Chris perlahan dapat membuat Taramuhara merasa nyaman dengan dirinya dan membuka diri. Setelah menghabiskan waktu sekian bulan hidup bersama Taramuhara, Chris akhirnya sadar bahwa jawaban yang dicarinya ternyata adalah hal sederhana yang masih diingat oleh suku Taramuhara, tapi sudah dilupakan pelari modern seperti dirinya. “That was the real secret of the Tarahumara: they’d never forgotten what it felt like to love running. They remembered that running was mankind’s first fine art, our original act of inspired creation. Way before we were scratching pictures on caves or beating rhythms on hollow trees, we were perfecting the art of combining our breath and mind and muscles into fluid self-propulsion over wild terrain” (p. 92)

Sementara Taramuhara membuat lari sesederhana bangun tidur, kebanyakan manusia modern justru membuat lari jadi aktivitas yang susah dan menyusahkan. Biasanya malah lebih sibuk membeli sepatu lari canggih dan kostum daripada membuat lari jadi bagian rutinitas sehari-hari. Apa yang dibuat sulit di dalam pikiran akan menjadi benar-benar sulit untuk dilakoni. Kesadaran Chris akan hal ini semakin diperkuat ketika dia kemudian mencoba membandingkan temuannya di dunia Taramuhara dengan bagaimana atlet2 ultrarunning memandang lari.

Ultrarunning mungkin adalah olahraga paling ekstrem dengan tuntutan fisik yang tidak ada bandingnya. Lomba Badwater Ultramarathon misalnya, adalah lomba lari 217 km di tengah gurun pasir California saat temperaturnya dapat mencapai 49C. Karena ekstrem biasanya berbanding terbalik dengan popularitas, ultrarunning dan atlet2nya tidak mendapat banyak liputan dari media. Atlet2 ultrarunning biasanya memang orang2 “gila” yang menjadikan lari bagian dari hidup dan tidak peduli dengan medali, duit sponsor, atau jadi terkenal. Setelah Taramuhara, Chris memutuskan untuk mencari informasi lebih jauh tentang mencintai lari dari atlet2 sinting tersebut.

Memang apa yang didapat Chris dari atlet2 yang ditemuinya semakin menunjukkan bahwa yang mampu berlari dalam jarak yang fantastis lebih dari hanya demonstransi kekuatan fisik. Mereka mungkin memulai lari dengan cinta, tapi bagaimana kekuatan mental membuat mereka mampu melewati kilo demi kilo juga tak kalah luar biasanya. Lewat Born to Run, Chris membagi berbagai rahasia mental dari kelompok atlet tersebut. Pelajaran dari Scott Jurek, legenda ultrarunning dunia, misalnya “Strictly by accident, Scott stumbled upon the most advanced weapon in the ultrarunner’s arsenal: Instead of cringing from fatigue, you embrace it. You refuse to let it go. You get to know it so well you’re not afraid of it anymore.” Sebuah pelajaran menarik tentang bagaimana bergelut dengan rasa sakit.

Bagian akhir dari buku ini menceritakan bagaimana Chris mewujudkan ide gila untuk mengadakan lomba lari yang mempertemukan suku Taramuhara dengan sekelompok atlet ultrarunning. Cerita tentang lomba di tengah keganasan alam Copper Canyon ini digambarkan begitu indah sehingga gue ingin rasanya ikut berlari di sana dan merasakan kebebasan sejati.

Buku wajib baca untuk mereka yang mencintai lari atau ingin menemukan kembali alasan untuk lari.“Just move your legs. Because if you don’t think you were born to run, you’re not only denying history. You’re denying who you are ” (Dr. Dennis Bramble, p. 244).

Curhat Seorang Library Assistant

Jadi penunggu perpus yang sepi, membuat gue teringat bahasan sebuah artikel di majalah Wired. Artikel berjudul “The Web Shatters Focus, Rewires Brain” itu ditulis oleh Nicholas Carr, sebagai rangkuman dari bukunya yang berjudul The Shallows:What The Internet is Doing to Our Brain.”

Dalam artikel itu, Carr membahas dampak aktivitas ber-internet terhadap otak kita. Dia berangkat dari asumsi bahwa laju teknologi digital tidak hanya mengubah rutinitas hidup dan pola komunikasi, tapi juga mengubah otak kita.

Dampak paling mengkhawatirkan yang diangkat oleh Carr adalah berkembangnya fenomena otak “dangkal”😛 Menurut Carr, kedalaman intelejensi kita bergantung pada kemampuan mentransfer informasi dari working memory ke long term memory. Setelah cerapan fakta dan pengalaman masuk ke long term memory, barulah dimulai proses pemahaman kompleks yang menambah khazanah pengetahuan kita. Nah, yang jadi masalah adalah Internet membombardir working memory kita dengan berbagai distraksi yang menyita perhatian kita. Begitu seringnya perhatian kita teralihkan, tak ada informasi yang benar-benar sempat kita endapkan sebagai pengetahuan. Ibarat ember, internet seperti ratusan keran yang berusaha kita tampung tapi hanya dapat setetes demi setetes. Beda dengan saat kita membaca buku, yang seperti menampung aliran konstan satu keran saja.

Lho, kan memang itu kenapa Internet ada. Bukannya kita memang butuh diinterupsi dengan segala macam email, tweet, status update, rss feed, dll yang selalu membuat kita merasa aktual meski remeh? Bukankah putus dengan semua itu akan membuat diri kita merasa terisolasi secara sosial? Ya bolehlah counter-nya. Tapi, apakah itu berarti kita harus mengorbankan kedalaman pengetahuan kita? Harusnya ngga kan.

OK, tapi bagaimana dengan pendapat bahwa justru banjir distraksi itu yang seringkali menjadi sumber ide untuk inovasi atau produk kreatif, tanya seorang teman (2 times, Dew). Lagipula, di buku Cognitive Surplus: Creativity and Generosity in a Connected Age, internet justru digadang2 sebagai the new favourite past time. Kalau dulu waktu luang dihabiskan dengan menonton TV atau konsumsi, sekarang waktu luang dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan creating, engaging, dan sharing di internet. Hasilnya adalah gudang surplus kognitif raksasa, yang menyimpan hasil jutaan jam kerja kreatif dari jutaan orang di dunia (penjelasan menarik tentang hal ini bisa dilihat di video wajib tonton Matt Ridley:When ideas have sex).

Tentu saja selalu ada dua sisi perspektif yang dapat kita angkat untuk suatu masalah, itu yang bikin indah dunia. Tapi, sebagai penjaga perpus yang kesepian dan ingin orang2 kembali membaca buku(come on people!), izinkan gue untuk memberi peringatan tentang dua jebakan yang bisa membuat kita jadi orang “dangkal”

Jebakan not getting things done. Ini jebakan paling berbahaya yang bisa bikin semua berantakan. Gak masalah kita sibuk berbalas pantun di @tifsembiring, selama kerja sebagai menteri tidak terabaikan😛 Harusnya justru gimana supaya internet membantu kita lebih produktif dan kreatif. Ingat, yang nge-klik mouse kan jari kita, jadi cuma diri kita sendiri yang bisa mencegah diri kita lalai dari kerja2 penting.

Jebakan generalis tapi tetap dangkal. Ini ada hubungannya dengan perumpaan internet sebagai ratusan keran informasi tadi. Salah satu efek negatifnya adalah kita jadi orang yang tahu sedikit tentang segala. Kalau tentang tahu, yang namanya sedikit itu pasti tidak cukup. Harusnya kita bisa memanfaatkan search cost yang semakin rendah untuk dapat membantu kita fokus di suatu bidang. Bahkan, kalau kita cukup taktis, internet bisa membantu kita menyediakan lebih banyak waktu untuk hal2 yang ingin kita fokuskan. Contoh: daripada menonton pertandingan penuh mending nonton highlightnya di footytube.com🙂

Hmmm kalau tetap berkeras untuk menjadi orang “dangkal”. Bayangkan bertemu dengan co/ce yang cakep tapi “dangkal”, ambil stopwatch, dan hitung kira2 berapa lama loe bisa bertahan ngobrol sebelum kembali ke topik cuaca hari ini🙂


Please go back to the library, and accompany this sexy library assistant
😛