Seminggu ini gue mengikuti program orientasi di CMU, dan jadi kesempatan bagus untuk mengenal teman-teman mahasiswa dan staf pengajar di CMU.
Sebelumnya gue memang sudah memperkirakan bahwa kelasnya akan menjadi kelas internasional, tapi begitu saling berkenalan gue cukup kaget juga dengan beragamnya latar belakang teman-teman gue. Dari negara asal saja, ini kali pertama gue berkenalan dengan orang dari Srilanka, Pakistan, Kolombia, Peru, Kostarika, Mexico, Argentina, Vanuatu, dan Uganda. Setiap orang membawa dimensi keragaman lain dari sisi latar belakang pendidikan, minat, dan pengalaman kerja. Setiap menyempatkan diri mengobrol dengan salah satu mereka, selalu ada cerita menarik yang bisa dinikmati. Lebih asyik lagi karena CMU kampus kecil yang hanya terdiri dua jurusan, gue punya kesempatan untuk mengenal semuanya.
Salah satu kesamaan yang mungkin terasa adalah hampir semua mahasiswa CMU adalah penerima beasiswa dan berasal dari negara dunia ketiga. Masing-masing dari teman gue pasti punya sesuatu yang membuat mereka diterima di CMU dan mendapat beasiswa. Jadi, gue sudah membayangkan akan berkompetisi di level yang tinggi sepanjang masa kuliah nanti. Walaupun begitu dari seminggu kemarin terasa juga bagaimana rasanya sih di tengah kesibukan kampus, kami perlahan akan membentuk sebuah keluarga yang hangat.
Keragaman dan kehangatan juga sangat terasa dari pengajar dan staf yang ada di kampus. Di satu sisi mereka tak henti2nya mengingatkan tentang akan beratnya tantangan akademis CMU, di sisi lain mereka juga sangat antusias dalam menawarkan bantuan dalam bentuk apapun. Nah satu hal yang perlu gue latih adalah bisa lebih terbuka dan mengambil inisiatif dalam berkomunikasi dengan dosen. Kalau gue liat teman2 gue lebih terbiasa untuk langsung mendatangi dosen, sekadar chitchat atau bertanya sesuatu,
Oh ya ngomong2 komunikasi. Satu hal yang gue rasakan kurang dari mahasiswa Indonesia termasuk gue adalah kemampuan bahasa Inggris. Mungkin karena pengajaran bahasa Inggris di negara kita tidak efektif dan setelah lulus dari jenjang S1pun mahasiswa Indonesia tidak mampu untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan rileks. Banyak yang datang ke Australia harus menjalani kursus sampai 20 minggu terlebih dahulu karena kemampuan bahasa In ggrisnya tidak memenuhi standar universitas. Buat gue yang jadi masalah adalah kurangnya gue dalam berlatih berbicara bahasa Inggris. Ini membuat gue agak lambat dalam mengungkapkan apa yang ada di pikiran gue. Ngga ada cara lain, gue harus memaksakan diri untuk sebanyak mungkin mengobrol dalam bahasa Inggris dalam berbagai situasi.











