aresto in-depth

my words,my opinions

Lord, Please Don’t Let Me Be Misunderstood

Posted by aresto on March 31, 2008

Salah satu “genre” buku yang jadi koleksi favorit gue adalah buku-buku yang ditulis oleh penulis Islam yang tinggal di Barat. Ada Jeffrey Lang, profesor matematika yang menjelaskan tentang sikap ber-Islam yang kritis; ada Tariq Ramadhan, cucu Hasan AlBanna yang konsisten menyuarakan asipirasi minoritas Muslim Eropa sehingga dijuluki Martin Luther-nya Islam; ada juga Bruno Guiderdoni, Direktur Riset Institut Astrofisika Paris yang dengan lincah mengajak kita membaca ayat sambil menjelajah kosmos; dan jangan lupakan Ziauddin Sardar, si muslim skeptis yang sangat produktif menulis tema-tema masa depan Islam.

Mungkin karena jemu melihat dinamika umat lokal, membaca buku2 para penulis di atas setidaknya memberi gue sedikit wawasan tentang menjadi Islam di Barat. Bagi mereka salah satu konsekuensi sebagai Muslim adalah berada di garis depan perjumpaan dua peradaban yang sejarahnya penuh dengan konflik. Sebagai pribadi-pribadi mereka bergulat untuk tetap memegang identitas sebagai Muslim di tengah masyarakat yang penuh prasangka, sebagai intelektual mereka punya tanggung jawab membantu umatnya menyelesaikan masalah2 internal dan berdialog dengan unsur masyarakat lain.

Kasus yang mengemuka seperti film Fitna kemarin, menunjukkan bahwa memang ketegangan antara Islam dan Barat belum menunjukkan tanda-tanda akan selesai. Banyak dari faktor penyebabnya adalah sangat mengakarnya persepsi dan prasangka buruk masyarakat Barat terhadap Islam. Sebuah contoh lucu bisa dilihat di serial “Aliens in America”. Ketika tokoh utama si Raja Musharraf diperkenalkan sebagai siswa pertukaran pelajar dari Pakistan, sebagian besar teman sekelasnya bilang kalau mereka merasa marah padanya karena menganggap orang2 seperti Rajalah yang mengebom WTC.

Selain masalah salah paham tadi, gue juga merasa kita harus melihat kekurangpahaman umat Islam terhadap agamanya sendiri turut menyumbang bagian dalam ketegangan itu. Kalau orang lain masih melihat orang Islam sebagai penduduk gurun yang miskin, bodoh, dan kasar, boleh jadi karena memang masalah2 itu masih belum selesai di kalangan umat Islam.

Jadi, cobalah menyikapi film Fitna dengan hati yang sabar dan kepala yang tetap berpikir. Hasan AlBanna berkata “Jadilah seperti pohon jeruk. mereka menyerangmu dengan batu, engkau membalasnya dengan buah”. Sampai akhirnya syahid ditembak musuhnya, Hasan AlBanna tetap dengan pendiriannya itu dan lebih sibuk berusaha menyemai pohon jeruk sebanyak2nya di mana saja.

~judul diambil dari lagunya Yusuf Islam

Posted in Seeking Paradise | 2 Comments »

Rindu Rasul

Posted by aresto on March 31, 2008

Gue menyempatkan sebagain waktu libur panjang kemarin dengan skimming Sirah Nabawiyah dan beberapa buku lain di rumah yang membahas kebidupan Nabi Muhammad. Selain karena momen libur Maulid, gue agak terlecut setelah Rabu minggu lalu mengikuti bedah buku Muhammad: Super Leader Super Manager di Masjid Telkom. Kebetulan yang membedah langsung pengarangnya, Dr. Syafi’i Antonio.

Ustadz Antonio bilang kalau sirah itu bagi dia termasuk bacaan ajaib, karena setiap kali kita membacanya selalu ada mutiara pelajaran baru yang kita temukan. Sejarah hidup Rasul yang hidup berabad lampau seperti selalu aktual ketika ditarik ke kini.

Dan memang setelah kemaren baca2 ada hal2 lama tapi seakan jadi baru lagi. Pertama, gue baru ngeh betapa AlQur’an dan sirah seperti berulang2 menggambarkan Muhammad dari suatu perspektif “jalan tengah”. Di satu sisi ada sosok Nabi terakhir yang malaikat saja bershalawat untuknya, di satu sisi kita disodorkan dengan fragmen2 kehidupan Muhammad ketika dia bergelut dengan tarikan-tarikan kemanusiannya hingga kadang ditegur langsung oleh Allah. Gue menganggap konsistensi AlQur’an dan sirah dalam menggambarkan Nabi demikian karena kita harus tanggap kepada suatu tuntutan, bahwa Muhammad adalah suri teladan yang baik.

Akan salah kalau kita justru menempatkan Nabi di suatu puncak yang tak tersentuh, kemudian menganggap standar yang telah digariskannya tak pernah dapat kita capai. Sikap ini selain bisa membuat kita lebih permisif dalam melayani dorongan nafsu kita juga membuat kita enggan benar2 berusaha memperbaiki diri kita. Padahal, yang diminta justru sebaliknya. Bagaimana pribadi Muhammad dalam seluruh aspek dan konteks hidupnya menjadi benchmark bagi diri kita.

Sekarang coba deh, di tengah kegalauan kita merindukan adanya sosok yang dapat kita teladani, luangkan waktu untuk sendirian dengan Rasul untuk mendapatkan akses istimewa pikiran, perasaan dan tindakannya. Buat yang bosan dengan sirah klasik, selain buku barunya Ustadz Antonio, Rasul Zaman Kita karangan Dr. Tariq Ramadhan atau Nabi Zaman Kita-nya Karen Armstrong layak jadi pembuka mata.

Muhammad itu hanya seorang rasul, sungguh telah berlalu beberapa rasul sebelumnya. Maka seandainya dia mati atau terbunuh, apakah kamu lalu berbalik ke belakang? Padahal barangsiapa berbalik ke belakang, maka tidak akan ia menyusahkan Allah sedikit pun;dan Allah akan membalas mereka yang mensyukuri nikmatnya(3:144)

Posted in Seeking Paradise | 2 Comments »

Stuck in Reverse

Posted by aresto on February 27, 2008

Ada banyak alasan mengapa orang memilih untuk resign. Mulai dari bos brengsek sampai tidak suka kopi. Gejala di permukaannya bisa beragam,tapi biasanya sih kalau dirunut-runut keputusan resign muncul karena perasaan tidak bahagia. Dan karena menurut gue bahagia tidak bisa dibeli, pilihan yang diambil adalah menjauhkan diri dari sumber tidak bahagia. Ini berarti resign kalau bicara kerjaan.

Ketika membicarakan bahagia-tidak bahagia ini seorang rekan bertanya, “Kalo loe gimana to, apa kira2 yang bakal jadi sumber tidak bahagiamu di kerjaan ?”

Hmm memikirkan jawaban pertanyaan itu gue jadi teringat lagu “Fix You” punya Coldplay. Di lagu itu ada frase “stuck in reverse”, yang terdiri dari dua kata: stuck dan reverse, keduanya memiliki arti negatif. Tepat sekali menggambarkan kondisi kemunduran yang konsisten. Seperti terikat di sebuah kereta luncur yang bergerak ke dasar lintasan spiral, setiap putaran membawa loe semakin ke bawah.

Dalam karir, gue pikir kondisi “stuck in reverse” terjadi ketika loe terjebak dalam posisi yang hanya mengekspos loe ke task yang begitu2 saja. Semua bisa ditebak, loe sudah paham setiap sela, dan perbedaan antara tiap hari kerja hanyalah pada dasi yang loe pakai. Ketika tantangan menghilang, ketika itulah perlahan loe semakin tumpul. Kemudian BAAAMMM !!! tiba2 loe sudah obsolete.

Sekarang, seperti biasa gue dengan sotoynya akan berbagi beberapa tips untuk mencegah itu terjadi pada loe.

Punya target. Kuncinya adalah jangan cepat merasa puas diri. Kita ngga pernah tahu batas potensi kita, dan gue ngerasa satu2nya cara adalah untuk tahu batas itu ya maksa diri ngadepin tantangan2 baru. Dan ngomong2 target usahakan untuk berpikir lateral, kalau emang di kerjaan mentok toh dunia masih menyediakan begitu banyak pilihan untuk dilakoni. Jadi juara sudoku kek, jagoan parkour, juragan bakmi, atau suami teladan PKK. Intinya adalah menetapkan tujuan untuk bisa melihat how far you can come.

Jangan berhenti belajar. Ini nerusin poin yang pertama, dan gue gak perlu ngulang disini hadits Nabi yang ngeharusin kita belajar sepanjang hayat. Kalo loe bekerja di perusahaan yang punya personal development program bagus buat karyawannya, loe beruntung karena tinggal mengikuti path yang telah tersedia. Perhatikan baik-baik asumsi knowledge dan skill yang harus dimiliki di tiap jenjang karir, kemudian jadikan itu untuk mengukur capaian kita. Untuk yang bekerja di perusahaan yang tidak memiliki kurikulum khusus (atau berwirausaha), jangan kemudian lengah. Pokoknya berusaha terus untuk jadi subject matter expert di bidang loe.

Show it off. Gimana Musashi bisa tahu dia sudah mencapai kesempurnaan jalan pedang sebelum dia berduel dengan klan Yoshioka atau Kojiro ? That’s right people, you have to go out there, take heads and make name. Loe harus lebih artikulatif dalam mengungkapkan kalao loe butuh dan bisa ngadepin tantangan baru di kerjaan. Pergunakan sebaik mungkin kesempatan untuk menunjukkan diri.

Semoga berguna. Jangan lupa untuk keep going forward.

Posted in Office Hours | 4 Comments »

Nada Sambung yang Tidak Merdu

Posted by aresto on January 28, 2008

Hari Minggu kemarin gue dikejutkan oleh sebuah sms dari nomor 888 yang mendarat di hp esia gue.”Nada sambung anda telah diaktifkan. Anda telah dikenakan biaya Rp 9000+PPN/bulan…dst”. WTF, gue langsung meriksa talktime gue dan ternyata memang sudah berkurang 9000. WTF karena gue yakin gak pernah sekalipun mendaftar layanan nada sambung dan tiba2 dikasih tahu gue harus membayar untuk layanan itu.

Setelah gue tanya kanan-kiri paling tidak ada lima orang pelanggan Esia yang gue kenal pernah mengalami hal yang sama. Cuma bisa pasrah haknya sebagai konsumen diinjak-injak dengan semena2 oleh operator. Gue makin kesel ketika seperti datangnya yang seperti siluman, cara menghentikan layanan nada sambung ini juga sangat susah dicari. Rupanya memang karena niatnya nilep sengaja dibuat supaya nilepnya bisa kontinu. Padahal kalau mau sedikit sopan setidaknya di akhir sms-nya kan bisa disertakan cara meng-unreg layanan nada sambung itu.

Kalau udah ngalamin hal-hal kayak gini, baru kerasa lemahnya jadi konsumen di Indonesia. Mau ngadu ke siapa, gimana cara ngadunya, kalau sudah ngadu terus apa, akhirnya cuma bisa misuh2 di blog atau surat pembaca. Paling dampaknya cuma bikin cara nilep berubah aja, hari ini begini besok iklan tarif yang bohong. Arrgh…………

~gimana nih unregnya?sumpah lagunya norak banget….

—————————-UPDATE—————————————-

Setelah gue mengirimkan compalint lewat situs Esia, gue menerima email balasan dari Customer Care Esia. Dalam email tersebut, Esia menjelaskan bahwa sesuai prosedur layanan nada sambung trial Esia telah mengirimkan dua buah sms yang berbunyi ““ Semoga anda suka dg NadaSambung ini & akan dikenakan Rp 9000/bln atau Rp 3000/mg sesuai dg talktime anda stlh 27Jan .Utk stop, sms RING UNSUB ke 888” pada tanggal 13 dan 24 Januari 2008. Karena gue tidak melakukan langkan unsub, maka nada sambung trail tersebut otomatis diperpanjang dan gue dikenakan charge.

Nampaknya justru disinilah pangkal masalahnya. Berbeda dengan log aplikasi Esia, gue yakin kalau gue tidak pernah menerima sms tersebut pada tanggal yang disebutkan. Karena sebagai auditor gue lebih percaya log ketimbang perasaan, gue menduga masalah terjadi karena log aplikasi tidak mencatat apakah sms yang dikirim memang delivered ke nomor gue. Dugaan gue penyebab tidak sampainya sms ini karena pada tanggal2 tersebut nomor gue sedang dalam status gogo di Bandung.

Gue menghargai respon yang cepat dari Esia, sambil tetap menyarankan untuk merubah prosedur layanan nada sambung trialnya. Ada baiknya sebelum secara otomatis memberi nada sambung gratis, pelanggan diberi pilihan untuk menerima atau tidak nada sambung gratis itu. Begitu juga pada hari tenggat masa gratis, pelanggan dikirimi lagi sebuah sms sebelum secara otomatis memotong talktime.

Posted in Ya Basta ! | 16 Comments »

Rokok Menyehatkan Bangsa ?

Posted by aresto on January 22, 2008

Ada sedikit pikiran yang ingin gue tulis setelah menonton babak final Copa Dji Sam Soe dan sebagian partai 8 besar Liga Djarum. Bukan masalah perilaku suporter, lucunya wasit, atau bisik2 tentang pengaturan skor yang ingin gue angkat. Gue lebih tertarik membahas lekatnya rokok dengan dunia olahraga di Indonesia.

Menurut gue kedua hal tersebut sangat tidak kompatibel. Rokok sudah diamini secara ilmiah sebagai benda yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Kalau loe baca artikel tentang gaya hidup sehat, sudah pasti ada reminder untuk menghindari rokok. Bahkan, industri rokok pun sudah ngga menolak fakta kalau rokok itu berisiko tinggi bagi kesehatan. Kalo ada yang pernah nonton film “Thank You For Smoking”, lobi dan pelintiran industri rokok sekarang fokus pada detail-detail seperti aturan dalam beriklan, skala pembatasan di ruang publik, harga cukai, dan tuntutan class action masyarakat.

Tapi, di Indonesia olahraga dan rokok justru menikmati hubungan yang sangat mesra. Sponsor utama event olahraga nasional dari sepakbola, basket, sampai bulutangkis semuanya perusahaan rokok. Tadinya gue berpikir ini karena perusahaan rokok punya dana yang sangat besar untuk menjadi sponsor. Berpikir lebih jauh lagi, gue sadar kalau masalahnya lebih ke “mau” ketimbang “bisa”. Untuk menyediakan dana sangat besar dengan menjadi sponsor, gue yakin banyak perusahaan bidang lain yang mampu. Perusahaan rokok mau banget karena ada kepentingan untuk mengaburkan fakta dampak negatif rokok untuk kesehatan sekaligus memastikan brand tetap melekat di kepala penggemar olahraga.

Nah, setahu gue hubungan erat rokok dan dunia olahraga hanya terjadi di Indonesia. Di luar negeri sepertinya (gue ngga tahu persis) ada aturan yang melarang rokok menjadi sponsor utama event olahraga (kecuali otomotif, yang menurut gue bukan olahraga).

Ini sekadar contoh kecil bagaimana nikmatnya jadi perusahaan rokok di Indonesia. Pasar luar biasa besar, regulasi antirokok yang mandul, cukai murah membuat pemain utama di Indonesia selalu sukses mencetak untung besar dan menempatkan pemiliknya di daftar 10 besar orang terkaya di Indonesia. Ngga ada yang peduli dengan makin mudanya usia perokok di Indonesia atau dampak negatif rokok bagi ekonomi rakyat kecil. Jadi, sepertinya sih memang masih akan lama bangsa ini dipecundangi rokok.

Posted in Ya Basta ! | 7 Comments »

Senjakala Si Maling Budiman

Posted by aresto on January 18, 2008

Gue benci Pak Harto. Kebencian yang bertambah seiring dengan banyaknya informasi tentang berbagai sepak terjangnya selama berkuasa. Yakin deh kalau loe peduli sangat sulit untuk tidak membenci bapak kita satu itu. Menurut gue kejahatannya teramplifikasi oleh kenyataan bahwa dia jadi orang nomor satu di negeri ini selama 32 tahun. Kalau dia hanya menjadi ketua rt yang menggelapkan iuran hansip, pastinya mudah untuk melupakan dan memaafkan.

Dengan kekuasaannya Pak Harto punya kesempatan untuk mewujudkan “Indonesia Lain”, negara Pancasila yang adil, makmur, sejahtera, disegani dalam pergaulan internasional, macan Asia dengan pertumbuhan ekonomi mencengangkan. Kenyataannya, Pak Harto sangat bertanggungjawab terhadap kenyataan Indonesia yang loe temui ketika loe bangun hari ini, negeri maling yang ndobos dimana keadilan sosial tidak pernah untuk seluruh rakyatnya.

Loe harus adil dong, To. Coba kita sebut jasa2nya: mewujudkan keamanan dan stabilitas (dengan membangun negara “Big Brother” yang menyebarkan ketakutan dan menginjak HAM), mewujudkan swasembada pangan (yang tidak memedulikan diversifikasi makanan pokok lokal sehingga bangsa ini tergantung pada beras kemudian impor beras), membangun 900 sekian masjid (dengan uang yayasan yang tak jelas sumbernya sambil memastikan Islam gerakan tetap dalam keadaan tiarap), menjadi pemain berwibawa dalam kancah internasional (sambil tetap menjadi bangsa kuli yang bertekuk lutut menyerahkan kekayaan sdanya untuk ditukar kick back yang menjamin anak cucu dewe sejahtera tujuh turunan). Wah, luar biasa besar memang jasa Pak Harto untuk bangsa ini.

Karena benci itulah, jadi eneg juga gue melihat liputan media atas sakitnya Pak Harto yang menurut gue sangat lebay. Semua media seperti berebut menyiarkan perkembangan menit ke menit, lengkap dengan parade istilah medis yang njelimet, dengan presentasi grafis yang lengkap, dan konferensi pers yang mungkin dirasa kurang afdol kalau tidak menjejerkan belasan dokter. Belum lagi ribut2 yang terjadi di luar, tentang memaafkan atau tidak memaafkan, diadili atau tidak diadili. Seakan kalau pake ribut2 kita ngga bisa nebak ini akhirnya gimana. Bahkan dari ranjang sekaratnya pun, bapak satu itu sukses mengkuyo-kuyo bangsa ini. Maling budiman 1 rakyat Indonesia 0.


..maling di negeriku
hidupnya terjamin
maunya dihukum
tapi ngga tahunya
yang menghukum
juga MALING….
~Maling Budiman, Orkes Sinten Remen

Posted in Ya Basta ! | 7 Comments »

Tempe Jangan Kau Pergi

Posted by aresto on January 15, 2008

Ada kabar buruk yang gue dengar dari abang tukang sayur ketika belanja tempe pesanan ibuku. “Beli yang banyak sekarang Mas, besok udah ngga ada” kata si abang ketika gue minta diambilkan tempe. Bercanda nih abang pikir gue. Indonesia kan negara tempe, wong sudah terinternalisasi jadi mental tempe, mana mungkin tempe bisa hilang di pasaran.

Setelah membuka koran, gue baru tahu ternyata si abang tidak asal ngomong.
Rupanya kenaikan haraga kedelai di pasar lokal sudah mencapai 150%. Awal Januari tahun lalu, kedelai masih dijual Rp 3400/kg. Harga itu terus merambat naik sampai puncaknya pada 2 Januari lalu mencapai Rp 7500/kg (Koran Tempo). Harga terkerek naik karena memang pasar kedelai dalam negeri yang 70% kebutuhannya disuplai impor sangat rentan terhadap pengaruh menurunnya produksi kedelai di Aregentina, Amerika, Cina, dan India akibat musim kering.

Kenaikan bahan baku gila2an tentu saja memukul industri tahu-tempe yang sebagian besar industri kecil. Ngga heran jika kemudian perajin yang bergabung dalam Koperasi Tahu-Tempe Indonesia mendemo Istana dan Gedung DPR dengan tuntutan terutama stabilitas harga dan swasembada kedelai. Untuk saat ini pilihan yang tersisa bagi mereka tinggal menghentikan produksi karena menaikkan harga tahu-tempe dapat membuat kedua makanan rakyat itu tak terjangkau oleh segmen pembelinya.

Tempe adalah lauk sarapan favorit gue. Ngga ada yang ngalahin enaknya tempe goreng dicocol sambel kecap dan segelas wedang teh manis. Bukan gue aja yang bakal kehilangan, tempe-tahu selama ini menjadi sumber protein murah yang terjangkau buat rakyat kebanyakan. Lagi-lagi menimbulkan pertanyaan apakah pemerintah benar-benar siang malam bekerja dan memikirkan rakyat. Selain itu, kita lagi2 dipaksa belajar bahwa penting untuk tetap independent di dunia yang interdependent.

Posted in Ya Basta ! | 2 Comments »

Menyibak Rahasia Meede

Posted by aresto on December 24, 2007

Sebenarnya gue agak skeptis dengan pengarang bernama pena “E.S Ito” ini. Waktu novel pertamanya Negara Kelima terbit gue sama sekali ngga berminat untuk membelinya. Alasan skeptisnya ngga mutu sih, setelah gue pikir2 lebih karena sombong aja berasumsi kalau novel itu tidak memenuhi standar layak baca gue.

Tapi entah kenapa, sebagai orang yang percaya buku itu memilih pembacanya, sejak pertama ngeliat Rahasia Meede di toko buku gue udah tertarik untuk membacanya. Lebih tertarik lagi setelah tahu pilihan tema dan ulasan positif tentang novel ini di Ruang Baca Koran Tempo. Setelah dibaca terbukti novel itu memang oke dan E.S. Ito layak mendapat acungan jempol.

Rahasia Meede berpangkal pada sebuah mitos yang sudah lama beredar luas di negeri ini. Mitos tentang harta karun revolusi(/Majapahit/Pajajaran/dll dari masa silam) berjumlah luar biasa yang dipercaya bisa mengentaskan nasib negara ini, atau untuk seorang pribadi serakah berarti kaya tujuh turunan.

Harta karun mitis itu ditulis sebagai harta karun peninggalan masa kolonialisme VOC dalam novel ini. Jalinan cerita pun dibangun pada persaingan dua kelompok untuk menemukan harta VOC berupa emas batangan yang jumlahnya setara deposit Fort Knox. Dua kelompok yang semula sekutu itu saling beradu muslihat, intrik, dan sumber daya dalam sebuah konflik memikat yang membuat novel ini harus dibaca sampai tuntas.

Tentu saja kalau hanya menceritakan perburuan harta karun gue lebih baik membaca Lima Sekawan dan tidak akan memuji novel ini dengan berapi-api. Menurut gue paling tidak ada tiga sebab besar yang membuat novel ini oke.

Sebab pertama adalah pilihan E.S. Ito untuk memasukkan pengalaman pribadinya di Tarnus ke dalam novel ini. Beda dengan Bang Aditya Mulya yang menyenggol dikit Tarnus untuk memberi identitas pada karakter Olip di novel Jomblo, bumbu Tarnus terasa sangat kental dan nostalgik di Rahasia Meede. Buat gue yang lulusan Tarnus, ini terasa seperti diajak kembali mengingat hal-hal kecil yang hanya diketahui seseorang yang pernah menghabiskan tiga tahun masa remajanya di sana. Di titik ini gue yakin ada pembaca yang menganggap gue bias dalam membahas novel ini. Tapi, gue justru berpendapat buat pembaca yang cuma tahu kalau Tarnus ini SMA terbaik di Indonesia pada masanya(sekalian biasnya), unsur Tarnus justru membantu lebih memahami tensi yang terjadi antara dua tokoh utama di novel ini. Love-hate relationship antara Kalek yang pentolan OTB Anarki Nusantara dengan Batu Mendrofa yang agen lapangan terbaik satuan Sandhi Yudha Kopassus. Dua pilihan karir yang sangat logis untuk seorang lulusan Tarnus.

Kedua, gue kagum sama riset yang dilakukan E.S. Ito untuk membuat novel ini utuh. Buat gue, penulis yang ngga pelit dalam riset adalah penulis yang menghargai pembacanya. Apalagi kalo pilihan latarnya adalah sejarah seperti novel ini. E.S. Ito sukses membuat pembacanya kagum dengan keluasan bahan pendukung yang meliputi sejarah VOC, adat Mentawai, sampai racun-racun khas negeri ini. Saking meyakinkannya kisah ini disampaikan, gue yakin ada orang yang tertarik untuk berburu harta karun VOC setelah membaca novel ini. Kalau ketekunan ini berlanjut dalam novel2 selanjutnya ngga heran kalau suatu saat E.S. Ito punya reputasi sebagai Michael Crichton Indonesia, yang tidak takut menjelajah berbagai tema karena pede dengan kualitas risetnya (sumpah lho gue ngga dibayar E.S. Ito, bukunya pun gue beli sendiri :P).

Hal ketiga tidak akan mengagetkan kalau sudah mengenal sosok E.S. Ito sebelum membaca novel ini. E.S. Ito dengan pas menyelipkan berbagai kritik dan keprihatinan tentang kondisi bangsa ini. Kemalasan belajar dari sejarah , sikap inferior saat berurusan dengan bangsa asing, serta penghambaan pada harta dan kuasa berkali2 disinggung E.S. Ito sebagai penyakit yang tak kunjung sembuh.

Membaca novel ini di antara perjalanan ke Medan dan Makassar, gue jadi sedikit paham pesan rahasia di balik Rahasia Meede. Betapa kekayaan negeri ini sama seperti harta karun Meede, akhirnya hanya jadi rebutan kolonialisme baru bangsa asing dan syahwat kuasa oknum manusia Indonesia yang kemaruk. Tak pernah dan tak akan tentang perut rakyat.

~Bang Edri, ditunggu novel berikutnya…

Posted in Just Read It | 4 Comments »

Catatan dari Seberang

Posted by aresto on December 17, 2007

Gue menulis ini sambil berusaha keras membagi perhatian dengan tayangan big match MU vs Liverpool di ESPN. Sendirian di sebuah kamar hotel berbintang di Makassar membuat jari-jari ini gatal ingin berbagi cerita dari seberang lautan. Serunya pertarungan dua raksasa merah pun rasanya tak bisa menunda entry ini.

Setelah beberapa lama berkutat di kawasan Sudirman dan cuma bisa iri dengan Anjar yang mengunjungi pelosok Nusantra, tanpa disangka engagement di Big T memberiku kesempatan setidaknya mengunjungi dua kota yang selama ini asing. Minggu lalu tiga hari di Medan, dan sekarang rencananya tiga hari lagi di Makassar. Semuanya dalam rangka mengerjakan yang mungkin bisa dibilang “cuci piring”, kalau boleh meminjam kata-kata SBY.

Pekerjaan pulalah yang membuat gue ngga punya waktu untuk melayani ketertarikan luar biasa untuk menjelajahi lebih banyak dua kota itu (satu tepatnya, di Makassar kan baru semalam). Mungkin juga karena gue bertugas sendirian dan kehilangan teman untuk seru2an. So, it’s business all the way, menjalani peran konsultan dari Jakarta yang harus siap dengan jawaban ketika ditanya “Bagaimana Pak pendapatnya ?”

Di Medan cerita menarik justru gue alami dengan seorang supir yang saban pagi mengantar gue ke kantor. Mas Setyo. asli Jawa tapi sedari kecil sudah tinggal di Medan. Sejak pertama kali membuka obrolan, gue merasakan sesuatu yang lain pada diri supir ini. Gue ngga bermaksud merendakan supir, tapi ada pendar pengatahuan dan pede yang membuat obrolan dengan Mas Setyo tak pernah terjabak pada basa basi supir penumpang. Dia selalu punya pendapat dan perjalanan kami selalu penuh diskusi yang hangat. Tak kaget ketika belakangn gue tahu dia ternyata lulusan Al Azhar dan ketika di hari terakhir dia bercerita tentang niatnya merintis swalayan aksesoris motor, gue menemukan sesosok guru tentang bagaimana menjadi merdeka dan keyakinan penuh atas rezeki-Nya.

Menyimak entri-entri gue, mungkin banyak di antara pembaca yang merasakan nuansa negatif yang sepertinya menggelayuti gue. Jujur aja, di saat sendirian seperti ini kadang gue bertanya ke diri sendiri “am I running from something?” Lari atau tidak gue ngerasa saat-saat seperti bersama Mas Setyo lah yang akan gue kenang dan lebih menarik untuk diceritakan.

Posted in ABCs of Life, Office Hours | 4 Comments »

Pleto Saba Bandung (2) - Bittersweet Symphony

Posted by aresto on December 4, 2007

I start writing with the intention to write about culinary experience I have in Bandung. I have already take mental notes about every places I have visited and even already decided how I want to write the saliva inviting story.

But, as I face my laptop screen and begin to type, I realize there’s this feeling that have been nagging me the past few weeks. Suddenly, a piece about Bandung best places to dine become no longer interesting.

I’m having a blast in Bandung, there’s no denial about that. I mean, check my routine. An hour in the gym before work, freely choose where to eat without thinking about budget, use the cab everywhere, and went home to a cozy apartment room. You probably say there’s nothing I should be complaining about.

It’s just I can’t stop the feeling that I’m living someone’s else life, and I really don’t enjoy it. Back in Jakarta, my friends notice how most of the time I went separate way when it comes to lunch. That’s because I usually choose the economic option and eat frugally. My favourite spot around BEJ is S.Widjojo cafetaria, where you can buy Rp 9000 package of rice, veggies, one piece of non meat dish, and one fish/chick/meat dish. Meanwhile there’s one time in Bandung where I found myself actually talking about which Seinnheisser she must buy for her new IPod Nano, what a crap.

It’s not about living large. Maybe knowing this gonna be over pretty soon or maybe I really miss those little things in life that I value. I am sure it’s the latter. Somebody please give me a dose of reality.

Posted in ABCs of Life, Office Hours | 4 Comments »