aresto in-depth

my words,my opinions

I’m Going Down Under! Part 4 – The Class

Posted by aresto on January 16, 2010

Seminggu ini gue mengikuti program orientasi di CMU, dan jadi kesempatan bagus untuk mengenal teman-teman mahasiswa dan staf pengajar di CMU.

Sebelumnya gue memang sudah memperkirakan bahwa kelasnya akan menjadi kelas internasional, tapi begitu saling berkenalan gue cukup kaget juga dengan beragamnya latar belakang teman-teman gue. Dari negara asal saja, ini kali pertama gue berkenalan dengan orang dari Srilanka, Pakistan, Kolombia, Peru, Kostarika, Mexico, Argentina, Vanuatu, dan Uganda. Setiap orang membawa dimensi keragaman lain dari sisi latar belakang pendidikan, minat, dan pengalaman kerja. Setiap menyempatkan diri mengobrol dengan salah satu mereka, selalu ada cerita menarik yang bisa dinikmati. Lebih asyik lagi karena CMU kampus kecil yang hanya terdiri dua jurusan, gue punya kesempatan untuk mengenal semuanya.

Salah satu kesamaan yang mungkin terasa adalah hampir semua mahasiswa CMU adalah penerima beasiswa dan berasal dari negara dunia ketiga. Masing-masing dari teman gue pasti punya sesuatu yang membuat mereka diterima di CMU dan mendapat beasiswa. Jadi, gue sudah membayangkan akan berkompetisi di level yang tinggi sepanjang masa kuliah nanti. Walaupun begitu dari seminggu kemarin terasa juga bagaimana rasanya sih di tengah kesibukan kampus, kami perlahan akan membentuk sebuah keluarga yang hangat.

Keragaman dan kehangatan juga sangat terasa dari pengajar dan staf yang ada di kampus. Di satu sisi mereka tak henti2nya mengingatkan tentang akan beratnya tantangan akademis CMU, di sisi lain mereka juga sangat antusias dalam menawarkan bantuan dalam bentuk apapun. Nah satu hal yang perlu gue latih adalah bisa lebih terbuka dan mengambil inisiatif dalam berkomunikasi dengan dosen. Kalau gue liat teman2 gue lebih terbiasa untuk langsung mendatangi dosen, sekadar chitchat atau bertanya sesuatu,

Oh ya ngomong2 komunikasi. Satu hal yang gue rasakan kurang dari mahasiswa Indonesia termasuk gue adalah kemampuan bahasa Inggris. Mungkin karena pengajaran bahasa Inggris di negara kita tidak efektif dan setelah lulus dari jenjang S1pun mahasiswa Indonesia tidak mampu untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan rileks. Banyak yang datang ke Australia harus menjalani kursus sampai 20 minggu terlebih dahulu karena kemampuan bahasa In ggrisnya tidak memenuhi standar universitas. Buat gue yang jadi masalah adalah kurangnya gue dalam berlatih berbicara bahasa Inggris. Ini membuat gue agak lambat dalam mengungkapkan apa yang ada di pikiran gue. Ngga ada cara lain, gue harus memaksakan diri untuk sebanyak mungkin mengobrol dalam bahasa Inggris dalam berbagai situasi.

Posted in ABCs of Life | Leave a Comment »

I’m Going Down Under! Part 3 – The City

Posted by aresto on January 16, 2010

Setelah seminggu di Adelaide, sekarang rasanya saat yang tepat untuk menulis sedikit tentang kota yang akan gue akan tinggali selama setahun ke depan.

Kalau ada yang belum tahu, Adelaide adalah ibukota negara bagian Australia Selatan dan bisa ditemukan di bagian bawah peta benua Australia (obviously). Sebelum sampai ke Adelaide, banyak teman yang sudah pernah tinggal di Australia selalu bilang Adelaide adalah kota yang sangat sepi dibandingkan kota seperti Brisbane, Sydney, atau Melbourne. Begitu gue sampai ke kota berpenduduk hanya sekitar 1 juta orang itu, memang kesan sepi dan tenanglah yang sangat terasa. Kesan yang langsung membuat gue yakin bahwa gue bakal kerasan di kota ini.

Dua hari pertama di sana gue mendapat ujian akan kesan pertama gue tersebut :) Rupanya gue datang tepat saat gelombang panas mencapai puncaknya di Adelaide. Gue berkesempatan untuk merasakan panasnya suhu sampai 43 derajat. Kalau 33 derajat di Jakarta sudah terasa panas, silakan bayangkan sendiri rasanya 43 derajat. Puaaaanaaas sekali. Ngga heran kalau penduduk lokal selalu mengingatkan untuk lebih baik tinggal di rumah dan banyak minum. Dua malam pertama gue selalu terbangun dari tidur karena saking gerahnya gue merasa seperti perlahan tenggelam di kubangan keringat sendiri. Padahal gue sudah lepas baju dan dibantu oleh kipas angin (AC mahal hehehe). Syukurlah pada hari ketiga hujan turun dan mengembalikan Adelaide ke indahnya musim panas di iklim Mediteranea.

Kota Adelaide adalah kota tua yang menurut penduduknya paling tidak banyak berubah dibandingkan kota-kota besar lainnya di Australia. Dan memang jika diperhatikan di peta, Adelaide adalah kota berbentuk grid rapi yang dibatasi oleh parkland di keempat sisinya. Di luar batas kota utama adalah daerah suburbs yang memanjang dibatasi laut di barat dan perbukitan di timur. Kesan tua juga diperkuat oleh banyaknya bangunan kolonial yang masih terawat dan masih digunakan sampai sekarang. Kampus CMU pun menggunakan ruangan di sebuah gedung tua bernama Torrens Building.

Buat pendatang seperti gue, salah satu topik yang selalu menjadi bahan pembicaraan adalah membandingkan Adelaide dengan tanah air tercinta Indonesia. Yakin deh, begitu mahasiswa Indonesia ngumpul pasti salah satu topik ngalor ngidulnya pasti itu. Dari seminggu ini, kesimpulan yang bisa gue ambil dari topik itu adalah di Adelaide, berbeda dengan Indonesia, pemerintah yang efektif terasa hadirnya. Hal paling sederhana untuk mendukung kesimpulan ini adalah berbagai kemudahan yang ditawarkan sebagai fasilitas publik. Gue kemudian berpikir lebih jauh, kemudahan yang disediakan aksesnya oleh pemerintah berdampak pada bagaimana masyarakat akhirnya menjadi disiplin dan mengatur dirinya sendiri. Ngga ada yang sembarangan seenak udelnya, hal-hal kecil yang istilahnya hanya kita sendiri dan Tuhan yang tahu kalau kita melanggar pun tidak dilakukan.

Pada titik ini, biasanya argumen yang muncul adalah “ya iyalah teratur, apa susahnya ngatur 1 juta orang dibanding 20 juta orang misalnya.” Tapi, kalau dipikir argumen seperti itu kan sama aja bilang ilmu manajemen tidak ada gunanya. Lah manajemen kan ada untuk menjawab pertanyaan sederhananya bagaimana dengan sumber daya yang ada, obyektif kita bisa tercapai. Setiap kota pasti punya masalah keterbatasan sumber daya, faktor-faktor eksternal yang memang harus dihadapi sebagai kendala. Akhirnya memang pembicaraan membandingkan Adelaide dengan kampung halaman selalu berujung pada perasaan gemes

Di Adelaide gue beruntung untuk mendapatkan tempat yang enak dengan harga yang terjangkau. Gue tinggal di sebuah apartement fully furnished di daerah Forestville. Tempatnya strategis, 10 menit dari kampus dan bisa memilih untuk naik bis, trem, atau kereta. Di apartemen 3 kamar itu gue tinggal dengan 4 orang Indonesia lain. Sebelum berangkat ke Adelaide, sebenarnya gue berniat untuk tidak tinggal dengan orang Indonesia karena takut bosan dan cenderung terbatas pergaulannya. Tapi belakangan gue sadar memang di negeri orang tinggal dengan teman sebangsa lebih banyak untungnya. Di apartemen misalnya, banyak barang yang digunakan berasal dari mahasiswa2 Indonesia yang sudah pulang sebelumnya. Terus untuk masak dan keperluan rumah tangga juga bisa patungan untuk dinikmati bersama. Satu yang gue seneng juga, kebetulan gue mendapat teman seapartemen yang sama2 rajin dan suka kerapihan. Jadinya gak ada tuh cerita makan ati karena selalu ketempuhan harus bersihin macem2 sendiri.

Overall, it’s great to be here. Mudah2an gue bisa memanfaatkan kondusifnya lingkungan di Adelaide untuk belajar

Check out the photos here

Posted in ABCs of Life | 3 Comments »

I’m Going Down Under! Part 2 – The School

Posted by aresto on December 24, 2009

Ada cerita tersendiri tentang program studi dan universitas yang insya Allah akan menjadi tempat gue menempuh jenjang S2 di Australia nanti. Sebenarnya universitas tersebut bukan pilihan pertama gue. Bukan karena kualitasnya tidak bagus, tapi lebih karena terbayang pun tidak untuk mendaftar apalagi sampai diterima di sana.

Coba siapa di antara pembaca dengan latar belakang IT pernah mendengar nama Carnegie-Mellon University ? Meminjam idiom bule, that name always send shiver through my spine :) Karena itu di awal proses sebenarnya gue memilih program studi yang lebih “enteng”, Business IT/IS di universitas seperti SydneyU atau Monash (tentang pilihan negara dibahas di posting selanjutnya). Dari awal minat gue belajar lebih jauh tentang IT Governance dan IT Risk Management, dan rasanya sih program studi tersebut menawarkan apa yang gue cari. Tapi, rupanya Depkominfo punya pendapat lain dan menawarkan gue untuk apply ke program MSc in IT(MSIT) di Carnegie-Mellon University, Heinz College, Adelaide. Menurut Depkominfo, ini kesempatan bagus untuk mempelajari minat studi gue di universitas ternama AS yang kebetulan sekarang sudah membuka cabang di Australia sehingga terjangkau.

Awalnya gue ragu (sampai sekarang juga masih), tapi setelah mengikuti proses seleksi program studi MSIT di CMU *brrr* dan lulus perlahan gue semakin yakin bahwa inilah jalan yang harus gue tempuh. Oh ya, seperti gue singgung di posting sebelumnya, setiap program studi di masing2 universitas punya persyaratan dan proses pendaftaran sendiri. Untuk CMU *brr* ini termasuk proses aplikasi online yang mengharuskan calon mahasiswa meminta dua orang memberikan rekomendasi melalui formulir online. Selain itu calon mahasiswa juga harus mengikuti tes Matematika online yang pertanyaannya agak mirip dengan GMAT.

Di Adelaide, CMU *brrr* membuka dua program studi: MSIT dan MSc in Public Policy Management(MSPPM). MSIT diberikan sebagai program dengan masa studi 12 months/3 semester untuk full-time students seperti gue. Periode belajar yang termasuk singkat itu diisi dengan kurikulum yang menawarkan keseimbangan keahlian dalam berbagai bidang IT dan manajemen. Di Adelaide, CMU *brrr* dibuka di tahun 2006 dan menjadi cabang CMU untuk wilayah Asia Pasifik. Walaupun terletak di Australia, tapi mahasiswa memiliki akses yang sama ke berbagai fasilitas yang ada di kampus Pittsburgh. Bahkan, untuk beberapa mata kuliah diajarkan secara remote oleh dosen yang ada di kampus Pittsburgh.

Gue paham benar satu tahun ke depan akan menjadi masa kuliah yang berat. Sudah 5 tahun sejak gue meninggalkan bangku kuliah, dan pastinya butuh adaptasi untuk kembali ke student mode. Well, siapa bilang hidup itu mudah ? Doakan gue ya teman2 :)

Karena dengan pengalaman, masa depan seakan-akan telah diratakan. Sedang bagi mereka yang tidak berani menempuh bahaya, tak sesuatu apapun yang akan bisa dicapainya.~Mahesa Jenar kepada muridnya Bagus Handaka, dalam Nagasasra dan Sabukinten

Baca juga:

Posted in ABCs of Life | 4 Comments »

I’m Going Down Under! Part 1 – The Scholarship

Posted by aresto on December 23, 2009

Untuk menjawab berbagai pertanyaan dari teman-teman tentang gerangan kapan, kenapa, kemana dan bagaimana yang terjadi dengan gue setelah posting saya sebelumnya, gue akan menjelaskan dengan beberapa tulisan yang dimulai dengan posting ini.

Setelah beberapa tahun bekerja, gue sampai pada suatu titik dimana gue merasa membutuhkan suatu hal luar biasa untuk menambah kapasitas dan kompetensi pribadi gue. Pekerjaan gue adalah konsultan yang jelas-jelas knowledge work. Tanpa kapasitas yang terus ditambah, value yang dapat diberikan ke klien terasa semakin kurang.

Itulah yang menjadi alasan utama gue kemudian mantap mencari beasiswa S2 keluar negeri. Sebuah proses yang panjang dan lebih banyak diwarnai kegagalan. Tapi, alhamdulillah pada akhirnya gue mendapat kesempatan belajar dengan Beasiswa Luar Negeri Depkominfo 2009.

Secara umum, beasiswa tersebut adalah salah satu program Depkominfo dalam meningkatkan kualitas SDM komunikasi dan informatika untuk mendukung visi masyarakat informasi Indonesia. Karena visi tersebut membutuhkan dukungan berbagai sektor, kesempatan beasiswa diberikan kepada individu dari berbagai kalangan seperti PNS, pendidik, peneliti, pekerja industri TIK, dan pekerja media massa. Sementara sesuai dengan visi tersebut, Depkominfo mengutamakan bidang yang terkait TIK mulai dari IT, telco, sampai cyberlaw, e-commerce, public policy, jurnalisme, dan komunikasi massa.

Beasiswa ini diberikan setiap tahun dan sudah memasuki tahun ketiga. Biasanya pengumuman disampaikan melalui situs Depkominfo sekitar awal tahun, karena itu bagi yang berminat silakan kunjungi situs Depkominfo secara rutin mulai dari sekarang.

Untuk persyaratan, rasanya tidak terlalu berbeda dengan beasiswa lain sehingga bisa dipersiapkan secara juga apabila melamar beasiswa lain. Syarat umum itu meliputi IPK, nilai TOEFL/IELTS, pengalaman kerja, dan rekomendasi atasan. Mungkin yang sedikit berbeda adalah syarat harus memiliki nilai minimum 550 untuk TPA yang diselenggarakan Bappenas. Satu lagi penjelasan tentang persyaratan beasiswa menyebutkan bahwa nilai lebih akan diberikan kepada kandidat yang sudah memiliki bukti penerimaan (Letter of Acceptance) di universitas yang dipilih.

Kelebihan beasiswa Depkominfo adalah pilihan negara yang ditawarkan. Untuk tahun ini misalnya, beasiswa ditawarkan untuk melanjutkan studi ke Australia, Belanda, Inggris, Prancis, dan Swedia. Di masing-masing negara tersebut Depkominfo sudah menjalin kerjasama dengan berbagai universitas ternama seperti Monash, ANU, Delft, HAN, Sorbonne, King’s College, atau Linkoping. Ini membuat peminat dapat memilih universitas yang dirasa paling tepat untuk melanjutkan studi. Tentu saja banyaknya pilihan juga berarti peminat harus mencari informasi dan menyiapkan berbagai persyaratan khusus untuk program studi di universitas terkait.

Beasiswa yang diberikan bagi penerima meliputi biaya pengurusan visa pelajar, biaya perjalanan pesawat, tuition fee, asuransi kesehatan, uang penempatan awal (establishment cost), biaya hidup selama mengikuti pendidikan (living allowance). Untuk establishment cost dan living allowance diberikan secara proporsional sesuai dengan negara tempat studi. Karena beasiswa negeri tentu saja besarnya jangan dibandingkan dengan beasiswa seperti ADS, Stuned, Chevening, atau Eiffel. Yang jelas jumlah yang diberikan cukup untuk menunjang kebutuhan seorang mahasiswa asing selama kuliah.

Terakhir, gue sekali lagi mengingatkan kalau keberhasilan mendapatkan beasiswa tidak pernah instan. Jika benar-benar serius ingin mendapatkan beasiswa, maka harus mau melakukan persiapan yang serius dan terencana. Gue lihat setiap tahun kesempatan beasiswa keluar negeri sangat banyak dari berbagai lembaga, tinggal seberapa keras usaha kita untuk mendapatkannya

Jika ada yang ingin bertanya lebih jauh tentang beasiswa Depkominfo silakan dapat langsung bertanya melalui blog ini atau mengirim e-mail

Posted in ABCs of Life | 2 Comments »

That was then, this is now…

Posted by aresto on December 4, 2009

Jika ada yang berpikir bahwa meninggalkan pekerjaan yang sudah dijalani selama 4 tahun untuk melanjutkan sekolah di negeri asing adalah suatu keputusan mudah, percayalah bahwa itu tidak benar.
Sama seperti saat membuat keputusan besar lainnya dalam hidup, saya mengalami ketakutan dan kebimbangan dengan begitu banyak pertanyaan “Bagaimana nanti ?”

Tapi, sebagai orang yang sehari-harinya bergelut dengan dunia risiko, kita tentunya paham bahwa risiko akan selalu ada dan tidak boleh menjadi alasan untuk tidak mengambil kesempatan. Itulah yang saya lakukan, melangkah sambil berharap ini adalah suatu tarikan garis yang benar dalam membentuk sebuah gambar besar yang saya sebut cita.

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Pak Isnaeni, Mbak Monik, Pak Ali, Mas Nug, Yandi, Ronald, Bos All, Mbak Muthi, Mbak Liana,  dan Mas Ardhi untuk kesempatan mengembangkan karir profesional saya di TSRS. Penghargaan sebesar-besarnya saya berikan atas semua bimbingan, pelajaran, dan inspirasi yang saya yakin akan tetap relevan di hari-hari saya selanjutnya.

High five untuk semua rekan-rekan TSRS: Gita, Firly, Erwin, Ramos, Yuni, Putri, Vinsen, Eddy, Karl, Fauzan, Andin, Binia, Bowo, Aria, Tommy, Albert, Denny, Mamahit, Rinda, Irene, Tia, Surti, dan semua yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu di sini. Terima kasih atas kerja tim, kompetisi, dan canda tawa yang membuat setiap jam kerja menjadi lebih berwarna. Dukungan solid dari SDM sekelas kalian yang membuat TSRS akan selalu sukses.

Terima kasih banyak juga buat Mbak Monia dan Mbak Tia yang selalu siap sedia mempermudah berbagai urusan.

Untuk rekan-rekan BRS: Mbak Ida, Mimi, Mas Setio, Om Arief, Debi, Fahrul, Dyah, Akbar, Ira, Windi,Sao, Hendrik, Hendrian, Yohana, Anton, dan Adhit . Terima kasih untuk persahabatan dan suka duka yang dibagi selama di Bandung.

Sampai jumpa. Pada saat kita bertemu lagi kita sudah sekian langkah ke depan dalam menjadi pribadi yang lebih bermanfaat dari siapa kita sekarang. Semoga.

Posted in Office Hours | 4 Comments »

Awan Kelabu Pemberantasan Korupsi

Posted by aresto on September 16, 2009

Ini adalah saat-saat yang sangat menyedihkan buat siapapun yang ingin melihat Indonesia bebas dari korupsi. Jika membaca berita di media massa hari ini, maka yang terlihat adalah bagaimana gerakan pemberantasan korupsi di Indonesia menerima pukulan telak lewat dua kejadian pahit.

Yang pertama, tentu saja berita bagaimana lakon Cicak vs Buaya ternyata benar-benar berujung pada penetapan tersangka dua orang pimpinan KPK. Wajar sih salah satu tugas polisi menetapkan tersangka, tapi yang bikin gundah adalah tidak jelas benar sebenarnya apa kesalahan kedua pimpinan KPK itu. Bagaimanapun polisi berusaha menjelaskan, tulisan-tulisan di media lebih mewakili perasaan publik yang menangkap kesan bahwa polisi sedang memainkan jurus untuk membuat KPK terjerembab mencium tanah.

Sementara, seakan kompak mencederai satu-satunya lembaga pemberantas korupsi, anggota Dewan yang terhormat meloloskan isu krusial seperti pencabutan wewenang penuntutan KPK,keharusan izin penyadapan, dan komposisi hakim korupsi yang ditentukan oleh ketua pengadilan ke dalam RUU Tipikor. Jika tiga isu itu benar-benar disahkan ke dalam UU Tipikor, KPK praktis akan berperang melawan korupsi tanpa senjata-senjata yang dibutuhkannya.

Tentu saja kekhawatiran ini tidak perlu seandainya saja polisi, jaksa, dan pengadilan sudah menunjukkan keberpihakan yang jelas dalam perang melawan korupsi. Sayangnya, justru itu yang belum terbukti. Bahkan, boleh dibilang ketiga institusi ini masih menikmati status untouchable dalam hal pemberantasan korupsi.

Ya Allah, can You give justice a chance ?Please please please…

Posted in Ya Basta ! | 1 Comment »

Lihat, Lawan, Laporkan dengan KPK-OMS

Posted by aresto on September 3, 2009

Kabar gembira bagi para whistleblower dan concerned citizens yang ingin menggulung praktik korupsi. KPK baru saja meluncurkan layanan berbasis web yang diberi nama KPK Online Monitoring System (OMS). Layanan yang dapat dicapai melalui sebuah link di situs utama KPK ini memungkinkan masyarakat mengirimkan laporan pengaduan tentang dugaan tindak pidana korupsi yang diketahuinya. Lebih dari itu, layanan ini juga dengan adil memungkinkan masyarakat memberi apresiasi terhadap kinerja layanan publik instansi pemerintah

Salah satu kesan kuat yang terasa saat mencoba layanan ini adalah bagaimana KPK-OMS mendorong dan memfasilitasi anonimitas dalam pelaporan. Dalam formulir pelaporan, berkali-kali ditampilkan peringatan untuk menjaga anonimitas kita dengan tidak memberi bersit informasi yang dapat ditelusuri ke identitas kita.

KPK OMS ini bisa jadi contoh bagus bagaimana Internet dapat menjadi sarana luar biasa untuk mendorong partisipasi publik dalam mengawasi kinerja layanan publik. Tidak ada alasan lagi untuk tidak lihat, lawan, dan laporkan korupsi.

Posted in Ya Basta ! | 1 Comment »

Iseng2 di Creative Solutions Award

Posted by aresto on August 22, 2009

Sambil puasa hari pertama, iseng2 nemu situs ajang Creative Solutions Award Lintasarta.

Karena kebetulan topiknya pelayanan publik, akhirnya gue gatel dan ikut menyumbang sebuah ide. Sederhana sih, gue membayangkan sebuah situs yang memungkinkan publik mengetahui dengan benderang sebenarnya anggaran belanja lembaga-lembaga layanan publik itu larinya kemana.

Silakan beri komentar tentang ide gue di sini

Posted in Office Hours | 2 Comments »

Ilmu Lentur Bos Ali

Posted by aresto on August 4, 2009

Semalam divisi TSRS mengadakan farewell party untuk Bos Ali. Ketika sesi dimana yang hadir diminta memberikan kesan dan pesan tentang Pak Ali, terasa sekali bagaimana Pak Ali sudah meninggalkan kenangan tersendiri bagi orang-orang yang pernah bekerja dengannya.

Bagi gue sendiri, kesan itu terasa sangat pribadi. Pak Alilah yang dulu mewawancarai gue saat gue ingin bergabung ke EY. Kemudian selama 4 tahun ini, gue menghabiskan sebagian besar utilisasi gue di proyek-proyek advisory yang memang menjadi porsi Pak Ali di TSRS. Sepanjang waktu itu tentu saja banyak momen-momen yang jadi catatan tersendiri dalam kehidupan profesional gue.

Salah satu yang gue inget adalah suatu hari di masa junior gue. Waktu itu gue dan beberapa teman berangkat ke klien dengan menumpang mobil Pak Ali. Gue gak inget detail perbincangan waktu itu, yang jelas di suatu waktu Pak Ali bergurau,”Btw, jangan pada patah semangat ya ngeliat mobil SM di EY cuma Avanza” kemudian dia meneruskan “Hidup sederhana tuh pilihan”. Kita ketawa bareng waktu itu,menikmati momen humor sufi yang memang sering banget Pak Ali lontarkan. Dan begitulah Pak Ali yang sederhana, sampai resignnya pun dia menjadi satu2nya bos yang kadang bertemu di halte ketika menunggu bis pulang. Pak Ali menunggu feeder ke Kemang Pratama, sementara gue menunggu patas ke Depok.

Soal legacy, bagi gue pelajaran terpenting dari Pak Ali bukan tentang IT Governance atau EY IT Effectiveness Methodology. Nope, pelajaran terpenting justru tentang kelenturan. Sesuatu yang dia tunjukkan dalam berbagai kesempatan sepanjang kami bekerja bareng.

Kelenturan adalah tentang bagaimana kita bisa membawa diri dalam berbagai situasi dan lingkungan. Ini tentang me-manage ekspektasi dari berbagai pihak dengan karakter yang berbeda-beda. Juga tentang mengeksplorasi batasan-batasan dari framework atau leading practice untuk bisa men-deliver solusi yang wise untuk problema klien.

Gue sudah melihat bagaimana Pak Ali menunjukkan ini dalam berbagai dinamika engagement di klien. “Menjinakkan” klien yang ndableg, menjawab berbagai pertanyaan klien yang gue yakin dia sendiri belum tentu tahu jawabannya, sampai meramu solusi untuk keruwetan masalah klien yang seperti simpul Gordian.

Dalam prosesnya, gue paham bahwa menjadi lentur bukan berarti plintat-plintut atau mencla-mencle. Menjadi lentur justru harus didasari bekal yang kuat dan kepercayaan diri tinggi terhadap bekal yang kita miliki itu. Loe gak akan bisa lentur selama belum bisa ngebedai mana yang bisa dikompromikan dan mana yang tidak.

Terima kasih untuk semuanya, bos Ali. Good luck on your next journey, mudah2an kita bisa terus keep in touch.

Posted in Office Hours | 1 Comment »

Permen 2.0

Posted by aresto on June 24, 2009


Wow, bayangkan permen yang enak diemut sekaligus bisa dikustomisasi dan menjadi social media. Imagine the possibilities. Bisa jadi cara nembak baru, contekan, sampai mencatat to do list dan daftar belanjaan.

Posted in Uncategorized | 1 Comment »