
Wow, bayangkan permen yang enak diemut sekaligus bisa dikustomisasi dan menjadi social media. Imagine the possibilities. Bisa jadi cara nembak baru, contekan, sampai mencatat to do list dan daftar belanjaan.
Permen 2.0
Posted by aresto on June 24, 2009
Posted in Uncategorized | 1 Comment »
Solusi Hemat Rantang Merah
Posted by aresto on June 18, 2009
Salah satu yang terasa beda setelah pulang dari Bandung adalah masalah makan
Di Bandung, bisa dibilang kesempatan untuk wisata kuliner setiap kali makan, gratis pula. Setelah di Jakarta, tentunya kebiasaan tersebut ngga bisa diteruskan karena bisa berbahaya buat kesehatan kantong.
Mencari makan siang yang lumayan enak, bersih, dan terjangkau di wilayah SCBD termasuk cukup sulit. Ralat, gampang sih sebenarnya. Yang bikin sulit adalah parameter berapa ongkos maksimal yang mau gue keluarkan untuk keperluan makan ..hehehe. Dulu sebelum ke Bandung, tempat makan favorit gue adalah kantin di tempat parkir gedung S.Widjojo. Cuma membayar Rp 9000. kita bisa mendapatkan paket nasi+sayur+lauk utama+lauk tambahan. Sayangnya, gak tahu sejak kapan kantin itu sekarang sudah dibongkar.
Untunglah, solusi masalah makan siang gue datang dalam bentuk rantang merah. Gak tahu sejak kapan juga, sekarang ada ibu2 datang menawarkan katering yang dijual dalam rantang plastik merah. Paket nasi+sayur+lauk utama+lauk tambahan bisa didapat dengan Rp 9000. Tambah 2000 lagi kita bisa dapat seplastik besar krupuk dan sebuah pisang. Murah kan ? Wajar aja rantang merah ini jadi komoditi yang laku keras, seperti ditunjukkan gambar oknum2 berdasi yang sedang makan siang berikut.

Posted in Office Hours | Leave a Comment »
Kenapa Gue Suka The Mentalist dan Lie to Me ?
Posted by aresto on April 20, 2009
Setelah sudah lama ngga mengikuti TV series, belakangan ini gue lagi demen nonton dua serial yang seru, Lie to Me dan The Mentalist. Walaupun angle-nya sedikit berbeda, kedua serial tersebut punya jualan yang sama dengan menyajikan serunya detective work dengan kemampuan observasi terhadap bahasa tubuh dan microexpression.
Kemarin waktu gue ikutan acara Student Meets Practitioner (SMP) Ikastara yang temanya seputar karir, gue jadi ngeh dengan alasan kenapa gue berminat sekali dengan dua serial tersebut (selain karena seru tentunya). Alasan yang gue baru sadari itu yang ingin gue ceritakan.
Salah satu sesi di acara SMP itu adalah simulasi DISC assessment. Gue yakin sama seperti gue, loe juga pasti sudah pernah mengikuti tes ini sebagai bagian dari proses rekruitmen kerja. Yang bikin beda dari pengalaman kemarin adalah tidak seperti biasanya yang hanya jadi peserta, sesi itu dilanjutkan dengan pembahasan hasil DISC kita. Saat mendengarkan pembahasan itulah gue langsung berpikir “oh pantesan aja gue suka banget nonton tuh 2 serial.”
Menurut tes itu gue temasuk kepribadian DC/CD (lihat di sini jika tertarik pembahasan lengkap profiling dengan DISC). Beberapa ciri yang bisa diidentifikasi dari kepribadian tipe ini adalah ngga suka basa-basi, gagap dalam mengungkapkan atau memberi perhatian untuk hal-hal halus seperti perasaan, mengutamakan fakta dan data, serta kaku dalam hubungan interpersonal. Semua ciri yang harus gue nilai memang gue banget.
Kedua serial tersebut menampilkan porsi yang sangat besar tentang observasi terhadap ekpresi-ekspresi paling kecil yang ditampilkan manusia. Ekpresi-ekspresi yang remeh dan sering lolos dari pengamatan biasa ini justru yang dapat menunjukkan perasaan yang disembunyikan. Kedua serial itu juga walaupun fiksi, menampilkan kepekaan terhadap perasaan terdalam manusia itu sebagai sebentuk science, yang berdasarkan riset, logis, dan dapat dipelajari. Nah, ngerti kan kenapa gue sangat tertarik dengan kedua serial itu ? Kedua serial itu memberi secercah cahaya tentang hubungan interpersonal bagi gue yang bawaannya memang harus berusaha lebih di area itu
Alasan sama, yang membuat bagaimana dulu waktu SMP gue beberapa kali membaca ulang How to Win Friends and Influence People karangan Dale Carnegie.
Tentu saja, bagi gue cara paling susah-susah gampang untuk memahami orang lain dalam hubungan interpersonal adalah benar-benar mendengarkan. Sesuatu yang terus-menerus gue harus perbaiki dengan sabar sambil berharap mudah2an orang lain sama sabarnya dengan gue
Posted in ABCs of Life | 3 Comments »
Gue kira gue doang, Ternyata Memang IM2 Lemot…
Posted by aresto on February 23, 2009
Ngeliat berita ini dan ini jadi tahu kalau ternyata keluhan tentang kualitas layanan Indosat3G tidak hanya dirasakan oleh gue doang.
Memang sejak sebulan belakangan, sebagai pelanggan pascabayar IndosatM2 gue merasakan penurunan kualitas layanan yang sangat menyebalkan. Di hari kerja sih gak usah ditanya deh, daripada makan hati mending sekalian gak usah mencoba konek sama sekali. Saat wiken yang sebelumnya cukup reliable sekarang hampir sama menyebalkannya. Biasanya yang terjadi adalah susah sekali untuk mendapatkan koneksi atau putus sambung putus sambung kayak lagunya BBB, sekalinya terkoneksi untuk waktu yang agak lama kecepatannya luar biasa lambat serasa menggunakan koneksi GPRS. It supposed to be 3.5G and that’s what I paid for,God d**n it !!!
And the most annoying part is like any “good” telco operator would do, IM2 sent me this “Informasi Utilisasi Jaringan Broadband Internet IM2″ e-mail that blame the lousy connection to increase in customer number. Shame on u IM2, u promote ur service to increase customers, but then blame customer growth when u suck in providing adequate service level ?
That’s not all folks. After that “our demand exceed our capacity” crap, IM2 offer a solution to “tidak menggunakan aplikasi download manager seperti Torent dan Morpheus, serta senantiasa melakukan pengecekan lokasi favorit terkini melalui link www.indosatm2.com/zoneinfo. Selain itu, mohon Bapak/Ibu dapat menghindari pemakaian di lokasi favorit tersebut antara pukul 08:00 s.d 12:00 WIB dan 19:00 s.d 22:00 WIB”. Errr…we’re paying to be able to use anything we want, and how in the hell we suppose to check current favourite location bullshit when we can’t even connect ?
Aaargh….kapan Internet di Indonesia bisa murah, cepat, lancar, dan bebas bohong ?
Posted in Uncategorized | 15 Comments »
The Only 12 and Half Writing Rules You’ll Ever Need
Posted by aresto on February 10, 2009
Dari Allposters.com, bagus nih buat aspiring writers. My fave is rule no.2
Posted in On Writing | 3 Comments »
Tips Lulus CISA (sudah terbukti…)
Posted by aresto on February 9, 2009
Berani posting ini setelah positif lulus ujian CISA. Lega sekali rasanya begitu dapat pengumuman. Bukan apa-apa, yang paling bikin cemas kalo sampe gak lulus kan berarti duit n waktu yang udah dikorbanin jadi sia2. Dari pengalaman kemarin berikut beberapa tips persiapan yang dapat gue bagi untuk mereka yang berencana mengambil sertifikasi CISA:
Improve ur English. Walaupun ngga terkait langsung dengan materi ujian CISA, menurut gue faktor ini harus ditempatkan di poin pertama. Dari bukunya, latihan soal, sampai ujiannya semua menggunakan English. Ujian CISA terkenal dengan pertanyaan2nya yang menjebak dan membutuhkan pemahaman mendalam. Kalau masih belepotan di bahasa satu ini, dijamin kita akan kesulitan dalam mengerjakan ujian. Saran saya sih setidaknya penguasaan English kita sampai pada level reading comprehension yang cukup. Selain itu coba untuk familiar dengan vocabulary yang berhubungan dengan IT audit.
Fokus belajar ke satu sumber. Dulu waktu mulai belajar sempat kalap tuh ngumpulin berbagai buku dan software CISA. Tapi, setelah belajar beberapa minggu kok rasanya malah jadi gak fokus dan information overload. Saran gue fokuskan belajar loe di buku CISA Review Course dan software latihannya yang paling update. Target loe adalah minimal dua kali membaca seluruh materi buku dan mengerjakan semua soal di software latihannya. Nah kalau itu sudah beres, boleh deh nyari sumber lain untuk pengayaan.
Sediakan waktu khusus dan disiplin. Ini nasihat klasik sih, tapi entah kenapa orang paling susah ngikutinnya. Gue juga sebenernya gak disiplin2 amat, tapi memang dari awal sudah bikin target minimal tiap hari baca materi sejam, n ngerjain soal sejam. Manfaatkan waktu seoptimal mungking: buat study note, kerjakan soal DAN baca pembahasannya.
Gali pengalaman IT audit.Menurut gue salah satu faktor penting dalam menjawab ujian sertifikasi CISA adalah pengalaman IT audit. Banyak pertanyaan CISA membutuhkan judgement yang biasanya bersumber dari pengalaman kita dalam melakukan IT audit. Nah, sekarang bagaimana dengan mereka yang belum punya pengalaman IT audit ? Ada dua kemungkinan jawaban sih.Yang pertama, lebih baik ikut ujian sertifikasi lain yang sesuai dengan bidang loe. Bukan apa2, sayang aja kalo ikut ujian CISA cuma untuk iseng2 n kalaupun dapat nggak terpakai karena loe memang tidak bekerja di bidang itu. Jawaban kedua, pengalaman IT audit itu bisa coba digali dari orang yang sudah memiliki pengalaman IT audit. Untuk jawaban yang ini, saran gue adalah coba ikuti training sertifikasi CISA yang sekarang banyak diselenggarakan berbagai lembaga. Tapi, sebelum mendaftar coba pastikan apakah instruktur yang mengajar memang orang yang memiliki pengalaman IT Audit.
Oke, selamat belajar dan semoga sukses dengan ujian sertifikasi CISA
Posted in Office Hours | 9 Comments »
Nasihat Tahun Baru
Posted by aresto on January 6, 2009
Basi banget sih nih Aresto, udah lewat berapa hari baru ngomongin tahun baru. Mane blog-nye kaga di-update2.
Eniwei, seminggu sebelum tahun baru,gue sempet ikutan acara silahturahmi tahunan alumni PPSDMS. Di acara itu ada hadits luar biasa yang diangkat Ust. Abu Ridho dalam tausiyahnya. Sekarang gue ingin berbagi hadits itu sebagai renungan dalam mengawali tahun ini
Rasulullah saw bersabda kepada Abu Dzar al-Gifari: “Ya Abu Dzar perbaharuilah bahteramu, karena lautan begitu dalam, ambilah bekal yang cukup karena perjalanan sangat panjang, ringankanlah beban karena hambatan sangat berat, dan ikhlaskanlan amal karena pemeriksa sangat cermat.
Gue serahkan penghayatan hadits itu ke masing2 pembaca. Buat gue pribadi, pengaruhnya sangat luar biasa
Posted in Seeking Paradise | 7 Comments »
Mendengar Muslim Bicara
Posted by aresto on November 3, 2008
Dunia setelah 11 September adalah dunia yang tak lagi sama bagi semua Muslim. Rentetan kejadian setelahnya membuat kabur siapa sebenarnya yang menjadi sasaran tembak. Teroriskah atau Muslimkah ?. Sementara berbagai wacana di media arus utama semakin menempatkan Islam sebagai pesakitan dan terdengar seperti musik latar yang menjadi pembuka sebuah episode konflik tak terdamaikan. Riuhnya membuat banyak orang lupa bertanya, benarkah Islam yang dianut sekitar 1,3 milyar penduduk dunia adalah sumber kekerasan yang tidak kompatibel lagi dengan peradaban ?
Keingintahuan akan jawaban atas pertanyaan itu mendorong Gallup bertanya lewat sebuah proyek riset raksasa. Dan siapa lagi yang lebih tepat untuk menjawab pertanyaan itu selain umat Islam sendiri. Antara 2001 sampai 2007, Gallup melakukan puluhan ribu wawancara, tatap muka 1 jam, terhadap warga yang tinggal di lebih dari 35 negara berpenduduk mayoritas Muslim atau memiliki populasi Muslim yang cukup besar. Dirancang untuk mencakup semua sampel keragaman umat Muslim, metode sampling acak Gallup secara statistik memiliki margin kesalahan +/- 3 poin. Survei ini sukses menjadi survei terbesar dan paling komprehensif yang menangkap suara Muslim kontemporer.
Analisis terhadap data yang berhasil dikumpulkan survei itulah yang kemudian dipaparkan dalam buku Saatnya Muslim Bicara! terbitan Mizan ini. Tak sembarangan, prosesnya dipimpin oleh John L. Esposito, seorang pakar terkemuka dalam kajian Islam dan didampingi oleh Dalia Mogahed, Direktur Eksekutif Gallup Center untuk Kajian Muslim. Hasilnya adalah sebuah paparan yang menimbulkan berbagai Aha! ketika dibaca.
Siapakah Kaum Muslim ? Buku ini berangkat dari pertanyaan tersebut karena survei Gallup yang lain menunjukkan bahwa 57% keluarga Amerika menjawab “tidak tahu” atau “tidak ada” ketika ditanya apa yang paling mereka sukai dari Islam. Dari sini kemudian dijelaskan bahwa Islam yang asing itu dianut oleh 1,3 miliar umat yang tersebar di seluruh dunia dengan berbagai realitas keragaman. Tidak monolitiknya Islam inilah yang sering tidak dipahami oleh orang di luarnya. Tak heran apabila kemudian muncul anggapan gegabah Islam=Arab sementara faktanya hanya 20% umat Islam yang berbangsa Arab. Tapi, survei Gallup juga lalu menjelaskan bahwa dengan segala keragamannya keimanan dan keluarga menjadi nilai inti dalam kehidupan Muslim, dan dianggap aset masyarakat yang terpenting.
Demokrasi atau Teokrasi?Ekspor demokrasi sering dijadikan alasan Amerika dalam melancarkan invasinya ke Irak dan Afghanistan. Begitu antikah umat Islam pada Demokrasi? Hasil survei Gallup justru menunjukkan kesimpulan yang rumit. Kendati demokrasi jarang ditemukan di negara Muslim, sebagian besar umat Islam memandang prinsip-prinsip demokrasi dengan sangat positif. Di sisi lain, survei juga menunjukkan bahwa (ini menarik) sebagian besar umat Muslim ternyata mendukung syariat sebagai sumber hukum, tapi sebagian besar juga tidak menginginkan pemuka agama secara langsung berperan dalam membuat undang-undang. Kedua pendapat mayoritas ini dapat disimpulkan oleh hasil survei ketiga, bahwa secara keseluruhan kaum Muslim menginginkan sebuah model ketiga dimana prinsip Islam menjadi ruh dari sebuah kerangka demokrasi.
Islam=Radikal? Dalam analisa survei ini, Gallup mencoba memisahkan “kaum radikal politik” dari kaum moderat dengan mengajukan pertanyaan apakah serangan 11 September sepenuhnya dibenarkan dan menganggap AS sebagai musuh. Hasilnya ternyata hanya 7% dari responden yang kemudian masuk kategori radikal. Lebih jauh lagi, data survei menunjukkan kalau secara berturut2 kaum radikal lebih berpendidikan (67% SMP ke atas vs 52% kaum moderat), lebih baik ekonominya (65% menyatakan berpenghasilan di atas rata2 vs 55%), tak berbeda dalam soal menganggur (sama2 20% tingkat pengangguran), dan tidak berarti lebih religius (94% radikal dan 90% moderat menganggap Islam adalah bagian penting dari kehidupan sehari2). Yang berbeda secara signifikan adalah dalam survei kaum radikal menunjukkan ketakutan terbesar tentang masa depan negara mereka adalah intervensi negara lain dalam bentuk kolonialisme baru sementara kaum moderat lebih khawatir tentang kondisi ekonomi negaranya. Hasil survei ini menunjukkan bahwa mendiagnosis terorisme sebagai gejala dan Islam sebagai masalah ternyata sangat cacat logika. Diagnosis sedemikian justru dapat menguatkan keyakinan kaum radikal dan mengundang persepsi negatif lebih besar dari yang moderat. Radikalisme tak pernah bersumber dari agama, tapi justru lebih merupakan reaksi terhadap sepak terjang Barat.
Apa yang diinginkan perempuan Muslim? Di Barat kaum Muslimah sering digambarkan sebagai korban dari sebuah agama paternalistik yang menindas. Pembebasan Muslimah adalah salah satu argumen yang didengungkan saat invasi ke Irak dan Afghan. Lagi2 simplifikasi bahwa Islam menjadi biang keladi dibuktikan salah oleh data. Seperti disinggung di poin satu, mayoritas Muslimah melihat agama sebagai bagian penting dari kehidupan mereka termasuk hak2 Muslimah yang diatur dalam Islam. Selanjutnya, survei menunjukkan tidak lakunya ide pengadopsian nilai2 Barat sebagai solusi. Sebagian besar Muslimah menyukai aspek2 tertentu dari Barat, tapi mereka ingin mengadopsi nilai2 tersebut dalam konteks kultural mereka sendiri. Lalu apa masalah terbesar yang menjadi concern Muslimah? Survei menunjukkan bahwa kebutuhan mereka yang paling penting bukan kesetaraan gender tapi serupa dengan keluhan kaum prianya:kurangnya persatuan, korupsi politik dan ekonomi, serta ekstremisme.
Kelebihan buku “Saatnya Muslim Bicara!” adalah keseriusannya dalam membiarkan data memimpin wacana. Kearifan melihat data ini seharusnya menjadi penegas bahwa konflik yang terus berlangsung antara Barat dan Dunia Islam bukankah sesuatu yang tak terelakkan. Konflik lebih disebabkan oleh kebijakan politik yang tidak tepat, bukan pertikaian prinsip. Respek terhadap identitas Muslim dan perjalanan Muslim untuk menentukan nasib sendiri melalui pemilihan yang demokratis harusnya menjadi kunci dalam merebut hati mayoritas Muslim yang moderat. Saat itu dilakukan Barat, barulah mungkin suatu perubahan akan terjadi pada wajah dunia
~Whats so funny bout peace love & understanding?-Elvis Costello
Posted in Just Read It, Seeking Paradise | 3 Comments »
The IT Auditor’s Prayer
Posted by aresto on October 19, 2008
Give me, my God, what you still have;
give me what no one asks for.
I do not ask for wealth, nor success,
nor even health.
People ask you so often, God, for all that,
that you cannot have any left.
Give me, my God, what you still have.
Give me what people refuse to accept from you.
I want significant deficiencies and material weakness;
I want unauthorized change and excessive access.
And if you should give them to me,
my God, once and for all,
let me be sure to have them always,
lend me your diligence, sight, and wit
a conscience that always alive
for I will not always
have the courage to face them all.
Makassar 191008
~inspirasi dari The Commando’s Prayer
Posted in Office Hours | 2 Comments »
If…
Posted by aresto on September 29, 2008
…
If you can meet with Triumph and Disaster
And treat those two imposters just the same;
…
Sepotong baris puisi dari Kipling. Ramadhan ini mengajarkan seakrab apapun hidup kita dengan kemenangan-bencana, kesuksesan-kegagalan, kemudahan-kesulitan…toh menghadapi keduanya tak pernah jadi sesuatu yang mudah.
Posted in Seeking Paradise | 2 Comments »
