Lord, Please Don’t Let Me Be Misunderstood
Posted by aresto on March 31, 2008
Salah satu “genre” buku yang jadi koleksi favorit gue adalah buku-buku yang ditulis oleh penulis Islam yang tinggal di Barat. Ada Jeffrey Lang, profesor matematika yang menjelaskan tentang sikap ber-Islam yang kritis; ada Tariq Ramadhan, cucu Hasan AlBanna yang konsisten menyuarakan asipirasi minoritas Muslim Eropa sehingga dijuluki Martin Luther-nya Islam; ada juga Bruno Guiderdoni, Direktur Riset Institut Astrofisika Paris yang dengan lincah mengajak kita membaca ayat sambil menjelajah kosmos; dan jangan lupakan Ziauddin Sardar, si muslim skeptis yang sangat produktif menulis tema-tema masa depan Islam.
Mungkin karena jemu melihat dinamika umat lokal, membaca buku2 para penulis di atas setidaknya memberi gue sedikit wawasan tentang menjadi Islam di Barat. Bagi mereka salah satu konsekuensi sebagai Muslim adalah berada di garis depan perjumpaan dua peradaban yang sejarahnya penuh dengan konflik. Sebagai pribadi-pribadi mereka bergulat untuk tetap memegang identitas sebagai Muslim di tengah masyarakat yang penuh prasangka, sebagai intelektual mereka punya tanggung jawab membantu umatnya menyelesaikan masalah2 internal dan berdialog dengan unsur masyarakat lain.
Kasus yang mengemuka seperti film Fitna kemarin, menunjukkan bahwa memang ketegangan antara Islam dan Barat belum menunjukkan tanda-tanda akan selesai. Banyak dari faktor penyebabnya adalah sangat mengakarnya persepsi dan prasangka buruk masyarakat Barat terhadap Islam. Sebuah contoh lucu bisa dilihat di serial “Aliens in America”. Ketika tokoh utama si Raja Musharraf diperkenalkan sebagai siswa pertukaran pelajar dari Pakistan, sebagian besar teman sekelasnya bilang kalau mereka merasa marah padanya karena menganggap orang2 seperti Rajalah yang mengebom WTC.
Selain masalah salah paham tadi, gue juga merasa kita harus melihat kekurangpahaman umat Islam terhadap agamanya sendiri turut menyumbang bagian dalam ketegangan itu. Kalau orang lain masih melihat orang Islam sebagai penduduk gurun yang miskin, bodoh, dan kasar, boleh jadi karena memang masalah2 itu masih belum selesai di kalangan umat Islam.
Jadi, cobalah menyikapi film Fitna dengan hati yang sabar dan kepala yang tetap berpikir. Hasan AlBanna berkata “Jadilah seperti pohon jeruk. mereka menyerangmu dengan batu, engkau membalasnya dengan buah”. Sampai akhirnya syahid ditembak musuhnya, Hasan AlBanna tetap dengan pendiriannya itu dan lebih sibuk berusaha menyemai pohon jeruk sebanyak2nya di mana saja.
~judul diambil dari lagunya Yusuf Islam
Posted in Seeking Paradise | 2 Comments »
Sebenarnya gue agak skeptis dengan pengarang bernama pena “E.S Ito” ini. Waktu novel pertamanya Negara Kelima terbit gue sama sekali ngga berminat untuk membelinya. Alasan skeptisnya ngga mutu sih, setelah gue pikir2 lebih karena sombong aja berasumsi kalau novel itu tidak memenuhi standar layak baca gue.